Jaga Arah Hatimu

Jaga Arah Hatimu


Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku, perhatikanlah perkataan mulutku. Janganlah hatimu membelok ke jalan-jalannya, janganlah menempuh jalan-jalannya.


Orang lain mungkin baru melihat ketika keputusan yang salah dibuat.

Ketika sebuah hubungan mulai disembunyikan.
Ketika sebuah kebiasaan dosa akhirnya terbongkar.

Ketika seseorang melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Tetapi Tuhan melihat bahwa prosesnya sering kali dimulai lebih awal—di dalam hati.

Itulah sebabnya setelah menceritakan panjang lebar tentang seorang muda yang terjerat oleh bujukan perempuan jalang, Salomo berhenti sejenak dan memberikan peringatan kepada pembacanya: “Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku.”

Seakan-akan Salomo berkata, “Jangan hanya membaca kisah ini sebagai cerita tentang orang lain. Belajarlah sebelum hal yang sama terjadi kepadamu.”

Kemudian muncul kalimat yang sangat penting: “Janganlah hatimu membelok ke jalan-jalannya.”

Karena sebelum kaki berjalan ke tempat yang salah, hati biasanya sudah lebih dahulu menginginkannya.

Seseorang dapat tetap terlihat baik di luar, tetapi diam-diam mulai menikmati sesuatu yang seharusnya ia jauhi.

Ia mulai memberi ruang bagi pikiran tertentu.
Ia mulai menikmati perhatian yang seharusnya tidak dinikmati.
Ia mulai membenarkan percakapan yang sebelumnya ia tahu tidak benar.
Ia mulai berkata dalam hati, “Tidak apa-apa, saya masih bisa mengendalikan diri.”

Kita membayangkan bahwa masalahnya adalah ketika kita akhirnya melakukan dosa.

Padahal sering kali masalah yang lebih awal adalah ketika hati mulai tertarik kepadanya.

Pencobaan tidak selalu datang sebagai sesuatu yang jelas-jelas jahat.

Justru sering kali ia datang dalam bentuk sesuatu yang terasa menyenangkan, masuk akal, atau tidak berbahaya. Karena itu, yang perlu dijaga bukan hanya tindakan kita, tetapi juga arah hati kita.

Jalan menunjukkan arah.

Ketika seseorang mulai berjalan di sebuah jalan, ia sedang bergerak menuju suatu tujuan. Demikian juga dengan kehidupan.

Setiap keputusan kecil dapat mengarahkan kita kepada sesuatu.

Satu kompromi.
Satu kebiasaan yang dibiarkan.
Satu percakapan yang seharusnya dihentikan tetapi diteruskan.
Satu pikiran yang terus dipelihara.
Satu keinginan yang tidak pernah dibawa kepada Tuhan.

Kemudian, tanpa terasa, apa yang dahulu membuat kita tidak nyaman mulai terasa biasa.

Ada saat ketika kita perlu berhenti dan bertanya dengan jujur: “Ke mana sebenarnya hati saya sedang bergerak?”

Bukan hanya, “Apa yang sedang saya lakukan?” tetapi, “Apa yang mulai saya inginkan?”

Bukan hanya, “Apakah ini sudah menjadi dosa?” tetapi, “Apakah ini sedang membawa hati saya semakin dekat kepada dosa?”

Kita dapat menemukan pembenaran untuk hampir semua hal yang sudah kita inginkan.

Ketika hati sudah membelok, pikiran sering kali ikut mencari alasan untuk membenarkan arah tersebut.

Karena itu, hikmat bukan hanya kemampuan mengetahui mana yang benar dan salah.

Hikmat juga berarti memiliki kerendahan hati untuk mendengarkan peringatan sebelum kita mengalami akibat dari pilihan yang salah.

Ada sesuatu yang sangat penting di sini: orang yang bijaksana bersedia mendengarkan sebelum terlambat.

Kita hidup dalam budaya yang sering mengatakan, “Ikuti kata hatimu.”

Tetapi Alkitab justru mengajarkan agar hati kita diarahkan oleh kebenaran.

Tidak semua keinginan layak diikuti.
Tidak semua perasaan adalah kompas yang benar.
Tidak semua ketertarikan harus diberi ruang.

Ada keinginan yang harus ditolak, bukan dipelihara.
Ada pintu yang harus ditutup, bukan dicoba dibuka sedikit.

Ada jalan yang harus dihindari, bukan dijelajahi untuk mengetahui seberapa dekat kita dapat berjalan tanpa jatuh.

Mungkin hari ini tidak ada sesuatu yang terlihat salah dalam hidup kita.

Namun mungkin ada sesuatu yang sedang perlahan membelokkan hati kita.

Sesuatu yang terus kita pikirkan.
Sesuatu yang mulai kita rindukan.

Sesuatu yang kita tahu tidak sehat, tetapi belum bersedia kita lepaskan.

Tuhan tidak memberikan peringatan untuk membatasi sukacita kita, tetapi untuk menjaga kita dari kehancuran.

Nasihat hikmat adalah bentuk kasih.

Ketika Tuhan berkata, “Jangan tempuh jalan itu,” Dia sedang menunjukkan bahwa ada jalan yang pada akhirnya tidak membawa kita kepada kehidupan.

Sebab hati yang terus dibiarkan membelok pada akhirnya akan membawa kaki mengikuti arahnya.

Hari ini mungkin masih ada waktu untuk berhenti.

Masih ada kesempatan untuk menarik diri.

Masih ada kesempatan untuk mengakui bahwa hati kita mulai tertarik kepada sesuatu yang salah.

Jangan menunggu sampai dosa menjadi tindakan yang tidak dapat disembunyikan lagi.

Dengarkan hikmat sebelum terlambat.
Perhatikan hati sebelum membelok.

Dan ketika Tuhan menunjukkan bahwa kita sedang berada di jalan yang salah, jangan terus berjalan hanya karena kita sudah memulainya.

Berbaliklah !



Jangan Hancurkan Diri Sendiri

Jangan Hancurkan Diri Sendiri


Siapa melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusakkan diri sendiri. Siksa dan cemooh diperolehnya, malunya tidak terhapuskan.


“Saya menginginkannya.”
“Saya merasa bahagia ketika melakukannya.”
“Tidak ada yang tahu.”
“Sekali ini saja.”

Namun, seperti kemarin kita renungankan: keinginan bukanlah kompas kebenaran.

Bahkan, sesuatu yang terasa menyenangkan dalam beberapa menit dapat menghasilkan luka yang bertahun-tahun harus kita tanggung.

Amsal berbicara tentang perzinaan dengan bahasa yang sangat keras: orang yang melakukannya “merusakkan diri sendiri.”

Kepercayaan dapat hilang.
Pernikahan dapat terluka.
Keluarga dapat hancur.
Nama baik dapat tercemar.
Hati nurani dapat terluka.

Dan yang paling serius, hubungan kita dengan Tuhan terganggu karena kita dengan sengaja memilih jalan yang bertentangan dengan kehendak-Nya.

Tetapi kita membiarkan keinginan berbicara lebih keras daripada hikmat.

Karena itu, jangan menunggu sampai godaan datang untuk memutuskan apa yang benar.

Tetapkan kebenaran sebelum keinginan menguasai hati.

Ketika hati berkata, “Aku menginginkannya,”
firman Tuhan mengingatkan, “Apakah ini benar?”

Ketika pikiran berkata, “Tidak akan ada akibatnya,”
hikmat berkata, “Dosa selalu memiliki konsekuensi.”

Dan ketika godaan berkata, “Sekali saja,” kita perlu mengingat bahwa satu keputusan yang salah dapat membawa kerusakan yang jauh lebih besar daripada kesenangan yang ditawarkan.

Hidup berhikmat berarti kita tidak menjadikan keinginan sebagai tuan atas hidup kita.

Hari ini, mungkin ada sesuatu yang sedang kita inginkan tetapi kita tahu bahwa Tuhan tidak menghendakinya.

Jangan ukur kebenaran berdasarkan seberapa kuat keinginan itu.

Biarkan firman Tuhan menjadi kompas. Bukan perasaan kita.



Keinginan Bukanlah Kompas Kebenaran

Keinginan Bukanlah Kompas Kebenaran


Hai anakku, mengapa engkau berahi akan perempuan jalang, dan memeluk dada perempuan lain?


Ada hal-hal yang terlihat indah, menyenangkan, bahkan membuat hati berdebar, tetapi tetap salah karena bukan bagian yang Tuhan berikan kepada kita.

Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah saya sudah melakukan dosa?” tetapi juga, “Ke mana keinginan saya sedang membawa saya?”

Seseorang dapat mulai dengan sekadar menikmati perhatian dari orang lain.

Kemudian mulai menunggu pesan darinya.
Mulai mencari kesempatan untuk bertemu.
Mulai membandingkan pasangan sendiri dengan orang tersebut.

Perlahan-lahan, hati mulai memberikan ruang kepada seseorang yang seharusnya tidak diberi ruang.

Itulah sebabnya hikmat tidak menunggu sampai kita jatuh.

Hikmat mengajarkan kita untuk mengenali arah sebelum sampai di tujuan yang salah.

Jika seseorang sudah menikah, kesetiaan bukan hanya berarti tidak berselingkuh secara fisik.

Kesetiaan juga berarti tidak memberi makan keinginan yang dapat membawa kita kepada ketidaksetiaan.

Dan bagi kita semua, prinsipnya lebih luas: jangan membiarkan hati menginginkan sesuatu hanya karena kita mampu mendapatkannya.

Ada banyak hal yang kita inginkan tetapi tidak Tuhan kehendaki.

Kedewasaan rohani terlihat ketika kita mampu berkata:
“Saya menginginkannya, tetapi saya tidak akan mengambilnya, karena saya ingin hidup dalam kehendak Tuhan.”

Godaan tidak selalu meminta kita melakukan sesuatu yang besar sekaligus.

Sering kali ia hanya meminta kita memberi sedikit ruang kepada sebuah keinginan.

Karena itu, jangan hanya menjaga langkahmu. Jagalah keinginanmu.



Jangan Sampai Dirimu Dibujuk

Jangan Sampai Dirimu Dibujuk


Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut.


Ada ajakan yang terdengar sederhana:

“Sekali saja.”
“Tidak akan ada yang tahu.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Santai saja, jangan terlalu serius.”

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar sepele. Tetapi sering kali, masalahnya bukan pada besarnya ajakan tersebut. Masalahnya adalah ke mana ajakan itu membawa kita.

Kita dapat mengetahui bahwa sesuatu itu salah, tetapi tetap jatuh karena terlalu lama mendengarkan orang yang membujuk kita untuk melakukannya.

Karena itu, hikmat bukan hanya kemampuan mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.

Hikmat juga berarti berani mengambil jarak dari pengaruh yang sedang membawa kita menjauh dari kebenaran.

Bukan karena kita merasa lebih baik daripada orang lain.
Bukan karena kita ingin menghakimi.

Tetapi karena kita tahu bahwa ada jalan yang tidak boleh kita ikuti.

Jangan menunggu sampai hati kita menjadi lemah untuk kemudian mencari kekuatan.

Jangan menunggu sampai kita terjebak untuk kemudian mencoba keluar.

Sebab sering kali, kemenangan atas dosa bukan terjadi ketika kita berhasil keluar dari pencobaan, tetapi ketika kita tidak pernah masuk ke dalamnya.

Hari ini, mungkin ada suara yang sedang membujuk kita untuk melakukan sesuatu yang kita tahu tidak benar.

Jangan bernegosiasi terlalu lama dengan dosa.
Dengarkan firman Tuhan, bukan bujukan dosa.



Jangan Tidak Pernah Merasa Cukup

Jangan Tidak Pernah Merasa Cukup


Si lintah mempunyai dua anak perempuan, yang berkata: ‘Untukku! Untukku!’ Ada tiga hal yang tak akan kenyang, ada empat hal yang tak pernah berkata: ‘Cukup!’ Dunia orang mati dan rahim yang mandul, tanah yang tidak pernah kenyang air dan api yang tidak pernah berkata: ‘Cukup!’


Kita berkata, “Kalau saya sudah memiliki ini, saya akan senang.”
Lalu setelah mendapatkannya, muncul keinginan yang lain.

“Kalau saya punya yang lebih bagus, pasti lebih bahagia.”
Kemudian setelah mendapat yang lebih bagus:

“Kalau saya punya lebih banyak, pasti lebih tenang.”

Tanpa sadar, hidup kita berubah menjadi perlombaan untuk mendapatkan sesuatu yang berikutnya.

Lintah digambarkan memiliki dua anak perempuan yang terus berkata, “Untukku! Untukku!”

Kalimat itu menggambarkan hati yang selalu menuntut bagian untuk dirinya sendiri.

Bukan lagi, “Apa yang dapat saya berikan?”  Tetapi, “Apa yang bisa saya dapatkan?”

Bukan lagi, “Apakah ini cukup?”  Tetapi, “Apa lagi yang bisa saya miliki?”

Dan masalahnya, semakin kita mengikuti hati yang seperti ini, semakin hati kita sulit merasa puas.

Alkitab tidak mengatakan bahwa memiliki uang, rumah, pekerjaan yang baik, atau kehidupan yang nyaman adalah dosa.

Masalahnya muncul ketika apa yang kita miliki tidak pernah terasa cukup bagi hati kita.

Kita dapat memiliki sedikit tetapi sangat tamak.

Sebaliknya, seseorang dapat memiliki banyak tetapi tetap mampu berkata, “Tuhan, terima kasih. Ini cukup.”

Jadi, ukuran keserakahan bukan hanya jumlah yang kita miliki.

Ukuran keserakahan adalah apakah hati kita masih mampu berkata “cukup.”

Semuanya menggambarkan sesuatu yang terus menerima tetapi tidak pernah mengatakan, “Sudah cukup.”

Begitu pula hati manusia.

Hari ini kita mengejar satu juta.   Besok sepuluh juta.

Kemudian seratus juta.   Setelah itu satu miliar.

Bukan berarti angka yang lebih besar selalu salah.

Tetapi kita harus berhati-hati ketika kebahagiaan kita selalu ditunda sampai kita memiliki lebih banyak.

Sebab kalau kepuasan kita bergantung pada “lebih”, maka kita sedang mengejar sesuatu yang tidak mempunyai garis akhir.

Ada sesuatu yang perlu kita pelajari: hidup yang diberkati bukan berarti hidup yang memiliki segala sesuatu yang kita inginkan.

Kadang-kadang berkat Tuhan justru membuat kita mampu menikmati apa yang sudah diberikan-Nya.

Kita dapat bekerja keras tanpa diperbudak oleh uang.
Kita dapat memiliki ambisi tanpa menjadi tamak.

Kita dapat menikmati keberhasilan tanpa harus membandingkan diri dengan orang lain.

Kita dapat menginginkan sesuatu tanpa membiarkan keinginan itu menguasai hati.

“Apa yang sebenarnya sedang saya kejar?”

Apakah kita sedang mengejar kebutuhan?

Ataukah kita sedang mencoba mengisi kekosongan hati dengan semakin banyak hal?

Karena bisa jadi masalah kita bukan kekurangan.

Bisa jadi masalah kita adalah hati yang sudah terlalu terbiasa berkata: “Masih kurang.”

Belajarlah berkata cukup.



Kasih Bukan Berarti Membiarkan

Kasih Bukan Berarti Membiarkan


Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya


Ketika anak berbuat salah, orang tua berkata, “Sudahlah, masih kecil.”

Ketika anak bersikap tidak sopan, dibiarkan.

Ketika anak tidak bertanggung jawab, orang tua membereskan semuanya.

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua mencari alasan untuk membelanya.

Awalnya semua itu mungkin terlihat seperti kasih.

Anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang memeluknya ketika menangis.

Anak juga membutuhkan orang tua yang berani berkata, “Tidak. Itu salah.”

Anak tidak hanya membutuhkan pujian. Ia juga membutuhkan teguran.

Anak tidak hanya membutuhkan kebebasan. Ia juga membutuhkan batas.

Anak tidak hanya membutuhkan kasih. Ia membutuhkan kasih yang mendidik.

Artinya, anak tidak otomatis menjadi bijaksana hanya karena bertambah usia.

Hikmat harus dibentuk melalui proses belajar, termasuk melalui koreksi ketika ia mengambil keputusan yang salah.

Di sinilah tanggung jawab orang tua menjadi sangat penting.

Jika setiap konsekuensi selalu diambil alih oleh orang tua, anak tidak belajar menghadapi akibat dari pilihannya.

Jika setiap teguran dianggap sebagai bentuk ketidakcintaan, anak akan tumbuh tanpa kemampuan menerima koreksi.

Disiplin yang benar tidak berkata, “Aku menghukummu karena aku marah kepadamu.”

Disiplin yang benar berkata, “Aku menegurmu karena aku mengasihimu dan aku ingin kamu belajar hidup dengan benar.”

Karena itu, tujuan disiplin bukan sekadar menghentikan perilaku yang salah, tetapi membentuk hati yang belajar mencintai apa yang benar.

Itulah sasaran akhirnya.

Anak yang bijaksana bukan anak yang selalu takut kepada orang tuanya.  

Anak yang bijaksana adalah anak yang suatu hari mampu berkata:
“Saya tahu mengapa itu salah, dan saya memilih untuk tidak melakukannya meskipun tidak ada orang tua yang melihat.”

Itulah keberhasilan sebuah didikan.

Kita pun membutuhkan teguran.

Kadang-kadang Tuhan menggunakan firman-Nya untuk menunjukkan kesalahan kita.

Kadang-kadang Ia menggunakan pasangan hidup, orang tua, sahabat, pemimpin rohani, atau orang yang mengasihi kita untuk menunjukkan sesuatu yang tidak mampu kita lihat sendiri.

Orang yang tidak mau menerima teguran akan sulit menjadi bijaksana.

Sebaliknya, orang yang bersedia dikoreksi sedang membuka dirinya untuk bertumbuh.

Kasihilah anak-anak kita dengan cukup kuat untuk memeluk mereka, tetapi juga cukup berani untuk menegur mereka.

Dan jika kita adalah anak-anak Tuhan, jangan hanya mencari perkataan yang menyenangkan hati.

Carilah juga teguran yang menyelamatkan kita dari jalan yang salah.

Sebab terkadang, teguran yang paling tidak kita sukai justru adalah teguran yang paling kita butuhkan.



Jangan Menindas yang Lemah

Jangan Menindas yang Lemah


Orang miskin yang menindas orang-orang yang lemah adalah seperti hujan deras, tetapi tidak memberi makanan.


Orang yang pernah kekurangan seharusnya mengerti bagaimana rasanya tidak memiliki apa-apa.

Orang yang pernah diperlakukan tidak adil seharusnya mengetahui betapa menyakitkannya ketidakadilan.

Orang yang pernah berada di posisi lemah seharusnya memiliki belas kasihan kepada mereka yang sekarang berada dalam posisi yang lebih lemah.

Tetapi Amsal 28:3 menunjukkan kenyataan yang berbeda.

Pengalaman buruk tidak otomatis menghasilkan karakter yang baik.

Seseorang dapat mengalami penderitaan, tetapi kemudian memilih membuat orang lain menderita.

Seseorang dapat pernah menjadi korban, tetapi kemudian ketika mendapatkan sedikit kekuasaan, ia berubah menjadi pelaku.

Seseorang dapat pernah diperlakukan tidak adil, tetapi kemudian menggunakan kesempatan yang dimilikinya untuk memperlakukan orang lain dengan cara yang sama.

Ada orang yang terluka lalu menjadi lebih lembut. Tetapi ada juga yang terluka lalu menjadi lebih keras.

Ada orang yang pernah kekurangan lalu belajar berbagi. Tetapi ada pula yang pernah kekurangan lalu menjadi semakin egois.

Ada orang yang pernah berada di bawah lalu ketika memperoleh sedikit kekuasaan mulai menekan orang-orang yang berada di bawahnya.

Inilah yang membuat ayat ini begitu relevan.

Perhatikan bahwa Amsal tidak berkata bahwa orang miskin menindas orang kaya.  Yang dikatakan adalah orang miskin menindas orang-orang yang lemah.

Artinya, selalu ada kemungkinan bahwa seseorang yang merasa dirinya lemah ternyata masih memiliki seseorang yang lebih lemah daripadanya.

Kita mungkin tidak memiliki banyak uang, tetapi kita masih bisa memiliki kuasa atas seseorang.

Kita mungkin bukan seorang pemimpin besar, tetapi kita bisa memiliki posisi yang membuat orang lain bergantung kepada kita.

Kita mungkin tidak memiliki jabatan tinggi, tetapi kita bisa menggunakan perkataan, pengalaman, senioritas, koneksi, atau pengaruh untuk menekan orang lain.

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Jangan karena dahulu kita diperlakukan dengan kasar, kita menganggap kekasaran adalah hal yang wajar.

Jangan karena kita pernah diperlakukan tidak adil, kita membenarkan ketidakadilan ketika sekarang kita mempunyai kesempatan untuk melakukannya.

Jangan karena kita pernah berada di posisi yang tidak berdaya, kita kemudian menggunakan sedikit kekuatan yang kita miliki untuk mempermainkan orang lain.

Luka tidak boleh menjadi alasan untuk melukai.

Hujan seharusnya membawa kehidupan.  Tetapi hujan yang terlalu deras justru dapat menghancurkan.

Demikian pula seseorang seharusnya menggunakan apa yang Tuhan berikan untuk menjadi berkat.

Kekuatan seharusnya melindungi.
Pengetahuan seharusnya menolong.
Pengalaman seharusnya membimbing.
Jabatan seharusnya melayani.
Pengaruh seharusnya membangun.

Namun semuanya dapat berubah menjadi alat penindasan ketika hati tidak lagi memikirkan kebaikan orang lain.

Karena itu, pertanyaan penting hari ini bukan hanya, “Apakah saya sedang ditindas?”

Pertanyaan yang lebih dalam adalah, “Apakah tanpa saya sadari saya sedang menindas seseorang yang lebih lemah daripada saya?”

Tetapi selalu ada kemungkinan bahwa seseorang yang kita anggap “tidak penting” justru sedang terluka karena cara kita memperlakukannya.

Di keluarga, apakah kita menggunakan posisi sebagai orang tua, pasangan, atau anggota keluarga yang lebih tua untuk menekan orang lain?

Di tempat kerja, apakah kita menggunakan pengalaman, jabatan, atau pengetahuan untuk mempermalukan orang yang lebih junior?

Di dalam pelayanan, apakah kita menggunakan kepercayaan yang diberikan kepada kita untuk mengendalikan orang lain?

Dalam hubungan sehari-hari, apakah kita menikmati kelemahan seseorang karena kelemahan itu membuat kita merasa lebih kuat?

Amsal mengajak kita untuk memeriksa hati.

Karena itu, pengalaman masa lalu seharusnya tidak membuat kita semakin kejam.

Biarlah pengalaman tersebut membuat kita semakin mengerti belas kasihan.

Jika kita pernah merasakan ditolak, belajarlah menerima.
Jika kita pernah merasakan diperlakukan tidak adil, belajarlah berlaku adil.

Jika kita pernah merasakan ditekan, jangan ulangi tekanan itu kepada orang lain.

Jika kita pernah berada di bawah, jangan ketika naik kemudian melupakan bagaimana rasanya berada di sana.



Rayuan Manis yang Menghancurkan

Rayuan Manis yang Menghancurkan


Ia merayu orang muda itu dengan berbagai-bagai bujukan, dengan kelicinan bibir ia menggodanya.


Penipu menawarkan keuntungan besar.
Iklan palsu menjanjikan hasil instan.

Orang yang berniat jahat memberikan pujian berlebihan agar korbannya lengah.

Semua itu bekerja melalui satu pintu: telinga dan hati.

Demikian pula dosa.  Dosa jarang berkata, “Ikutlah aku supaya hidupmu hancur.”

Sebaliknya, dosa berkata,

“Ini tidak apa-apa.”  
“Semua orang juga melakukannya.”  
“Tidak ada yang akan tahu.”
“Sekali saja tidak masalah.”

Itulah cara dosa berbicara—membungkus racun dengan kata-kata yang terdengar manis.

Kata-kata yang diulang, pujian yang berlebihan, dan janji-janji palsu perlahan melumpuhkan pertimbangannya.

Ketika hati tidak lagi dipenuhi oleh firman Tuhan, maka kata-kata dunia akan lebih mudah mengambil tempat.

Hal ini tetap relevan pada zaman sekarang.  

Kita hidup di tengah banjir informasi.  Media sosial, hiburan, berita, bahkan percakapan sehari-hari terus berusaha membentuk cara kita berpikir.

Tidak semua yang terdengar menarik adalah benar.  
Tidak semua yang populer berasal dari Tuhan.
Tidak semua yang terasa menyenangkan akan membawa damai.

Ia bertanya, “Apakah ini sesuai dengan kehendak Allah?” bukan sekadar, “Apakah ini menyenangkan bagiku?”

Hikmat membuat seseorang lebih menghargai kebenaran daripada rayuan.

Yesus sendiri pernah menghadapi rayuan Iblis di padang gurun.

Iblis menggunakan kata-kata, bahkan mengutip Kitab Suci.

Namun Yesus menjawab setiap godaan dengan firman Allah.

Itulah teladan bagi kita.

Jagalah hati dan pikiran setiap hari.  Isi hidup dengan firman Tuhan, doa, dan persekutuan dengan orang-orang yang membangun iman.

Semakin dekat kita kepada Tuhan, semakin mudah kita mengenali suara yang menyesatkan.

Jangan biarkan kata-kata yang manis lebih berkuasa daripada suara Tuhan yang membawa kehidupan.

Rayuan mungkin terdengar lembut, tetapi akibatnya bisa sangat menghancurkan.

Sebaliknya, firman Tuhan kadang menegur dengan keras, tetapi selalu membawa kehidupan.



Tidak Menghapus Tanggung Jawab

Tidak Menghapus Tanggung Jawab


Diberkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan isteri masa mudamu:rusa yang manis, kijang yang jelita; biarlah buah dadanya selalu memuaskan engkau, dan engkau senantiasa berahi karena cintanya.


Ada kesalahan yang terjadi karena kelemahan, ada pula yang lahir dari pilihan yang salah.

Kadang-kadang kita berharap bahwa jika orang lain mengerti alasan di balik tindakan kita, maka kesalahan itu akan dianggap selesai.

Namun hikmat Tuhan mengajarkan sesuatu yang berbeda.

Rasa lapar memang dapat mendorong seseorang melakukan hal yang tidak seharusnya.

Orang mungkin tidak menghina atau mencela dirinya sekeras terhadap pencuri yang didorong oleh keserakahan.

Namun ketika ia tertangkap, ia tetap harus mengganti apa yang telah diambilnya.  Belas kasihan tidak menghapus keadilan.

Allah adalah Bapa yang penuh kasih, tetapi Ia juga Allah yang adil.

Ketika Daud bertobat setelah dosanya dengan Batsyeba, Tuhan mengampuninya, tetapi Daud tetap harus menanggung berbagai konsekuensi dari perbuatannya.

Pengampunan tidak berarti tidak ada akibat.  Prinsip ini sangat penting bagi kehidupan orang percaya.

Jika kita pernah merugikan orang lain, meminta ampun kepada Tuhan seharusnya diikuti dengan usaha memulihkan kerugian tersebut.

Bila kita pernah memfitnah seseorang, kita perlu mengoreksi ucapan kita.

Bila kita pernah mengambil hak orang lain, kita perlu mengembalikannya.

Bila kita pernah melukai hati seseorang, kita perlu datang dengan kerendahan hati untuk meminta maaf.

Itulah sebabnya ketika Zakheus bertemu Yesus, ia tidak hanya berkata bahwa dirinya menyesal.

Ia juga mengembalikan apa yang telah diambilnya secara tidak jujur bahkan dengan jumlah yang lebih besar.

Inilah kebenaran nyata, bahwa: Anugerah Allah mengubah hati sehingga orang rela bertanggung jawab.

Bisa jadi bukan uang yang harus dikembalikan, melainkan kepercayaan yang harus dipulihkan.

Mungkin bukan barang yang hilang, tetapi nama baik seseorang yang pernah kita rusak.

Mungkin bukan hutang materi, melainkan hutang kasih yang belum kita lunasi.

Tuhan tidak mencari manusia yang sempurna.  Tuhan mencari hati yang mau bertobat dengan sungguh-sungguh.

Orang yang rendah hati tidak hanya berkata, “Saya bersalah,” tetapi juga bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki keadaan?”

Saat kita berani mengambil tanggung jawab, kita sedang menunjukkan bahwa kasih karunia Tuhan benar-benar sedang bekerja dalam hidup kita.

Sebab orang yang dipulihkan oleh kasih karunia akan menjadi pribadi yang juga rindu memulihkan apa yang telah dirusaknya.

Hari ini, marilah kita meminta kepada Tuhan keberanian untuk bukan hanya mengakui kesalahan, tetapi juga melakukan bagian kita dalam memulihkan hubungan, kepercayaan, dan kerugian yang pernah kita sebabkan.

Di situlah pertobatan menjadi nyata dan Injil terlihat melalui kehidupan kita.



Jangan Lebih Bodoh dari Burung

Jangan Lebih Bodoh dari Burung


Sebab percumalah jaring dibentangkan di depan mata segala yang bersayap. Tetapi orang-orang itu menghadang darahnya sendiri dan mengintai nyawanya sendiri.


Mungkin kita bertanya dalam hati, “Mengapa ia tidak belajar?”

Namun, jika kita jujur, bukankah kita pun sering melakukan hal yang serupa?

Salomo memberikan ilustrasi yang sederhana tetapi sangat mengena.

Burung yang melihat jaring akan segera menghindar. Nalurinya mengatakan bahwa ada bahaya di depan.

Tetapi manusia yang dikuasai dosa justru sering berjalan masuk ke dalam perangkap yang sudah jelas terlihat.

Mengapa demikian?

Ia menjanjikan keuntungan tanpa kerja keras, kesenangan tanpa konsekuensi, kekuasaan tanpa integritas, atau kepuasan tanpa ketaatan kepada Tuhan.

Padahal di balik semua itu tersembunyi kehancuran.

Ironisnya, orang yang berniat mencelakakan orang lain sebenarnya sedang mencelakakan dirinya sendiri.

Kebencian merusak hati pelakunya lebih dahulu.
Kebohongan menghancurkan kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.

Keserakahan yang ingin mengumpulkan lebih banyak justru membuat seseorang kehilangan rasa cukup.

Prinsip ini juga berlaku dalam kehidupan rohani.

Setiap kali kita mengabaikan suara hati yang diingatkan oleh Roh Kudus, hati kita sedikit demi sedikit menjadi lebih tumpul.

Pada awalnya kita merasa bersalah, tetapi jika terus diulang, dosa terasa biasa.

Inilah salah satu jebakan terbesar yang harus diwaspadai.

Sebaliknya, hikmat Tuhan mengajak kita berhenti sebelum terlambat.

Tuhan tidak sedang membatasi kebebasan kita ketika memberi perintah.

Ia sedang melindungi kita dari jebakan yang mungkin belum kita sadari.

Karena itu, jangan iri kepada orang yang tampaknya berhasil melalui jalan yang curang.

Keberhasilan tanpa kebenaran hanyalah sementara.

Tuhan melihat segala sesuatu, dan pada waktunya setiap orang akan menuai apa yang ditaburnya.

Hari ini, marilah kita memeriksa hati kita.

Apakah ada kebiasaan, keputusan, atau hubungan yang sebenarnya sedang menjadi perangkap bagi kehidupan rohani kita?

Jangan menunggu sampai akibatnya datang. Mintalah hikmat Tuhan untuk berani berbalik arah.

Kasih karunia-Nya selalu membuka jalan bagi setiap orang yang mau bertobat.

Kiranya kita termasuk orang-orang yang memilih jalan hikmat, sehingga langkah demi langkah kehidupan kita dipimpin oleh Tuhan dan dijauhkan dari jebakan dosa.

Maka kita bisa berjalan dengan aman di dalam damai sejahtera Tuhan.