Berani Menjauh dari Kejahatan

Berani Menjauh dari Kejahatan


Menjauhi kejahatan itulah jalan orang jujur, siapa menjaga jalannya, memelihara nyawanya.


Pernahkah kita berkata kepada diri sendiri, “Saya tahu ini tidak benar, tetapi tidak ada salahnya mencoba sekali saja”?

Mungkin tentang sebuah kebohongan kecil, keuntungan yang tidak sepenuhnya jujur, pergaulan yang membawa pengaruh buruk, atau kebiasaan yang sebenarnya kita tahu harus dihentikan.

Padahal, kejatuhan seseorang tidak selalu dimulai dari keputusan besar. Ada kalanya semuanya bermula dari kompromi kecil yang terus dibiarkan.

Amsal 16:17 mengingatkan bahwa jalan orang jujur ditandai dengan kesediaannya menjauhi kejahatan.

Kita mungkin ingin menjadi orang yang jujur, tetapi apakah kita bersedia menjauhi lingkungan yang mendorong kita untuk berbohong?

Kita ingin hidup kudus, tetapi apakah kita berani meninggalkan kebiasaan yang terus menyeret kita ke dalam dosa?

Kita ingin menjadi pribadi yang bijaksana, tetapi apakah kita mau mendengarkan nasihat ketika seseorang memperingatkan kita tentang jalan yang sedang kita tempuh?

Terkadang, kita sudah mengetahui kebenaran, tetapi tetap memilih jalan yang salah karena terlihat lebih mudah, lebih menyenangkan, atau lebih menguntungkan.

Ada saatnya kita harus berani berkata tidak, sekalipun orang lain menganggap kita terlalu kaku.

Ada saatnya kita harus meninggalkan sesuatu yang kita sukai karena menyadari bahwa hal itu sedang merusak kehidupan kita.

Ada pula saatnya kita harus menjauh dari pengaruh tertentu, bukan karena merasa lebih baik daripada orang lain, melainkan karena menyadari kelemahan diri sendiri.

Ini menunjukkan bahwa pilihan moral bukanlah perkara sepele.

Jalan yang salah dapat membawa konsekuensi yang merusak kepercayaan, menghancurkan hubungan, melukai keluarga, dan mengganggu kehidupan kita sendiri.

Tentu saja, ayat ini bukan berarti orang benar akan terbebas dari semua penderitaan.

Namun, hikmat Tuhan menolong kita menghindari banyak kerusakan yang timbul ketika kita sengaja memilih jalan yang salah.

Sebaliknya, karena kita telah menerima kasih karunia-Nya, kita dipanggil untuk menjalani kehidupan yang mencerminkan kebenaran-Nya.

Kita belajar berkata tidak kepada dosa dan berkata ya kepada kehendak Tuhan, dengan pertolongan Roh Kudus.

Hari ini, jangan hanya bertanya, “Apakah yang saya lakukan sudah benar?”

Tanyakan juga, “Adakah jalan yang seharusnya saya tinggalkan?”

Jangan menunggu sampai kebiasaan buruk menghancurkan hidup.

Jangan menunggu sampai kepercayaan orang lain hilang.

Jangan menunggu sampai kita jatuh terlalu jauh untuk menyadari bahwa kita telah mengambil jalan yang salah.

Orang bijaksana bukan hanya tahu jalan yang harus ditempuh, tetapi juga tahu jalan yang harus ditinggalkan.



Kekayaan atau Kehormatan

Kekayaan atau Kehormatan


Perempuan yang baik hati beroleh kehormatan, sedangkan orang yang ganas beroleh kekayaan.


Kalau ingin dihargai, kita harus menunjukkan kemampuan.

Kalau ingin didengar, kita harus memiliki posisi.

Kalau ingin dianggap penting, kita harus memiliki pencapaian, kekayaan, pengaruh, atau kekuasaan.

Tetapi Amsal 11:16 menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Ayat ini menggunakan gambaran seorang perempuan yang baik hati.

Ia tidak digambarkan sebagai orang yang paling kuat, paling kaya, atau paling berkuasa. Yang ditekankan adalah karakternya.

Dan hasilnya? “Beroleh kehormatan.”

Kita bisa memaksa orang untuk mengikuti kita karena kita memiliki jabatan.

Kita bisa membuat orang takut karena kita memiliki kekuasaan.

Kita bahkan bisa membuat orang kagum karena kita memiliki kekayaan.

Tetapi kita tidak bisa memaksa seseorang untuk benar-benar menghormati kita.

Bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak bisa memberikan keuntungan kepada kita?

Bagaimana kita berbicara kepada orang yang lebih lemah?

Bagaimana kita bersikap ketika tidak mendapatkan apa yang kita inginkan?

Bagaimana kita memperlakukan orang yang melakukan kesalahan kepada kita?

Di situlah karakter terlihat.

Orang yang keras mungkin dapat memenangkan sebuah pertengkaran.

Orang yang agresif mungkin dapat memperoleh keuntungan.

Orang yang menggunakan kekuatan mungkin dapat membuat orang lain tunduk.

Amsal menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan.  Yaitu menjadi seseorang yang layak dihormati.

Karena itu, jangan hanya bertanya: “Apa yang bisa saya dapatkan?”

Belajarlah bertanya: “Menjadi orang seperti apakah saya ketika mendapatkan semua itu?”

Sebab kekayaan tanpa karakter dapat membuat seseorang memiliki banyak hal tetapi kehilangan dirinya sendiri.

Sebaliknya, seseorang mungkin tidak memiliki posisi tertinggi, tidak memiliki kekayaan terbesar, dan tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.

Dan bagi orang percaya, karakter seperti ini bukan sekadar usaha untuk mendapatkan penghormatan manusia.

Kita belajar menjadi baik karena terlebih dahulu telah menerima kebaikan dan kasih karunia Allah.

Kita tidak perlu menjadi keras untuk membuktikan bahwa kita kuat.

Kita tidak perlu merendahkan orang lain supaya terlihat tinggi.

Kita tidak perlu mengejar kehormatan dengan segala cara.

Biarlah karakter kita berbicara.



Jangan Tertipu oleh Kemasan

Jangan Tertipu oleh Kemasan


Telah kuhamparkan permadani di atas tempat tidurku, kain lenan beraneka warna dari Mesir.  Telah kuperciki pembaringanku dengan mur, gaharu dan kayu manis.


Makanan dikemas dengan gambar yang menggugah selera.

Produk dibuat dengan desain yang menarik.

Iklan menampilkan kehidupan yang sempurna.

Bahkan sesuatu yang sebenarnya biasa saja dapat terlihat luar biasa ketika dikemas dengan tepat.

Amsal 7:16–17 memperlihatkan bagaimana perempuan yang menggoda pemuda itu tidak langsung berkata, “Mari kita melakukan sesuatu yang salah.”

Sebaliknya, ia menciptakan suasana.

Ia memperlihatkan tempat yang nyaman.
Ia menawarkan sesuatu yang indah.
Ia menghadirkan aroma yang menyenangkan.

Dengan kata lain, ia membuat jalan menuju dosa terasa menyenangkan.

Godaan tidak selalu berkata: “Ayo, hancurkan hidupmu.”

Kadang ia berkata:

“Sekali saja.”
“Tidak ada yang tahu.”
“Kamu pantas menikmati ini.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Yang penting kamu bahagia.”
“Tidak akan terjadi apa-apa.”

Itulah sebabnya kita perlu berhati-hati.

Yang terlihat indah belum tentu membawa kepada kebaikan.

Bayangkan seseorang melihat sebuah jalan yang sangat indah.

Jalannya bersih, dihiasi lampu, dan pemandangannya menyenangkan.

Tetapi kalau jalan itu ternyata menuju jurang, keindahan jalan tersebut tidak mengubah tujuan akhirnya.

Ada keputusan yang terasa menyenangkan hari ini tetapi menghasilkan luka bertahun-tahun kemudian.

Ada hubungan yang awalnya terasa begitu indah tetapi perlahan menjauhkan kita dari Tuhan.

Ada uang yang diperoleh dengan cara yang salah tetapi terasa seperti berkat.

Ada hiburan yang terlihat tidak berbahaya tetapi perlahan merusak hati.

Ada kesempatan yang tampaknya menguntungkan tetapi menuntut kita mengorbankan integritas.

Jangan hanya melihat apa yang kita dapatkan sekarang. Lihat juga apa yang sedang kita tuju.

Jangan hanya bertanya: “Apakah saya menyukainya?”
Tanyakan: “Apakah Tuhan berkenan?”

Jangan hanya bertanya: “Apakah ini membuat saya bahagia?”
Tanyakan: “Apakah ini membuat saya semakin dekat dengan Tuhan?”

Jangan hanya bertanya: “Apa yang akan saya dapatkan?”
Tanyakan: “Apa yang mungkin saya kehilangan?”

Karena dosa hampir selalu menunjukkan hadiahnya di depan, tetapi menyembunyikan harganya di belakang.

Tetapi ia tidak melihat apa yang sedang menunggunya setelah itu.

Ia tidak melihat kehancuran.
Ia tidak melihat rasa malu.
Ia tidak melihat konsekuensi.
Ia hanya melihat apa yang ada di depan matanya.

Dan itulah bahayanya.

Perasaan bisa berubah.
Keinginan bisa berubah.
Situasi bisa berubah.

Tetapi firman Tuhan tetap menjadi standar.

“Mengapa ini terlihat begitu menarik?”
“Apa yang sebenarnya sedang ditawarkan?”

“Apakah ini benar-benar berkat Tuhan, atau hanya godaan yang dikemas dengan indah?”

Orang bijaksana tidak hanya memiliki mata untuk melihat apa yang tampak, tetapi juga hikmat untuk melihat apa yang ada di baliknya.

Hari ini mungkin ada sesuatu yang sedang terlihat sangat menarik dalam hidup kita.

Sebuah hubungan.
Sebuah kesempatan.
Sebuah keuntungan.
Sebuah kesenangan.
Sebuah keputusan.

Jangan buru-buru mengambilnya hanya karena kemasannya indah.

Bawa kepada Tuhan.
Uji dengan firman-Nya.
Lihat akibatnya.

Sebab tidak semua yang terasa nyaman adalah baik, dan tidak semua yang terlihat indah berasal dari Tuhan.



Sebelum Semuanya Terlambat

Sebelum Semuanya Terlambat


Sebab itu ia akan ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba, dengan tidak dapat dipulihkan lagi.


Satu kebohongan mungkin terasa sepele.
Satu kompromi dengan dosa mungkin dianggap tidak masalah.
Satu keputusan yang salah mungkin kita pikir masih bisa diperbaiki nanti.

Masalahnya adalah “nanti” tidak selalu datang.

Amsal 6:15 berkata, “Sebab itu ia akan ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba.”

Kata “sebab itu” menunjukkan bahwa kehancuran tersebut merupakan akibat dari jalan hidup yang sudah dipilih sebelumnya.

Orang yang digambarkan dalam bagian ini bukan tiba-tiba menjadi jahat dalam satu hari.

Ia membiarkan hatinya dipenuhi kejahatan.
Ia merencanakan yang buruk.
Ia menciptakan pertengkaran.
Ia terus berjalan dalam arah yang salah.

Kemudian datanglah saat ketika semuanya runtuh.

Ketika kita melakukan sesuatu yang salah dan tidak langsung mengalami akibat buruk, kita bisa mulai berpikir bahwa semuanya aman.

Kita bahkan dapat menganggap bahwa Tuhan membiarkan kita terus berjalan.

Padahal, tidak adanya akibat langsung bukan berarti tidak ada akibat sama sekali.

Seperti seseorang yang terus mengemudi dengan rem yang rusak.

Selama mobil masih dapat berjalan, ia mungkin merasa semuanya baik-baik saja.  Tetapi masalahnya tetap ada.

Ia hanya belum sampai pada saat ketika kerusakan itu menghasilkan kecelakaan.

Demikian juga dengan kehidupan rohani.

Kita bisa terus menyimpan kepahitan.
Terus memelihara kebiasaan dosa.
Terus berbohong.
Terus memanipulasi orang lain.
Terus mengikuti lingkungan yang membawa kita menjauh dari Tuhan.

Dan karena tidak terjadi sesuatu yang buruk hari ini, kita berpikir bahwa semuanya masih baik-baik saja.

Amsal berkata: jangan berpikir demikian.

Sesuatu yang selama ini kita anggap kecil dapat tiba-tiba menghancurkan kepercayaan, keluarga, pekerjaan, pelayanan, hubungan, bahkan arah hidup kita.

Karena itu, pesan ayat ini bukan sekadar, “Hati-hati, nanti kamu bisa hancur.”

Pesan yang lebih dalam adalah:
“Jangan terus berjalan di jalan yang salah.”

Firman Tuhan menegur kita bukan karena Tuhan ingin melihat kita jatuh, tetapi karena Tuhan ingin kita berbalik sebelum semuanya terlambat.

Pertobatan selalu lebih baik daripada penyesalan.

Meminta maaf hari ini lebih baik daripada kehilangan hubungan karena kesombongan.

Mengakui kesalahan hari ini lebih baik daripada mempertahankan kebohongan sampai semuanya terbongkar.

Meninggalkan dosa hari ini lebih baik daripada menunggu dosa itu menghancurkan hidup kita.

Selama Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bertobat, jangan sia-siakan kesempatan itu.

Kasih karunia Tuhan bukan alasan untuk terus hidup dalam dosa.

Justru karena kita telah menerima kasih karunia, kita dipanggil untuk meninggalkan jalan yang salah dan kembali kepada-Nya.

Jangan tunggu sampai hubungan itu benar-benar hancur.
Jangan tunggu sampai kepercayaan itu hilang.
Jangan tunggu sampai dosa itu terbongkar.
Jangan tunggu sampai konsekuensinya tidak dapat diperbaiki lagi.

Berbaliklah sekarang !!!



Jaga Apa yang Tuhan Percayakan

Jaga Apa yang Tuhan Percayakan


Biarlah mata airmu meluap ke luar, dan aliran-aliran air itu ke lapangan-lapangan.  Biarlah itu menjadi kepunyaanmu sendiri, jangan orang asing turut menikmatinya.


Ada hal-hal dalam hidup yang memang Tuhan berikan untuk dinikmati dalam batas dan hubungan yang benar.

Amsal menggunakan gambaran air yang mengalir untuk menggambarkan sesuatu yang seharusnya tetap berada dalam kepemilikan yang tepat.

Ini adalah prinsip yang penting dalam kehidupan: sesuatu yang berharga harus dijaga, bukan dicurahkan sembarangan.

Dalam konteks Amsal 5, hal ini terutama berbicara mengenai kesetiaan dalam pernikahan.

Tuhan memberikan seks sebagai bagian dari anugerah-Nya dalam pernikahan, bukan sebagai sesuatu yang bebas dinikmati tanpa batas dengan siapa saja.

Masalahnya, godaan sering membuat sesuatu yang salah terlihat menarik.

Kita mulai berpikir, “Tidak apa-apa, hanya sekali.”
Atau, “Toh, Tidak ada yang tahu.”

Tetapi dosa tidak pernah hanya berbicara tentang apa yang kita inginkan saat ini.

Dosa juga membawa konsekuensi yang mungkin baru kita sadari kemudian.

Karena itu, menjaga kesetiaan bukan hanya soal menolak orang lain, tetapi juga soal menghargai apa yang sudah Tuhan percayakan kepada kita.

Jika Tuhan memberikan pasangan, jagalah pasangan itu.

Jika Tuhan memberikan keluarga, jagalah keluarga itu.

Jika Tuhan memberikan kepercayaan, jagalah kepercayaan itu.

Menariknya, Alkitab tidak hanya berkata, “Jangan melakukan dosa.”

Alkitab juga mengajarkan kita untuk melihat nilai dari apa yang sedang kita lindungi.

Kita menjaga bukan karena sesuatu itu tidak berharga, tetapi justru karena itu sangat berharga.

Hari ini, mungkin ada batas yang mulai kita abaikan.

Ada percakapan yang seharusnya dihentikan.
Ada kedekatan yang mulai melewati batas.
Ada perhatian dari seseorang yang mulai kita nikmati secara tidak sehat.

Ada sesuatu yang seharusnya menjadi milik kita dalam hubungan yang benar, tetapi mulai kita curahkan kepada “orang asing”.

Belajarlah berkata cukup sebelum terlambat.

Kesetiaan bukan sekadar tidak meninggalkan seseorang.

Kesetiaan juga berarti menjaga hati, menjaga mata, menjaga pikiran, dan menjaga batas,

karena kita sadar bahwa apa yang Tuhan percayakan kepada kita adalah sesuatu yang berharga.

Apa yang berharga harus dijaga. Jangan dicurahkan sembarangan.



Berani Menolak Ajakan

Berani Menolak Ajakan


Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut.


Ada ajakan yang membawa kita menjadi lebih baik, tetapi ada juga ajakan yang perlahan-lahan membawa kita menjauh dari Tuhan.

Sering kali kita berpikir bahwa dosa dimulai ketika kita melakukan sesuatu yang salah.

Seseorang mengajak.
Kita mendengar.
Kita mempertimbangkan.
Kita mulai tertarik.

Kemudian kita mengikuti.

Jangan menunggu sampai dosa menjadi kebiasaan baru kita berkata, “Seandainya waktu itu saya tidak ikut.”

Jangan menunggu sampai hubungan yang salah menjadi terlalu dalam.

Jangan menunggu sampai kompromi menjadi gaya hidup.

Jangan menunggu sampai kita kehilangan kendali.

Mungkin kita akan dianggap aneh.

Mungkin kita kehilangan kesempatan untuk diterima oleh kelompok tertentu.

Tetapi kehilangan penerimaan manusia jauh lebih kecil daripada kehilangan arah hidup karena mengikuti ajakan yang salah.

Orang bijak tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan. Ia juga tahu apa yang harus ditolak.

Hari ini, mungkin ada sebuah ajakan yang sedang kita pertimbangkan.

Tanyakan: “Kalau saya mengikuti ajakan ini, apakah saya sedang semakin dekat kepada Tuhan atau semakin jauh dari-Nya?”



Ketika Dosa Dianggap Biasa

Ketika Dosa Dianggap Biasa


Inilah jalan perempuan yang berzinah: ia makan, lalu menyeka mulutnya, dan berkata: Aku tidak berbuat sesuatu yang salah.


Amsal 30:20 menggambarkan seseorang yang melakukan dosa, lalu seperti tidak terjadi apa-apa. Ia makan, menyeka mulutnya, dan melanjutkan hidupnya.

Tidak ada pengakuan.
Tidak ada penyesalan.
Tidak ada pertobatan.

Seolah-olah semuanya baik-baik saja.

Pada awalnya hati mungkin menegur.

Tetapi jika dosa terus dipelihara, hati dapat mulai mencari alasan:

“Semua orang juga melakukannya.”
“Ini tidak terlalu serius.”
“Saya tidak merugikan siapa-siapa.”
“Tuhan pasti mengerti.”

Akhirnya kita bukan lagi berusaha meninggalkan dosa, tetapi berusaha membuat dosa terlihat tidak salah.

Itulah bahaya yang digambarkan ayat ini.

Kita dapat membersihkan jejak di luar, tetapi tidak dapat membersihkan hati kita dengan usaha sendiri.

Karena itu, respons yang benar terhadap dosa bukanlah menyangkalnya, tetapi mengakuinya di hadapan Tuhan.

Pertobatan dimulai ketika kita berhenti berkata, “Aku tidak berbuat sesuatu yang salah,” dan berani berkata,“Tuhan, aku telah berdosa. Ampunilah aku dan ubahlah hidupku.”

Anugerah Tuhan bukan alasan untuk menganggap dosa sebagai sesuatu yang biasa.

Justru karena kita telah menerima anugerah, kita dipanggil untuk tidak lagi berdamai dengan dosa.



Jangan Menjual Kebenaran

Jangan Menjual Kebenaran


Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.


Waktu bisa ditukar dengan uang.
Keahlian bisa ditukar dengan penghasilan.
Popularitas bisa ditukar dengan perhatian.

Bahkan hubungan dapat dipertahankan selama masih memberikan keuntungan.

Tanpa sadar, cara berpikir seperti ini juga dapat masuk ke dalam kehidupan moral dan rohani kita.  

Kita mulai bertanya, “Apa untungnya kalau saya tetap jujur?” atau “Apa yang saya dapat kalau saya mempertahankan prinsip ini?”

Ada sesuatu yang harus kita dapatkan dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak boleh kita lepaskan: kebenaran.

Meski ada saat ketika berkata jujur membuat kita berada dalam posisi yang tidak nyaman.

Meski ada saat ketika mempertahankan integritas membuat kita kehilangan keuntungan.

Meski ada saat ketika mengikuti prinsip firman Tuhan membuat kita harus mengatakan “tidak” ketika orang lain berkata “ya”.

Pada saat seperti itu, kita perlu mengingat bahwa tidak semua kerugian adalah kegagalan.

Bayangkan seseorang yang mendapatkan keuntungan besar karena berbohong.

Secara ekonomi ia mungkin terlihat berhasil.

Tetapi jika untuk mendapatkan keuntungan itu ia harus menjual integritasnya, sesungguhnya ia telah membayar harga yang jauh lebih mahal daripada uang yang diterimanya.

Menariknya, Amsal tidak hanya berkata, “Belilah kebenaran.”

Ayat ini juga berkata, “demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.”

Ini menunjukkan bahwa kebenaran harus terus dipelihara melalui proses belajar dan dibentuk.

Kita membutuhkan didikan.
Kita membutuhkan teguran.
Kita membutuhkan nasihat.
Kita membutuhkan pengertian.

Orang yang bijaksana bukan orang yang tidak pernah dikoreksi, tetapi orang yang bersedia membayar harga untuk terus belajar.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan hari ini?”
Tanyakan juga, “Apa yang tidak boleh saya korbankan?”

Mungkin kita perlu mengorbankan kenyamanan untuk mempertahankan kebenaran.

Mungkin kita perlu mengorbankan keuntungan untuk mempertahankan kejujuran.

Mungkin kita perlu mengorbankan ego untuk menerima didikan.

Mungkin kita perlu mengorbankan popularitas untuk tetap melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan.

Jangan menjual kebenaran hanya karena harganya sedang terasa mahal.

Sebab pada akhirnya, apa gunanya memperoleh dunia tetapi kehilangan integritas hati?

Belilah kebenaran.
Kejarlah hikmat.
Terimalah didikan.
Carilah pengertian.

Tetapi jangan pernah menjual semuanya hanya demi keuntungan yang sementara.



Akan Menemukan Akibatnya

Akan Menemukan Akibatnya


Orang durhaka hanya mencari kejahatan, tetapi terhadap dia akan disuruh utusan yang kejam.


Kita semua dapat melakukan kesalahan.

Dalam kelemahan, kita bisa berkata-kata dengan tidak tepat, mengambil keputusan yang salah, atau melakukan sesuatu yang kemudian kita sesali.

Namun Amsal 17:11 berbicara mengenai sesuatu yang lebih dalam: hati yang tidak lagi sekadar jatuh ke dalam kejahatan, tetapi mencari kejahatan.

Ketika seseorang sudah memiliki hati seperti ini, ia tidak membutuhkan banyak alasan untuk melakukan yang salah.

Ia akan mencari pembenaran.

Ketika ditegur, ia mencari alasan untuk menolak.
Ketika melakukan kesalahan, ia mencari orang lain untuk disalahkan.
Ketika disakiti, ia mencari kesempatan untuk membalas.

Masalahnya bukan lagi sekadar tindakan. Masalahnya adalah arah hati.

Karena itu, seseorang dapat terlihat baik di luar, tetapi diam-diam memelihara kepahitan, kebencian, iri hati, atau keinginan untuk membalas.

Lama-kelamaan apa yang ada di dalam hati akan memengaruhi cara ia berbicara, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain.

Jangan berkata, “Saya memang seperti ini.”

Jangan berkata, “Saya berhak membalas karena saya sudah diperlakukan tidak adil.”

Jangan pula berkata, “Yang penting orang lain juga melakukan hal yang sama.”

Kebenaran tidak berubah hanya karena orang lain melakukan kesalahan kepada kita.

Kita mungkin dapat menyembunyikan sebuah tindakan dari manusia, tetapi kita tidak dapat menghapus akibat dari jalan hidup yang terus-menerus kita pilih.

Karena itu, teguran Tuhan sebenarnya adalah anugerah.

Ketika Tuhan menunjukkan sesuatu yang salah dalam hati kita, jangan buru-buru membela diri.

Berhentilah.
Periksa hati.
Akui dosa.
Bertobatlah.

Kita tidak dipanggil untuk menjadi orang yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Kita dipanggil untuk menjadi orang yang mau kembali kepada Tuhan ketika menyadari kesalahan.

Jangan biarkan luka berubah menjadi kebencian.

Jangan biarkan kekecewaan berubah menjadi kepahitan.

Jangan biarkan ketidakadilan menjadi alasan untuk melakukan kejahatan.

Dan jangan biarkan hati yang terluka menentukan arah hidup kita.

Apakah kita sedang mencari apa yang benar, atau justru mencari alasan untuk melakukan apa yang salah?

Sebab apa yang terus-menerus kita cari akan membentuk siapa kita.



Rendah Hati Lebih Baik

Rendah Hati Lebih Baik


Lebih baik merendahkan diri dengan orang yang rendah hati dari pada membagi rampasan dengan orang congkak.


Ada kalanya kita diperhadapkan pada pilihan:
mengikuti orang-orang yang memiliki pengaruh dan menikmati keuntungan bersama mereka, atau tetap berada di jalan yang benar meskipun hasilnya jauh lebih sederhana.

Yang penting berhasil.
Yang penting mendapatkan bagian.
Yang penting tidak tertinggal dari orang lain.

Tetapi Amsal memberikan ukuran yang berbeda.

Lebih baik hidup dalam kerendahan hati daripada memperoleh keuntungan bersama orang-orang yang congkak.

Lebih baik tidak mendapatkan banyak daripada mendapatkan banyak dengan mengorbankan karakter.

Lebih baik kehilangan kesempatan daripada kehilangan integritas.

Kita mungkin melihat apa yang akan kita dapatkan, tetapi tidak melihat apa yang sedang kita korbankan.

Kita bisa mendapatkan uang tetapi kehilangan kejujuran.

Kita bisa mendapatkan posisi tetapi kehilangan kerendahan hati.

Kita bisa mendapatkan pengakuan tetapi kehilangan karakter.

Kita bisa mendapatkan banyak secara lahiriah tetapi perlahan-lahan menjadi orang yang tidak lagi takut akan Tuhan.

Karena itu, jangan merasa rugi ketika memilih untuk rendah hati.

Jangan merasa kalah ketika menolak keuntungan yang diperoleh dengan cara yang tidak benar.

Jangan merasa bodoh ketika memilih untuk tetap jujur sementara orang lain tampaknya sedang menikmati hasil dari kesombongan mereka.

Ada hal-hal yang mungkin tidak kita dapatkan karena kita memilih kebenaran. Tetapi kehilangan keuntungan tidak sama dengan kehilangan berkat.

Lebih baik memiliki sedikit dengan hati yang benar daripada memiliki banyak tetapi harus hidup bersama kesombongan dan ketidakbenaran.

Hari ini, ketika diperhadapkan pada pilihan antara keuntungan dan karakter, jangan hanya bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan?”

Tanyakan juga, “Saya sedang menjadi orang seperti apa melalui pilihan ini?”

Sebab keuntungan dapat hilang, tetapi karakter yang dibentuk dalam takut akan Tuhan akan menjadi bagian dari hidup kita.