Tidak Sadar Tersandung

Tidak Sadar Tersandung


Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung.


Ia tidak bisa melihat kursi di depannya. Ia berjalan, lalu tersandung.

Ia bangkit dan berjalan lagi.

Beberapa langkah kemudian, ia tersandung lagi.

Yang menjadi masalah bukan hanya karena ia tersandung.  

Masalahnya adalah ia tidak dapat melihat apa yang membuatnya tersandung.

Dosa dapat bekerja seperti kegelapan.  

Pada awalnya mungkin kita masih tahu bahwa sesuatu itu salah.

Tetapi jika terus-menerus dilakukan, hati dapat menjadi semakin terbiasa.

Apa yang dahulu membuat kita merasa bersalah mulai terasa biasa.
Apa yang dahulu kita hindari mulai kita toleransi.

Yang lebih berbahaya, kita kemudian mulai mencari alasan mengapa kita terus jatuh.

Kita menyalahkan keadaan.
Kita menyalahkan orang lain.
Kita menyalahkan tekanan hidup.
Kita menyalahkan kelemahan kita.

Padahal mungkin masalah utamanya adalah jalan yang kita pilih.

Ini adalah salah satu akibat paling serius dari hidup dalam kegelapan: kita kehilangan kemampuan untuk melihat sumber masalah dengan jujur.

Firman Tuhan bukan hanya menunjukkan ke mana kita harus pergi.
Firman Tuhan juga menunjukkan mengapa kita terus tersandung.

Mungkin ada dosa yang selama ini kita pelihara.
Mungkin ada kebiasaan yang kita anggap kecil.
Mungkin ada kompromi yang terus kita benarkan.

Mungkin ada nasihat yang sebenarnya sudah berkali-kali Tuhan berikan, tetapi kita memilih untuk tidak mendengarkannya.

Mintalah Tuhan menerangi hati kita.

Sebab terkadang yang paling kita perlukan bukan sekadar kekuatan untuk bangkit setelah jatuh, tetapi terang untuk melihat apa yang membuat kita terus jatuh.

Jalan orang benar digambarkan seperti cahaya fajar yang semakin terang.

Tuhan tidak memanggil kita untuk berjalan dalam kegelapan dan menebak-nebak arah.



Tidak Selalu Mudah

Tidak Selalu Mudah


Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya menuju kesejahteraan.


Kalau ada jalan yang lebih cepat, kita pilih yang cepat.

Kalau ada pilihan yang tidak membutuhkan pengorbanan, kita memilihnya.

Kalau harus memilih antara melakukan yang benar dan melakukan yang nyaman, hati kita sering tergoda memilih yang nyaman.

Ada jalan yang mudah untuk mendapatkan uang, tetapi tidak jujur.

Ada jalan yang mudah untuk menyelesaikan konflik, tetapi dengan menyimpan kepahitan.

Ada jalan yang mudah untuk mendapatkan penerimaan orang lain, tetapi dengan mengorbankan prinsip.

Ada jalan yang mudah untuk memuaskan keinginan, tetapi akhirnya membawa penyesalan.

Jalan hikmat mungkin tidak selalu paling mudah, tetapi membawa kita kepada kehidupan yang benar.

Ketika kita memilih kejujuran meskipun merugikan, mengampuni meskipun terluka, bersabar meskipun ingin membalas, dan menaati Tuhan meskipun harus menyangkal diri, kita sedang berjalan di jalan hikmat.

Kesejahteraan bukan berarti semua keinginan kita terpenuhi. Yang ditawarkan hikmat adalah kehidupan yang berjalan dalam arah yang benar bersama Tuhan.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Mana jalan yang paling mudah?”

Tanyakan juga:
“Mana jalan yang paling sesuai dengan hikmat Tuhan?”



Tidak Semua Nasihat Perlu Diikuti

Tidak Semua Nasihat Perlu Diikuti


supaya engkau terlepas dari jalan yang jahat, dari orang yang mengucapkan tipu muslihat.


Kita sering berpikir bahwa sesuatu yang berbahaya pasti terlihat buruk sejak awal. Padahal tidak selalu demikian.

Seseorang memberikan nasihat. Kita mendengarnya.

Kedengarannya masuk akal.  Bahkan mungkin terdengar seperti sesuatu yang menguntungkan kita.

Sedikit demi sedikit, kita mulai mempertimbangkannya.

Sampai akhirnya kita melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Tidak semua orang yang berbicara dengan percaya diri sedang mengatakan kebenaran.

Tidak semua nasihat yang terdengar pintar berasal dari hikmat.

Dan tidak semua kesempatan yang terlihat menguntungkan layak kita ambil.

Kadang-kadang masalah kita bukan karena kita tidak tahu apa yang benar.

Kita sebenarnya tahu.  Tetapi kita terlalu mudah dipengaruhi oleh perkataan orang lain.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apakah perkataan ini masuk akal?”

Tanyakan juga, “Apakah perkataan ini sesuai dengan kebenaran Tuhan?”

Hikmat membuat kita tidak mudah terbawa emosi, tekanan, keuntungan sesaat, atau bujukan orang lain.

Hari ini mungkin ada banyak suara yang mencoba memengaruhi keputusan kita.

Ada suara yang mengatakan, “Tidak apa-apa.”
Ada yang berkata, “Semua orang juga melakukannya.”
Ada yang membisikkan, “Kamu akan rugi kalau tidak ikut.”

Sebab jalan yang benar tidak selalu merupakan jalan yang paling mudah, dan perkataan yang benar tidak selalu merupakan perkataan yang paling menyenangkan untuk didengar.

Mintalah kepada Tuhan hati yang peka terhadap kebenaran. Jangan mudah terpikat oleh perkataan manusia. Biarlah hikmat Tuhan menjaga pikiran, hati, dan setiap langkah kita.



Bahaya Merasa Diri Bijak

Bahaya Merasa Diri Bijak


Jika engkau melihat orang yang menganggap dirinya bijak, harapan bagi orang bebal lebih banyak dari pada bagi orang itu.


Ada orang yang tidak tahu jalan tetapi mau bertanya.
Ada orang yang tersesat tetapi mau menerima petunjuk.
Ada orang yang salah tetapi mau kembali.
Ada orang yang belum mengerti tetapi mau belajar.

Orang seperti ini masih memiliki harapan.

Ia tidak mau bertanya.
Ia tidak mau mendengar.
Ia tidak mau menerima petunjuk.

Bahkan ketika orang lain menunjukkan bahwa ia salah, ia tetap mempertahankan jalannya.

Orang seperti inilah yang sedang diperingatkan Salomo.

Mungkin selama ini kita berdoa agar Tuhan memberikan hikmat.

Tetapi Amsal 26:12 mengajak kita melihat sisi yang lain:
Apakah kita masih memiliki kerendahan hati untuk menerima hikmat ketika Tuhan memberikannya?

Sebab Tuhan dapat memberikan nasihat melalui firman-Nya.

Dan juga:
Tuhan dapat memberikan koreksi melalui orang lain.
Tuhan dapat menggunakan pasangan kita.
Tuhan dapat memakai anak-anak kita.
Tuhan dapat memakai rekan pelayanan.

Bahkan Tuhan dapat memakai seseorang yang jauh lebih muda atau lebih sederhana daripada kita.

Maka pertanyaannya bukan:
“Siapa yang memberikan nasihat itu kepada saya?”

Pertanyaannya adalah:
“Apakah Tuhan sedang mengajar saya melalui orang itu?”

Sebab mungkin justru pada saat kita merasa sudah tahu semuanya, kita sedang berhenti belajar.

Hari ini, marilah kita meminta hati yang rendah hati:

“Tuhan, jangan biarkan saya menjadi orang yang merasa sudah tahu semuanya. Beri saya hati yang mau mendengar, mau belajar, mau menerima teguran, dan mau berubah.”

Karena orang yang menyadari bahwa dirinya masih perlu belajar masih memiliki banyak harapan.



Lebih Berharga Dari Pujian

Lebih Berharga Dari Pujian


Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar.


Ada kalanya seseorang menegur karena ia melihat sesuatu yang tidak mampu kita lihat tentang diri kita sendiri.

Ia mungkin melihat sikap yang salah, keputusan yang keliru, atau kebiasaan yang perlahan-lahan membawa kita menjauh dari jalan yang benar.

Karena itu, jangan terlalu cepat menolak teguran hanya karena teguran itu tidak menyenangkan.

Bayangkan seseorang yang sedang berjalan dengan noda di wajahnya.

Orang-orang di sekitarnya mungkin memilih diam supaya tidak membuatnya malu.

Tetapi seorang sahabat berkata, “Ada sesuatu di wajahmu.”

Mungkin perkataan itu membuatnya tidak nyaman sesaat, tetapi justru sahabat itulah yang menolongnya.

Demikian pula dalam kehidupan rohani.

Terkadang Tuhan memakai orang lain untuk menunjukkan sesuatu yang perlu diperbaiki dalam diri kita.

Yang menjadi persoalan bukan hanya apakah teguran itu benar, tetapi juga apakah kita memiliki telinga yang mau mendengar.

Artinya, teguran menjadi berharga ketika kita menerimanya dengan hati yang terbuka.

Kita perlu belajar membedakan antara kritik yang menjatuhkan dan teguran yang membangun.

Tidak semua perkataan orang harus kita terima begitu saja.

Tetapi ketika seseorang yang bijaksana, yang mengasihi kita, menunjukkan sesuatu yang perlu diperbaiki, jangan langsung membela diri.

Berhentilah sejenak.
Dengarkan.
Doakan.
Periksa hati kita di hadapan Tuhan.

Mungkin ada sesuatu yang Tuhan ingin ubah melalui teguran tersebut.

Hari ini, jangan hanya berdoa, “Tuhan, berikan aku hikmat untuk berbicara.”

Berdoalah juga:
“Tuhan, berikan aku kerendahan hati untuk mendengar.”

Sebab terkadang pertumbuhan terbesar dalam hidup kita tidak dimulai ketika seseorang memuji kita, tetapi ketika seseorang dengan kasih menunjukkan kepada kita apa yang perlu diperbaiki.



Yang Manis Bagi Jiwa

Yang Manis Bagi Jiwa


Anakku, makanlah madu, sebab itu baik; dan tetesan madu manis untuk langit-langit mulutmu. Ketahuilah, bahwa demikian hikmat untuk jiwamu: jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang.


Madu adalah salah satu gambaran yang paling sederhana tentang sesuatu yang menyenangkan. Ketika madu menyentuh lidah, kita langsung merasakan manisnya.

Namun Salomo menggunakan madu untuk mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Ada sesuatu yang manis bukan hanya bagi mulut, tetapi juga bagi jiwa: hikmat.

Kadang hikmat membuat kita harus menunggu ketika kita ingin segera mendapatkan sesuatu.

Hikmat membuat kita berkata tidak ketika kesempatan yang ada sebenarnya sangat menarik.

Hikmat mengajarkan kita untuk mengendalikan perkataan ketika kita sebenarnya ingin membalas.

Hikmat juga menolong kita menerima bahwa tidak semua keinginan harus diwujudkan.

Tetapi justru di situlah nilainya.

Apa yang terasa menyenangkan hari ini belum tentu baik bagi masa depan.

Sebaliknya, sesuatu yang terasa berat hari ini dapat menjadi perlindungan bagi kehidupan kita di kemudian hari.

Hikmat memberikan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kesenangan sesaat.

Hikmat memberikan arah.

Dan ayat 14 membawa kita kepada sebuah janji yang indah:
“Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang.”

Yang diberikan hikmat adalah kemampuan untuk menjalani kehidupan dengan arah yang benar.

Ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, hikmat menolong kita menentukan bagaimana kita harus hidup hari ini.

Ketika masa depan terlihat tidak pasti, hikmat mengingatkan kita untuk tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan keadaan sesaat.

Ketika harapan mulai melemah, hikmat menolong kita kembali kepada kebenaran Tuhan.

Mungkin hari ini kita sedang berada dalam situasi yang membuat kita bertanya-tanya tentang masa depan.

Kita belum tahu bagaimana semuanya akan berakhir.

Tetapi: Jangan hanya mencari jalan yang terlihat paling mudah.  Carilah hikmat Tuhan.

Tetapi hikmat Tuhan, sekalipun terkadang menuntut kesabaran dan ketaatan, memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: masa depan dan harapan.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apa yang saya inginkan?”

Belajarlah bertanya:
“Apa yang bijaksana di hadapan Tuhan?”

Sebab ketika kita memilih untuk hidup dalam hikmat Tuhan, kita sedang membangun kehidupan bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan.



Tuhan Selalu Menjaga Kebenaran

Tuhan Selalu Menjaga Kebenaran


Mata TUHAN menjaga pengetahuan, tetapi Ia membatalkan perkataan si pengkhianat.


Kita mungkin sudah menjelaskan dengan jujur, tetapi perkataan kita disalahartikan.

Kita sudah berusaha melakukan yang benar, tetapi muncul cerita lain yang membuat kita terlihat bersalah.

Lebih menyakitkan lagi ketika perkataan yang tidak benar justru lebih cepat dipercaya daripada penjelasan yang jujur.

Dalam situasi seperti itu, kita mudah merasa harus membela diri dengan segala cara.

Kita ingin menjelaskan lebih banyak, membalas perkataan yang menyakitkan, atau berusaha memastikan semua orang mengetahui versi kita.

Tuhan melihat apa yang manusia tidak lihat.  

Ia mengetahui fakta yang sebenarnya, motivasi yang tersembunyi, dan kebenaran yang mungkin tidak diketahui oleh siapa pun.

Ketika manusia hanya melihat potongan cerita, Tuhan melihat seluruhnya.

Ini memberikan penghiburan yang besar.

Kita tidak harus hidup dengan ketakutan bahwa kebenaran akan selamanya kalah hanya karena untuk sementara orang lain tidak melihatnya.

Ada perkataan yang bukan sekadar salah informasi, tetapi lahir dari hati yang tidak setia.

Ada orang yang menggunakan perkataan untuk menipu, menjatuhkan, memanipulasi, atau menyembunyikan maksud yang sebenarnya.

Perkataan seperti itu mungkin terlihat kuat untuk sementara waktu, tetapi Tuhan sanggup membatalkannya.

Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan bahwa kita harus membalas pengkhianatan dengan pengkhianatan.

Amsal justru mengajarkan kita untuk hidup dalam hikmat.

Ketika menghadapi perkataan yang tidak benar, respons kita tidak boleh berubah menjadi kebohongan baru.

Kita tidak perlu menjadi seperti orang yang melawan kita untuk mempertahankan kebenaran.

Jika kita mengetahui bahwa kita sedang berjalan dalam kebenaran, tetaplah berjalan dalam kebenaran.

Jika perlu menjelaskan, jelaskan dengan jujur.
Jika perlu meminta maaf, mintalah maaf.
Jika ada kesalahan kita, jangan sembunyikan.

Ada hal yang dapat kita lakukan, dan ada hal yang harus kita serahkan kepada Tuhan.

Kita bertanggung jawab atas perkataan dan karakter kita.

Tuhan bertanggung jawab atas bagaimana kebenaran itu pada akhirnya dinyatakan dan bagaimana perkataan yang jahat digagalkan.

Tidak semua yang terdengar meyakinkan adalah benar.

Hikmat bukan hanya kemampuan berbicara, tetapi juga kemampuan menguji apa yang kita dengar.

Jangan terlalu cepat mempercayai sebuah cerita hanya karena disampaikan dengan percaya diri.

Jangan ikut menyebarkan sesuatu hanya karena banyak orang sudah membicarakannya.

Ingatlah bahwa Tuhan melihat kebenaran secara utuh.

Ketika manusia salah memahami kita, Tuhan tetap melihat.

Ketika perkataan yang tidak benar diarahkan kepada kita, Tuhan tetap mengetahui.

Dan ketika kebohongan tampaknya semakin kuat, Tuhan tetap berkuasa membatalkannya.

Karena itu, tetaplah hidup dalam kebenaran, sekalipun kebenaran itu belum segera terlihat.

Jangan membalas kebohongan dengan kebohongan.

Percayalah kepada Tuhan yang melihat semuanya, menjaga kebenaran, dan sanggup membatalkan perkataan yang tidak benar.



Melihat dan Mendengar Dengan Benar

Melihat dan Mendengar Dengan Benar


Telinga yang mendengar dan mata yang melihat, kedua-duanya dibuat oleh TUHAN


Setiap pagi kita membuka mata dan melihat keadaan di sekitar kita.

Kita mendengar suara orang berbicara, mendengar berita, membaca berbagai informasi, dan menerima begitu banyak suara sepanjang hari.

Karena semuanya terjadi secara alami, kita jarang berhenti untuk menyadari bahwa kemampuan itu sendiri adalah pemberian Tuhan.

Amsal 20:12 membawa kita kembali kepada sumbernya: “Telinga yang mendengar dan mata yang melihat, kedua-duanya dibuat oleh TUHAN.”

Ada sesuatu yang sangat sederhana tetapi penting dalam ayat ini.

Tuhan bukan hanya memperhatikan hal-hal besar dalam kehidupan kita.

Ia adalah Pencipta yang memberikan kepada kita kemampuan untuk melihat dan mendengar.

Karena itu, mata dan telinga seharusnya tidak hanya digunakan untuk memenuhi keinginan kita, tetapi juga untuk belajar mengenali kebenaran dan berjalan dalam hikmat.

Kita dapat melihat seseorang yang sedang terluka, tetapi memilih tidak peduli.

Kita dapat melihat bahwa sebuah keputusan mulai membawa masalah, tetapi tetap mempertahankannya karena kita tidak mau mengakui kesalahan.

Kita dapat melihat kelemahan orang lain dengan sangat jelas, tetapi tidak mampu melihat kelemahan diri sendiri.

Kita mendengar nasihat, tetapi hanya menerima nasihat yang sesuai dengan keinginan kita.

Kita mendengar teguran, tetapi segera mencari alasan untuk membela diri.

Kita mendengar firman Tuhan, tetapi setelah mendengarnya kita kembali menjalani hidup seperti sebelumnya.

Di sinilah hikmat menjadi penting.

Orang berhikmat bukan hanya orang yang mampu melihat, tetapi orang yang bersedia melihat kenyataan sebagaimana adanya.

Orang berhikmat bukan hanya orang yang mampu mendengar, tetapi orang yang bersedia menerima kebenaran sekalipun kebenaran itu tidak selalu menyenangkan.

Mungkin Tuhan sudah menunjukkan sesuatu melalui keadaan yang kita alami.

Mungkin sebuah kegagalan sedang memperlihatkan bahwa ada keputusan yang perlu diperbaiki.

Mungkin teguran dari seseorang sebenarnya sedang menolong kita melihat bagian diri yang selama ini tidak kita sadari.

Mungkin firman Tuhan sudah berkali-kali berbicara tentang sesuatu yang perlu kita ubah, tetapi kita terus mengabaikannya.

Jangan hanya menggunakan mata untuk mencari kesalahan orang lain.  Gunakan mata untuk melihat apa yang Tuhan ingin kita pelajari.

Jangan hanya menggunakan telinga untuk mendengar pujian. Gunakan telinga untuk menerima nasihat dan teguran yang dapat membawa kita kepada kehidupan yang lebih benar.

Jangan hanya melihat apa yang ada di depan mata.  Belajarlah melihat dengan hikmat.

Jangan hanya mendengar kata-kata yang menyenangkan.  Belajarlah mendengar kebenaran.

Tetapi kita dapat menentukan bagaimana kita meresponsnya.

Kita dapat memilih apakah kita akan menjadi orang yang keras hati atau orang yang mau belajar.

Ada kalanya Tuhan menggunakan sesuatu yang tidak menyenangkan untuk membuka mata kita.

Ada kalanya Ia memakai perkataan yang keras tetapi benar untuk membuka telinga kita.

Dan ketika itu terjadi, respons yang bijaksana bukanlah langsung menolak, melainkan berhenti sejenak dan bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau ingin saya lihat? Apa yang Engkau ingin saya dengar?”

Hari ini, jangan terburu-buru melewati apa yang Tuhan izinkan kita lihat dan dengar.

Perhatikan.  Dengarkan.  Renungkan.  Belajarlah.

Sebab mungkin di balik sesuatu yang selama ini kita anggap biasa, Tuhan sedang mengajar kita sesuatu yang sangat penting.



Periksa Ujung Jalanmu

Periksa Ujung Jalanmu


Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.


Kadang-kadang kita mengambil keputusan karena semuanya tampak masuk akal.

Perhitungannya benar, peluangnya besar, perasaannya nyaman, dan orang-orang di sekitar kita bahkan mendukungnya.

Tetapi Amsal 14:12 mengingatkan bahwa apa yang terlihat benar belum tentu benar di hadapan Tuhan.

Artinya, seseorang dapat berjalan dengan penuh keyakinan sambil sebenarnya sedang menuju arah yang salah.

Inilah salah satu bahaya terbesar dalam kehidupan rohani: bukan ketika kita tahu bahwa kita sedang salah, tetapi ketika kita salah dan yakin bahwa kita benar.

“Menurut saya, ini baik.”
“Saya merasa damai.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Secara logika, ini masuk akal.”

Semua itu bisa menjadi pertimbangan, tetapi bukan standar terakhir.

Standar terakhir seharusnya adalah kehendak dan firman Tuhan.

Daud pernah berdoa:
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku.”
— Mazmur 139:23

Doa seperti ini menunjukkan kerendahan hati: “Tuhan, jangan biarkan saya hanya percaya kepada penilaian saya sendiri.”

Apakah jalan ini sesuai dengan firman-Mu?
Apakah motivasi saya benar?
Apakah keputusan ini membawa saya semakin dekat kepada Kristus?

Jika konsekuensinya tidak menyenangkan, apakah saya tetap mau menaati Tuhan?

Kadang jalan ketaatan terasa lebih lambat.
Kadang kita harus menunggu.

Kadang kita harus berkata tidak kepada kesempatan yang menguntungkan.

Kadang kita harus kehilangan sesuatu yang kita inginkan demi mempertahankan apa yang benar.

Jalan dosa mungkin menawarkan kenikmatan sementara, tetapi berakhir dalam kehancuran.

Jalan kompromi mungkin memberikan keuntungan sesaat, tetapi perlahan merusak karakter.

Jalan kesombongan mungkin membuat kita terlihat berhasil, tetapi akhirnya menjauhkan kita dari Tuhan.

Sebaliknya, jalan ketaatan kepada Tuhan mungkin tidak selalu mudah, tetapi ujungnya adalah kehidupan yang berada di dalam kehendak-Nya.

Hari ini, mungkin ada keputusan yang sedang kita hadapi.

Jangan hanya bertanya, “Apakah jalan ini terlihat benar?”
Tanyakan juga: “Ke mana jalan ini akan membawa saya?”

Sebab hikmat bukan hanya kemampuan memilih jalan yang terlihat baik.



Antara Dua Undangan

Antara Dua Undangan


Marilah, makanlah rotiku, dan minumlah anggur yang telah kucampur; buanglah kebodohan, maka kamu akan hidup, dan ikutilah jalan pengertian.


Biasanya kita merasa dihargai karena tidak semua orang diundang ke meja makan seseorang.

Ada keakraban, penerimaan, dan hubungan yang dibangun melalui sebuah jamuan.

Demikian pula Amsal 9 menggambarkan Hikmat Allah.

Ia tidak berdiri di sudut jalan sambil memarahi orang yang bodoh.  Sebaliknya, ia menyiapkan sebuah rumah, menyediakan hidangan terbaik, lalu mengundang siapa saja yang mau datang.

Betapa indah gambaran ini.  Allah tidak pelit membagikan hikmat-Nya. Ia justru mengundang setiap orang yang mau belajar.

Sering kali kita menginginkan berkat Tuhan, tetapi enggan meninggalkan pola hidup lama.

Kita ingin memperoleh damai sejahtera, tetapi tetap memelihara kepahitan.

Kita ingin memiliki keluarga yang diberkati, tetapi tetap mempertahankan ego.

Kita ingin keputusan yang bijaksana, tetapi menolak ditegur firman Tuhan.

Hikmat tidak dapat bertumbuh di hati yang terus memelihara kebodohan.

Kebodohan adalah sikap hati yang menolak takut akan Tuhan.  

Orang yang bodoh merasa dirinya sudah benar, tidak mau diajar, dan lebih mengandalkan pikirannya sendiri daripada firman Allah.

Sebaliknya, orang berhikmat tetap memiliki hati yang mau belajar, sekalipun usianya bertambah dan pengalamannya semakin banyak.

Sama seperti tubuh membutuhkan makanan setiap hari, jiwa kita membutuhkan firman Tuhan setiap hari.

Tidak cukup hanya mendengar firman pada hari Minggu.  Tuhan menghendaki kita terus “makan” roti hikmat-Nya melalui pembacaan Alkitab, doa, dan ketaatan setiap hari.

Orang yang jarang memberi makan jiwanya dengan firman akan lebih mudah dipengaruhi oleh suara dunia, emosi, dan keinginannya sendiri.

Barangsiapa datang kepada-Nya tidak akan lapar lagi.

Di dalam Kristus kita menemukan hikmat Allah yang sempurna.

Ketika kita hidup dekat dengan-Nya, Roh Kudus membentuk cara berpikir kita sehingga semakin serupa dengan kehendak Allah.

Keputusan-keputusan kita tidak lagi didorong oleh ambisi pribadi, melainkan oleh kerinduan untuk memuliakan Tuhan.

Dunia mengundang kita mengejar kesenangan instan, kompromi, dan jalan yang tampaknya mudah.

Hikmat Allah mengundang kita kepada kehidupan yang mungkin menuntut penyangkalan diri, tetapi menghasilkan damai, karakter yang dewasa, dan sukacita yang kekal.

Undangan Tuhan masih terbuka.

Pertanyaannya bukan apakah Tuhan mau memberikan hikmat-Nya, melainkan apakah kita bersedia meninggalkan kebodohan dan duduk di meja yang telah Dia sediakan.

Orang yang menjawab undangan itu akan menemukan bahwa kehidupan bersama Tuhan selalu jauh lebih memuaskan daripada apa pun yang ditawarkan dunia.