Tidak Semua Harus Diceritakan

Tidak Semua Harus Diceritakan


Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara.


Satu pesan dapat diteruskan kepada banyak orang hanya dengan beberapa sentuhan.

Sebuah cerita yang awalnya hanya diketahui oleh dua orang dapat menjadi konsumsi banyak orang dalam hitungan menit.

Kadang seseorang menceritakan masalah pribadinya karena ia percaya kepada kita.

Ia tidak sedang memberikan bahan pembicaraan.

Ia sedang membuka hatinya dan berharap apa yang disampaikannya tetap aman.

Namun ketika cerita itu kita teruskan kepada orang lain, kepercayaan tersebut kita khianati.

Ayat ini menunjukkan kontras antara orang yang suka membuka rahasia dan orang yang setia.

Orang yang suka membuka rahasia mungkin merasa dirinya hanya sedang bercerita.

Bisa jadi ia bahkan berkata, “Saya hanya memberitahu kamu, jangan bilang siapa-siapa.”

Tetapi sering kali justru dari kalimat seperti itulah sebuah rahasia mulai menyebar.

Ini bukan berarti kita harus menutupi dosa atau membiarkan seseorang berada dalam bahaya.

Ada situasi tertentu ketika sebuah masalah memang perlu disampaikan kepada orang yang tepat demi pertolongan, perlindungan, atau penyelesaian.

Tetapi berbeda antara mencari pertolongan dan menyebarkan cerita.

Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah yang saya katakan itu benar?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:  “Apakah saya berhak menceritakannya?”

Apakah informasi ini perlu diketahui orang lain?
Apakah orang yang bersangkutan mengizinkan saya menceritakannya?

Apakah perkataan saya akan membawa pertolongan atau justru mempermalukan dan merusak?

Ada kalanya menjaga seseorang berarti memilih diam.

Ada kalanya menunjukkan kasih berarti tidak meneruskan cerita.

Dan ada kalanya kesetiaan kepada seseorang berarti menyimpan apa yang dipercayakan kepada kita.

Tidak semua yang kita tahu harus kita ceritakan.
Tidak semua yang benar harus disebarkan.

Mintalah Tuhan memberi kita hikmat untuk mengetahui kapan harus berbicara, kepada siapa harus berbicara, dan kapan kita harus memilih diam.



Tidak Bisa Dibeli

Tidak Bisa Dibeli


Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi isteri yang berakal budi adalah karunia TUHAN.


Rumah yang lebih besar dianggap lebih berhasil.

Harta yang lebih banyak dianggap lebih diberkati.

Barang yang lebih mahal dianggap menunjukkan kehidupan yang lebih baik.

Tidak salah memiliki rumah dan harta.  Bahkan Amsal sendiri mengakui bahwa rumah dan harta dapat menjadi warisan.

Tetapi ayat ini mengajak kita melihat bahwa ada sesuatu yang nilainya tidak dapat dihitung dengan uang.

Menariknya, Amsal tidak mengatakan bahwa pasangan yang kaya adalah karunia Tuhan.

Tidak juga mengatakan pasangan yang terkenal, cantik, tampan, atau memiliki status sosial tinggi.

Yang ditekankan adalah akal budi—hikmat dan pengertian dalam menjalani kehidupan.

Sebab dalam perjalanan rumah tangga, yang membuat hubungan bertahan bukan hanya kemampuan menyediakan kebutuhan materi.

Yang sangat dibutuhkan adalah hikmat untuk berbicara ketika keadaan sulit, kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, kesabaran ketika menghadapi perbedaan, dan ketakutan akan Tuhan ketika harus mengambil keputusan.

Harta dapat membantu sebuah keluarga hidup lebih nyaman, tetapi hikmat membantu keluarga hidup dengan benar.

Kadang-kadang kita lebih mudah bersyukur karena mendapatkan sesuatu daripada bersyukur karena memiliki seseorang.

Kita berterima kasih ketika mendapat kenaikan penghasilan, rumah baru, atau keberhasilan usaha.

Tetapi apakah kita juga berhenti dan berkata, “Tuhan, terima kasih untuk orang-orang yang Engkau tempatkan dalam hidup saya”?

Belajar menghargai hikmatnya.
Mendengarkan nasihatnya.
Menghormati perannya.

Dan jangan menganggap kehadirannya sebagai sesuatu yang biasa hanya karena setiap hari kita melihatnya.

Ketika memikirkan pasangan hidup, jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa orang ini berikan kepada saya?”

Tetapi tanyakan juga, “Apakah orang ini memiliki hikmat dan karakter untuk berjalan bersama Tuhan dan bersama saya?”

Dan ini tidak bisa dibeli dengan uang.

Pada akhirnya, Amsal 19:14 mengingatkan kita bahwa tidak semua yang berharga dapat diwariskan, dibeli, atau dikumpulkan.

Ada berkat yang hanya dapat diterima sebagai pemberian Tuhan.

Hitung juga siapa yang Tuhan tempatkan di dalam hidup kita.

Mungkin kita belum memiliki rumah besar.
Mungkin harta kita tidak banyak.

Tetapi jika Tuhan memberikan kepada kita orang-orang yang mengasihi Tuhan, memiliki hikmat, dan mau berjalan bersama kita dalam suka maupun duka, kita sedang memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada yang dapat dibeli dengan uang.



Ketika Semangat Patah

Ketika Semangat Patah


Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?


Ada orang yang tubuhnya sedang sakit, tetapi masih mampu tersenyum.

Ada pula orang yang terlihat sehat secara fisik, tetapi sedang berjuang menghadapi luka yang tidak diketahui siapa pun.

Kita sering kali lebih mudah memahami penderitaan yang terlihat.

Ketika seseorang mengalami kecelakaan, kita dapat melihat lukanya.

Ketika seseorang sakit, kita dapat memberikan perawatan.

Amsal 18:14 mengingatkan bahwa kondisi batin seseorang sangat memengaruhi kemampuannya dalam menghadapi penderitaan.

“Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?”

Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan bahwa orang yang bersemangat tidak akan mengalami penderitaan.

Sebaliknya, penderitaan tetap ada, tetapi seseorang dapat menanggungnya dengan lebih baik ketika memiliki kekuatan batin.

Bayangkan seseorang yang telah bekerja keras selama bertahun-tahun, tetapi semua usahanya tampak gagal.

Atau seseorang yang telah memberikan kepercayaan kepada orang lain, tetapi justru dikhianati.

Ada juga mereka yang terus melayani, mengurus keluarga, dan memenuhi tanggung jawab, sementara di dalam hati mereka merasa lelah dan tidak lagi memiliki kekuatan.

Mereka mungkin tetap hadir, tetap bekerja, dan tetap tersenyum.  Namun, di dalam hati, ada pergumulan yang tidak terlihat.

Bagaimana kita seharusnya merespons kebenaran ini?

Tidak semua orang yang terlihat kuat sedang baik-baik saja.

Karena itu, kita perlu belajar mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi.

Terkadang, kehadiran seseorang yang mau mendengarkan dengan penuh kasih jauh lebih berarti daripada nasihat yang panjang.

Kita memang perlu bertanggung jawab, berusaha, dan mengambil langkah iman.

Namun, kita bukan manusia yang tidak terbatas.

Ada saatnya kita lelah.
Ada saatnya kita tidak tahu harus berbuat apa.

Pada saat seperti itu, kita dipanggil untuk datang kepada Tuhan.

Daud dalam Mazmur 34:19 menyatakan bahwa TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati.

Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak jauh dari mereka yang sedang mengalami kehancuran batin.

Namun, di dalam Kristus, kita memiliki pengharapan bahwa penderitaan tidak memiliki kata terakhir atas hidup kita.

Tuhan dapat menggunakan firman-Nya, doa, komunitas orang percaya, dan pertolongan yang tepat untuk menguatkan kita dalam masa sulit.

Mungkin hari ini semangatmu sedang patah.

Mungkin kamu sudah terlalu lama menanggung beban dan merasa tidak ada seorang pun yang benar-benar memahami keadaanmu.

Jangan merasa harus menyembunyikan semuanya di hadapan Tuhan.

Datanglah kepada-Nya dengan hati yang jujur.

Akui kelemahanmu.  
Carilah pertolongan.
Izinkan saudara seiman berjalan bersamamu.

Dan jika hari ini kamu melihat seseorang yang sedang kehilangan semangat, jangan hanya bertanya, “Mengapa kamu tidak kuat?”

Cobalah bertanya, “Bagaimana aku bisa menemanimu melewati masa ini?”

Kita tidak selalu dapat menghilangkan penderitaan orang lain, tetapi kita dapat memilih untuk tidak membiarkan mereka menghadapinya seorang diri.

Kiranya Tuhan memberikan kekuatan kepada mereka yang sedang lemah, pengharapan kepada mereka yang sedang putus asa, dan hati yang penuh kasih kepada kita untuk menjadi sahabat bagi mereka yang sedang terluka.



Akan Menemukan Akibatnya

Akan Menemukan Akibatnya


Orang durhaka hanya mencari kejahatan, tetapi terhadap dia akan disuruh utusan yang kejam.


Kita semua dapat melakukan kesalahan.

Dalam kelemahan, kita bisa berkata-kata dengan tidak tepat, mengambil keputusan yang salah, atau melakukan sesuatu yang kemudian kita sesali.

Namun Amsal 17:11 berbicara mengenai sesuatu yang lebih dalam: hati yang tidak lagi sekadar jatuh ke dalam kejahatan, tetapi mencari kejahatan.

Ketika seseorang sudah memiliki hati seperti ini, ia tidak membutuhkan banyak alasan untuk melakukan yang salah.

Ia akan mencari pembenaran.

Ketika ditegur, ia mencari alasan untuk menolak.
Ketika melakukan kesalahan, ia mencari orang lain untuk disalahkan.
Ketika disakiti, ia mencari kesempatan untuk membalas.

Masalahnya bukan lagi sekadar tindakan. Masalahnya adalah arah hati.

Karena itu, seseorang dapat terlihat baik di luar, tetapi diam-diam memelihara kepahitan, kebencian, iri hati, atau keinginan untuk membalas.

Lama-kelamaan apa yang ada di dalam hati akan memengaruhi cara ia berbicara, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain.

Jangan berkata, “Saya memang seperti ini.”

Jangan berkata, “Saya berhak membalas karena saya sudah diperlakukan tidak adil.”

Jangan pula berkata, “Yang penting orang lain juga melakukan hal yang sama.”

Kebenaran tidak berubah hanya karena orang lain melakukan kesalahan kepada kita.

Kita mungkin dapat menyembunyikan sebuah tindakan dari manusia, tetapi kita tidak dapat menghapus akibat dari jalan hidup yang terus-menerus kita pilih.

Karena itu, teguran Tuhan sebenarnya adalah anugerah.

Ketika Tuhan menunjukkan sesuatu yang salah dalam hati kita, jangan buru-buru membela diri.

Berhentilah.
Periksa hati.
Akui dosa.
Bertobatlah.

Kita tidak dipanggil untuk menjadi orang yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Kita dipanggil untuk menjadi orang yang mau kembali kepada Tuhan ketika menyadari kesalahan.

Jangan biarkan luka berubah menjadi kebencian.

Jangan biarkan kekecewaan berubah menjadi kepahitan.

Jangan biarkan ketidakadilan menjadi alasan untuk melakukan kejahatan.

Dan jangan biarkan hati yang terluka menentukan arah hidup kita.

Apakah kita sedang mencari apa yang benar, atau justru mencari alasan untuk melakukan apa yang salah?

Sebab apa yang terus-menerus kita cari akan membentuk siapa kita.



Rendah Hati Lebih Baik

Rendah Hati Lebih Baik


Lebih baik merendahkan diri dengan orang yang rendah hati dari pada membagi rampasan dengan orang congkak.


Ada kalanya kita diperhadapkan pada pilihan:
mengikuti orang-orang yang memiliki pengaruh dan menikmati keuntungan bersama mereka, atau tetap berada di jalan yang benar meskipun hasilnya jauh lebih sederhana.

Yang penting berhasil.
Yang penting mendapatkan bagian.
Yang penting tidak tertinggal dari orang lain.

Tetapi Amsal memberikan ukuran yang berbeda.

Lebih baik hidup dalam kerendahan hati daripada memperoleh keuntungan bersama orang-orang yang congkak.

Lebih baik tidak mendapatkan banyak daripada mendapatkan banyak dengan mengorbankan karakter.

Lebih baik kehilangan kesempatan daripada kehilangan integritas.

Kita mungkin melihat apa yang akan kita dapatkan, tetapi tidak melihat apa yang sedang kita korbankan.

Kita bisa mendapatkan uang tetapi kehilangan kejujuran.

Kita bisa mendapatkan posisi tetapi kehilangan kerendahan hati.

Kita bisa mendapatkan pengakuan tetapi kehilangan karakter.

Kita bisa mendapatkan banyak secara lahiriah tetapi perlahan-lahan menjadi orang yang tidak lagi takut akan Tuhan.

Karena itu, jangan merasa rugi ketika memilih untuk rendah hati.

Jangan merasa kalah ketika menolak keuntungan yang diperoleh dengan cara yang tidak benar.

Jangan merasa bodoh ketika memilih untuk tetap jujur sementara orang lain tampaknya sedang menikmati hasil dari kesombongan mereka.

Ada hal-hal yang mungkin tidak kita dapatkan karena kita memilih kebenaran. Tetapi kehilangan keuntungan tidak sama dengan kehilangan berkat.

Lebih baik memiliki sedikit dengan hati yang benar daripada memiliki banyak tetapi harus hidup bersama kesombongan dan ketidakbenaran.

Hari ini, ketika diperhadapkan pada pilihan antara keuntungan dan karakter, jangan hanya bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan?”

Tanyakan juga, “Saya sedang menjadi orang seperti apa melalui pilihan ini?”

Sebab keuntungan dapat hilang, tetapi karakter yang dibentuk dalam takut akan Tuhan akan menjadi bagian dari hidup kita.



Hati yang Bersukacita

Hati yang Bersukacita


Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.


Pernahkah kita melihat seseorang yang wajahnya terlihat cerah, lalu kita langsung merasa lebih nyaman berada di dekatnya?

Sebaliknya, kita juga bisa melihat seseorang yang sedang mengalami masalah hanya dari ekspresi wajahnya, bahkan sebelum ia mengatakan apa-apa.

Ada sesuatu di dalam hati yang akhirnya terlihat keluar.

Sukacita yang ada di dalam hati tidak selalu dapat disembunyikan.

Ia akan memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan, menghadapi masalah, dan berhubungan dengan orang lain.

Kepedihan yang terus dipelihara dapat menguras kekuatan seseorang.

Kita mulai kehilangan motivasi. Hal-hal yang dahulu kita nikmati tidak lagi terasa menyenangkan.

Kita menjadi mudah kecewa, mudah marah, atau bahkan tidak lagi memiliki semangat untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.

Kita bisa memaksakan diri untuk tersenyum.
Kita bisa mengatakan, “Saya baik-baik saja.”
Kita bisa tetap melakukan berbagai aktivitas.

Tetapi hati yang terluka tetap membutuhkan pertolongan.

Daud pernah mengalami kesedihan yang dalam.

Namun ia terus kembali mengarahkan hatinya kepada Tuhan.  

Mengapa? Karena sumber pengharapannya bukan keadaan, melainkan Allah sendiri.

Hari ini mungkin keadaan kita tidak semuanya baik.

Ada masalah yang belum selesai.
Ada doa yang belum dijawab.
Ada orang yang mengecewakan.
Ada pergumulan yang belum kita mengerti.

Bawalah kepedihan itu kepada Tuhan.

Sukacita Kristen bukan berarti tidak pernah menangis.

Sukacita Kristen berarti kita tahu bahwa di balik air mata kita, Tuhan tetap ada; di tengah masalah kita, Tuhan tetap memegang hidup kita; dan di tengah ketidakpastian, Tuhan tetap dapat dipercaya.

Ketika hati kita kembali berakar kepada Tuhan, kita mendapatkan kekuatan untuk melangkah lagi.

Jagalah hati.  Jangan biarkan kepedihan mematahkan semangat.

Biarkan pengharapan kepada Tuhan membuat hati kembali bersukacita.



Marah Membuat Bodoh

Marah Membuat Bodoh


Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana bersabar.


Mungkin seseorang menulis sesuatu yang menurut Anda tidak sopan.

Anda membaca sekali, lalu membacanya lagi. Semakin dibaca, semakin kesal.

Jari mulai ingin mengetik balasan.

Dalam kepala sudah tersusun berbagai kalimat untuk membela diri.

Lalu Anda mengirimkannya.

Beberapa jam kemudian, ketika emosi sudah reda, Anda membaca kembali pesan tersebut dan berpikir, “Kenapa tadi saya membalas seperti itu?”

Masalahnya mungkin masih ada.
Orang tersebut mungkin memang salah.
Tetapi sekarang ada masalah baru: respons kita yang lahir dari kemarahan.

Perhatikan kata “lekas.” Salomo bukan hanya berbicara tentang orang yang marah, tetapi tentang orang yang cepat sekali bereaksi ketika marah.

Kita hidup di zaman yang membuat hal ini semakin mudah.

Ketika tersinggung, kita bisa langsung membalas pesan.
Ketika tidak setuju, kita bisa langsung berkomentar.
Ketika kecewa, kita bisa langsung mengumumkannya.

Kita tidak perlu menunggu lama untuk melampiaskan apa yang kita rasakan.

Tetapi kemampuan untuk segera bereaksi bukan berarti kita memiliki hikmat untuk bereaksi dengan benar.

Ketika marah, kita cenderung melihat persoalan hanya dari sudut pandang kita.

Kita mengingat kesalahan orang lain, tetapi lupa memeriksa kesalahan kita sendiri.

Kita merasa harus segera menjelaskan diri. Kita ingin membuktikan bahwa kita benar.

Bahkan kita mungkin mulai mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak akan kita katakan jika hati sedang tenang.

Kebodohan di sini bukan berarti seseorang tidak pintar.

Seseorang bisa sangat berpendidikan, berpengalaman, bahkan sangat cerdas, tetapi tetap berlaku bodoh ketika membiarkan kemarahannya mengendalikan perkataan dan tindakannya.

Orang bijaksana bukan orang yang tidak pernah marah.

Orang bijaksana adalah orang yang tidak membiarkan kemarahan menentukan responsnya.

Ia tahu kapan harus berhenti.
Ia tahu kapan harus diam.
Ia tahu kapan harus menunda jawaban.

Ia tahu bahwa tidak semua perkataan harus dibalas dan tidak semua konflik harus diselesaikan ketika emosi sedang tinggi.

Jarak itu sangat penting.

Di dalam jarak itu kita dapat berpikir.  
Kita dapat berdoa.
Kita dapat mempertimbangkan akibat dari perkataan kita.
Kita dapat melihat persoalan dengan lebih lengkap.

Bahkan mungkin kita menyadari bahwa sesuatu yang awalnya terlihat sangat besar sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan.

Bukan berarti kesabaran membuat kita menjadi lemah.

Justru diperlukan kekuatan untuk menahan diri ketika kita memiliki kesempatan untuk membalas.

Ada kalanya kita memang harus berbicara.
Ada kalanya kesalahan harus ditegur.
Ada kalanya keputusan harus dibuat.

Tetapi semuanya dapat dilakukan dengan cara yang berbeda ketika kita tidak lagi dikuasai oleh emosi.

Jika sebuah pesan membuat marah, tidak harus langsung dibalas.

Jika sebuah percakapan mulai memanas, mungkin kita perlu berhenti sejenak.

Jika seseorang menyakiti kita, jangan langsung menentukan masa depan hubungan berdasarkan emosi beberapa menit.

Berdoalah terlebih dahulu.
Tenangkan hati.
Pikirkan kembali.

Kemudian bertindaklah dengan hikmat.

Kemarahan mungkin datang tanpa kita undang. Tetapi kita tidak harus memberinya kendali.

Jangan biarkan emosi sesaat menghasilkan perkataan yang meninggalkan luka panjang.

Jangan biarkan kemarahan beberapa menit menghasilkan keputusan yang harus kita sesali berbulan-bulan.

Hari ini, ketika sesuatu membuat Anda naik darah, berhentilah sejenak dan tanyakan:

“Apakah saya sedang bertindak dengan hikmat, atau hanya sedang bereaksi karena marah?”

Kadang-kadang, tindakan paling bijaksana bukanlah mengatakan lebih banyak.

Kadang-kadang, tindakan paling bijaksana adalah berhenti, menenangkan hati, dan memberi kesempatan kepada hikmat untuk memimpin.



Kebenaran Menjaga Hidup

Kebenaran Menjaga Hidup


Orang benar benci kepada dusta, tetapi orang fasik memalukan dan memburukkan diri.


“Cuma sedikit dibesar-besarkan.”
“Tidak perlu mengatakan semuanya.”
“Kalau saya jujur, saya yang akan rugi.”

Tetapi masalahnya bukan hanya pada apa yang kita katakan. Dusta perlahan-lahan membentuk siapa diri kita.

Amsal mengatakan bahwa orang benar “benci kepada dusta.”

Artinya, kejujuran bukan sekadar aturan yang harus ditaati, tetapi menjadi bagian dari karakter.

Orang yang mengasihi kebenaran akan merasa tidak nyaman ketika harus hidup dalam kepalsuan.

Satu kebohongan sering membutuhkan kebohongan lain untuk menutupinya.

Lama-kelamaan, bukan hanya perkataan kita yang kehilangan kepercayaan, tetapi karakter kita juga kehilangan integritas.

Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Apakah kebohongan ini akan ketahuan?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Orang seperti apa yang sedang saya bentuk melalui pilihan ini?”

Hari ini, pilihlah kebenaran—even ketika kebenaran itu tidak mudah.

Mungkin kejujuran membuat kita harus mengakui kesalahan, kehilangan keuntungan, atau menghadapi konsekuensi.

Tetapi hidup dalam kebenaran menjaga hati tetap bersih dan membangun karakter yang dapat dipercaya.



Kerjakan yang Menghasilkan

Kerjakan yang Menghasilkan


Siapa mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia adalah orang yang tidak berakal budi.


Ada begitu banyak hal yang bisa dikerjakan, dikejar, dan diinginkan.

Namun, sibuk tidak selalu berarti produktif.

Amsal 12:11 memberikan gambaran yang sangat sederhana: seseorang yang mengerjakan tanahnya akan menikmati hasilnya.

Ia tidak mencari jalan pintas.

Ia mengerjakan apa yang ada di hadapannya dan menunggu hasil dari proses tersebut.

Kita meninggalkan pekerjaan yang sedang dibangun demi peluang yang belum tentu nyata.

Kita meninggalkan tanggung jawab karena tergoda oleh sesuatu yang lebih menyenangkan.

Kita ingin hasil yang cepat, tetapi tidak mau menjalani proses yang diperlukan.

Padahal, hal-hal yang bernilai biasanya membutuhkan ketekunan.

Tidak semua kesempatan harus dikejar.
Tidak semua hal yang menarik layak menjadi tujuan.

Hari ini, mungkin pertanyaannya bukan, “Apa lagi yang bisa saya kejar?” tetapi:
“Apakah saya sudah mengerjakan dengan setia apa yang Tuhan percayakan kepada saya?”

Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang baru, sementara “tanah” yang Tuhan berikan kepada kita justru dibiarkan tidak dikerjakan.



Berbuat Baik Kepada Diri Sendiri

Berbuat Baik Kepada Diri Sendiri


Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri.


Kita memberikan waktu.
Memberikan perhatian.
Memberikan pertolongan.
Memberikan pengampunan.

Bahkan terkadang memberikan kesempatan kedua.

Karena itu, ada saat-saat ketika kita merasa bahwa menjadi orang baik hanya membuat kita rugi.

Karena sesungguhnya kemurahan hati membentuk hati kita.

Ketika kita belajar peduli kepada orang lain, hati kita tidak menjadi semakin miskin—justru semakin kaya.

Ketika kita belajar mengampuni, kita tidak kehilangan sesuatu yang berharga—kita sedang dibebaskan dari kepahitan.

Ketika kita menolong seseorang yang membutuhkan, kita bukan sekadar meringankan beban orang itu—kita juga sedang belajar menjadi pribadi yang tidak hidup berpusat pada diri sendiri.

Seseorang mungkin menyakiti orang lain karena merasa sedang mempertahankan dirinya.

Ia menyimpan dendam karena merasa berhak.

Ia menolak mengampuni karena merasa orang lain harus menerima akibat perbuatannya.

Tetapi sedikit demi sedikit, kepahitan yang dipelihara akan menyakiti orang yang menyimpannya.

Hati menjadi keras.
Kasih semakin berkurang.
Hubungan semakin rusak.
Dan hidup menjadi semakin berat.

Tuhan memanggil kita untuk tidak menjadikan luka yang pernah kita terima sebagai alasan untuk melukai orang lain.

Mungkin kita tidak dapat mengubah apa yang sudah dilakukan orang kepada kita.  Tetapi kita dapat memilih siapa kita ketika menghadapi mereka.

Bukan selalu dalam bentuk uang.

Mungkin ia membutuhkan pengertian.
Mungkin ia membutuhkan pengampunan.
Mungkin ia membutuhkan pertolongan.
Mungkin ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Ketika kita memilih untuk hidup dalam kasih dan kemurahan hati, kita sedang membentuk hati yang semakin menyerupai kehendak Tuhan.

Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita berikan kepada orang lain juga menjadi kebaikan yang Tuhan kerjakan di dalam diri kita.