Lebih Dari Ritual Keagamaan


Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan TUHAN dari pada korban.


Ia tidak pernah absen ke gereja, aktif dalam pelayanan, memberi persembahan, bahkan terlibat dalam berbagai kegiatan rohani.

Semua itu tentu baik.  

Namun Amsal 21:3 mengingatkan bahwa Allah melihat lebih dalam daripada sekadar apa yang tampak di permukaan.

Cara kita berbicara kepada pasangan, memperlakukan anak-anak, bersikap kepada bawahan, melayani pelanggan, mengelola keuangan, hingga memenuhi janji-janji kita merupakan bentuk penyembahan yang nyata.

Tidak ada gunanya mempersembahkan korban di mezbah jika di luar kita hidup penuh ketidakjujuran, kebencian, atau ketidakadilan.

Kita bisa sangat sibuk mengurus kegiatan gereja, tetapi mengabaikan karakter.

Kita bisa fasih berdoa, tetapi sulit mengampuni.

Kita bisa memberi persembahan dengan murah hati, tetapi berlaku curang dalam pekerjaan.

Kita bisa bernyanyi dengan penuh semangat pada hari Minggu, tetapi sepanjang minggu menggunakan kata-kata yang melukai orang lain.

Allah tidak menolak ibadah. Justru Dialah yang memerintahkan umat-Nya untuk beribadah.

Namun ibadah yang sejati harus lahir dari hati yang mengasihi Tuhan dan diwujudkan melalui kehidupan yang benar.

Yesus sendiri mengecam kemunafikan para pemimpin agama pada zaman-Nya.

Mereka sangat teliti menjalankan aturan-aturan lahiriah, tetapi mengabaikan keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan.

Tuhan melihat hati yang tersembunyi di balik semua aktivitas keagamaan itu.

Ia tidak terkesan oleh penampilan rohani jika kehidupan sehari-hari justru bertentangan dengan firman-Nya.

Seorang pemusik, pengkhotbah, pemimpin kelompok kecil, atau siapa pun yang melayani tetap dipanggil untuk hidup dalam integritas.

Allah lebih menghargai karakter daripada popularitas, lebih menghargai kejujuran daripada pencapaian pelayanan yang besar.

Sesungguhnya, ibadah yang paling indah bukan hanya ketika kita mengangkat tangan di gereja, melainkan ketika kita mengangkat standar kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika kita memilih jujur meski harus rugi, mengampuni meski terluka, berkata benar meski tidak populer, dan berlaku adil kepada semua orang, kita sedang mempersembahkan korban yang berkenan kepada Tuhan.

Hari ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah kehidupan kita selama enam hari mencerminkan pujian yang kita naikkan pada hari Minggu?

Sebab Tuhan tidak mencari orang yang sekadar pandai menjalankan ritual keagamaan.  

Ia mencari anak-anak-Nya yang hidup benar di hadapan-Nya.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *