Hasil dari Pilihan yang Kita Pilih

Hasil dari Pilihan yang Kita Pilih


Orang yang murtad hatinya menjadi kenyang dengan jalannya, dan orang yang baik dengan apa yang ada padanya.


Pernahkah kita melihat seseorang yang terus-menerus melakukan kesalahan, tetapi tidak pernah merasa bahwa dirinya sedang berada di jalan yang salah?

Ketika dinasihati, ia menolak. Ketika diingatkan, ia mencari alasan.

Bahkan ketika akibat dari keputusannya mulai terlihat, ia tetap menyalahkan orang lain.

Ia merasa bahwa masalahnya disebabkan oleh keadaan, orang-orang di sekitarnya, atau perlakuan yang tidak adil terhadap dirinya.

Amsal 14:14 mengingatkan kita bahwa setiap orang pada akhirnya akan berhadapan dengan hasil dari jalan yang dipilihnya sendiri.

Amsal ini dimulai dengan gambaran tentang orang yang hatinya menyimpang dari jalan yang benar.

Kata hati dalam pemahaman Alkitab bukan sekadar menunjuk pada perasaan.

Hati berkaitan dengan pusat pikiran, kehendak, motivasi, dan keputusan manusia.  

Seseorang mungkin mulai menyimpang ketika ia mengabaikan kebenaran yang sebenarnya sudah diketahuinya.

Ia mengetahui bahwa suatu tindakan tidak benar, tetapi tetap melakukannya karena menguntungkan dirinya.

Ia memahami bahwa perkataannya melukai orang lain, tetapi memilih untuk membenarkan dirinya.

Ia tahu bahwa ada tanggung jawab yang harus dipenuhi, tetapi terus mencari alasan untuk menghindarinya.

Pada awalnya, penyimpangan itu mungkin terlihat kecil.
Tidak ada yang langsung mengetahui.
Tidak ada teguran yang datang.

Bahkan, mungkin ia masih terlihat berhasil dan dihormati oleh banyak orang.

Inilah bahayanya hati yang menyimpang: seseorang dapat begitu terbiasa dengan pilihannya sendiri sehingga ia tidak lagi menyadari bahwa dirinya sedang menjauh dari kebenaran.

Karena itu, kita tidak boleh hanya bertanya, “Apakah yang saya lakukan menguntungkan saya?”  Kita juga perlu bertanya, “Apakah yang saya lakukan benar di hadapan Tuhan?”

Amsal 14:14 melanjutkan dengan mengingatkan bahwa orang yang hatinya menyimpang akan menjadi kenyang dengan jalannya.

Gambaran ini menunjukkan bahwa seseorang pada akhirnya akan berhadapan dengan hasil dari jalan yang ditempuhnya.

Ia tidak dapat terus-menerus memisahkan pilihannya dari konsekuensi yang menyertainya.

Orang yang terbiasa berbohong mungkin kehilangan kepercayaan orang lain.

Orang yang terus memelihara kemarahan dapat merusak hubungan yang sebenarnya berharga.

Orang yang mengabaikan tanggung jawab mungkin suatu hari harus menghadapi akibat dari kelalaiannya.

Orang yang mengejar keuntungan dengan mengorbankan integritas dapat memperoleh keuntungan sesaat, tetapi kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting.

Tentu saja, tidak semua kesulitan yang dialami seseorang merupakan akibat dari kesalahannya sendiri.

Alkitab juga mengajarkan bahwa orang benar dapat mengalami penderitaan karena ketidakadilan, dan bahwa kita hidup di tengah dunia yang telah rusak oleh dosa.

Apakah ada kebiasaan yang terus kita pertahankan meskipun kita mengetahui bahwa kebiasaan itu merusak diri kita?

Apakah ada keputusan yang kita benarkan hanya karena kita belum melihat akibat buruknya?

Apakah kita menganggap bahwa selama tidak ada orang yang mengetahui kesalahan kita, berarti semuanya baik-baik saja?

Hikmat mengajarkan kita untuk belajar sebelum terlambat.

Kita tidak harus mengalami semua akibat buruk terlebih dahulu untuk memahami bahwa jalan tertentu memang salah.

Orang yang memilih kejujuran mungkin kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan dengan cara yang tidak benar.

Orang yang memilih mengampuni mungkin harus berjuang menghadapi rasa sakit.

Orang yang setia melakukan tanggung jawabnya mungkin tidak langsung menerima penghargaan.

Orang yang menolak mengikuti arus yang salah mungkin dianggap aneh atau tidak menyenangkan oleh orang-orang di sekitarnya.

Integritas membangun kepercayaan.
Kesetiaan memperkuat hubungan.
Kerendahan hati membuka ruang untuk belajar.

Ketaatan kepada Tuhan membentuk karakter yang semakin matang.

Hasil-hasil tersebut tidak selalu muncul dalam sehari.  Ada hal-hal yang membutuhkan waktu, ketekunan, dan kesabaran untuk bertumbuh.

Kita mungkin memiliki tujuan yang baik, tetapi menggunakan cara yang salah untuk mencapainya.

Kita ingin dihormati, tetapi membangun citra diri melalui kebohongan.

Kita ingin berhasil, tetapi mengorbankan keluarga dan integritas.

Kita ingin mempertahankan kedudukan, tetapi mengabaikan kebenaran.

Kita ingin hidup nyaman, tetapi terus menghindari tanggung jawab.

Karena itu, jika hari ini kita menyadari bahwa ada jalan yang perlu diperbaiki, jangan mengeraskan hati.  

Akuilah kesalahan, bertobatlah, dan ambillah langkah nyata untuk kembali kepada kebenaran.

Kita tidak dapat mengubah semua akibat dari keputusan masa lalu, tetapi kita dapat berhenti mempertahankan jalan yang salah dan mulai mengambil keputusan yang lebih bijaksana.



Berhenti untuk Mendengarkan

Berhenti untuk Mendengarkan


Pelayan-pelayannya telah disuruhnya pergi, ia mengundang dari atas tempat-tempat yang tinggi di kota:‘Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari;’


Ada suara dari media sosial.
Ada suara dari teman.
Ada suara dari keluarga.

Ada suara dari pengalaman masa lalu.
Ada suara dari orang-orang yang kita kagumi.
Ada suara dari budaya dan tren yang terus berubah.

Masalahnya bukan karena terlalu sedikit suara, tetapi karena terlalu banyak suara.

Amsal 9 menggambarkan Hikmat seperti seorang perempuan yang berdiri di tempat yang tinggi dan mengutus para pelayannya untuk memanggil orang-orang. Undangannya sangat sederhana:

“Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari.”

Perhatikan siapa yang dipanggil.

Bukan orang yang sudah merasa hebat.

Bukan orang yang merasa sudah mengerti semuanya.

Bukan orang yang merasa tidak membutuhkan nasihat.

Justru orang yang belum berpengalaman.

Ini adalah gambaran yang sangat realistis tentang manusia.

Kita sering kali tidak menjadi bodoh karena tidak memiliki informasi, tetapi karena terlalu yakin bahwa kita sudah tahu.

Ada orang yang sudah bertahun-tahun bekerja, tetapi masih tidak mau menerima nasihat.

Ada orang yang sudah lama menikah, tetapi tidak mau belajar bagaimana memperlakukan pasangannya.

Ada orang yang sudah lama menjadi Kristen, tetapi merasa tidak perlu lagi ditegur oleh firman Tuhan.

Ada orang yang pernah berhasil dalam hidup, sehingga pengalaman masa lalunya menjadi ukuran untuk semua keputusan berikutnya.

Pengalaman hanya memberi kita sesuatu untuk dipelajari.

Hikmat menentukan apa yang harus kita lakukan dengan pengalaman itu.

Karena itu, orang bijaksana bukanlah orang yang selalu berkata, “Saya tahu.”

Orang bijaksana juga mampu berkata: “Mungkin saya belum tahu.”

Kalimat sederhana itu membuka pintu bagi pertumbuhan.

Ketika Hikmat berkata, “Singgahlah ke mari,” ada sebuah tindakan yang diminta: berhenti dan datang.

Kadang-kadang Tuhan mengundang kita untuk berhenti sebelum mengambil keputusan.

Berhenti sebelum membalas perkataan seseorang.

Berhenti sebelum mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan.

Berhenti sebelum mengikuti seseorang hanya karena dia populer.

Berhenti sebelum mengambil keputusan hanya karena semua orang melakukannya.

Berhenti dan bertanya: “Apa yang Tuhan katakan tentang ini?”

Hikmat Tuhan sering kali tidak menawarkan jalan yang paling mudah.

Tetapi Hikmat selalu mengarahkan kita kepada jalan yang benar.

Dunia mungkin berkata, “Ikuti apa yang kamu rasakan.”
Hikmat berkata, “Periksalah hatimu.”

Dunia berkata, “Balas saja.”
Hikmat berkata, “Pikirkan akibatnya.”

Dunia berkata, “Yang penting kamu menang.”
Hikmat berkata, “Yang penting kamu hidup benar.”

Dunia berkata, “Semua orang melakukannya.”
Hikmat bertanya, “Apakah itu benar di hadapan Tuhan?”

Dan bagi kita sebagai orang percaya, panggilan kepada hikmat pada akhirnya membawa kita kepada Kristus.

Sebab di dalam Kristus terdapat kepenuhan hikmat Allah.

Kita tidak dipanggil untuk sekadar menjadi orang yang lebih pintar, tetapi menjadi orang yang hidup dalam kebenaran Tuhan.

Hari ini mungkin ada sesuatu yang sedang kita hadapi yang membuat kita bingung.

Jangan terburu-buru.

Mungkin Tuhan sedang berkata: “Singgahlah ke mari.”

Berhenti.
Dengarkan firman-Nya.
Terima nasihat yang benar.
Akui bahwa kita belum tahu semuanya.

Dan izinkan Tuhan mengajar kita.

Sebab sering kali langkah pertama menuju hikmat bukanlah mengetahui lebih banyak, tetapi menyadari bahwa kita masih perlu belajar.



Hikmat yang Memberi Kekuatan

Hikmat yang Memberi Kekuatan


Aku mempunyai nasihat dan pertimbangan, akulah pengertian, padakulah kekuatan.


Kita tahu bahwa kita harus meminta maaf, tetapi ego menahannya.

Kita tahu bahwa kita harus berhenti dari kebiasaan yang salah, tetapi kita terus mengulanginya.

Kita tahu bahwa kita harus berkata jujur, tetapi kita takut terhadap konsekuensinya.

Kita tahu keputusan mana yang benar, tetapi kita tergoda memilih jalan yang lebih mudah.

Di sinilah kita melihat bahwa hikmat bukan sekadar pengetahuan.

Hikmat dari Tuhan memberi kita lebih daripada sekadar informasi mengenai apa yang benar.

Hikmat menolong kita memahami, mempertimbangkan, dan akhirnya memiliki kekuatan untuk menjalani kebenaran itu.

Kadang-kadang kita meminta Tuhan mengubah keadaan, padahal yang pertama-tama perlu Tuhan ubah adalah cara kita melihat keadaan tersebut.

Kita melihat masalah sebagai jalan buntu; hikmat melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar percaya kepada Tuhan.

Kita melihat orang yang menyakiti kita sebagai musuh; hikmat mengajar kita untuk melihat bahwa kita tetap dipanggil untuk mengasihi dan melakukan yang benar.

Kita melihat keputusan sulit sebagai sesuatu yang harus dihindari; hikmat mengajar kita bahwa ada saatnya kebenaran memang membutuhkan keberanian.

Berdoalah juga, “Tuhan, berikan aku hikmat untuk mengetahui jalan yang benar dan kekuatan untuk menjalaninya.”

Sebab sering kali kita tidak membutuhkan lebih banyak pilihan.

Kita membutuhkan pengertian untuk memilih dengan benar dan kekuatan untuk tetap setia setelah memilihnya.

Dan sumber hikmat itu adalah Tuhan sendiri.

Di dalam Kristus, kita bukan hanya menerima pengetahuan tentang kebenaran, tetapi dipanggil untuk hidup dalam kebenaran melalui pertolongan dan kuasa-Nya.

Hari ini mungkin ada sesuatu yang sedang Anda hadapi yang membuat Anda bingung atau lemah.

Jangan terburu-buru mengandalkan kemampuan sendiri.

Datanglah kepada Tuhan.

Mintalah nasihat ketika bingung, pertimbangan ketika harus memilih, pengertian ketika tidak memahami, dan kekuatan ketika tahu apa yang benar tetapi sulit melakukannya.



Menegur Karena Kasih

Menegur Karena Kasih


Siapa menegur orang, kemudian akan lebih disayangi dari pada orang yang menjilat.


Kita senang ketika orang mengatakan bahwa keputusan kita benar, pekerjaan kita baik, dan pilihan kita sudah tepat.

Tetapi justru karena itulah kita membutuhkan orang yang berani mengatakan kebenaran ketika kita sedang salah.

Kita mungkin takut hubungan menjadi renggang. Kita takut dianggap menghakimi.

Kita juga takut orang tersebut marah atau menjauh.

Akibatnya, terkadang kita memilih diam.

Kita melihat kesalahan, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Kita tahu seseorang sedang mengambil arah yang salah, tetapi kita memilih berkata, “Tidak apa-apa.”

Amsal 28:23 mengingatkan bahwa kasih tidak selalu berbicara dengan kata-kata yang menyenangkan.

Ada saatnya kasih harus berkata, “Ini tidak benar,” atau, “Kamu perlu berhenti sebelum semuanya menjadi lebih buruk.”

Teguran yang lahir dari kesombongan akan terasa seperti serangan.

Teguran yang lahir dari kasih akan berusaha memulihkan.

Tujuannya bukan membuat orang lain merasa kecil, melainkan menolongnya melihat sesuatu yang mungkin tidak dapat ia lihat sendiri.

Tetapi kebenaran yang Ia sampaikan selalu berada dalam kerangka kasih dan pemulihan.

Karena itu, sebelum menegur orang lain, tanyakan kepada diri sendiri: Apakah saya sedang berusaha menolong, atau hanya melampiaskan kekesalan?

Jangan hanya mencari orang yang selalu mengatakan apa yang ingin kita dengar.

Bersyukurlah untuk orang yang cukup mengasihi kita untuk mengatakan apa yang perlu kita dengar.

Pujian membuat kita nyaman, tetapi teguran yang benar dapat membuat kita bertumbuh.

Hari ini, mungkin Tuhan sedang memakai seseorang untuk menegur kita.

Jangan buru-buru menolak.

Dengarkan, renungkan, dan periksa diri kita di hadapan Tuhan.

Jangan menjilat demi diterima.
Jangan menegur demi menang.
Katakan kebenaran demi membangun.



Berhenti Mengulang Kesalahan

Berhenti Mengulang Kesalahan


Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.


Kita sudah tahu bahwa kebiasaan tertentu tidak baik, tetapi kita kembali melakukannya.

Kita sudah tahu bahwa perkataan tertentu akan melukai orang lain, tetapi kita mengucapkannya lagi.

Kita sudah mengalami akibat dari keputusan yang salah, tetapi ketika kesempatan yang sama datang, kita mengambil keputusan yang sama.

Amsal 26:11 menggambarkan keadaan seperti itu dengan perumpamaan yang sangat kuat: “Seperti anjing kembali ke muntahnya.”

Gambaran ini memang terasa keras. Tetapi justru karena keras, kita tidak boleh melewatkan pesannya.

Kesalahan tidak selalu menjadi masalah terbesar dalam hidup kita.

Kita semua pernah salah.

Kita pernah mengambil keputusan yang keliru, mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan, mempercayai orang yang salah, atau memilih jalan yang ternyata membawa kita kepada masalah.

Orang yang bijaksana tidak berkata, “Saya tidak pernah salah.” Ia berkata, “Apa yang dapat saya pelajari dari kesalahan ini?”

Ia berani mengevaluasi dirinya.
Ia mau mendengarkan teguran.
Ia mengakui ketika dirinya salah.

Dan yang paling penting, ia bersedia mengubah langkahnya.

Ia menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, atau mencari alasan, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mengubah dirinya.

Di sinilah kita perlu membedakan antara jatuh dan terus memilih untuk tinggal di tempat kita jatuh.

Tuhan dapat memakai kegagalan untuk mendidik dan membentuk kita.

Tetapi jangan sampai kita menjadikan kegagalan sebagai pola yang terus diulang.

Pertanyaan yang perlu kita tanyakan bukan hanya, “Apa yang salah?”, tetapi juga, “Apa yang harus saya ubah?”

Mungkin ada kebiasaan yang harus dihentikan.
Mungkin ada hubungan yang perlu diperbaiki.
Mungkin ada sikap yang harus direndahkan.
Mungkin ada nasihat yang selama ini kita tolak.
Mungkin ada dosa yang harus benar-benar ditinggalkan.

Justru karena kita menerima anugerah, kita memiliki kesempatan untuk berbalik dan menjalani hidup yang baru.

Hari ini, jangan hanya menyesali kesalahan masa lalu. Belajarlah darinya.

Jangan kembali kepada pola yang sama hanya karena pola itu sudah familiar.

Jangan mengulangi kebodohan yang sama hanya karena kita sudah terbiasa dengannya.

Hikmat terlihat ketika seseorang belajar, berubah, dan berjalan ke arah yang lebih benar.



Panggilan Suara yang Harus Ditolak

Panggilan Suara yang Harus Ditolak


Perempuan bebal cerewet, sangat tidak berpengalaman ia, dan tidak tahu malu. Ia duduk di depan pintu rumahnya di atas kursi di tempat-tempat yang tinggi di kota, dan orang-orang yang berlalu di jalan, yang lurus jalannya diundangnya dengan kata-kata: ”Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari”; dan kepada orang yang tidak berakal budi katanya:


Setiap hari kita mendengar banyak suara.

Ada suara dari keluarga, teman, lingkungan kerja, media sosial, budaya, bahkan dari dalam diri kita sendiri.

Masing-masing menawarkan pendapat, nasihat, dan jalan yang kelihatannya masuk akal.

Dalam bagian ini, perempuan bebal juga memiliki suara.

Ia duduk di tempat yang mudah terlihat dan memanggil orang-orang yang lewat.

Ia bahkan menggunakan undangan yang terdengar sederhana:

“Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari.”

Bukankah demikian juga cara banyak godaan bekerja?

Ia tidak selalu datang dengan mengatakan, “Mari lakukan sesuatu yang jahat.”

Sering kali ia berkata:

“Coba saja.”
“Tidak ada yang tahu.”
“Sekali ini saja.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Jangan terlalu serius.”

Undangannya terdengar biasa. Bahkan mungkin terasa menyenangkan.

Itulah sebabnya kita tidak boleh menilai sebuah suara hanya dari seberapa menarik perkataannya.

Kita perlu bertanya:
“Apakah suara ini membawa saya semakin dekat kepada hikmat Tuhan, atau justru menjauhkan saya dari-Nya?”

Perempuan bebal dalam bagian ini menarik orang yang belum memiliki kemampuan untuk membedakan.

Karena itu, salah satu tanda kedewasaan bukanlah bahwa kita mendengar semakin sedikit suara, tetapi bahwa kita semakin mampu membedakan suara mana yang layak didengar.

Tidak semua nasihat harus diterima.
Tidak semua pendapat harus dipercaya.
Tidak semua ajakan harus diikuti.

Hari ini mungkin ada sebuah suara yang sedang memanggil kita.

Mungkin suara untuk berkompromi dengan kebenaran.
Mungkin suara untuk membalas seseorang.
Mungkin suara untuk mengejar sesuatu dengan mengorbankan prinsip.

Atau mungkin suara yang mengatakan bahwa kita tidak perlu terlalu peduli dengan hikmat Tuhan.

Jangan berhenti hanya karena suara itu memanggil.

Belajarlah mengenali siapa yang berbicara dan ke mana suara itu membawa kita.



Tidak Sadar Tersandung

Tidak Sadar Tersandung


Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung.


Ia tidak bisa melihat kursi di depannya. Ia berjalan, lalu tersandung.

Ia bangkit dan berjalan lagi.

Beberapa langkah kemudian, ia tersandung lagi.

Yang menjadi masalah bukan hanya karena ia tersandung.  

Masalahnya adalah ia tidak dapat melihat apa yang membuatnya tersandung.

Dosa dapat bekerja seperti kegelapan.  

Pada awalnya mungkin kita masih tahu bahwa sesuatu itu salah.

Tetapi jika terus-menerus dilakukan, hati dapat menjadi semakin terbiasa.

Apa yang dahulu membuat kita merasa bersalah mulai terasa biasa.
Apa yang dahulu kita hindari mulai kita toleransi.

Yang lebih berbahaya, kita kemudian mulai mencari alasan mengapa kita terus jatuh.

Kita menyalahkan keadaan.
Kita menyalahkan orang lain.
Kita menyalahkan tekanan hidup.
Kita menyalahkan kelemahan kita.

Padahal mungkin masalah utamanya adalah jalan yang kita pilih.

Ini adalah salah satu akibat paling serius dari hidup dalam kegelapan: kita kehilangan kemampuan untuk melihat sumber masalah dengan jujur.

Firman Tuhan bukan hanya menunjukkan ke mana kita harus pergi.
Firman Tuhan juga menunjukkan mengapa kita terus tersandung.

Mungkin ada dosa yang selama ini kita pelihara.
Mungkin ada kebiasaan yang kita anggap kecil.
Mungkin ada kompromi yang terus kita benarkan.

Mungkin ada nasihat yang sebenarnya sudah berkali-kali Tuhan berikan, tetapi kita memilih untuk tidak mendengarkannya.

Mintalah Tuhan menerangi hati kita.

Sebab terkadang yang paling kita perlukan bukan sekadar kekuatan untuk bangkit setelah jatuh, tetapi terang untuk melihat apa yang membuat kita terus jatuh.

Jalan orang benar digambarkan seperti cahaya fajar yang semakin terang.

Tuhan tidak memanggil kita untuk berjalan dalam kegelapan dan menebak-nebak arah.



Tidak Selalu Mudah

Tidak Selalu Mudah


Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya menuju kesejahteraan.


Kalau ada jalan yang lebih cepat, kita pilih yang cepat.

Kalau ada pilihan yang tidak membutuhkan pengorbanan, kita memilihnya.

Kalau harus memilih antara melakukan yang benar dan melakukan yang nyaman, hati kita sering tergoda memilih yang nyaman.

Ada jalan yang mudah untuk mendapatkan uang, tetapi tidak jujur.

Ada jalan yang mudah untuk menyelesaikan konflik, tetapi dengan menyimpan kepahitan.

Ada jalan yang mudah untuk mendapatkan penerimaan orang lain, tetapi dengan mengorbankan prinsip.

Ada jalan yang mudah untuk memuaskan keinginan, tetapi akhirnya membawa penyesalan.

Jalan hikmat mungkin tidak selalu paling mudah, tetapi membawa kita kepada kehidupan yang benar.

Ketika kita memilih kejujuran meskipun merugikan, mengampuni meskipun terluka, bersabar meskipun ingin membalas, dan menaati Tuhan meskipun harus menyangkal diri, kita sedang berjalan di jalan hikmat.

Kesejahteraan bukan berarti semua keinginan kita terpenuhi. Yang ditawarkan hikmat adalah kehidupan yang berjalan dalam arah yang benar bersama Tuhan.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Mana jalan yang paling mudah?”

Tanyakan juga:
“Mana jalan yang paling sesuai dengan hikmat Tuhan?”



Tidak Semua Nasihat Perlu Diikuti

Tidak Semua Nasihat Perlu Diikuti


supaya engkau terlepas dari jalan yang jahat, dari orang yang mengucapkan tipu muslihat.


Kita sering berpikir bahwa sesuatu yang berbahaya pasti terlihat buruk sejak awal. Padahal tidak selalu demikian.

Seseorang memberikan nasihat. Kita mendengarnya.

Kedengarannya masuk akal.  Bahkan mungkin terdengar seperti sesuatu yang menguntungkan kita.

Sedikit demi sedikit, kita mulai mempertimbangkannya.

Sampai akhirnya kita melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Tidak semua orang yang berbicara dengan percaya diri sedang mengatakan kebenaran.

Tidak semua nasihat yang terdengar pintar berasal dari hikmat.

Dan tidak semua kesempatan yang terlihat menguntungkan layak kita ambil.

Kadang-kadang masalah kita bukan karena kita tidak tahu apa yang benar.

Kita sebenarnya tahu.  Tetapi kita terlalu mudah dipengaruhi oleh perkataan orang lain.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apakah perkataan ini masuk akal?”

Tanyakan juga, “Apakah perkataan ini sesuai dengan kebenaran Tuhan?”

Hikmat membuat kita tidak mudah terbawa emosi, tekanan, keuntungan sesaat, atau bujukan orang lain.

Hari ini mungkin ada banyak suara yang mencoba memengaruhi keputusan kita.

Ada suara yang mengatakan, “Tidak apa-apa.”
Ada yang berkata, “Semua orang juga melakukannya.”
Ada yang membisikkan, “Kamu akan rugi kalau tidak ikut.”

Sebab jalan yang benar tidak selalu merupakan jalan yang paling mudah, dan perkataan yang benar tidak selalu merupakan perkataan yang paling menyenangkan untuk didengar.

Mintalah kepada Tuhan hati yang peka terhadap kebenaran. Jangan mudah terpikat oleh perkataan manusia. Biarlah hikmat Tuhan menjaga pikiran, hati, dan setiap langkah kita.



Bahaya Merasa Diri Bijak

Bahaya Merasa Diri Bijak


Jika engkau melihat orang yang menganggap dirinya bijak, harapan bagi orang bebal lebih banyak dari pada bagi orang itu.


Ada orang yang tidak tahu jalan tetapi mau bertanya.
Ada orang yang tersesat tetapi mau menerima petunjuk.
Ada orang yang salah tetapi mau kembali.
Ada orang yang belum mengerti tetapi mau belajar.

Orang seperti ini masih memiliki harapan.

Ia tidak mau bertanya.
Ia tidak mau mendengar.
Ia tidak mau menerima petunjuk.

Bahkan ketika orang lain menunjukkan bahwa ia salah, ia tetap mempertahankan jalannya.

Orang seperti inilah yang sedang diperingatkan Salomo.

Mungkin selama ini kita berdoa agar Tuhan memberikan hikmat.

Tetapi Amsal 26:12 mengajak kita melihat sisi yang lain:
Apakah kita masih memiliki kerendahan hati untuk menerima hikmat ketika Tuhan memberikannya?

Sebab Tuhan dapat memberikan nasihat melalui firman-Nya.

Dan juga:
Tuhan dapat memberikan koreksi melalui orang lain.
Tuhan dapat menggunakan pasangan kita.
Tuhan dapat memakai anak-anak kita.
Tuhan dapat memakai rekan pelayanan.

Bahkan Tuhan dapat memakai seseorang yang jauh lebih muda atau lebih sederhana daripada kita.

Maka pertanyaannya bukan:
“Siapa yang memberikan nasihat itu kepada saya?”

Pertanyaannya adalah:
“Apakah Tuhan sedang mengajar saya melalui orang itu?”

Sebab mungkin justru pada saat kita merasa sudah tahu semuanya, kita sedang berhenti belajar.

Hari ini, marilah kita meminta hati yang rendah hati:

“Tuhan, jangan biarkan saya menjadi orang yang merasa sudah tahu semuanya. Beri saya hati yang mau mendengar, mau belajar, mau menerima teguran, dan mau berubah.”

Karena orang yang menyadari bahwa dirinya masih perlu belajar masih memiliki banyak harapan.