Ketika Dosa Dianggap Biasa

Ketika Dosa Dianggap Biasa


Inilah jalan perempuan yang berzinah: ia makan, lalu menyeka mulutnya, dan berkata: Aku tidak berbuat sesuatu yang salah.


Amsal 30:20 menggambarkan seseorang yang melakukan dosa, lalu seperti tidak terjadi apa-apa. Ia makan, menyeka mulutnya, dan melanjutkan hidupnya.

Tidak ada pengakuan.
Tidak ada penyesalan.
Tidak ada pertobatan.

Seolah-olah semuanya baik-baik saja.

Pada awalnya hati mungkin menegur.

Tetapi jika dosa terus dipelihara, hati dapat mulai mencari alasan:

“Semua orang juga melakukannya.”
“Ini tidak terlalu serius.”
“Saya tidak merugikan siapa-siapa.”
“Tuhan pasti mengerti.”

Akhirnya kita bukan lagi berusaha meninggalkan dosa, tetapi berusaha membuat dosa terlihat tidak salah.

Itulah bahaya yang digambarkan ayat ini.

Kita dapat membersihkan jejak di luar, tetapi tidak dapat membersihkan hati kita dengan usaha sendiri.

Karena itu, respons yang benar terhadap dosa bukanlah menyangkalnya, tetapi mengakuinya di hadapan Tuhan.

Pertobatan dimulai ketika kita berhenti berkata, “Aku tidak berbuat sesuatu yang salah,” dan berani berkata,“Tuhan, aku telah berdosa. Ampunilah aku dan ubahlah hidupku.”

Anugerah Tuhan bukan alasan untuk menganggap dosa sebagai sesuatu yang biasa.

Justru karena kita telah menerima anugerah, kita dipanggil untuk tidak lagi berdamai dengan dosa.



Jangan Dikuasai Amarah

Jangan Dikuasai Amarah


Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya.


Ada saatnya kita marah.
Ada saatnya kita kecewa.

Ada saatnya perkataan atau tindakan seseorang benar-benar melukai hati kita.

Tetapi perasaan yang benar tidak selalu menghasilkan respons yang benar.

Ia tidak memberi waktu bagi dirinya untuk berpikir.

Apa yang dirasakan langsung diucapkan atau dilakukan.

Akibatnya, satu masalah dapat melahirkan masalah yang baru.

Ia tidak menyangkal kemarahannya, tetapi tidak menyerahkan kendali kepada kemarahannya.

Ia belajar berhenti sejenak, menenangkan diri, dan memilih respons yang tidak memperburuk keadaan.

Tetapi memiliki alasan untuk marah tidak berarti kita memiliki alasan untuk menyakiti orang lain.

Karena itu, ketika emosi sedang tinggi, jangan terburu-buru berbicara.

Jangan langsung membalas.

Jangan mengambil keputusan ketika hati sedang dikuasai amarah.

Hari ini, ketika sesuatu membuat kita marah, mari belajar menjadi orang yang bijak:

Bukan dengan menghilangkan semua emosi, tetapi dengan mengendalikan apa yang kita lakukan terhadap emosi itu.



Menegur Karena Kasih

Menegur Karena Kasih


Siapa menegur orang, kemudian akan lebih disayangi dari pada orang yang menjilat.


Kita senang ketika orang mengatakan bahwa keputusan kita benar, pekerjaan kita baik, dan pilihan kita sudah tepat.

Tetapi justru karena itulah kita membutuhkan orang yang berani mengatakan kebenaran ketika kita sedang salah.

Kita mungkin takut hubungan menjadi renggang. Kita takut dianggap menghakimi.

Kita juga takut orang tersebut marah atau menjauh.

Akibatnya, terkadang kita memilih diam.

Kita melihat kesalahan, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Kita tahu seseorang sedang mengambil arah yang salah, tetapi kita memilih berkata, “Tidak apa-apa.”

Amsal 28:23 mengingatkan bahwa kasih tidak selalu berbicara dengan kata-kata yang menyenangkan.

Ada saatnya kasih harus berkata, “Ini tidak benar,” atau, “Kamu perlu berhenti sebelum semuanya menjadi lebih buruk.”

Teguran yang lahir dari kesombongan akan terasa seperti serangan.

Teguran yang lahir dari kasih akan berusaha memulihkan.

Tujuannya bukan membuat orang lain merasa kecil, melainkan menolongnya melihat sesuatu yang mungkin tidak dapat ia lihat sendiri.

Tetapi kebenaran yang Ia sampaikan selalu berada dalam kerangka kasih dan pemulihan.

Karena itu, sebelum menegur orang lain, tanyakan kepada diri sendiri: Apakah saya sedang berusaha menolong, atau hanya melampiaskan kekesalan?

Jangan hanya mencari orang yang selalu mengatakan apa yang ingin kita dengar.

Bersyukurlah untuk orang yang cukup mengasihi kita untuk mengatakan apa yang perlu kita dengar.

Pujian membuat kita nyaman, tetapi teguran yang benar dapat membuat kita bertumbuh.

Hari ini, mungkin Tuhan sedang memakai seseorang untuk menegur kita.

Jangan buru-buru menolak.

Dengarkan, renungkan, dan periksa diri kita di hadapan Tuhan.

Jangan menjilat demi diterima.
Jangan menegur demi menang.
Katakan kebenaran demi membangun.



Buah Dari Kesetiaan

Buah Dari Kesetiaan


Siapa memelihara pohon ara akan memakan buahnya, dan siapa menjaga tuannya akan dihormati.


Seorang petani yang menanam pohon ara tidak dapat memaksanya berbuah dalam satu malam.

Ia harus merawatnya, memperhatikan pertumbuhannya, menjaga kondisinya, dan menunggu waktunya.

Kesetiaan dalam merawat akhirnya menghasilkan sesuatu yang dapat dinikmati.

Keluarga perlu dirawat.
Pelayanan perlu dirawat.
Pekerjaan perlu dirawat.
Hubungan dengan sesama perlu dirawat.

Bahkan karakter kita sendiri perlu terus dibentuk dan dijaga.

Kita ingin hubungan yang baik tanpa membangun komunikasi.

Kita ingin pelayanan yang bertumbuh tanpa kesetiaan.

Kita ingin dipercaya tanpa terlebih dahulu membuktikan bahwa kita dapat dipercaya.

Pohon ara yang tidak dirawat tidak dapat diharapkan menghasilkan buah yang baik.

Demikian pula tanggung jawab yang terus diabaikan tidak akan menghasilkan sesuatu yang bernilai.

Ada pekerjaan yang kita lakukan berulang kali tanpa ada yang memperhatikan.

Ada pelayanan yang dilakukan dalam kesunyian.

Ada tanggung jawab yang terasa biasa dan tidak istimewa.

Namun, Tuhan melihat kesetiaan.

Rawatlah dengan sungguh-sungguh.
Kerjakan dengan hati yang benar.

Jangan hanya bertahan ketika semuanya mudah, tetapi tetaplah setia ketika hasilnya belum terlihat.

Jangan berhenti hanya karena belum melihat hasilnya.

Tetap setia merawat apa yang Tuhan percayakan.



Berhenti Mengulang Kesalahan

Berhenti Mengulang Kesalahan


Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.


Kita sudah tahu bahwa kebiasaan tertentu tidak baik, tetapi kita kembali melakukannya.

Kita sudah tahu bahwa perkataan tertentu akan melukai orang lain, tetapi kita mengucapkannya lagi.

Kita sudah mengalami akibat dari keputusan yang salah, tetapi ketika kesempatan yang sama datang, kita mengambil keputusan yang sama.

Amsal 26:11 menggambarkan keadaan seperti itu dengan perumpamaan yang sangat kuat: “Seperti anjing kembali ke muntahnya.”

Gambaran ini memang terasa keras. Tetapi justru karena keras, kita tidak boleh melewatkan pesannya.

Kesalahan tidak selalu menjadi masalah terbesar dalam hidup kita.

Kita semua pernah salah.

Kita pernah mengambil keputusan yang keliru, mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan, mempercayai orang yang salah, atau memilih jalan yang ternyata membawa kita kepada masalah.

Orang yang bijaksana tidak berkata, “Saya tidak pernah salah.” Ia berkata, “Apa yang dapat saya pelajari dari kesalahan ini?”

Ia berani mengevaluasi dirinya.
Ia mau mendengarkan teguran.
Ia mengakui ketika dirinya salah.

Dan yang paling penting, ia bersedia mengubah langkahnya.

Ia menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, atau mencari alasan, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mengubah dirinya.

Di sinilah kita perlu membedakan antara jatuh dan terus memilih untuk tinggal di tempat kita jatuh.

Tuhan dapat memakai kegagalan untuk mendidik dan membentuk kita.

Tetapi jangan sampai kita menjadikan kegagalan sebagai pola yang terus diulang.

Pertanyaan yang perlu kita tanyakan bukan hanya, “Apa yang salah?”, tetapi juga, “Apa yang harus saya ubah?”

Mungkin ada kebiasaan yang harus dihentikan.
Mungkin ada hubungan yang perlu diperbaiki.
Mungkin ada sikap yang harus direndahkan.
Mungkin ada nasihat yang selama ini kita tolak.
Mungkin ada dosa yang harus benar-benar ditinggalkan.

Justru karena kita menerima anugerah, kita memiliki kesempatan untuk berbalik dan menjalani hidup yang baru.

Hari ini, jangan hanya menyesali kesalahan masa lalu. Belajarlah darinya.

Jangan kembali kepada pola yang sama hanya karena pola itu sudah familiar.

Jangan mengulangi kebodohan yang sama hanya karena kita sudah terbiasa dengannya.

Hikmat terlihat ketika seseorang belajar, berubah, dan berjalan ke arah yang lebih benar.



Kesabaran dalam Ketekunan

Kesabaran dalam Ketekunan


Dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan tulang.


Ada saatnya kita merasa bahwa semakin keras kita berbicara, semakin cepat orang lain akan mengerti.

Ketika seseorang tidak mendengarkan, kita meninggikan suara.
Ketika pendapat kita ditolak, kita menjadi lebih keras.

Ketika orang lain melakukan kesalahan, kita ingin segera menunjukkan bahwa kita benar.

Amsal tidak sedang mengatakan bahwa kita tidak boleh tegas.

Sebaliknya, ayat ini menunjukkan bahwa ada kekuatan yang sering tidak kita sadari dalam kesabaran dan kelembutan.

Bayangkan tulang yang keras.  Secara manusia, tulang bukan sesuatu yang mudah dipatahkan.

Tetapi Amsal menggunakan gambaran yang kuat: lidah yang lembut dapat “mematahkan tulang.”

Ada orang yang mampu memenangkan perdebatan dengan suara keras, tetapi kehilangan hubungan.

Ada yang berhasil membuktikan bahwa dirinya benar, tetapi membuat orang lain semakin menutup hati.

Ada yang menyampaikan kebenaran, tetapi cara menyampaikannya membuat kebenaran itu tidak lagi didengar.

Kita perlu belajar bahwa kebenaran tidak selalu harus disampaikan dengan keras agar menjadi kuat.

Kadang-kadang satu kalimat yang lembut jauh lebih efektif daripada sepuluh kalimat yang penuh kemarahan.

Kadang-kadang kita tidak perlu segera menjawab. Kita hanya perlu menunggu, berdoa, lalu berbicara pada waktu yang tepat.

Ini sangat penting dalam keluarga.

Suami dapat mengatakan sesuatu kepada istri dengan cara yang membuatnya merasa dihargai atau justru diserang.

Orang tua dapat menegur anak dengan cara yang membuat anak belajar atau justru memberontak.

Kita dapat menyampaikan kritik kepada teman dengan tujuan membangun, tetapi cara yang salah dapat membuatnya merasa direndahkan.

Karena itu, sebelum berbicara, kita perlu bertanya bukan hanya, “Apakah yang akan saya katakan benar?” tetapi juga, “Apakah cara saya menyampaikannya mencerminkan hati Tuhan?”

Yesus sendiri memperlihatkan bahwa kebenaran dan kasih tidak harus dipisahkan.

Ia tidak mengorbankan kebenaran demi menyenangkan manusia, tetapi Ia juga tidak menggunakan kebenaran untuk menghancurkan manusia.

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk melakukan hal yang sama.

Ada waktunya kita harus berbicara.
Ada waktunya kita harus menegur.
Ada waktunya kita harus mengatakan tidak.

Tetapi semuanya dapat dilakukan dengan kesabaran, penguasaan diri, dan kelembutan.

Mungkin hari ini ada seseorang yang sedang sulit kita hadapi.

Jangan buru-buru meninggikan suara.

Jangan merasa bahwa kemarahan adalah satu-satunya cara agar kita didengar.

Berdoalah. Bersabarlah.
Pilih kata-kata dengan hati-hati.
Sampaikan kebenaran dengan kasih.

Sebab terkadang, hati yang tidak dapat ditembus oleh kekerasan justru dapat dibuka oleh kelembutan.



Jangan Pura-Pura Tidak Tahu

Jangan Pura-Pura Tidak Tahu


Bebaskan mereka yang diangkut untuk dibunuh, selamatkan orang yang terhuyung-huyung menuju tempat pemancungan.  Kalau engkau berkata: “Sungguh, kami tidak tahu hal itu!” Apakah Dia yang menguji hati tidak tahu yang sebenarnya? Apakah Dia yang menjaga jiwamu tidak mengetahuinya, dan membalas manusia menurut perbuatannya?


Ada kalanya kita melihat seseorang sedang mengalami kesulitan.

Kita tahu ada sesuatu yang tidak benar.
Kita tahu seseorang sedang terluka.
Kita tahu seseorang sedang mengambil jalan yang salah.

Kita bahkan mungkin tahu bahwa jika tidak ada yang menolong, keadaan itu akan menjadi semakin buruk.

Tetapi kita memilih diam.

Alasannya bisa bermacam-macam:

“Bukan urusan saya.”
“Saya tidak mau ikut campur.”
“Nanti saya yang kena masalah.”
“Saya tidak tahu harus berbuat apa.”

Kadang-kadang alasan itu memang masuk akal.  Kita memang tidak selalu mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan persoalan orang lain.

Ayat 11 menggambarkan orang-orang yang sedang menuju kematian.  Mereka berada dalam keadaan yang sangat genting.

Dan kepada orang yang melihatnya diberikan perintah: “Bebaskan… selamatkan…”

Artinya, ada saat ketika kasih tidak cukup hanya dirasakan. Kasih harus diwujudkan dalam tindakan.

Kadang-kadang menolong berarti berbicara kepada seseorang yang sedang berjalan ke arah yang salah.

Kadang berarti membela orang yang diperlakukan tidak adil.

Kadang berarti mendengarkan seseorang yang sedang berada dalam tekanan.

Kadang berarti menghubungkan seseorang dengan orang yang lebih mampu menolong.

Yang penting adalah kita tidak sengaja menutup mata hanya karena persoalan itu membuat kita tidak nyaman.

Ayat 12 kemudian membawa persoalan ini langsung kepada Tuhan.

Kita mungkin dapat mengatakan kepada manusia, “Saya tidak tahu.”  Tetapi kita tidak dapat menyembunyikan hati kita dari Tuhan.

Dia mengetahui apa yang sebenarnya kita ketahui.

Dia mengetahui apakah kita benar-benar tidak tahu, atau sebenarnya tahu tetapi memilih berpura-pura tidak tahu.

Yakobus kemudian mengatakan prinsip yang sejalan dengan ini: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yakobus 4:17).

Karena itu, hari ini mungkin ada seseorang yang Tuhan tempatkan di depan kita bukan supaya kita menghakiminya, tetapi supaya kita menolongnya.

Jangan langsung berpikir bahwa kita harus menyelesaikan seluruh persoalannya. Mulailah dengan sesuatu yang sederhana.

Berhenti. Perhatikan. Peduli. Bertindak.

Mungkin hanya sebuah pesan.
Mungkin sebuah percakapan.
Mungkin sebuah doa.
Mungkin sebuah pembelaan.
Mungkin sebuah pertolongan nyata.

Sebab pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya:
“Apa yang saya lakukan terhadap orang lain?”

Tetapi juga:
“Apa yang saya lakukan ketika Tuhan membuat saya tahu bahwa seseorang membutuhkan pertolongan?”

Tuhan melihat hati kita.



Jangan Menjual Kebenaran

Jangan Menjual Kebenaran


Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.


Waktu bisa ditukar dengan uang.
Keahlian bisa ditukar dengan penghasilan.
Popularitas bisa ditukar dengan perhatian.

Bahkan hubungan dapat dipertahankan selama masih memberikan keuntungan.

Tanpa sadar, cara berpikir seperti ini juga dapat masuk ke dalam kehidupan moral dan rohani kita.  

Kita mulai bertanya, “Apa untungnya kalau saya tetap jujur?” atau “Apa yang saya dapat kalau saya mempertahankan prinsip ini?”

Ada sesuatu yang harus kita dapatkan dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak boleh kita lepaskan: kebenaran.

Meski ada saat ketika berkata jujur membuat kita berada dalam posisi yang tidak nyaman.

Meski ada saat ketika mempertahankan integritas membuat kita kehilangan keuntungan.

Meski ada saat ketika mengikuti prinsip firman Tuhan membuat kita harus mengatakan “tidak” ketika orang lain berkata “ya”.

Pada saat seperti itu, kita perlu mengingat bahwa tidak semua kerugian adalah kegagalan.

Bayangkan seseorang yang mendapatkan keuntungan besar karena berbohong.

Secara ekonomi ia mungkin terlihat berhasil.

Tetapi jika untuk mendapatkan keuntungan itu ia harus menjual integritasnya, sesungguhnya ia telah membayar harga yang jauh lebih mahal daripada uang yang diterimanya.

Menariknya, Amsal tidak hanya berkata, “Belilah kebenaran.”

Ayat ini juga berkata, “demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.”

Ini menunjukkan bahwa kebenaran harus terus dipelihara melalui proses belajar dan dibentuk.

Kita membutuhkan didikan.
Kita membutuhkan teguran.
Kita membutuhkan nasihat.
Kita membutuhkan pengertian.

Orang yang bijaksana bukan orang yang tidak pernah dikoreksi, tetapi orang yang bersedia membayar harga untuk terus belajar.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan hari ini?”
Tanyakan juga, “Apa yang tidak boleh saya korbankan?”

Mungkin kita perlu mengorbankan kenyamanan untuk mempertahankan kebenaran.

Mungkin kita perlu mengorbankan keuntungan untuk mempertahankan kejujuran.

Mungkin kita perlu mengorbankan ego untuk menerima didikan.

Mungkin kita perlu mengorbankan popularitas untuk tetap melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan.

Jangan menjual kebenaran hanya karena harganya sedang terasa mahal.

Sebab pada akhirnya, apa gunanya memperoleh dunia tetapi kehilangan integritas hati?

Belilah kebenaran.
Kejarlah hikmat.
Terimalah didikan.
Carilah pengertian.

Tetapi jangan pernah menjual semuanya hanya demi keuntungan yang sementara.



Ketika Cemooh Harus Dihentikan

Ketika Cemooh Harus Dihentikan


Usirlah pencemooh, maka lenyaplah pertengkaran, dan berhentilah perbantahan dan cemooh.


Satu orang mengatakan sesuatu yang merendahkan. Orang lain membalas.

Kemudian muncul pembelaan, serangan balik, dan akhirnya percakapan berubah menjadi pertengkaran.

Itulah sebabnya Amsal 22:10 memberikan nasihat yang cukup tegas: “Usirlah pencemooh, maka lenyaplah pertengkaran.”

Perbedaan pendapat bahkan dapat menjadi kesempatan untuk belajar.  Tetapi ada perbedaan antara berbeda pendapat dan mencemooh.

Orang yang berbeda pendapat masih dapat berdiskusi.

Pencemooh tidak sekadar menyampaikan pendapat; ia merendahkan orang lain, mempermalukan, atau terus memancing konflik.

Menariknya, Salomo tidak berkata bahwa kita harus memenangkan perdebatan melawan pencemooh.  

Ia juga tidak menyuruh kita membalas cemooh dengan cemooh.

Sebaliknya, pengaruh pencemooh itu harus dihentikan.

Kadang-kadang kita justru memperpanjang konflik karena merasa harus menjawab setiap komentar.

Kita merasa harus membela diri setiap kali disindir.
Kita ingin memberikan jawaban terakhir.

Akibatnya, percakapan yang seharusnya sudah selesai terus berlanjut.

Padahal, ada kalanya hikmat berarti mengetahui kapan harus berhenti berbicara.

Hal ini juga berlaku bagi kita sendiri.  Sebelum menunjuk orang lain sebagai pencemooh, kita perlu bertanya: Apakah saya sedang menjadi sumber damai, atau justru sumber pertengkaran?

Apakah perkataan saya membantu orang lain bertumbuh, atau hanya membuat orang lain merasa kecil?

Karena itu, kehidupan Kristen bukan hanya tentang mengatakan sesuatu yang benar, tetapi juga bagaimana dan untuk tujuan apa kita mengatakannya.

Di dalam komunitas keluarga, gereja, pekerjaan, maupun persahabatan, kita membutuhkan keberanian untuk menghentikan pola komunikasi yang merusak.

Bukan dengan kebencian, bukan dengan balas dendam, tetapi dengan hikmat dan batas yang sehat.

Hari ini, mari perhatikan perkataan kita.

Jika ada sesuatu yang perlu dikoreksi, lakukan dengan kasih.
Jika ada perbedaan, bicarakan dengan rendah hati.

Tetapi jika sebuah percakapan hanya menghasilkan cemooh dan pertengkaran yang tidak berujung, mungkin hikmat justru berkata: cukup. Berhentilah.



Tindakan Nyata untuk Berdamai

Tindakan Nyata untuk Berdamai


Pemberian dengan sembunyi-sembunyi memadamkan marah, dan hadiah yang dirahasiakan meredakan kegeraman yang hebat.


Ketika seseorang marah kepada kita, respons pertama yang muncul sering kali adalah membela diri.

Kita ingin menjelaskan bahwa kita tidak sepenuhnya salah.
Kita ingin menunjukkan bahwa orang lain juga bersalah.

Bahkan, kita mungkin tergoda membalas perkataan yang menyakitkan dengan perkataan yang lebih menyakitkan.

Tetapi apakah itu menyelesaikan masalah?   Sering kali tidak!

Satu perkataan melahirkan perkataan lain.
Satu luka dibalas dengan luka berikutnya.

Akhirnya, masalah yang sebenarnya kecil menjadi konflik yang besar.

Ada tindakan yang dilakukan tanpa perlu diketahui orang lain, yang dapat “meredakan kegeraman yang hebat.”

Prinsipnya bukan bahwa kita dapat membeli hati seseorang dengan hadiah.

Bukan pula bahwa setiap kesalahan dapat diselesaikan dengan memberikan sesuatu.

Prinsipnya adalah: kasih tidak selalu harus banyak bicara; kasih juga dapat diwujudkan melalui tindakan.

Mungkin seseorang sedang marah karena kita telah menyakitinya.

Dalam situasi seperti itu, yang dibutuhkan bukan pembelaan diri, tetapi kerendahan hati untuk datang dan berkata, “Saya minta maaf.”

Mungkin hubungan menjadi renggang karena sudah terlalu lama tidak ada perhatian.

Dan yang menarik, Amsal mengatakan pemberian itu dilakukan “dengan sembunyi-sembunyi.”

Artinya, tindakan kasih tidak selalu membutuhkan penonton.

Kita tidak perlu memastikan orang lain tahu bahwa kita sudah berbuat baik.

Kita tidak perlu mengunggahnya.
Kita tidak perlu menuntut penghargaan.

Ada kebaikan yang justru menjadi lebih indah ketika dilakukan tanpa diketahui banyak orang.

Ada orang yang masih kita hindari.
Ada percakapan yang belum selesai.
Ada luka yang belum pulih.

Mungkin hari ini BUKAN waktunya untuk memenangkan perdebatan.

Mungkin waktunya untuk mengambil langkah pertama.

Bukan karena kita kalah, tetapi karena hubungan lebih berharga daripada ego kita.

Sebab terkadang, satu tindakan kasih yang tulus dapat melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh seribu kata.

Jangan selalu bertanya, “Siapa yang harus mulai?”
Mungkin Tuhan sedang bertanya, “Mengapa bukan kamu?”