
Amsal 1:22
Berapa lama lagi, hai orang yang tak berpengalaman, kamu berpegang pada kebodohanmu? Berapa lama lagi orang yang mencemoohkan itu gemar kepada cemooh, dan orang bebal membenci pengetahuan?
Ada kalanya kita membaca kitab Amsal dan merasa bahwa ayat-ayatnya ditujukan kepada orang lain.
Kita membayangkan orang yang keras kepala, orang yang menolak nasihat, atau orang yang hidup jauh dari Tuhan.
Namun ketika membaca Amsal 1:22 dengan jujur, kita akan menyadari bahwa seruan Hikmat ini sebenarnya juga ditujukan kepada kita.
“Berapa lama lagi?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sangat menusuk hati.
Tuhan tidak langsung menghukum.
Tuhan tidak langsung menutup pintu kesempatan.
Sebaliknya, IA bertanya: Berapa lama lagi? Berapa lama lagi engkau mengabaikan suara-Ku?
IA memberi ruang bagi manusia untuk merenung.
IA mengajak manusia memeriksa dirinya sendiri.
Berapa lama lagi kita mempertahankan kebiasaan yang sebenarnya kita tahu tidak berkenan kepada Tuhan?
Berapa lama lagi kita menunda perubahan yang sudah lama Roh Kudus dorong dalam hati kita?
Berapa lama lagi kita mendengar firman setiap minggu, tetapi tetap hidup dengan pola pikir yang sama?
Sering kali masalah terbesar bukanlah kurangnya informasi rohani. Tetapi kekurangan kepekaan rohani.
Kita hidup di zaman yang penuh dengan akses kepada firman Tuhan.
Kita bisa membaca Alkitab kapan saja.
Kita bisa mendengarkan khotbah, renungan, dan pengajaran dengan mudah.
Namun persoalannya bukan pada ketersediaan hikmat, melainkan pada respons kita terhadap hikmat itu. Seberapa lama kita menunda menjadi sangat penting.
Orang yang tak berpengalaman dalam Amsal bukan hanya orang yang tidak tahu.
Mereka adalah orang yang memilih untuk tetap berada dalam ketidakdewasaan.
Mereka tidak mengambil langkah untuk bertumbuh.
Mereka nyaman dengan keadaan mereka sekarang.
Bukankah terkadang kita juga demikian?
Kita tahu pentingnya berdoa, tetapi kita menundanya.
Kita tahu pentingnya mengampuni, tetapi kita mempertahankan kepahitan.
Kita tahu pentingnya hidup dalam kekudusan, tetapi kita terus berkompromi.
Sementara itu, orang yang mencemoohkan digambarkan sebagai orang yang menikmati cemoohan.
Mereka bukan hanya tidak mau belajar, tetapi juga meremehkan kebenaran.
Sikap ini bisa muncul secara halus dalam kehidupan orang percaya.
Ketika firman Tuhan menegur kita, kita mencari alasan untuk mengabaikannya.
Ketika nasihat diberikan, kita lebih sibuk membela diri daripada mendengarkan.
Hati yang seharusnya lembut menjadi keras.
Kemudian ada lagi orang bebal yang membenci pengetahuan.
Mereka menolak koreksi karena merasa sudah cukup tahu. Kesombongan membuat mereka tidak lagi dapat diajar.
Padahal salah satu tanda pertumbuhan rohani yang sehat adalah kerendahan hati untuk terus belajar.
Semakin seseorang dekat dengan Tuhan, semakin ia sadar bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari dan diperbaiki.
Kabar baiknya, Amsal 1:22 bukan hanya teguran. Ayat ini juga merupakan undangan kasih karunia.
Fakta bahwa Hikmat masih berbicara menunjukkan bahwa Tuhan masih memanggil.
Selama Tuhan masih berbicara kepada kita, masih ada kesempatan untuk berubah.
Masih ada kesempatan untuk bertobat.
Masih ada kesempatan untuk mengambil langkah baru dalam ketaatan.
Hari ini mungkin Tuhan sedang menyoroti satu area tertentu dalam hidup kita.
Mungkin sebuah kebiasaan yang perlu ditinggalkan.
Mungkin sebuah luka yang perlu diserahkan kepada-Nya.
Mungkin sebuah langkah iman yang selama ini kita tunda.
Jangan abaikan suara-Nya.
Jangan berkata, “Nanti saja.”
Jangan menunggu waktu yang lebih nyaman.
Pertanyaan “Berapa lama lagi?” mengingatkan bahwa kesempatan untuk berubah tidak boleh dianggap remeh.
Hikmat Tuhan sedang memanggil hari ini. Respons terbaik yang dapat kita berikan bukanlah sekadar mendengar, melainkan menaati.
Ketika kita membuka hati terhadap didikan Tuhan, kita sedang berjalan menuju kehidupan yang penuh hikmat, damai sejahtera, dan berkat-Nya.
Sebaliknya, ketika kita terus menolak suara-Nya, kita sedang memperpanjang perjalanan yang seharusnya dapat diubah oleh satu keputusan untuk taat hari ini.
Hikmat tidak hanya meminta kita mendengar kebenaran, tetapi juga berani berubah karenanya.