
Amsal 19:14
Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi isteri yang berakal budi adalah karunia TUHAN.
Kita hidup dalam dunia yang sering mengukur keberhasilan melalui apa yang dimiliki.
Rumah yang lebih besar dianggap lebih berhasil.
Harta yang lebih banyak dianggap lebih diberkati.
Barang yang lebih mahal dianggap menunjukkan kehidupan yang lebih baik.
Tidak salah memiliki rumah dan harta. Bahkan Amsal sendiri mengakui bahwa rumah dan harta dapat menjadi warisan.
Tetapi ayat ini mengajak kita melihat bahwa ada sesuatu yang nilainya tidak dapat dihitung dengan uang.
Kebenaran: Pasangan hidup yang berakal budi adalah karunia Tuhan.
Menariknya, Amsal tidak mengatakan bahwa pasangan yang kaya adalah karunia Tuhan.
Tidak juga mengatakan pasangan yang terkenal, cantik, tampan, atau memiliki status sosial tinggi.
Yang ditekankan adalah akal budi—hikmat dan pengertian dalam menjalani kehidupan.
Sebab dalam perjalanan rumah tangga, yang membuat hubungan bertahan bukan hanya kemampuan menyediakan kebutuhan materi.
Yang sangat dibutuhkan adalah hikmat untuk berbicara ketika keadaan sulit, kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, kesabaran ketika menghadapi perbedaan, dan ketakutan akan Tuhan ketika harus mengambil keputusan.
Harta dapat membantu sebuah keluarga hidup lebih nyaman, tetapi hikmat membantu keluarga hidup dengan benar.
Karena itu, jangan sampai kita begitu sibuk mengejar berkat sehingga lupa menghargai berkat yang sudah Tuhan berikan.
Kadang-kadang kita lebih mudah bersyukur karena mendapatkan sesuatu daripada bersyukur karena memiliki seseorang.
Kita berterima kasih ketika mendapat kenaikan penghasilan, rumah baru, atau keberhasilan usaha.
Tetapi apakah kita juga berhenti dan berkata, “Tuhan, terima kasih untuk orang-orang yang Engkau tempatkan dalam hidup saya”?
Bagi yang sudah menikah, ayat ini menjadi undangan untuk kembali melihat pasangan bukan hanya dari kekurangannya, tetapi sebagai pribadi yang Tuhan percayakan untuk berjalan bersama.
Belajar menghargai hikmatnya.
Mendengarkan nasihatnya.
Menghormati perannya.
Dan jangan menganggap kehadirannya sebagai sesuatu yang biasa hanya karena setiap hari kita melihatnya.
Bagi yang belum menikah, ayat ini juga memberikan perspektif penting.
Ketika memikirkan pasangan hidup, jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa orang ini berikan kepada saya?”
Tetapi tanyakan juga, “Apakah orang ini memiliki hikmat dan karakter untuk berjalan bersama Tuhan dan bersama saya?”
Sebab pasangan hidup bukan sekadar seseorang yang membuat hidup terasa menyenangkan. Ia adalah seseorang yang akan ikut membentuk arah kehidupan kita.
Dan ini tidak bisa dibeli dengan uang.
Pada akhirnya, Amsal 19:14 mengingatkan kita bahwa tidak semua yang berharga dapat diwariskan, dibeli, atau dikumpulkan.
Ada berkat yang hanya dapat diterima sebagai pemberian Tuhan.
Maka hari ini, jangan hanya menghitung apa yang ada di rumah kita.
Hitung juga siapa yang Tuhan tempatkan di dalam hidup kita.
Mungkin kita belum memiliki rumah besar.
Mungkin harta kita tidak banyak.
Tetapi jika Tuhan memberikan kepada kita orang-orang yang mengasihi Tuhan, memiliki hikmat, dan mau berjalan bersama kita dalam suka maupun duka, kita sedang memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada yang dapat dibeli dengan uang.
Harta dapat membantu sebuah keluarga hidup lebih nyaman, tetapi hikmat membantu keluarga hidup dengan benar.