
Amsal 20:19
Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara.
Kita hidup di zaman ketika informasi sangat mudah berpindah.
Satu pesan dapat diteruskan kepada banyak orang hanya dengan beberapa sentuhan.
Sebuah cerita yang awalnya hanya diketahui oleh dua orang dapat menjadi konsumsi banyak orang dalam hitungan menit.
Masalahnya, tidak semua informasi adalah milik kita untuk dibagikan.
Kadang seseorang menceritakan masalah pribadinya karena ia percaya kepada kita.
Ia tidak sedang memberikan bahan pembicaraan.
Ia sedang membuka hatinya dan berharap apa yang disampaikannya tetap aman.
Namun ketika cerita itu kita teruskan kepada orang lain, kepercayaan tersebut kita khianati.
Amsal 20:19 berkata, “Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara.”
Ayat ini menunjukkan kontras antara orang yang suka membuka rahasia dan orang yang setia.
Orang yang suka membuka rahasia mungkin merasa dirinya hanya sedang bercerita.
Bisa jadi ia bahkan berkata, “Saya hanya memberitahu kamu, jangan bilang siapa-siapa.”
Tetapi sering kali justru dari kalimat seperti itulah sebuah rahasia mulai menyebar.
Sebaliknya, orang yang setia memahami bahwa ada hal-hal yang lebih baik disimpan daripada disebarkan.
Ini bukan berarti kita harus menutupi dosa atau membiarkan seseorang berada dalam bahaya.
Ada situasi tertentu ketika sebuah masalah memang perlu disampaikan kepada orang yang tepat demi pertolongan, perlindungan, atau penyelesaian.
Tetapi berbeda antara mencari pertolongan dan menyebarkan cerita.
Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah yang saya katakan itu benar?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah saya berhak menceritakannya?”
Sebelum meneruskan sebuah cerita, kita perlu berhenti sejenak. Memeriksa hati kita.
Apakah informasi ini perlu diketahui orang lain?
Apakah orang yang bersangkutan mengizinkan saya menceritakannya?
Apakah perkataan saya akan membawa pertolongan atau justru mempermalukan dan merusak?
Kedewasaan rohani terlihat bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi juga dari apa yang sanggup kita tahan untuk tidak kita katakan.
Ada kalanya menjaga seseorang berarti memilih diam.
Ada kalanya menunjukkan kasih berarti tidak meneruskan cerita.
Dan ada kalanya kesetiaan kepada seseorang berarti menyimpan apa yang dipercayakan kepada kita.
Tidak semua yang kita tahu harus kita ceritakan.
Tidak semua yang benar harus disebarkan.
Mintalah Tuhan memberi kita hikmat untuk mengetahui kapan harus berbicara, kepada siapa harus berbicara, dan kapan kita harus memilih diam.
Sebab mulut yang bijaksana bukan hanya tahu apa yang harus dikatakan, tetapi juga tahu apa yang harus disimpan.
Kedewasaan bukan hanya tahu apa yang harus dikatakan, tetapi juga tahu apa yang harus disimpan.