Memilih untuk Tidak Membalas

Memilih untuk Tidak Membalas


Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.


Mungkin itu terjadi di tempat kerja, dalam keluarga, di antara sahabat, bahkan di dalam pelayanan.

Reaksi pertama kita sering kali adalah ingin segera membalas, menjelaskan bahwa kita benar, atau memastikan orang tersebut menyadari kesalahannya.

Kita merasa bahwa jika tidak segera bereaksi, orang lain akan menganggap kita lemah.

Apakah setiap perkataan yang menyakitkan harus dijawab dengan perkataan yang lebih keras?

Amsal 19:11 mengajak kita melihat bahwa ada kekuatan yang justru muncul ketika kita mampu menahan diri.

Ini berarti orang yang berhikmat tidak membiarkan emosinya menentukan tindakannya.

Ia belajar berhenti sejenak, mempertimbangkan keadaan, dan memilih respons yang tepat.

Ia tidak terburu-buru menyimpulkan maksud orang lain atau memperbesar persoalan sebelum memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Satu perkataan yang tidak menyenangkan dibalas dengan perkataan yang lebih menyakitkan.

Satu kesalahpahaman berkembang menjadi pertengkaran panjang.

Akhirnya, persoalan yang sebenarnya dapat diselesaikan justru merusak hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Tidak semua perkataan harus dijawab.

Terkadang, keputusan paling bijaksana adalah menenangkan diri terlebih dahulu sebelum berbicara.

Menahan diri bukan berarti kita tidak memiliki keberanian, melainkan kita tidak ingin menyerahkan kendali hidup kepada kemarahan.

Amsal 19:11 juga mengatakan bahwa seseorang dipuji karena memaafkan pelanggaran.

Memaafkan memang tidak selalu mudah, terutama ketika kesalahan orang lain benar-benar melukai kita.

Kita mungkin merasa bahwa orang tersebut tidak pantas menerima pengampunan, apalagi jika ia tidak meminta maaf atau tidak menyadari kesalahannya.

Pengampunan juga tidak selalu berarti hubungan harus langsung kembali seperti semula.

Ada kalanya kita perlu menegur, mencari keadilan, atau menetapkan batasan yang sehat.

Akan tetapi, kita tidak harus terus memelihara kebencian dan keinginan untuk membalas.

Ketika kita memaafkan, kita memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hati dan pikiran kita.

Kita berhenti menjadikan luka sebagai alasan untuk menyakiti orang lain.

Kita memberikan ruang bagi penyelesaian, pemulihan, dan perubahan, sekalipun prosesnya membutuhkan waktu.

Kita bukan manusia yang selalu benar.

Kita juga pernah melakukan kesalahan, mengecewakan orang lain, dan membutuhkan pengampunan.

Kesadaran ini seharusnya membuat kita lebih rendah hati ketika menghadapi kesalahan sesama.

Hikmat justru menolong kita mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam, kapan harus menegur dan kapan harus mengampuni.

Tujuannya bukan sekadar memenangkan perdebatan, melainkan melakukan apa yang benar tanpa kehilangan penguasaan diri.

Dunia mungkin menganggap orang yang cepat membalas sebagai orang yang kuat.



Hati yang Harus Dijaga

Hati yang Harus Dijaga


Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.


Kita sering berhati-hati terhadap banyak hal.

Kita menjaga kesehatan.
Menjaga rumah.
Menjaga kendaraan.
Menjaga uang.
Menjaga barang-barang berharga.

Tetapi bagaimana dengan hati kita?

Mengapa hati begitu penting?

Karena kehidupan kita mengalir dari apa yang ada di dalam hati.

Ketika hati dipenuhi kepahitan, kepahitan itu akhirnya keluar melalui perkataan dan tindakan.

Ketika hati dipenuhi iri hati, kita mulai membandingkan diri dengan orang lain.

Ketika hati dipenuhi kesombongan, kita sulit menerima nasihat.

Sebaliknya, ketika hati dipenuhi takut akan Tuhan, hal itu akan memengaruhi cara kita mengambil keputusan dan memperlakukan orang lain.

Ada hal-hal yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain, tetapi Tuhan melihatnya.

Mungkin kita masih tersenyum di luar, tetapi menyimpan kemarahan di dalam.

Mungkin kita terlihat baik-baik saja, tetapi hati kita dipenuhi iri hati.

Mungkin kita tidak mengucapkan sesuatu yang buruk, tetapi terus memeliharanya dalam pikiran.

Hati yang tidak dijaga dapat perlahan-lahan mengarahkan kehidupan kita ke jalan yang salah.

Apa yang kita dengarkan.
Apa yang kita pikirkan.
Apa yang kita ingat-ingat.
Apa yang kita inginkan.
Apa yang kita biarkan menguasai hati.

Namun, menjaga hati bukan berarti kita mampu membersihkan hati kita dengan kekuatan sendiri.

Kita membutuhkan Tuhan.

Daud pernah berdoa:
“Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!”

Hati yang benar bukan hanya hati yang berusaha menjadi baik, tetapi hati yang terus-menerus dibentuk oleh Tuhan.

Hari ini, mungkin ada sesuatu yang sedang kita simpan di dalam hati—kekecewaan, kemarahan, ambisi, iri hati, ketakutan, atau luka masa lalu.

Jangan biarkan hal itu menjadi sumber yang mengalirkan kehidupan kita.

Bawa kepada Tuhan.



Ketika Sesuatu Datang Tanpa Diduga

Ketika Sesuatu Datang Tanpa Diduga


Janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba, atau kepada kebinasaan orang fasik, bila itu datang.  Karena TUHANlah yang menjadi tempat kepercayaanmu, dan Ia akan menjaga kakimu, sehingga tidak terperosok.


Kita bisa membuat rencana keuangan.
Kita bisa menabung untuk kebutuhan masa depan.

Kita bisa merencanakan pekerjaan, pendidikan, perjalanan, bahkan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi.

Telepon dapat berdering membawa berita yang tidak kita harapkan.
Seseorang dapat menyampaikan kabar yang mengubah rencana kita.
Masalah dapat muncul ketika kita merasa semuanya baik-baik saja.

Dan justru karena kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi, kita sering hidup dengan rasa takut terhadap sesuatu yang sebenarnya belum terjadi.

Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan, “Kekejutan itu tidak akan pernah datang.”

Alkitab justru mengakui bahwa sesuatu yang tidak terduga bisa datang.

Inilah realitas kehidupan.

Menjadi orang percaya tidak berarti kita mendapat jaminan bahwa hidup akan selalu berjalan sesuai rencana.

Kita tetap dapat menghadapi kehilangan, kegagalan, perubahan, konflik, ketidakpastian, dan berbagai keadaan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Ayat 26 memberikan jawabannya:
“Karena TUHANlah yang menjadi tempat kepercayaanmu.”

Di sinilah letak perbedaannya.

Kita sering mencari rasa aman dengan memastikan bahwa semuanya berada dalam kendali kita.

Kita merasa tenang ketika pekerjaan aman, keluarga baik-baik saja, keuangan cukup, kesehatan baik, dan masa depan terlihat jelas.

Tetapi kalau ketenangan kita bergantung kepada keadaan, maka ketenangan itu akan hilang ketika keadaan berubah.

Keadaan dapat berubah.
Rencana dapat gagal.
Orang dapat mengecewakan.
Masa depan dapat terlihat tidak jelas.
Tetapi Tuhan tidak berubah.

Itulah sebabnya orang percaya dapat menghadapi sesuatu yang tidak diketahui tanpa harus hidup dikuasai ketakutan.

Ia tidak dapat melihat seluruh jalan di depannya.
Ia tidak tahu apa yang akan ditemuinya beberapa puluh meter kemudian.

Tetapi ia tetap dapat melangkah karena ia percaya kepada orang yang menuntunnya.

Begitu juga dengan kehidupan kita.

Iman bukan berarti kita mengetahui apa yang akan terjadi. Iman berarti kita percaya kepada Tuhan yang mengetahui apa yang akan terjadi.

Firman Tuhan berkata:
“Ia akan menjaga kakimu, sehingga tidak terperosok.”

Ada perbedaan besar antara Tuhan menghilangkan semua masalah dan Tuhan menjaga kita di tengah masalah.

Kadang-kadang kita berdoa agar Tuhan segera mengubah keadaan.

Tetapi dalam situasi tertentu, Tuhan justru menguatkan kita untuk melewati keadaan tersebut.

Kita mungkin tidak mendapatkan jawaban yang langsung.
Kita mungkin belum melihat jalan keluar.
Kita mungkin belum mengetahui bagaimana semuanya akan berakhir.

Tetapi kita dapat tetap berjalan karena kaki kita tidak berjalan sendirian.

Tuhan menjaga.
Tuhan menyertai.
Tuhan memegang.

Karena itu, jangan biarkan ketakutan terhadap kemungkinan masa depan mencuri damai sejahtera yang Tuhan berikan untuk hari ini.

Kita membayangkan kegagalan.
Kita membayangkan kehilangan.
Kita membayangkan masalah.
Kita membayangkan berbagai kemungkinan buruk.

Padahal semuanya belum tentu terjadi.

Amsal mengingatkan kita untuk kembali kepada dasar yang benar:
Bukan “Saya tahu apa yang akan terjadi,” tetapi “Saya tahu kepada siapa saya percaya.”

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.

Kita bahkan tidak tahu apa yang mungkin datang beberapa jam dari sekarang.

Tetapi kita tahu bahwa Tuhan ada di sana.

Ketika sesuatu datang secara tiba-tiba, kita tidak perlu menghadapi semuanya dengan kekuatan sendiri.

Ketika berita buruk datang, Tuhan tetap menjadi tempat kepercayaan.

Ketika rencana berubah, Tuhan tetap memegang langkah kita.

Ketika jalan di depan terlihat gelap, Tuhan tetap tahu ke mana kita sedang berjalan.

Jadi, jangan takut hanya karena masa depan tidak dapat kita lihat.



Jangan Dikuasai Amarah

Jangan Dikuasai Amarah


Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya.


Ada saatnya kita marah.
Ada saatnya kita kecewa.

Ada saatnya perkataan atau tindakan seseorang benar-benar melukai hati kita.

Tetapi perasaan yang benar tidak selalu menghasilkan respons yang benar.

Ia tidak memberi waktu bagi dirinya untuk berpikir.

Apa yang dirasakan langsung diucapkan atau dilakukan.

Akibatnya, satu masalah dapat melahirkan masalah yang baru.

Ia tidak menyangkal kemarahannya, tetapi tidak menyerahkan kendali kepada kemarahannya.

Ia belajar berhenti sejenak, menenangkan diri, dan memilih respons yang tidak memperburuk keadaan.

Tetapi memiliki alasan untuk marah tidak berarti kita memiliki alasan untuk menyakiti orang lain.

Karena itu, ketika emosi sedang tinggi, jangan terburu-buru berbicara.

Jangan langsung membalas.

Jangan mengambil keputusan ketika hati sedang dikuasai amarah.

Hari ini, ketika sesuatu membuat kita marah, mari belajar menjadi orang yang bijak:

Bukan dengan menghilangkan semua emosi, tetapi dengan mengendalikan apa yang kita lakukan terhadap emosi itu.



Jangan Pura-Pura Tidak Tahu

Jangan Pura-Pura Tidak Tahu


Bebaskan mereka yang diangkut untuk dibunuh, selamatkan orang yang terhuyung-huyung menuju tempat pemancungan.  Kalau engkau berkata: “Sungguh, kami tidak tahu hal itu!” Apakah Dia yang menguji hati tidak tahu yang sebenarnya? Apakah Dia yang menjaga jiwamu tidak mengetahuinya, dan membalas manusia menurut perbuatannya?


Ada kalanya kita melihat seseorang sedang mengalami kesulitan.

Kita tahu ada sesuatu yang tidak benar.
Kita tahu seseorang sedang terluka.
Kita tahu seseorang sedang mengambil jalan yang salah.

Kita bahkan mungkin tahu bahwa jika tidak ada yang menolong, keadaan itu akan menjadi semakin buruk.

Tetapi kita memilih diam.

Alasannya bisa bermacam-macam:

“Bukan urusan saya.”
“Saya tidak mau ikut campur.”
“Nanti saya yang kena masalah.”
“Saya tidak tahu harus berbuat apa.”

Kadang-kadang alasan itu memang masuk akal.  Kita memang tidak selalu mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan persoalan orang lain.

Ayat 11 menggambarkan orang-orang yang sedang menuju kematian.  Mereka berada dalam keadaan yang sangat genting.

Dan kepada orang yang melihatnya diberikan perintah: “Bebaskan… selamatkan…”

Artinya, ada saat ketika kasih tidak cukup hanya dirasakan. Kasih harus diwujudkan dalam tindakan.

Kadang-kadang menolong berarti berbicara kepada seseorang yang sedang berjalan ke arah yang salah.

Kadang berarti membela orang yang diperlakukan tidak adil.

Kadang berarti mendengarkan seseorang yang sedang berada dalam tekanan.

Kadang berarti menghubungkan seseorang dengan orang yang lebih mampu menolong.

Yang penting adalah kita tidak sengaja menutup mata hanya karena persoalan itu membuat kita tidak nyaman.

Ayat 12 kemudian membawa persoalan ini langsung kepada Tuhan.

Kita mungkin dapat mengatakan kepada manusia, “Saya tidak tahu.”  Tetapi kita tidak dapat menyembunyikan hati kita dari Tuhan.

Dia mengetahui apa yang sebenarnya kita ketahui.

Dia mengetahui apakah kita benar-benar tidak tahu, atau sebenarnya tahu tetapi memilih berpura-pura tidak tahu.

Yakobus kemudian mengatakan prinsip yang sejalan dengan ini: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yakobus 4:17).

Karena itu, hari ini mungkin ada seseorang yang Tuhan tempatkan di depan kita bukan supaya kita menghakiminya, tetapi supaya kita menolongnya.

Jangan langsung berpikir bahwa kita harus menyelesaikan seluruh persoalannya. Mulailah dengan sesuatu yang sederhana.

Berhenti. Perhatikan. Peduli. Bertindak.

Mungkin hanya sebuah pesan.
Mungkin sebuah percakapan.
Mungkin sebuah doa.
Mungkin sebuah pembelaan.
Mungkin sebuah pertolongan nyata.

Sebab pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya:
“Apa yang saya lakukan terhadap orang lain?”

Tetapi juga:
“Apa yang saya lakukan ketika Tuhan membuat saya tahu bahwa seseorang membutuhkan pertolongan?”

Tuhan melihat hati kita.



Ketika Semangat Patah

Ketika Semangat Patah


Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?


Ada orang yang tubuhnya sedang sakit, tetapi masih mampu tersenyum.

Ada pula orang yang terlihat sehat secara fisik, tetapi sedang berjuang menghadapi luka yang tidak diketahui siapa pun.

Kita sering kali lebih mudah memahami penderitaan yang terlihat.

Ketika seseorang mengalami kecelakaan, kita dapat melihat lukanya.

Ketika seseorang sakit, kita dapat memberikan perawatan.

Amsal 18:14 mengingatkan bahwa kondisi batin seseorang sangat memengaruhi kemampuannya dalam menghadapi penderitaan.

“Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?”

Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan bahwa orang yang bersemangat tidak akan mengalami penderitaan.

Sebaliknya, penderitaan tetap ada, tetapi seseorang dapat menanggungnya dengan lebih baik ketika memiliki kekuatan batin.

Bayangkan seseorang yang telah bekerja keras selama bertahun-tahun, tetapi semua usahanya tampak gagal.

Atau seseorang yang telah memberikan kepercayaan kepada orang lain, tetapi justru dikhianati.

Ada juga mereka yang terus melayani, mengurus keluarga, dan memenuhi tanggung jawab, sementara di dalam hati mereka merasa lelah dan tidak lagi memiliki kekuatan.

Mereka mungkin tetap hadir, tetap bekerja, dan tetap tersenyum.  Namun, di dalam hati, ada pergumulan yang tidak terlihat.

Bagaimana kita seharusnya merespons kebenaran ini?

Tidak semua orang yang terlihat kuat sedang baik-baik saja.

Karena itu, kita perlu belajar mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi.

Terkadang, kehadiran seseorang yang mau mendengarkan dengan penuh kasih jauh lebih berarti daripada nasihat yang panjang.

Kita memang perlu bertanggung jawab, berusaha, dan mengambil langkah iman.

Namun, kita bukan manusia yang tidak terbatas.

Ada saatnya kita lelah.
Ada saatnya kita tidak tahu harus berbuat apa.

Pada saat seperti itu, kita dipanggil untuk datang kepada Tuhan.

Daud dalam Mazmur 34:19 menyatakan bahwa TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati.

Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak jauh dari mereka yang sedang mengalami kehancuran batin.

Namun, di dalam Kristus, kita memiliki pengharapan bahwa penderitaan tidak memiliki kata terakhir atas hidup kita.

Tuhan dapat menggunakan firman-Nya, doa, komunitas orang percaya, dan pertolongan yang tepat untuk menguatkan kita dalam masa sulit.

Mungkin hari ini semangatmu sedang patah.

Mungkin kamu sudah terlalu lama menanggung beban dan merasa tidak ada seorang pun yang benar-benar memahami keadaanmu.

Jangan merasa harus menyembunyikan semuanya di hadapan Tuhan.

Datanglah kepada-Nya dengan hati yang jujur.

Akui kelemahanmu.  
Carilah pertolongan.
Izinkan saudara seiman berjalan bersamamu.

Dan jika hari ini kamu melihat seseorang yang sedang kehilangan semangat, jangan hanya bertanya, “Mengapa kamu tidak kuat?”

Cobalah bertanya, “Bagaimana aku bisa menemanimu melewati masa ini?”

Kita tidak selalu dapat menghilangkan penderitaan orang lain, tetapi kita dapat memilih untuk tidak membiarkan mereka menghadapinya seorang diri.

Kiranya Tuhan memberikan kekuatan kepada mereka yang sedang lemah, pengharapan kepada mereka yang sedang putus asa, dan hati yang penuh kasih kepada kita untuk menjadi sahabat bagi mereka yang sedang terluka.



Hati yang Bersukacita

Hati yang Bersukacita


Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.


Pernahkah kita melihat seseorang yang wajahnya terlihat cerah, lalu kita langsung merasa lebih nyaman berada di dekatnya?

Sebaliknya, kita juga bisa melihat seseorang yang sedang mengalami masalah hanya dari ekspresi wajahnya, bahkan sebelum ia mengatakan apa-apa.

Ada sesuatu di dalam hati yang akhirnya terlihat keluar.

Sukacita yang ada di dalam hati tidak selalu dapat disembunyikan.

Ia akan memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan, menghadapi masalah, dan berhubungan dengan orang lain.

Kepedihan yang terus dipelihara dapat menguras kekuatan seseorang.

Kita mulai kehilangan motivasi. Hal-hal yang dahulu kita nikmati tidak lagi terasa menyenangkan.

Kita menjadi mudah kecewa, mudah marah, atau bahkan tidak lagi memiliki semangat untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.

Kita bisa memaksakan diri untuk tersenyum.
Kita bisa mengatakan, “Saya baik-baik saja.”
Kita bisa tetap melakukan berbagai aktivitas.

Tetapi hati yang terluka tetap membutuhkan pertolongan.

Daud pernah mengalami kesedihan yang dalam.

Namun ia terus kembali mengarahkan hatinya kepada Tuhan.  

Mengapa? Karena sumber pengharapannya bukan keadaan, melainkan Allah sendiri.

Hari ini mungkin keadaan kita tidak semuanya baik.

Ada masalah yang belum selesai.
Ada doa yang belum dijawab.
Ada orang yang mengecewakan.
Ada pergumulan yang belum kita mengerti.

Bawalah kepedihan itu kepada Tuhan.

Sukacita Kristen bukan berarti tidak pernah menangis.

Sukacita Kristen berarti kita tahu bahwa di balik air mata kita, Tuhan tetap ada; di tengah masalah kita, Tuhan tetap memegang hidup kita; dan di tengah ketidakpastian, Tuhan tetap dapat dipercaya.

Ketika hati kita kembali berakar kepada Tuhan, kita mendapatkan kekuatan untuk melangkah lagi.

Jagalah hati.  Jangan biarkan kepedihan mematahkan semangat.

Biarkan pengharapan kepada Tuhan membuat hati kembali bersukacita.



Marah Membuat Bodoh

Marah Membuat Bodoh


Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana bersabar.


Mungkin seseorang menulis sesuatu yang menurut Anda tidak sopan.

Anda membaca sekali, lalu membacanya lagi. Semakin dibaca, semakin kesal.

Jari mulai ingin mengetik balasan.

Dalam kepala sudah tersusun berbagai kalimat untuk membela diri.

Lalu Anda mengirimkannya.

Beberapa jam kemudian, ketika emosi sudah reda, Anda membaca kembali pesan tersebut dan berpikir, “Kenapa tadi saya membalas seperti itu?”

Masalahnya mungkin masih ada.
Orang tersebut mungkin memang salah.
Tetapi sekarang ada masalah baru: respons kita yang lahir dari kemarahan.

Perhatikan kata “lekas.” Salomo bukan hanya berbicara tentang orang yang marah, tetapi tentang orang yang cepat sekali bereaksi ketika marah.

Kita hidup di zaman yang membuat hal ini semakin mudah.

Ketika tersinggung, kita bisa langsung membalas pesan.
Ketika tidak setuju, kita bisa langsung berkomentar.
Ketika kecewa, kita bisa langsung mengumumkannya.

Kita tidak perlu menunggu lama untuk melampiaskan apa yang kita rasakan.

Tetapi kemampuan untuk segera bereaksi bukan berarti kita memiliki hikmat untuk bereaksi dengan benar.

Ketika marah, kita cenderung melihat persoalan hanya dari sudut pandang kita.

Kita mengingat kesalahan orang lain, tetapi lupa memeriksa kesalahan kita sendiri.

Kita merasa harus segera menjelaskan diri. Kita ingin membuktikan bahwa kita benar.

Bahkan kita mungkin mulai mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak akan kita katakan jika hati sedang tenang.

Kebodohan di sini bukan berarti seseorang tidak pintar.

Seseorang bisa sangat berpendidikan, berpengalaman, bahkan sangat cerdas, tetapi tetap berlaku bodoh ketika membiarkan kemarahannya mengendalikan perkataan dan tindakannya.

Orang bijaksana bukan orang yang tidak pernah marah.

Orang bijaksana adalah orang yang tidak membiarkan kemarahan menentukan responsnya.

Ia tahu kapan harus berhenti.
Ia tahu kapan harus diam.
Ia tahu kapan harus menunda jawaban.

Ia tahu bahwa tidak semua perkataan harus dibalas dan tidak semua konflik harus diselesaikan ketika emosi sedang tinggi.

Jarak itu sangat penting.

Di dalam jarak itu kita dapat berpikir.  
Kita dapat berdoa.
Kita dapat mempertimbangkan akibat dari perkataan kita.
Kita dapat melihat persoalan dengan lebih lengkap.

Bahkan mungkin kita menyadari bahwa sesuatu yang awalnya terlihat sangat besar sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan.

Bukan berarti kesabaran membuat kita menjadi lemah.

Justru diperlukan kekuatan untuk menahan diri ketika kita memiliki kesempatan untuk membalas.

Ada kalanya kita memang harus berbicara.
Ada kalanya kesalahan harus ditegur.
Ada kalanya keputusan harus dibuat.

Tetapi semuanya dapat dilakukan dengan cara yang berbeda ketika kita tidak lagi dikuasai oleh emosi.

Jika sebuah pesan membuat marah, tidak harus langsung dibalas.

Jika sebuah percakapan mulai memanas, mungkin kita perlu berhenti sejenak.

Jika seseorang menyakiti kita, jangan langsung menentukan masa depan hubungan berdasarkan emosi beberapa menit.

Berdoalah terlebih dahulu.
Tenangkan hati.
Pikirkan kembali.

Kemudian bertindaklah dengan hikmat.

Kemarahan mungkin datang tanpa kita undang. Tetapi kita tidak harus memberinya kendali.

Jangan biarkan emosi sesaat menghasilkan perkataan yang meninggalkan luka panjang.

Jangan biarkan kemarahan beberapa menit menghasilkan keputusan yang harus kita sesali berbulan-bulan.

Hari ini, ketika sesuatu membuat Anda naik darah, berhentilah sejenak dan tanyakan:

“Apakah saya sedang bertindak dengan hikmat, atau hanya sedang bereaksi karena marah?”

Kadang-kadang, tindakan paling bijaksana bukanlah mengatakan lebih banyak.

Kadang-kadang, tindakan paling bijaksana adalah berhenti, menenangkan hati, dan memberi kesempatan kepada hikmat untuk memimpin.



Panggilan Suara yang Harus Ditolak

Panggilan Suara yang Harus Ditolak


Perempuan bebal cerewet, sangat tidak berpengalaman ia, dan tidak tahu malu. Ia duduk di depan pintu rumahnya di atas kursi di tempat-tempat yang tinggi di kota, dan orang-orang yang berlalu di jalan, yang lurus jalannya diundangnya dengan kata-kata: ”Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari”; dan kepada orang yang tidak berakal budi katanya:


Setiap hari kita mendengar banyak suara.

Ada suara dari keluarga, teman, lingkungan kerja, media sosial, budaya, bahkan dari dalam diri kita sendiri.

Masing-masing menawarkan pendapat, nasihat, dan jalan yang kelihatannya masuk akal.

Dalam bagian ini, perempuan bebal juga memiliki suara.

Ia duduk di tempat yang mudah terlihat dan memanggil orang-orang yang lewat.

Ia bahkan menggunakan undangan yang terdengar sederhana:

“Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari.”

Bukankah demikian juga cara banyak godaan bekerja?

Ia tidak selalu datang dengan mengatakan, “Mari lakukan sesuatu yang jahat.”

Sering kali ia berkata:

“Coba saja.”
“Tidak ada yang tahu.”
“Sekali ini saja.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Jangan terlalu serius.”

Undangannya terdengar biasa. Bahkan mungkin terasa menyenangkan.

Itulah sebabnya kita tidak boleh menilai sebuah suara hanya dari seberapa menarik perkataannya.

Kita perlu bertanya:
“Apakah suara ini membawa saya semakin dekat kepada hikmat Tuhan, atau justru menjauhkan saya dari-Nya?”

Perempuan bebal dalam bagian ini menarik orang yang belum memiliki kemampuan untuk membedakan.

Karena itu, salah satu tanda kedewasaan bukanlah bahwa kita mendengar semakin sedikit suara, tetapi bahwa kita semakin mampu membedakan suara mana yang layak didengar.

Tidak semua nasihat harus diterima.
Tidak semua pendapat harus dipercaya.
Tidak semua ajakan harus diikuti.

Hari ini mungkin ada sebuah suara yang sedang memanggil kita.

Mungkin suara untuk berkompromi dengan kebenaran.
Mungkin suara untuk membalas seseorang.
Mungkin suara untuk mengejar sesuatu dengan mengorbankan prinsip.

Atau mungkin suara yang mengatakan bahwa kita tidak perlu terlalu peduli dengan hikmat Tuhan.

Jangan berhenti hanya karena suara itu memanggil.

Belajarlah mengenali siapa yang berbicara dan ke mana suara itu membawa kita.



Jangan Tidak Pernah Merasa Cukup

Jangan Tidak Pernah Merasa Cukup


Si lintah mempunyai dua anak perempuan, yang berkata: ‘Untukku! Untukku!’ Ada tiga hal yang tak akan kenyang, ada empat hal yang tak pernah berkata: ‘Cukup!’ Dunia orang mati dan rahim yang mandul, tanah yang tidak pernah kenyang air dan api yang tidak pernah berkata: ‘Cukup!’


Kita berkata, “Kalau saya sudah memiliki ini, saya akan senang.”
Lalu setelah mendapatkannya, muncul keinginan yang lain.

“Kalau saya punya yang lebih bagus, pasti lebih bahagia.”
Kemudian setelah mendapat yang lebih bagus:

“Kalau saya punya lebih banyak, pasti lebih tenang.”

Tanpa sadar, hidup kita berubah menjadi perlombaan untuk mendapatkan sesuatu yang berikutnya.

Lintah digambarkan memiliki dua anak perempuan yang terus berkata, “Untukku! Untukku!”

Kalimat itu menggambarkan hati yang selalu menuntut bagian untuk dirinya sendiri.

Bukan lagi, “Apa yang dapat saya berikan?”  Tetapi, “Apa yang bisa saya dapatkan?”

Bukan lagi, “Apakah ini cukup?”  Tetapi, “Apa lagi yang bisa saya miliki?”

Dan masalahnya, semakin kita mengikuti hati yang seperti ini, semakin hati kita sulit merasa puas.

Alkitab tidak mengatakan bahwa memiliki uang, rumah, pekerjaan yang baik, atau kehidupan yang nyaman adalah dosa.

Masalahnya muncul ketika apa yang kita miliki tidak pernah terasa cukup bagi hati kita.

Kita dapat memiliki sedikit tetapi sangat tamak.

Sebaliknya, seseorang dapat memiliki banyak tetapi tetap mampu berkata, “Tuhan, terima kasih. Ini cukup.”

Jadi, ukuran keserakahan bukan hanya jumlah yang kita miliki.

Ukuran keserakahan adalah apakah hati kita masih mampu berkata “cukup.”

Semuanya menggambarkan sesuatu yang terus menerima tetapi tidak pernah mengatakan, “Sudah cukup.”

Begitu pula hati manusia.

Hari ini kita mengejar satu juta.   Besok sepuluh juta.

Kemudian seratus juta.   Setelah itu satu miliar.

Bukan berarti angka yang lebih besar selalu salah.

Tetapi kita harus berhati-hati ketika kebahagiaan kita selalu ditunda sampai kita memiliki lebih banyak.

Sebab kalau kepuasan kita bergantung pada “lebih”, maka kita sedang mengejar sesuatu yang tidak mempunyai garis akhir.

Ada sesuatu yang perlu kita pelajari: hidup yang diberkati bukan berarti hidup yang memiliki segala sesuatu yang kita inginkan.

Kadang-kadang berkat Tuhan justru membuat kita mampu menikmati apa yang sudah diberikan-Nya.

Kita dapat bekerja keras tanpa diperbudak oleh uang.
Kita dapat memiliki ambisi tanpa menjadi tamak.

Kita dapat menikmati keberhasilan tanpa harus membandingkan diri dengan orang lain.

Kita dapat menginginkan sesuatu tanpa membiarkan keinginan itu menguasai hati.

“Apa yang sebenarnya sedang saya kejar?”

Apakah kita sedang mengejar kebutuhan?

Ataukah kita sedang mencoba mengisi kekosongan hati dengan semakin banyak hal?

Karena bisa jadi masalah kita bukan kekurangan.

Bisa jadi masalah kita adalah hati yang sudah terlalu terbiasa berkata: “Masih kurang.”

Belajarlah berkata cukup.