Jangan Tidak Pernah Merasa Cukup

Jangan Tidak Pernah Merasa Cukup


Si lintah mempunyai dua anak perempuan, yang berkata: ‘Untukku! Untukku!’ Ada tiga hal yang tak akan kenyang, ada empat hal yang tak pernah berkata: ‘Cukup!’ Dunia orang mati dan rahim yang mandul, tanah yang tidak pernah kenyang air dan api yang tidak pernah berkata: ‘Cukup!’


Kita berkata, “Kalau saya sudah memiliki ini, saya akan senang.”
Lalu setelah mendapatkannya, muncul keinginan yang lain.

“Kalau saya punya yang lebih bagus, pasti lebih bahagia.”
Kemudian setelah mendapat yang lebih bagus:

“Kalau saya punya lebih banyak, pasti lebih tenang.”

Tanpa sadar, hidup kita berubah menjadi perlombaan untuk mendapatkan sesuatu yang berikutnya.

Lintah digambarkan memiliki dua anak perempuan yang terus berkata, “Untukku! Untukku!”

Kalimat itu menggambarkan hati yang selalu menuntut bagian untuk dirinya sendiri.

Bukan lagi, “Apa yang dapat saya berikan?”  Tetapi, “Apa yang bisa saya dapatkan?”

Bukan lagi, “Apakah ini cukup?”  Tetapi, “Apa lagi yang bisa saya miliki?”

Dan masalahnya, semakin kita mengikuti hati yang seperti ini, semakin hati kita sulit merasa puas.

Alkitab tidak mengatakan bahwa memiliki uang, rumah, pekerjaan yang baik, atau kehidupan yang nyaman adalah dosa.

Masalahnya muncul ketika apa yang kita miliki tidak pernah terasa cukup bagi hati kita.

Kita dapat memiliki sedikit tetapi sangat tamak.

Sebaliknya, seseorang dapat memiliki banyak tetapi tetap mampu berkata, “Tuhan, terima kasih. Ini cukup.”

Jadi, ukuran keserakahan bukan hanya jumlah yang kita miliki.

Ukuran keserakahan adalah apakah hati kita masih mampu berkata “cukup.”

Semuanya menggambarkan sesuatu yang terus menerima tetapi tidak pernah mengatakan, “Sudah cukup.”

Begitu pula hati manusia.

Hari ini kita mengejar satu juta.   Besok sepuluh juta.

Kemudian seratus juta.   Setelah itu satu miliar.

Bukan berarti angka yang lebih besar selalu salah.

Tetapi kita harus berhati-hati ketika kebahagiaan kita selalu ditunda sampai kita memiliki lebih banyak.

Sebab kalau kepuasan kita bergantung pada “lebih”, maka kita sedang mengejar sesuatu yang tidak mempunyai garis akhir.

Ada sesuatu yang perlu kita pelajari: hidup yang diberkati bukan berarti hidup yang memiliki segala sesuatu yang kita inginkan.

Kadang-kadang berkat Tuhan justru membuat kita mampu menikmati apa yang sudah diberikan-Nya.

Kita dapat bekerja keras tanpa diperbudak oleh uang.
Kita dapat memiliki ambisi tanpa menjadi tamak.

Kita dapat menikmati keberhasilan tanpa harus membandingkan diri dengan orang lain.

Kita dapat menginginkan sesuatu tanpa membiarkan keinginan itu menguasai hati.

“Apa yang sebenarnya sedang saya kejar?”

Apakah kita sedang mengejar kebutuhan?

Ataukah kita sedang mencoba mengisi kekosongan hati dengan semakin banyak hal?

Karena bisa jadi masalah kita bukan kekurangan.

Bisa jadi masalah kita adalah hati yang sudah terlalu terbiasa berkata: “Masih kurang.”

Belajarlah berkata cukup.



Kasih Bukan Berarti Membiarkan

Kasih Bukan Berarti Membiarkan


Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya


Ketika anak berbuat salah, orang tua berkata, “Sudahlah, masih kecil.”

Ketika anak bersikap tidak sopan, dibiarkan.

Ketika anak tidak bertanggung jawab, orang tua membereskan semuanya.

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua mencari alasan untuk membelanya.

Awalnya semua itu mungkin terlihat seperti kasih.

Anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang memeluknya ketika menangis.

Anak juga membutuhkan orang tua yang berani berkata, “Tidak. Itu salah.”

Anak tidak hanya membutuhkan pujian. Ia juga membutuhkan teguran.

Anak tidak hanya membutuhkan kebebasan. Ia juga membutuhkan batas.

Anak tidak hanya membutuhkan kasih. Ia membutuhkan kasih yang mendidik.

Artinya, anak tidak otomatis menjadi bijaksana hanya karena bertambah usia.

Hikmat harus dibentuk melalui proses belajar, termasuk melalui koreksi ketika ia mengambil keputusan yang salah.

Di sinilah tanggung jawab orang tua menjadi sangat penting.

Jika setiap konsekuensi selalu diambil alih oleh orang tua, anak tidak belajar menghadapi akibat dari pilihannya.

Jika setiap teguran dianggap sebagai bentuk ketidakcintaan, anak akan tumbuh tanpa kemampuan menerima koreksi.

Disiplin yang benar tidak berkata, “Aku menghukummu karena aku marah kepadamu.”

Disiplin yang benar berkata, “Aku menegurmu karena aku mengasihimu dan aku ingin kamu belajar hidup dengan benar.”

Karena itu, tujuan disiplin bukan sekadar menghentikan perilaku yang salah, tetapi membentuk hati yang belajar mencintai apa yang benar.

Itulah sasaran akhirnya.

Anak yang bijaksana bukan anak yang selalu takut kepada orang tuanya.  

Anak yang bijaksana adalah anak yang suatu hari mampu berkata:
“Saya tahu mengapa itu salah, dan saya memilih untuk tidak melakukannya meskipun tidak ada orang tua yang melihat.”

Itulah keberhasilan sebuah didikan.

Kita pun membutuhkan teguran.

Kadang-kadang Tuhan menggunakan firman-Nya untuk menunjukkan kesalahan kita.

Kadang-kadang Ia menggunakan pasangan hidup, orang tua, sahabat, pemimpin rohani, atau orang yang mengasihi kita untuk menunjukkan sesuatu yang tidak mampu kita lihat sendiri.

Orang yang tidak mau menerima teguran akan sulit menjadi bijaksana.

Sebaliknya, orang yang bersedia dikoreksi sedang membuka dirinya untuk bertumbuh.

Kasihilah anak-anak kita dengan cukup kuat untuk memeluk mereka, tetapi juga cukup berani untuk menegur mereka.

Dan jika kita adalah anak-anak Tuhan, jangan hanya mencari perkataan yang menyenangkan hati.

Carilah juga teguran yang menyelamatkan kita dari jalan yang salah.

Sebab terkadang, teguran yang paling tidak kita sukai justru adalah teguran yang paling kita butuhkan.



Niat Baik Saja Tidak Cukup

Niat Baik Saja Tidak Cukup


Siapa pagi-pagi sekali memberi selamat dengan suara nyaring, hal itu akan dianggap sebagai kutuk baginya.


Kita mungkin ingin menolong, tetapi pertolongan kita terasa mengatur.

Kita ingin mengingatkan, tetapi perkataan kita terdengar menghakimi.

Kita ingin memberi semangat, tetapi orang lain justru merasa ditekan.

Kita ingin menyampaikan berkat, tetapi karena waktu dan cara yang tidak tepat, berkat itu malah terasa seperti gangguan.

Itulah gambaran sederhana dari Amsal 27:14.

Bayangkan seseorang masih tertidur lelap pada pagi hari.

Tiba-tiba ada orang datang dengan suara sangat keras dan berkata, “Selamat pagi! Tuhan memberkati!”

Secara isi, perkataan itu baik.

Tetapi karena waktunya tidak tepat dan suaranya berlebihan, orang yang mendengarnya mungkin justru merasa terganggu.

Kita sering terlalu fokus pada niat kita:

“Saya tidak bermaksud menyakiti.”
“Saya hanya mau membantu.”
“Saya kan mengatakan yang benar.”

Tetapi kehidupan bersama orang lain tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita maksudkan, melainkan juga oleh bagaimana perkataan dan tindakan kita berdampak kepada mereka.

Apakah ini perlu dikatakan?
Apakah sekarang waktunya?
Apakah cara saya menyampaikannya tepat?
Apakah orang ini sedang siap menerimanya?

Ada perkataan yang benar tetapi waktunya salah.

Ada nasihat yang baik tetapi cara penyampaiannya salah.

Ada perhatian yang tulus tetapi diberikan tanpa kepekaan.

Dan ada berkat yang seharusnya menyenangkan, tetapi justru terasa seperti beban.

Efesus 4:29 mengingatkan agar perkataan kita membangun dan memberi kasih karunia kepada mereka yang mendengarnya.

Artinya, tujuan perkataan kita bukan sekadar mengeluarkan apa yang ada dalam pikiran kita, tetapi memberikan sesuatu yang membangun kepada orang yang mendengarnya.

Jangan hanya bertanya:
“Apakah yang akan saya katakan itu benar?”

Tetapi tanyakan juga:
“Apakah ini waktu yang tepat, cara yang tepat, dan apakah perkataan ini akan membangun?”



Jangan Tergesa-gesa Mengejar Hasil

Jangan Tergesa-gesa Mengejar Hasil


Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan.


Kita ingin hasil yang cepat, keuntungan yang cepat, pekerjaan yang cepat selesai, bahkan pertumbuhan yang cepat.

Ketika hasil tidak segera terlihat, kita mulai merasa bahwa proses yang sedang dijalani terlalu lambat.

Kita mulai merasa bahwa yang kita lakukan sama sekali tidak berhasil, karena hasilnya tidak cepat terlihat.

Sadarilah bahwa ada perbedaan antara cepat dan tergesa-gesa.

Orang yang rajin tetap bergerak maju, tetapi ia tidak mengabaikan proses.

Ia sadar bahwa tindakan merencanakan, mempertimbangkan, kemudian mengerjakan apa yang sudah direncanakan dengan tekun adalah bagian dari proses yang harus dilalui.

Sebaliknya, orang yang tergesa-gesa ingin segera sampai pada hasil.

Karena terlalu fokus pada hasil, ia dapat mengabaikan hal-hal penting dalam perjalanan.

Ketidak-sabaran seringkali membuat kita lupa akan hal-hal yang penting.

Dalam pekerjaan, kita perlu belajar bahwa hasil yang baik sering kali membutuhkan waktu.

Dalam membangun usaha, diperlukan perencanaan. Dalam pelayanan, diperlukan kesetiaan.

Dalam membangun keluarga, diperlukan kesabaran. Dalam pertumbuhan rohani, diperlukan disiplin dan ketekunan.

Mungkin hari ini kita belum melihat hasil sebesar yang kita harapkan.

Tetapi jika kita sedang berjalan dengan benar, terus merencanakan dengan bijaksana dan mengerjakannya dengan tekun, jangan menyerah hanya karena hasil belum terlihat.

Karena itu, hari ini tanyakan kepada diri sendiri:

Apakah saya sedang tekun menjalani proses, atau sedang tergesa-gesa mengejar hasil?

Jika ada sesuatu yang sedang kita bangun, jangan hanya bertanya, “Kapan hasilnya terlihat?”

Belajarlah bertanya, “Apakah saya sudah mengerjakannya dengan benar dan tekun?”

Sebab kelimpahan yang sehat bukanlah hasil dari ketergesaan, melainkan buah dari rancangan yang bijaksana dan kerajinan yang terus-menerus.



Melihat dan Mendengar Dengan Benar

Melihat dan Mendengar Dengan Benar


Telinga yang mendengar dan mata yang melihat, kedua-duanya dibuat oleh TUHAN


Setiap pagi kita membuka mata dan melihat keadaan di sekitar kita.

Kita mendengar suara orang berbicara, mendengar berita, membaca berbagai informasi, dan menerima begitu banyak suara sepanjang hari.

Karena semuanya terjadi secara alami, kita jarang berhenti untuk menyadari bahwa kemampuan itu sendiri adalah pemberian Tuhan.

Amsal 20:12 membawa kita kembali kepada sumbernya: “Telinga yang mendengar dan mata yang melihat, kedua-duanya dibuat oleh TUHAN.”

Ada sesuatu yang sangat sederhana tetapi penting dalam ayat ini.

Tuhan bukan hanya memperhatikan hal-hal besar dalam kehidupan kita.

Ia adalah Pencipta yang memberikan kepada kita kemampuan untuk melihat dan mendengar.

Karena itu, mata dan telinga seharusnya tidak hanya digunakan untuk memenuhi keinginan kita, tetapi juga untuk belajar mengenali kebenaran dan berjalan dalam hikmat.

Kita dapat melihat seseorang yang sedang terluka, tetapi memilih tidak peduli.

Kita dapat melihat bahwa sebuah keputusan mulai membawa masalah, tetapi tetap mempertahankannya karena kita tidak mau mengakui kesalahan.

Kita dapat melihat kelemahan orang lain dengan sangat jelas, tetapi tidak mampu melihat kelemahan diri sendiri.

Kita mendengar nasihat, tetapi hanya menerima nasihat yang sesuai dengan keinginan kita.

Kita mendengar teguran, tetapi segera mencari alasan untuk membela diri.

Kita mendengar firman Tuhan, tetapi setelah mendengarnya kita kembali menjalani hidup seperti sebelumnya.

Di sinilah hikmat menjadi penting.

Orang berhikmat bukan hanya orang yang mampu melihat, tetapi orang yang bersedia melihat kenyataan sebagaimana adanya.

Orang berhikmat bukan hanya orang yang mampu mendengar, tetapi orang yang bersedia menerima kebenaran sekalipun kebenaran itu tidak selalu menyenangkan.

Mungkin Tuhan sudah menunjukkan sesuatu melalui keadaan yang kita alami.

Mungkin sebuah kegagalan sedang memperlihatkan bahwa ada keputusan yang perlu diperbaiki.

Mungkin teguran dari seseorang sebenarnya sedang menolong kita melihat bagian diri yang selama ini tidak kita sadari.

Mungkin firman Tuhan sudah berkali-kali berbicara tentang sesuatu yang perlu kita ubah, tetapi kita terus mengabaikannya.

Jangan hanya menggunakan mata untuk mencari kesalahan orang lain.  Gunakan mata untuk melihat apa yang Tuhan ingin kita pelajari.

Jangan hanya menggunakan telinga untuk mendengar pujian. Gunakan telinga untuk menerima nasihat dan teguran yang dapat membawa kita kepada kehidupan yang lebih benar.

Jangan hanya melihat apa yang ada di depan mata.  Belajarlah melihat dengan hikmat.

Jangan hanya mendengar kata-kata yang menyenangkan.  Belajarlah mendengar kebenaran.

Tetapi kita dapat menentukan bagaimana kita meresponsnya.

Kita dapat memilih apakah kita akan menjadi orang yang keras hati atau orang yang mau belajar.

Ada kalanya Tuhan menggunakan sesuatu yang tidak menyenangkan untuk membuka mata kita.

Ada kalanya Ia memakai perkataan yang keras tetapi benar untuk membuka telinga kita.

Dan ketika itu terjadi, respons yang bijaksana bukanlah langsung menolak, melainkan berhenti sejenak dan bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau ingin saya lihat? Apa yang Engkau ingin saya dengar?”

Hari ini, jangan terburu-buru melewati apa yang Tuhan izinkan kita lihat dan dengar.

Perhatikan.  Dengarkan.  Renungkan.  Belajarlah.

Sebab mungkin di balik sesuatu yang selama ini kita anggap biasa, Tuhan sedang mengajar kita sesuatu yang sangat penting.



Waspadalah Terhadap Amarah yang Harus Dibayar

Waspadalah Terhadap Amarah yang Harus Dibayar


Orang yang sangat cepat marah akan kena denda, karena jika engkau hendak menolongnya, engkau hanya menambah marahnya.


Ketika tersinggung, ia berkata kasar.
Ketika kecewa, ia meledak.

Ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan, ia melampiaskan kemarahannya kepada orang lain.

Setelah semuanya terjadi, orang-orang di sekitarnya datang membereskan akibatnya.

Masalahnya, kalau hal ini terus berlangsung, orang tersebut tidak pernah belajar.

Ini bukan berarti kita harus menjadi tidak peduli kepada orang yang sedang jatuh karena kesalahannya.

Tetapi ada perbedaan antara menolong seseorang keluar dari masalah dan terus-menerus menyelamatkan seseorang dari konsekuensi perilakunya.

Jika setiap kali seseorang marah kita langsung membereskan masalah yang dibuatnya, meminta maaf atas namanya, memperbaiki hubungan yang dirusaknya, atau melindunginya dari akibat tindakannya, mungkin kita sedang menolongnya untuk sementara—tetapi kita juga bisa membuatnya tidak pernah belajar mengendalikan diri.

Amsal bahkan mengatakan bahwa ketika orang seperti itu terus diselamatkan, kita mungkin harus melakukannya lagi.

Kadang-kadang kasih justru berarti membiarkan seseorang merasakan akibat dari pilihannya, supaya ia belajar.

Anak yang selalu dibela ketika berbuat salah tidak belajar bertanggung jawab.

Orang dewasa yang selalu diselamatkan dari akibat kemarahannya tidak belajar mengendalikan amarah.

Dan seseorang yang tidak pernah merasakan konsekuensi dari perilakunya akan semakin mudah mengulangi perilaku yang sama.

Karena itu, ketika kita sendiri sedang marah, jangan buru-buru bertanya, “Bagaimana supaya orang lain mengerti kemarahanku?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Amsal 19:19 mengajak kita untuk berhenti menyalahkan keadaan, orang lain, atau situasi sebagai alasan untuk kemarahan kita.

Kita perlu belajar bertanggung jawab atas respons kita sendiri.

Mungkin kita memang diperlakukan tidak adil.
Mungkin perkataan orang lain memang menyakitkan.
Mungkin ada alasan yang membuat kita kecewa.

Tetapi alasan untuk marah tidak otomatis menjadi izin untuk melampiaskan amarah.

Orang bijaksana belajar berhenti sebelum berbicara.
Belajar diam sebelum membalas.
Belajar mengambil waktu sebelum mengambil keputusan.

Dan belajar menerima teguran ketika orang lain menunjukkan bahwa kemarahannya sudah mulai menguasai dirinya.

Sebab kematangan rohani bukan berarti kita tidak pernah marah.

Hari ini, mungkin Tuhan sedang mengingatkan kita tentang sebuah pola yang terus berulang: marah, membuat masalah, menyesal, diselamatkan, lalu marah lagi.

Jangan terus hidup dalam siklus itu.

Belajarlah menguasai amarah sebelum amarah membawa kita kepada konsekuensi yang lebih besar.

Dan jika kita sedang berhadapan dengan seseorang yang selalu marah, jangan selalu menjadi orang yang membereskan semua akibatnya.

Tolong dia belajar bertanggung jawab.
Tegur dengan kasih.
Berikan batas yang sehat.

Dan arahkan dia kepada perubahan.



Obat Bagi Hati yang Lelah

Obat Bagi Hati yang Lelah


Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.


Persoalan masih ada.
Tanggung jawab masih harus diselesaikan.
Orang-orang yang mengecewakan kita mungkin belum berubah.

Bahkan doa yang kita panjatkan mungkin belum mendapatkan jawaban seperti yang kita harapkan.

Namun, ada sesuatu yang dapat Tuhan kerjakan terlebih dahulu: hati kita.

Sukacita tidak selalu menghilangkan masalah, tetapi sukacita memberi kita kekuatan untuk menghadapi masalah tanpa kehilangan pengharapan.

Sukacita Kristen bukanlah berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Sukacita adalah kemampuan untuk berkata, “Keadaanku mungkin belum baik, tetapi Tuhan tetap baik.”

Itulah sebabnya sukacita tidak bergantung sepenuhnya pada keadaan.

Kita dapat bersyukur bukan karena semua yang terjadi menyenangkan, tetapi karena kita tahu bahwa hidup kita tetap berada di tangan Tuhan.

Kita mulai melihat segala sesuatu secara negatif.

Hal-hal kecil terasa berat.

Kita kehilangan tenaga untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.

Ada pikiran yang perlu kita lepaskan.
Ada luka yang perlu kita serahkan kepada Tuhan.
Ada kekhawatiran yang perlu kita bawa dalam doa.
Ada pengampunan yang perlu kita berikan.

Dan ada kebenaran Firman Tuhan yang perlu kembali memenuhi pikiran kita.

Hari ini mungkin belum memberikan semua jawaban yang kita inginkan.

Tetapi kita tetap memiliki alasan untuk bersukacita: Tuhan masih ada, Tuhan masih bekerja, dan Tuhan tidak pernah kehilangan kendali atas hidup kita.

Jangan biarkan keadaan mencuri sukacita yang Tuhan berikan.



Hanya Tuhan yang Tahu Jalan Terbaik

Hanya Tuhan yang Tahu Jalan Terbaik


Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.”


Kita merencanakan pendidikan, pekerjaan, keluarga, pelayanan, keuangan, bahkan hal-hal sederhana untuk hari esok. 

Kita ingin mengetahui ke mana hidup kita akan berjalan dan apa yang akan terjadi di masa depan.

Perencanaan adalah bagian dari tanggung jawab manusia. 

Tuhan memberikan kepada kita kemampuan untuk berpikir, mempertimbangkan pilihan, melihat konsekuensi, dan mempersiapkan diri. 

Karena itu, kehidupan yang percaya kepada Tuhan bukanlah kehidupan yang berjalan tanpa arah.

Ada proses berpikir di dalam diri kita.  Ada keinginan, pertimbangan, harapan, dan keputusan. 

Kita tidak diminta untuk menjadi pasif. 

Kita tetap harus bekerja, berusaha, belajar, mengambil keputusan, dan merencanakan dengan sebaik mungkin.

Masalahnya bukan pada perencanaan. 

Masalah muncul ketika kita mulai menganggap bahwa rencana kita pasti menjadi kenyataan hanya karena kita sudah merencanakannya dengan baik.

Kalimat kedua membawa kita kepada sebuah kebenaran yang lebih besar: “tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.”

Di sinilah kita diingatkan bahwa hidup kita berada di bawah kedaulatan Tuhan. 

Kita dapat merancang jalan, tetapi kita tidak menguasai seluruh keadaan yang akan kita temui di sepanjang jalan itu.

Betapa seringnya kita mengalami hal seperti ini. 

Kita sudah membuat rencana dengan matang, tetapi keadaan berubah.   Sesuatu yang kita harapkan tidak terjadi. 

Pintu yang kita kira akan terbuka ternyata tertutup. 

Sebaliknya, sebuah kesempatan yang tidak pernah kita pikirkan justru datang dari arah yang tidak terduga.

Pada saat seperti itu, kita mudah bertanya, “Tuhan, mengapa rencana saya berubah?”

Namun mungkin pertanyaan yang lebih baik adalah, “Tuhan, ke mana Engkau sedang mengarahkan langkah saya?”

Ada perbedaan besar antara kedua pertanyaan tersebut.  Pertanyaan pertama berpusat pada rencana kita.  Pertanyaan kedua mengarahkan hati kita kepada Tuhan.

Kadang-kadang orang salah memahami kedaulatan Allah. 

Karena Tuhan menentukan arah langkah, mereka berpikir bahwa manusia tidak perlu merencanakan atau berusaha. 

Tetapi Amsal 16:9 justru menyatukan keduanya.

Kita berpikir. 
Kita merencanakan. 
Kita mengambil langkah. 

Namun di atas semua itu, Tuhan tetap berdaulat.

Artinya, kita tidak perlu takut merencanakan masa depan. 

Kita hanya perlu belajar memegang rencana itu dengan tangan yang terbuka. 

Kita boleh memiliki visi yang besar, tetapi jangan menjadikan visi itu sebagai sesuatu yang lebih penting daripada kehendak Tuhan.

Kita boleh berharap sebuah pintu terbuka, tetapi kita juga harus siap menerima ketika Tuhan menutupnya. 

Kita boleh berdoa untuk sesuatu yang kita inginkan, tetapi kita juga harus memiliki hati yang berkata, “Jadilah kehendak-Mu.”

Ketika Tuhan Mengubah Arah

Ada perubahan dalam hidup yang pada awalnya terasa seperti kegagalan. 

Rencana yang batal, pekerjaan yang tidak jadi, hubungan yang berubah, pelayanan yang harus dihentikan, atau kesempatan yang terlewatkan dapat membuat kita merasa bahwa hidup kita keluar dari jalur.

Tetapi Amsal 16:9 mengingatkan bahwa perubahan arah tidak selalu berarti Tuhan kehilangan kendali.  Bisa jadi justru di situlah tangan Tuhan sedang bekerja.

Kita melihat pintu yang tertutup, tetapi Tuhan melihat jalan yang sedang dibuka di tempat lain. 

Kita melihat keterlambatan, tetapi Tuhan melihat waktu yang tepat. 

Kita melihat kehilangan, tetapi Tuhan dapat menggunakannya untuk membawa kita kepada sesuatu yang lebih sesuai dengan kehendak-Nya.

Karena itu, ketika Tuhan mengubah arah langkah kita, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa semuanya telah gagal.

Mungkin Tuhan sedang mengarahkan.

Berjalan dengan Hati yang Terbuka kepada Tuhan

Amsal 16:9 mengajarkan sebuah sikap hidup: rencanakan dengan sungguh-sungguh, tetapi percayalah kepada Tuhan dengan lebih sungguh-sungguh.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. 
Kita tidak mengetahui semua tikungan di depan. 

Tetapi kita mengenal Tuhan yang memegang hari esok.

Pikirkan jalanmu. 
Buatlah rencana. 
Kerjakan tanggung jawabmu. 
Gunakan hikmat yang Tuhan berikan. 

Namun ketika Tuhan mengubah arah, jangan melawan hanya karena arah itu berbeda dari keinginan kita.

Belajarlah berkata, “Tuhan, saya mempunyai rencana, tetapi saya percaya Engkau mempunyai tujuan yang lebih besar.  Tuntunlah langkah saya.”

Sebab pada akhirnya, kehidupan yang diberkati bukanlah kehidupan di mana semua rencana kita berhasil. 

Kehidupan yang diberkati adalah kehidupan yang langkahnya berada di dalam tangan Tuhan.



Periksa Ujung Jalanmu

Periksa Ujung Jalanmu


Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.


Kadang-kadang kita mengambil keputusan karena semuanya tampak masuk akal.

Perhitungannya benar, peluangnya besar, perasaannya nyaman, dan orang-orang di sekitar kita bahkan mendukungnya.

Tetapi Amsal 14:12 mengingatkan bahwa apa yang terlihat benar belum tentu benar di hadapan Tuhan.

Artinya, seseorang dapat berjalan dengan penuh keyakinan sambil sebenarnya sedang menuju arah yang salah.

Inilah salah satu bahaya terbesar dalam kehidupan rohani: bukan ketika kita tahu bahwa kita sedang salah, tetapi ketika kita salah dan yakin bahwa kita benar.

“Menurut saya, ini baik.”
“Saya merasa damai.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Secara logika, ini masuk akal.”

Semua itu bisa menjadi pertimbangan, tetapi bukan standar terakhir.

Standar terakhir seharusnya adalah kehendak dan firman Tuhan.

Daud pernah berdoa:
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku.”
— Mazmur 139:23

Doa seperti ini menunjukkan kerendahan hati: “Tuhan, jangan biarkan saya hanya percaya kepada penilaian saya sendiri.”

Apakah jalan ini sesuai dengan firman-Mu?
Apakah motivasi saya benar?
Apakah keputusan ini membawa saya semakin dekat kepada Kristus?

Jika konsekuensinya tidak menyenangkan, apakah saya tetap mau menaati Tuhan?

Kadang jalan ketaatan terasa lebih lambat.
Kadang kita harus menunggu.

Kadang kita harus berkata tidak kepada kesempatan yang menguntungkan.

Kadang kita harus kehilangan sesuatu yang kita inginkan demi mempertahankan apa yang benar.

Jalan dosa mungkin menawarkan kenikmatan sementara, tetapi berakhir dalam kehancuran.

Jalan kompromi mungkin memberikan keuntungan sesaat, tetapi perlahan merusak karakter.

Jalan kesombongan mungkin membuat kita terlihat berhasil, tetapi akhirnya menjauhkan kita dari Tuhan.

Sebaliknya, jalan ketaatan kepada Tuhan mungkin tidak selalu mudah, tetapi ujungnya adalah kehidupan yang berada di dalam kehendak-Nya.

Hari ini, mungkin ada keputusan yang sedang kita hadapi.

Jangan hanya bertanya, “Apakah jalan ini terlihat benar?”
Tanyakan juga: “Ke mana jalan ini akan membawa saya?”

Sebab hikmat bukan hanya kemampuan memilih jalan yang terlihat baik.



Ketika Harapan Harus Menunggu

Ketika Harapan Harus Menunggu


Harapan yang tertunda menyedihkan hati, tetapi keinginan yang terpenuhi adalah pohon kehidupan.


Menunggu jawaban doa.
Menunggu pekerjaan yang belum datang.
Menunggu pemulihan hubungan.

Menunggu keadaan keluarga berubah.
Menunggu kesempatan yang sudah lama didoakan.

Bahkan terkadang kita menunggu sesuatu yang sederhana, tetapi karena penantiannya begitu panjang, hati mulai kehilangan kekuatan.

Awalnya kita masih dapat berkata, “Tuhan pasti menolong.”
Beberapa waktu kemudian kita berkata, “Tuhan, kapan?”

Setelah semakin lama, pertanyaan itu dapat berubah menjadi, “Tuhan, apakah Engkau benar-benar mendengar?”

Amsal 13:12 memahami pergumulan itu.  

Alkitab tidak berpura-pura bahwa menunggu selalu mudah.  Firman Tuhan mengakui bahwa harapan yang tertunda dapat menyedihkan hati.

Kita berharap, tetapi belum menerima.
Kita berdoa, tetapi belum melihat jawaban.
Kita sudah berusaha, tetapi hasilnya belum berubah.
Kita sudah melakukan apa yang kita bisa, tetapi pintu yang kita nantikan masih tertutup.

Pada saat seperti itu, kita mudah menyimpulkan bahwa Tuhan sedang tidak bekerja.

Seorang anak mungkin tidak mengerti mengapa orang tuanya mengatakan, “Tunggu.”

Dari sudut pandang anak, penundaan terasa seperti penolakan.  Tetapi orang tua mungkin mengetahui sesuatu yang belum diketahui anak itu.

Demikian pula dengan Tuhan.  

Kita melihat hari ini. Tuhan melihat seluruh perjalanan.

Kita melihat apa yang kita inginkan. Tuhan melihat apa yang benar-benar kita perlukan.

Kita melihat pintu yang ingin dibuka. Tuhan melihat ke mana pintu itu akan membawa kita.

Tuhan selalu dapat menggunakan penantian untuk mengubah kita sebelum Ia mengubah keadaan kita.

Mungkin kita sedang meminta Tuhan mengubah situasi, tetapi Tuhan sedang terlebih dahulu mengubah hati kita.

Kita meminta jalan keluar, tetapi Tuhan sedang mengajarkan ketekunan.

Kita meminta jawaban, tetapi Tuhan sedang mengajar kita percaya.

Kita meminta sesuatu segera, tetapi Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk menerima sesuatu itu dengan cara yang benar.

Kita dapat begitu terobsesi dengan apa yang kita tunggu sampai lupa kepada Pribadi yang kepada-Nya kita menunggu.

Jangan sampai kita berkata, “Saya akan percaya kepada Tuhan kalau Dia memberikan apa yang saya minta.”

Iman berkata sebaliknya:
“Saya tetap percaya kepada Tuhan, sekalipun saya belum menerima apa yang saya minta.”

Ini bukan berarti kita tidak boleh kecewa.

Daud pun pernah berseru, “Berapa lama lagi, TUHAN?”

Tuhan tidak meminta kita berpura-pura kuat.  Kita boleh membawa kekecewaan, air mata, dan pertanyaan kita kepada-Nya.

Tetapi setelah membawa semuanya kepada Tuhan, kita belajar menyerahkan hasilnya kepada-Nya.

Ada kalanya Tuhan memberikan apa yang kita doakan.
Ada kalanya Ia memberikan sesuatu yang berbeda.
Ada kalanya Ia meminta kita menunggu jauh lebih lama daripada yang kita inginkan.

Dan ada kalanya kita baru memahami maksud-Nya setelah bertahun-tahun berlalu.

Namun dalam semuanya itu, karakter Tuhan tidak berubah.

Amsal 13:12 juga mengingatkan kita bahwa ketika keinginan akhirnya terpenuhi, sukacitanya seperti pohon kehidupan.

Setelah lama menunggu, sesuatu yang dahulu hanya kita lihat melalui doa akhirnya dapat kita nikmati sebagai jawaban Tuhan.

Mungkin hari ini kita sedang berada di antara kedua bagian ayat tersebut: harapan yang tertunda.

Jika demikian, jangan menyerah.

Jangan membuat keputusan besar hanya karena sedang lelah menunggu.

Jangan meninggalkan Tuhan hanya karena jawaban-Nya belum terlihat.

Jangan menganggap pintu yang belum terbuka sebagai bukti bahwa Tuhan telah melupakan kita.

Tetaplah berdoa.
Tetaplah bekerja dengan setia.
Tetaplah hidup dalam kebenaran.

Kita tidak tahu berapa lama penantian itu akan berlangsung. Tetapi kita tahu siapa yang memegang masa depan kita.

Mungkin jawaban Tuhan belum datang hari ini.  Mungkin besok juga belum.

Tetapi selama kita menunggu, percayalah bahwa Tuhan tidak berhenti menjadi Tuhan.