Keinginan Bukanlah Kompas Kebenaran

Keinginan Bukanlah Kompas Kebenaran


Hai anakku, mengapa engkau berahi akan perempuan jalang, dan memeluk dada perempuan lain?


Ada hal-hal yang terlihat indah, menyenangkan, bahkan membuat hati berdebar, tetapi tetap salah karena bukan bagian yang Tuhan berikan kepada kita.

Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah saya sudah melakukan dosa?” tetapi juga, “Ke mana keinginan saya sedang membawa saya?”

Seseorang dapat mulai dengan sekadar menikmati perhatian dari orang lain.

Kemudian mulai menunggu pesan darinya.
Mulai mencari kesempatan untuk bertemu.
Mulai membandingkan pasangan sendiri dengan orang tersebut.

Perlahan-lahan, hati mulai memberikan ruang kepada seseorang yang seharusnya tidak diberi ruang.

Itulah sebabnya hikmat tidak menunggu sampai kita jatuh.

Hikmat mengajarkan kita untuk mengenali arah sebelum sampai di tujuan yang salah.

Jika seseorang sudah menikah, kesetiaan bukan hanya berarti tidak berselingkuh secara fisik.

Kesetiaan juga berarti tidak memberi makan keinginan yang dapat membawa kita kepada ketidaksetiaan.

Dan bagi kita semua, prinsipnya lebih luas: jangan membiarkan hati menginginkan sesuatu hanya karena kita mampu mendapatkannya.

Ada banyak hal yang kita inginkan tetapi tidak Tuhan kehendaki.

Kedewasaan rohani terlihat ketika kita mampu berkata:
“Saya menginginkannya, tetapi saya tidak akan mengambilnya, karena saya ingin hidup dalam kehendak Tuhan.”

Godaan tidak selalu meminta kita melakukan sesuatu yang besar sekaligus.

Sering kali ia hanya meminta kita memberi sedikit ruang kepada sebuah keinginan.

Karena itu, jangan hanya menjaga langkahmu. Jagalah keinginanmu.



Tidak Sadar Tersandung

Tidak Sadar Tersandung


Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung.


Ia tidak bisa melihat kursi di depannya. Ia berjalan, lalu tersandung.

Ia bangkit dan berjalan lagi.

Beberapa langkah kemudian, ia tersandung lagi.

Yang menjadi masalah bukan hanya karena ia tersandung.  

Masalahnya adalah ia tidak dapat melihat apa yang membuatnya tersandung.

Dosa dapat bekerja seperti kegelapan.  

Pada awalnya mungkin kita masih tahu bahwa sesuatu itu salah.

Tetapi jika terus-menerus dilakukan, hati dapat menjadi semakin terbiasa.

Apa yang dahulu membuat kita merasa bersalah mulai terasa biasa.
Apa yang dahulu kita hindari mulai kita toleransi.

Yang lebih berbahaya, kita kemudian mulai mencari alasan mengapa kita terus jatuh.

Kita menyalahkan keadaan.
Kita menyalahkan orang lain.
Kita menyalahkan tekanan hidup.
Kita menyalahkan kelemahan kita.

Padahal mungkin masalah utamanya adalah jalan yang kita pilih.

Ini adalah salah satu akibat paling serius dari hidup dalam kegelapan: kita kehilangan kemampuan untuk melihat sumber masalah dengan jujur.

Firman Tuhan bukan hanya menunjukkan ke mana kita harus pergi.
Firman Tuhan juga menunjukkan mengapa kita terus tersandung.

Mungkin ada dosa yang selama ini kita pelihara.
Mungkin ada kebiasaan yang kita anggap kecil.
Mungkin ada kompromi yang terus kita benarkan.

Mungkin ada nasihat yang sebenarnya sudah berkali-kali Tuhan berikan, tetapi kita memilih untuk tidak mendengarkannya.

Mintalah Tuhan menerangi hati kita.

Sebab terkadang yang paling kita perlukan bukan sekadar kekuatan untuk bangkit setelah jatuh, tetapi terang untuk melihat apa yang membuat kita terus jatuh.

Jalan orang benar digambarkan seperti cahaya fajar yang semakin terang.

Tuhan tidak memanggil kita untuk berjalan dalam kegelapan dan menebak-nebak arah.



Tidak Selalu Mudah

Tidak Selalu Mudah


Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya menuju kesejahteraan.


Kalau ada jalan yang lebih cepat, kita pilih yang cepat.

Kalau ada pilihan yang tidak membutuhkan pengorbanan, kita memilihnya.

Kalau harus memilih antara melakukan yang benar dan melakukan yang nyaman, hati kita sering tergoda memilih yang nyaman.

Ada jalan yang mudah untuk mendapatkan uang, tetapi tidak jujur.

Ada jalan yang mudah untuk menyelesaikan konflik, tetapi dengan menyimpan kepahitan.

Ada jalan yang mudah untuk mendapatkan penerimaan orang lain, tetapi dengan mengorbankan prinsip.

Ada jalan yang mudah untuk memuaskan keinginan, tetapi akhirnya membawa penyesalan.

Jalan hikmat mungkin tidak selalu paling mudah, tetapi membawa kita kepada kehidupan yang benar.

Ketika kita memilih kejujuran meskipun merugikan, mengampuni meskipun terluka, bersabar meskipun ingin membalas, dan menaati Tuhan meskipun harus menyangkal diri, kita sedang berjalan di jalan hikmat.

Kesejahteraan bukan berarti semua keinginan kita terpenuhi. Yang ditawarkan hikmat adalah kehidupan yang berjalan dalam arah yang benar bersama Tuhan.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Mana jalan yang paling mudah?”

Tanyakan juga:
“Mana jalan yang paling sesuai dengan hikmat Tuhan?”



Tidak Semua Nasihat Perlu Diikuti

Tidak Semua Nasihat Perlu Diikuti


supaya engkau terlepas dari jalan yang jahat, dari orang yang mengucapkan tipu muslihat.


Kita sering berpikir bahwa sesuatu yang berbahaya pasti terlihat buruk sejak awal. Padahal tidak selalu demikian.

Seseorang memberikan nasihat. Kita mendengarnya.

Kedengarannya masuk akal.  Bahkan mungkin terdengar seperti sesuatu yang menguntungkan kita.

Sedikit demi sedikit, kita mulai mempertimbangkannya.

Sampai akhirnya kita melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Tidak semua orang yang berbicara dengan percaya diri sedang mengatakan kebenaran.

Tidak semua nasihat yang terdengar pintar berasal dari hikmat.

Dan tidak semua kesempatan yang terlihat menguntungkan layak kita ambil.

Kadang-kadang masalah kita bukan karena kita tidak tahu apa yang benar.

Kita sebenarnya tahu.  Tetapi kita terlalu mudah dipengaruhi oleh perkataan orang lain.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apakah perkataan ini masuk akal?”

Tanyakan juga, “Apakah perkataan ini sesuai dengan kebenaran Tuhan?”

Hikmat membuat kita tidak mudah terbawa emosi, tekanan, keuntungan sesaat, atau bujukan orang lain.

Hari ini mungkin ada banyak suara yang mencoba memengaruhi keputusan kita.

Ada suara yang mengatakan, “Tidak apa-apa.”
Ada yang berkata, “Semua orang juga melakukannya.”
Ada yang membisikkan, “Kamu akan rugi kalau tidak ikut.”

Sebab jalan yang benar tidak selalu merupakan jalan yang paling mudah, dan perkataan yang benar tidak selalu merupakan perkataan yang paling menyenangkan untuk didengar.

Mintalah kepada Tuhan hati yang peka terhadap kebenaran. Jangan mudah terpikat oleh perkataan manusia. Biarlah hikmat Tuhan menjaga pikiran, hati, dan setiap langkah kita.



Jangan Sampai Dirimu Dibujuk

Jangan Sampai Dirimu Dibujuk


Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut.


Ada ajakan yang terdengar sederhana:

“Sekali saja.”
“Tidak akan ada yang tahu.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Santai saja, jangan terlalu serius.”

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar sepele. Tetapi sering kali, masalahnya bukan pada besarnya ajakan tersebut. Masalahnya adalah ke mana ajakan itu membawa kita.

Kita dapat mengetahui bahwa sesuatu itu salah, tetapi tetap jatuh karena terlalu lama mendengarkan orang yang membujuk kita untuk melakukannya.

Karena itu, hikmat bukan hanya kemampuan mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.

Hikmat juga berarti berani mengambil jarak dari pengaruh yang sedang membawa kita menjauh dari kebenaran.

Bukan karena kita merasa lebih baik daripada orang lain.
Bukan karena kita ingin menghakimi.

Tetapi karena kita tahu bahwa ada jalan yang tidak boleh kita ikuti.

Jangan menunggu sampai hati kita menjadi lemah untuk kemudian mencari kekuatan.

Jangan menunggu sampai kita terjebak untuk kemudian mencoba keluar.

Sebab sering kali, kemenangan atas dosa bukan terjadi ketika kita berhasil keluar dari pencobaan, tetapi ketika kita tidak pernah masuk ke dalamnya.

Hari ini, mungkin ada suara yang sedang membujuk kita untuk melakukan sesuatu yang kita tahu tidak benar.

Jangan bernegosiasi terlalu lama dengan dosa.
Dengarkan firman Tuhan, bukan bujukan dosa.



Jangan Sampai Kehilangan Kejernihan

Jangan Sampai Kehilangan Kejernihan


Tidaklah pantas bagi raja, Lemuel, tidaklah pantas bagi raja meminum anggur, ataupun bagi para pembesar meminum minuman keras, supaya jangan karena minum ia melupakan apa yang telah ditetapkan, dan membengkokkan hak semua orang yang tertindas.


Sebuah kebiasaan.
Sebuah kesenangan.
Sebuah ambisi.
Sebuah keinginan untuk dipuji.
Bahkan sesuatu yang sebenarnya boleh dinikmati.

Masalahnya bukan selalu pada benda atau aktivitas itu sendiri.

Masalah muncul ketika kita tidak lagi mengendalikannya, tetapi justru kita yang dikendalikan olehnya.

Seorang raja tidak boleh kehilangan kejernihan pikirannya.  

Ia memiliki tanggung jawab terhadap orang lain.

Jika ia kehilangan kendali atas dirinya, keputusan yang salah dapat merugikan orang yang berada di bawah kepemimpinannya.

Ini bukan hanya persoalan seorang raja.

Seorang ayah yang tidak mampu mengendalikan emosinya dapat melukai keluarganya.

Seorang pemimpin gereja yang tidak mampu mengendalikan egonya dapat melukai jemaat.

Seorang atasan yang tidak mampu mengendalikan ambisinya dapat memperlakukan bawahannya dengan tidak adil.

Bahkan kita sendiri dapat kehilangan arah ketika sesuatu yang kita sukai mulai mengambil tempat yang seharusnya hanya diberikan kepada Tuhan.

Karena itu, pertanyaan yang penting bukan hanya:
“Apakah ini boleh?”

Tetapi:
“Apakah saya masih mengendalikan hal ini, atau justru hal ini sudah mengendalikan saya?”

Kebijaksanaan bukan hanya mengetahui apa yang boleh, tetapi juga mengetahui kapan harus berhenti.

Semakin besar tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepada kita, semakin penting pengendalian diri.

Sebab pada akhirnya, masalahnya bukan hanya bagaimana kita menjalani hidup kita sendiri.

Cara kita mengendalikan diri akan menentukan bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Maka:
Jangan biarkan kesenangan menguasai keputusanmu.
Jangan biarkan emosi menguasai perkataanmu.
Jangan biarkan ambisi menguasai hatimu.
Jangan biarkan kekuasaan menguasai karaktermu.



Jangan Tidak Pernah Merasa Cukup

Jangan Tidak Pernah Merasa Cukup


Si lintah mempunyai dua anak perempuan, yang berkata: ‘Untukku! Untukku!’ Ada tiga hal yang tak akan kenyang, ada empat hal yang tak pernah berkata: ‘Cukup!’ Dunia orang mati dan rahim yang mandul, tanah yang tidak pernah kenyang air dan api yang tidak pernah berkata: ‘Cukup!’


Kita berkata, “Kalau saya sudah memiliki ini, saya akan senang.”
Lalu setelah mendapatkannya, muncul keinginan yang lain.

“Kalau saya punya yang lebih bagus, pasti lebih bahagia.”
Kemudian setelah mendapat yang lebih bagus:

“Kalau saya punya lebih banyak, pasti lebih tenang.”

Tanpa sadar, hidup kita berubah menjadi perlombaan untuk mendapatkan sesuatu yang berikutnya.

Lintah digambarkan memiliki dua anak perempuan yang terus berkata, “Untukku! Untukku!”

Kalimat itu menggambarkan hati yang selalu menuntut bagian untuk dirinya sendiri.

Bukan lagi, “Apa yang dapat saya berikan?”  Tetapi, “Apa yang bisa saya dapatkan?”

Bukan lagi, “Apakah ini cukup?”  Tetapi, “Apa lagi yang bisa saya miliki?”

Dan masalahnya, semakin kita mengikuti hati yang seperti ini, semakin hati kita sulit merasa puas.

Alkitab tidak mengatakan bahwa memiliki uang, rumah, pekerjaan yang baik, atau kehidupan yang nyaman adalah dosa.

Masalahnya muncul ketika apa yang kita miliki tidak pernah terasa cukup bagi hati kita.

Kita dapat memiliki sedikit tetapi sangat tamak.

Sebaliknya, seseorang dapat memiliki banyak tetapi tetap mampu berkata, “Tuhan, terima kasih. Ini cukup.”

Jadi, ukuran keserakahan bukan hanya jumlah yang kita miliki.

Ukuran keserakahan adalah apakah hati kita masih mampu berkata “cukup.”

Semuanya menggambarkan sesuatu yang terus menerima tetapi tidak pernah mengatakan, “Sudah cukup.”

Begitu pula hati manusia.

Hari ini kita mengejar satu juta.   Besok sepuluh juta.

Kemudian seratus juta.   Setelah itu satu miliar.

Bukan berarti angka yang lebih besar selalu salah.

Tetapi kita harus berhati-hati ketika kebahagiaan kita selalu ditunda sampai kita memiliki lebih banyak.

Sebab kalau kepuasan kita bergantung pada “lebih”, maka kita sedang mengejar sesuatu yang tidak mempunyai garis akhir.

Ada sesuatu yang perlu kita pelajari: hidup yang diberkati bukan berarti hidup yang memiliki segala sesuatu yang kita inginkan.

Kadang-kadang berkat Tuhan justru membuat kita mampu menikmati apa yang sudah diberikan-Nya.

Kita dapat bekerja keras tanpa diperbudak oleh uang.
Kita dapat memiliki ambisi tanpa menjadi tamak.

Kita dapat menikmati keberhasilan tanpa harus membandingkan diri dengan orang lain.

Kita dapat menginginkan sesuatu tanpa membiarkan keinginan itu menguasai hati.

“Apa yang sebenarnya sedang saya kejar?”

Apakah kita sedang mengejar kebutuhan?

Ataukah kita sedang mencoba mengisi kekosongan hati dengan semakin banyak hal?

Karena bisa jadi masalah kita bukan kekurangan.

Bisa jadi masalah kita adalah hati yang sudah terlalu terbiasa berkata: “Masih kurang.”

Belajarlah berkata cukup.



Kasih Bukan Berarti Membiarkan

Kasih Bukan Berarti Membiarkan


Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya


Ketika anak berbuat salah, orang tua berkata, “Sudahlah, masih kecil.”

Ketika anak bersikap tidak sopan, dibiarkan.

Ketika anak tidak bertanggung jawab, orang tua membereskan semuanya.

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua mencari alasan untuk membelanya.

Awalnya semua itu mungkin terlihat seperti kasih.

Anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang memeluknya ketika menangis.

Anak juga membutuhkan orang tua yang berani berkata, “Tidak. Itu salah.”

Anak tidak hanya membutuhkan pujian. Ia juga membutuhkan teguran.

Anak tidak hanya membutuhkan kebebasan. Ia juga membutuhkan batas.

Anak tidak hanya membutuhkan kasih. Ia membutuhkan kasih yang mendidik.

Artinya, anak tidak otomatis menjadi bijaksana hanya karena bertambah usia.

Hikmat harus dibentuk melalui proses belajar, termasuk melalui koreksi ketika ia mengambil keputusan yang salah.

Di sinilah tanggung jawab orang tua menjadi sangat penting.

Jika setiap konsekuensi selalu diambil alih oleh orang tua, anak tidak belajar menghadapi akibat dari pilihannya.

Jika setiap teguran dianggap sebagai bentuk ketidakcintaan, anak akan tumbuh tanpa kemampuan menerima koreksi.

Disiplin yang benar tidak berkata, “Aku menghukummu karena aku marah kepadamu.”

Disiplin yang benar berkata, “Aku menegurmu karena aku mengasihimu dan aku ingin kamu belajar hidup dengan benar.”

Karena itu, tujuan disiplin bukan sekadar menghentikan perilaku yang salah, tetapi membentuk hati yang belajar mencintai apa yang benar.

Itulah sasaran akhirnya.

Anak yang bijaksana bukan anak yang selalu takut kepada orang tuanya.  

Anak yang bijaksana adalah anak yang suatu hari mampu berkata:
“Saya tahu mengapa itu salah, dan saya memilih untuk tidak melakukannya meskipun tidak ada orang tua yang melihat.”

Itulah keberhasilan sebuah didikan.

Kita pun membutuhkan teguran.

Kadang-kadang Tuhan menggunakan firman-Nya untuk menunjukkan kesalahan kita.

Kadang-kadang Ia menggunakan pasangan hidup, orang tua, sahabat, pemimpin rohani, atau orang yang mengasihi kita untuk menunjukkan sesuatu yang tidak mampu kita lihat sendiri.

Orang yang tidak mau menerima teguran akan sulit menjadi bijaksana.

Sebaliknya, orang yang bersedia dikoreksi sedang membuka dirinya untuk bertumbuh.

Kasihilah anak-anak kita dengan cukup kuat untuk memeluk mereka, tetapi juga cukup berani untuk menegur mereka.

Dan jika kita adalah anak-anak Tuhan, jangan hanya mencari perkataan yang menyenangkan hati.

Carilah juga teguran yang menyelamatkan kita dari jalan yang salah.

Sebab terkadang, teguran yang paling tidak kita sukai justru adalah teguran yang paling kita butuhkan.



Jangan Menindas yang Lemah

Jangan Menindas yang Lemah


Orang miskin yang menindas orang-orang yang lemah adalah seperti hujan deras, tetapi tidak memberi makanan.


Orang yang pernah kekurangan seharusnya mengerti bagaimana rasanya tidak memiliki apa-apa.

Orang yang pernah diperlakukan tidak adil seharusnya mengetahui betapa menyakitkannya ketidakadilan.

Orang yang pernah berada di posisi lemah seharusnya memiliki belas kasihan kepada mereka yang sekarang berada dalam posisi yang lebih lemah.

Tetapi Amsal 28:3 menunjukkan kenyataan yang berbeda.

Pengalaman buruk tidak otomatis menghasilkan karakter yang baik.

Seseorang dapat mengalami penderitaan, tetapi kemudian memilih membuat orang lain menderita.

Seseorang dapat pernah menjadi korban, tetapi kemudian ketika mendapatkan sedikit kekuasaan, ia berubah menjadi pelaku.

Seseorang dapat pernah diperlakukan tidak adil, tetapi kemudian menggunakan kesempatan yang dimilikinya untuk memperlakukan orang lain dengan cara yang sama.

Ada orang yang terluka lalu menjadi lebih lembut. Tetapi ada juga yang terluka lalu menjadi lebih keras.

Ada orang yang pernah kekurangan lalu belajar berbagi. Tetapi ada pula yang pernah kekurangan lalu menjadi semakin egois.

Ada orang yang pernah berada di bawah lalu ketika memperoleh sedikit kekuasaan mulai menekan orang-orang yang berada di bawahnya.

Inilah yang membuat ayat ini begitu relevan.

Perhatikan bahwa Amsal tidak berkata bahwa orang miskin menindas orang kaya.  Yang dikatakan adalah orang miskin menindas orang-orang yang lemah.

Artinya, selalu ada kemungkinan bahwa seseorang yang merasa dirinya lemah ternyata masih memiliki seseorang yang lebih lemah daripadanya.

Kita mungkin tidak memiliki banyak uang, tetapi kita masih bisa memiliki kuasa atas seseorang.

Kita mungkin bukan seorang pemimpin besar, tetapi kita bisa memiliki posisi yang membuat orang lain bergantung kepada kita.

Kita mungkin tidak memiliki jabatan tinggi, tetapi kita bisa menggunakan perkataan, pengalaman, senioritas, koneksi, atau pengaruh untuk menekan orang lain.

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Jangan karena dahulu kita diperlakukan dengan kasar, kita menganggap kekasaran adalah hal yang wajar.

Jangan karena kita pernah diperlakukan tidak adil, kita membenarkan ketidakadilan ketika sekarang kita mempunyai kesempatan untuk melakukannya.

Jangan karena kita pernah berada di posisi yang tidak berdaya, kita kemudian menggunakan sedikit kekuatan yang kita miliki untuk mempermainkan orang lain.

Luka tidak boleh menjadi alasan untuk melukai.

Hujan seharusnya membawa kehidupan.  Tetapi hujan yang terlalu deras justru dapat menghancurkan.

Demikian pula seseorang seharusnya menggunakan apa yang Tuhan berikan untuk menjadi berkat.

Kekuatan seharusnya melindungi.
Pengetahuan seharusnya menolong.
Pengalaman seharusnya membimbing.
Jabatan seharusnya melayani.
Pengaruh seharusnya membangun.

Namun semuanya dapat berubah menjadi alat penindasan ketika hati tidak lagi memikirkan kebaikan orang lain.

Karena itu, pertanyaan penting hari ini bukan hanya, “Apakah saya sedang ditindas?”

Pertanyaan yang lebih dalam adalah, “Apakah tanpa saya sadari saya sedang menindas seseorang yang lebih lemah daripada saya?”

Tetapi selalu ada kemungkinan bahwa seseorang yang kita anggap “tidak penting” justru sedang terluka karena cara kita memperlakukannya.

Di keluarga, apakah kita menggunakan posisi sebagai orang tua, pasangan, atau anggota keluarga yang lebih tua untuk menekan orang lain?

Di tempat kerja, apakah kita menggunakan pengalaman, jabatan, atau pengetahuan untuk mempermalukan orang yang lebih junior?

Di dalam pelayanan, apakah kita menggunakan kepercayaan yang diberikan kepada kita untuk mengendalikan orang lain?

Dalam hubungan sehari-hari, apakah kita menikmati kelemahan seseorang karena kelemahan itu membuat kita merasa lebih kuat?

Amsal mengajak kita untuk memeriksa hati.

Karena itu, pengalaman masa lalu seharusnya tidak membuat kita semakin kejam.

Biarlah pengalaman tersebut membuat kita semakin mengerti belas kasihan.

Jika kita pernah merasakan ditolak, belajarlah menerima.
Jika kita pernah merasakan diperlakukan tidak adil, belajarlah berlaku adil.

Jika kita pernah merasakan ditekan, jangan ulangi tekanan itu kepada orang lain.

Jika kita pernah berada di bawah, jangan ketika naik kemudian melupakan bagaimana rasanya berada di sana.



Niat Baik Saja Tidak Cukup

Niat Baik Saja Tidak Cukup


Siapa pagi-pagi sekali memberi selamat dengan suara nyaring, hal itu akan dianggap sebagai kutuk baginya.


Kita mungkin ingin menolong, tetapi pertolongan kita terasa mengatur.

Kita ingin mengingatkan, tetapi perkataan kita terdengar menghakimi.

Kita ingin memberi semangat, tetapi orang lain justru merasa ditekan.

Kita ingin menyampaikan berkat, tetapi karena waktu dan cara yang tidak tepat, berkat itu malah terasa seperti gangguan.

Itulah gambaran sederhana dari Amsal 27:14.

Bayangkan seseorang masih tertidur lelap pada pagi hari.

Tiba-tiba ada orang datang dengan suara sangat keras dan berkata, “Selamat pagi! Tuhan memberkati!”

Secara isi, perkataan itu baik.

Tetapi karena waktunya tidak tepat dan suaranya berlebihan, orang yang mendengarnya mungkin justru merasa terganggu.

Kita sering terlalu fokus pada niat kita:

“Saya tidak bermaksud menyakiti.”
“Saya hanya mau membantu.”
“Saya kan mengatakan yang benar.”

Tetapi kehidupan bersama orang lain tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita maksudkan, melainkan juga oleh bagaimana perkataan dan tindakan kita berdampak kepada mereka.

Apakah ini perlu dikatakan?
Apakah sekarang waktunya?
Apakah cara saya menyampaikannya tepat?
Apakah orang ini sedang siap menerimanya?

Ada perkataan yang benar tetapi waktunya salah.

Ada nasihat yang baik tetapi cara penyampaiannya salah.

Ada perhatian yang tulus tetapi diberikan tanpa kepekaan.

Dan ada berkat yang seharusnya menyenangkan, tetapi justru terasa seperti beban.

Efesus 4:29 mengingatkan agar perkataan kita membangun dan memberi kasih karunia kepada mereka yang mendengarnya.

Artinya, tujuan perkataan kita bukan sekadar mengeluarkan apa yang ada dalam pikiran kita, tetapi memberikan sesuatu yang membangun kepada orang yang mendengarnya.

Jangan hanya bertanya:
“Apakah yang akan saya katakan itu benar?”

Tetapi tanyakan juga:
“Apakah ini waktu yang tepat, cara yang tepat, dan apakah perkataan ini akan membangun?”