Kesabaran dalam Ketekunan

Kesabaran dalam Ketekunan


Dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan tulang.


Ada saatnya kita merasa bahwa semakin keras kita berbicara, semakin cepat orang lain akan mengerti.

Ketika seseorang tidak mendengarkan, kita meninggikan suara.
Ketika pendapat kita ditolak, kita menjadi lebih keras.

Ketika orang lain melakukan kesalahan, kita ingin segera menunjukkan bahwa kita benar.

Amsal tidak sedang mengatakan bahwa kita tidak boleh tegas.

Sebaliknya, ayat ini menunjukkan bahwa ada kekuatan yang sering tidak kita sadari dalam kesabaran dan kelembutan.

Bayangkan tulang yang keras.  Secara manusia, tulang bukan sesuatu yang mudah dipatahkan.

Tetapi Amsal menggunakan gambaran yang kuat: lidah yang lembut dapat “mematahkan tulang.”

Ada orang yang mampu memenangkan perdebatan dengan suara keras, tetapi kehilangan hubungan.

Ada yang berhasil membuktikan bahwa dirinya benar, tetapi membuat orang lain semakin menutup hati.

Ada yang menyampaikan kebenaran, tetapi cara menyampaikannya membuat kebenaran itu tidak lagi didengar.

Kita perlu belajar bahwa kebenaran tidak selalu harus disampaikan dengan keras agar menjadi kuat.

Kadang-kadang satu kalimat yang lembut jauh lebih efektif daripada sepuluh kalimat yang penuh kemarahan.

Kadang-kadang kita tidak perlu segera menjawab. Kita hanya perlu menunggu, berdoa, lalu berbicara pada waktu yang tepat.

Ini sangat penting dalam keluarga.

Suami dapat mengatakan sesuatu kepada istri dengan cara yang membuatnya merasa dihargai atau justru diserang.

Orang tua dapat menegur anak dengan cara yang membuat anak belajar atau justru memberontak.

Kita dapat menyampaikan kritik kepada teman dengan tujuan membangun, tetapi cara yang salah dapat membuatnya merasa direndahkan.

Karena itu, sebelum berbicara, kita perlu bertanya bukan hanya, “Apakah yang akan saya katakan benar?” tetapi juga, “Apakah cara saya menyampaikannya mencerminkan hati Tuhan?”

Yesus sendiri memperlihatkan bahwa kebenaran dan kasih tidak harus dipisahkan.

Ia tidak mengorbankan kebenaran demi menyenangkan manusia, tetapi Ia juga tidak menggunakan kebenaran untuk menghancurkan manusia.

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk melakukan hal yang sama.

Ada waktunya kita harus berbicara.
Ada waktunya kita harus menegur.
Ada waktunya kita harus mengatakan tidak.

Tetapi semuanya dapat dilakukan dengan kesabaran, penguasaan diri, dan kelembutan.

Mungkin hari ini ada seseorang yang sedang sulit kita hadapi.

Jangan buru-buru meninggikan suara.

Jangan merasa bahwa kemarahan adalah satu-satunya cara agar kita didengar.

Berdoalah. Bersabarlah.
Pilih kata-kata dengan hati-hati.
Sampaikan kebenaran dengan kasih.

Sebab terkadang, hati yang tidak dapat ditembus oleh kekerasan justru dapat dibuka oleh kelembutan.



Ketika Cemooh Harus Dihentikan

Ketika Cemooh Harus Dihentikan


Usirlah pencemooh, maka lenyaplah pertengkaran, dan berhentilah perbantahan dan cemooh.


Satu orang mengatakan sesuatu yang merendahkan. Orang lain membalas.

Kemudian muncul pembelaan, serangan balik, dan akhirnya percakapan berubah menjadi pertengkaran.

Itulah sebabnya Amsal 22:10 memberikan nasihat yang cukup tegas: “Usirlah pencemooh, maka lenyaplah pertengkaran.”

Perbedaan pendapat bahkan dapat menjadi kesempatan untuk belajar.  Tetapi ada perbedaan antara berbeda pendapat dan mencemooh.

Orang yang berbeda pendapat masih dapat berdiskusi.

Pencemooh tidak sekadar menyampaikan pendapat; ia merendahkan orang lain, mempermalukan, atau terus memancing konflik.

Menariknya, Salomo tidak berkata bahwa kita harus memenangkan perdebatan melawan pencemooh.  

Ia juga tidak menyuruh kita membalas cemooh dengan cemooh.

Sebaliknya, pengaruh pencemooh itu harus dihentikan.

Kadang-kadang kita justru memperpanjang konflik karena merasa harus menjawab setiap komentar.

Kita merasa harus membela diri setiap kali disindir.
Kita ingin memberikan jawaban terakhir.

Akibatnya, percakapan yang seharusnya sudah selesai terus berlanjut.

Padahal, ada kalanya hikmat berarti mengetahui kapan harus berhenti berbicara.

Hal ini juga berlaku bagi kita sendiri.  Sebelum menunjuk orang lain sebagai pencemooh, kita perlu bertanya: Apakah saya sedang menjadi sumber damai, atau justru sumber pertengkaran?

Apakah perkataan saya membantu orang lain bertumbuh, atau hanya membuat orang lain merasa kecil?

Karena itu, kehidupan Kristen bukan hanya tentang mengatakan sesuatu yang benar, tetapi juga bagaimana dan untuk tujuan apa kita mengatakannya.

Di dalam komunitas keluarga, gereja, pekerjaan, maupun persahabatan, kita membutuhkan keberanian untuk menghentikan pola komunikasi yang merusak.

Bukan dengan kebencian, bukan dengan balas dendam, tetapi dengan hikmat dan batas yang sehat.

Hari ini, mari perhatikan perkataan kita.

Jika ada sesuatu yang perlu dikoreksi, lakukan dengan kasih.
Jika ada perbedaan, bicarakan dengan rendah hati.

Tetapi jika sebuah percakapan hanya menghasilkan cemooh dan pertengkaran yang tidak berujung, mungkin hikmat justru berkata: cukup. Berhentilah.



Tindakan Nyata untuk Berdamai

Tindakan Nyata untuk Berdamai


Pemberian dengan sembunyi-sembunyi memadamkan marah, dan hadiah yang dirahasiakan meredakan kegeraman yang hebat.


Ketika seseorang marah kepada kita, respons pertama yang muncul sering kali adalah membela diri.

Kita ingin menjelaskan bahwa kita tidak sepenuhnya salah.
Kita ingin menunjukkan bahwa orang lain juga bersalah.

Bahkan, kita mungkin tergoda membalas perkataan yang menyakitkan dengan perkataan yang lebih menyakitkan.

Tetapi apakah itu menyelesaikan masalah?   Sering kali tidak!

Satu perkataan melahirkan perkataan lain.
Satu luka dibalas dengan luka berikutnya.

Akhirnya, masalah yang sebenarnya kecil menjadi konflik yang besar.

Ada tindakan yang dilakukan tanpa perlu diketahui orang lain, yang dapat “meredakan kegeraman yang hebat.”

Prinsipnya bukan bahwa kita dapat membeli hati seseorang dengan hadiah.

Bukan pula bahwa setiap kesalahan dapat diselesaikan dengan memberikan sesuatu.

Prinsipnya adalah: kasih tidak selalu harus banyak bicara; kasih juga dapat diwujudkan melalui tindakan.

Mungkin seseorang sedang marah karena kita telah menyakitinya.

Dalam situasi seperti itu, yang dibutuhkan bukan pembelaan diri, tetapi kerendahan hati untuk datang dan berkata, “Saya minta maaf.”

Mungkin hubungan menjadi renggang karena sudah terlalu lama tidak ada perhatian.

Dan yang menarik, Amsal mengatakan pemberian itu dilakukan “dengan sembunyi-sembunyi.”

Artinya, tindakan kasih tidak selalu membutuhkan penonton.

Kita tidak perlu memastikan orang lain tahu bahwa kita sudah berbuat baik.

Kita tidak perlu mengunggahnya.
Kita tidak perlu menuntut penghargaan.

Ada kebaikan yang justru menjadi lebih indah ketika dilakukan tanpa diketahui banyak orang.

Ada orang yang masih kita hindari.
Ada percakapan yang belum selesai.
Ada luka yang belum pulih.

Mungkin hari ini BUKAN waktunya untuk memenangkan perdebatan.

Mungkin waktunya untuk mengambil langkah pertama.

Bukan karena kita kalah, tetapi karena hubungan lebih berharga daripada ego kita.

Sebab terkadang, satu tindakan kasih yang tulus dapat melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh seribu kata.

Jangan selalu bertanya, “Siapa yang harus mulai?”
Mungkin Tuhan sedang bertanya, “Mengapa bukan kamu?”



Tidak Bisa Dibeli

Tidak Bisa Dibeli


Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi isteri yang berakal budi adalah karunia TUHAN.


Rumah yang lebih besar dianggap lebih berhasil.

Harta yang lebih banyak dianggap lebih diberkati.

Barang yang lebih mahal dianggap menunjukkan kehidupan yang lebih baik.

Tidak salah memiliki rumah dan harta.  Bahkan Amsal sendiri mengakui bahwa rumah dan harta dapat menjadi warisan.

Tetapi ayat ini mengajak kita melihat bahwa ada sesuatu yang nilainya tidak dapat dihitung dengan uang.

Menariknya, Amsal tidak mengatakan bahwa pasangan yang kaya adalah karunia Tuhan.

Tidak juga mengatakan pasangan yang terkenal, cantik, tampan, atau memiliki status sosial tinggi.

Yang ditekankan adalah akal budi—hikmat dan pengertian dalam menjalani kehidupan.

Sebab dalam perjalanan rumah tangga, yang membuat hubungan bertahan bukan hanya kemampuan menyediakan kebutuhan materi.

Yang sangat dibutuhkan adalah hikmat untuk berbicara ketika keadaan sulit, kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, kesabaran ketika menghadapi perbedaan, dan ketakutan akan Tuhan ketika harus mengambil keputusan.

Harta dapat membantu sebuah keluarga hidup lebih nyaman, tetapi hikmat membantu keluarga hidup dengan benar.

Kadang-kadang kita lebih mudah bersyukur karena mendapatkan sesuatu daripada bersyukur karena memiliki seseorang.

Kita berterima kasih ketika mendapat kenaikan penghasilan, rumah baru, atau keberhasilan usaha.

Tetapi apakah kita juga berhenti dan berkata, “Tuhan, terima kasih untuk orang-orang yang Engkau tempatkan dalam hidup saya”?

Belajar menghargai hikmatnya.
Mendengarkan nasihatnya.
Menghormati perannya.

Dan jangan menganggap kehadirannya sebagai sesuatu yang biasa hanya karena setiap hari kita melihatnya.

Ketika memikirkan pasangan hidup, jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa orang ini berikan kepada saya?”

Tetapi tanyakan juga, “Apakah orang ini memiliki hikmat dan karakter untuk berjalan bersama Tuhan dan bersama saya?”

Dan ini tidak bisa dibeli dengan uang.

Pada akhirnya, Amsal 19:14 mengingatkan kita bahwa tidak semua yang berharga dapat diwariskan, dibeli, atau dikumpulkan.

Ada berkat yang hanya dapat diterima sebagai pemberian Tuhan.

Hitung juga siapa yang Tuhan tempatkan di dalam hidup kita.

Mungkin kita belum memiliki rumah besar.
Mungkin harta kita tidak banyak.

Tetapi jika Tuhan memberikan kepada kita orang-orang yang mengasihi Tuhan, memiliki hikmat, dan mau berjalan bersama kita dalam suka maupun duka, kita sedang memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada yang dapat dibeli dengan uang.



Marah Membuat Bodoh

Marah Membuat Bodoh


Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana bersabar.


Mungkin seseorang menulis sesuatu yang menurut Anda tidak sopan.

Anda membaca sekali, lalu membacanya lagi. Semakin dibaca, semakin kesal.

Jari mulai ingin mengetik balasan.

Dalam kepala sudah tersusun berbagai kalimat untuk membela diri.

Lalu Anda mengirimkannya.

Beberapa jam kemudian, ketika emosi sudah reda, Anda membaca kembali pesan tersebut dan berpikir, “Kenapa tadi saya membalas seperti itu?”

Masalahnya mungkin masih ada.
Orang tersebut mungkin memang salah.
Tetapi sekarang ada masalah baru: respons kita yang lahir dari kemarahan.

Perhatikan kata “lekas.” Salomo bukan hanya berbicara tentang orang yang marah, tetapi tentang orang yang cepat sekali bereaksi ketika marah.

Kita hidup di zaman yang membuat hal ini semakin mudah.

Ketika tersinggung, kita bisa langsung membalas pesan.
Ketika tidak setuju, kita bisa langsung berkomentar.
Ketika kecewa, kita bisa langsung mengumumkannya.

Kita tidak perlu menunggu lama untuk melampiaskan apa yang kita rasakan.

Tetapi kemampuan untuk segera bereaksi bukan berarti kita memiliki hikmat untuk bereaksi dengan benar.

Ketika marah, kita cenderung melihat persoalan hanya dari sudut pandang kita.

Kita mengingat kesalahan orang lain, tetapi lupa memeriksa kesalahan kita sendiri.

Kita merasa harus segera menjelaskan diri. Kita ingin membuktikan bahwa kita benar.

Bahkan kita mungkin mulai mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak akan kita katakan jika hati sedang tenang.

Kebodohan di sini bukan berarti seseorang tidak pintar.

Seseorang bisa sangat berpendidikan, berpengalaman, bahkan sangat cerdas, tetapi tetap berlaku bodoh ketika membiarkan kemarahannya mengendalikan perkataan dan tindakannya.

Orang bijaksana bukan orang yang tidak pernah marah.

Orang bijaksana adalah orang yang tidak membiarkan kemarahan menentukan responsnya.

Ia tahu kapan harus berhenti.
Ia tahu kapan harus diam.
Ia tahu kapan harus menunda jawaban.

Ia tahu bahwa tidak semua perkataan harus dibalas dan tidak semua konflik harus diselesaikan ketika emosi sedang tinggi.

Jarak itu sangat penting.

Di dalam jarak itu kita dapat berpikir.  
Kita dapat berdoa.
Kita dapat mempertimbangkan akibat dari perkataan kita.
Kita dapat melihat persoalan dengan lebih lengkap.

Bahkan mungkin kita menyadari bahwa sesuatu yang awalnya terlihat sangat besar sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan.

Bukan berarti kesabaran membuat kita menjadi lemah.

Justru diperlukan kekuatan untuk menahan diri ketika kita memiliki kesempatan untuk membalas.

Ada kalanya kita memang harus berbicara.
Ada kalanya kesalahan harus ditegur.
Ada kalanya keputusan harus dibuat.

Tetapi semuanya dapat dilakukan dengan cara yang berbeda ketika kita tidak lagi dikuasai oleh emosi.

Jika sebuah pesan membuat marah, tidak harus langsung dibalas.

Jika sebuah percakapan mulai memanas, mungkin kita perlu berhenti sejenak.

Jika seseorang menyakiti kita, jangan langsung menentukan masa depan hubungan berdasarkan emosi beberapa menit.

Berdoalah terlebih dahulu.
Tenangkan hati.
Pikirkan kembali.

Kemudian bertindaklah dengan hikmat.

Kemarahan mungkin datang tanpa kita undang. Tetapi kita tidak harus memberinya kendali.

Jangan biarkan emosi sesaat menghasilkan perkataan yang meninggalkan luka panjang.

Jangan biarkan kemarahan beberapa menit menghasilkan keputusan yang harus kita sesali berbulan-bulan.

Hari ini, ketika sesuatu membuat Anda naik darah, berhentilah sejenak dan tanyakan:

“Apakah saya sedang bertindak dengan hikmat, atau hanya sedang bereaksi karena marah?”

Kadang-kadang, tindakan paling bijaksana bukanlah mengatakan lebih banyak.

Kadang-kadang, tindakan paling bijaksana adalah berhenti, menenangkan hati, dan memberi kesempatan kepada hikmat untuk memimpin.



Berbuat Baik Kepada Diri Sendiri

Berbuat Baik Kepada Diri Sendiri


Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri.


Kita memberikan waktu.
Memberikan perhatian.
Memberikan pertolongan.
Memberikan pengampunan.

Bahkan terkadang memberikan kesempatan kedua.

Karena itu, ada saat-saat ketika kita merasa bahwa menjadi orang baik hanya membuat kita rugi.

Karena sesungguhnya kemurahan hati membentuk hati kita.

Ketika kita belajar peduli kepada orang lain, hati kita tidak menjadi semakin miskin—justru semakin kaya.

Ketika kita belajar mengampuni, kita tidak kehilangan sesuatu yang berharga—kita sedang dibebaskan dari kepahitan.

Ketika kita menolong seseorang yang membutuhkan, kita bukan sekadar meringankan beban orang itu—kita juga sedang belajar menjadi pribadi yang tidak hidup berpusat pada diri sendiri.

Seseorang mungkin menyakiti orang lain karena merasa sedang mempertahankan dirinya.

Ia menyimpan dendam karena merasa berhak.

Ia menolak mengampuni karena merasa orang lain harus menerima akibat perbuatannya.

Tetapi sedikit demi sedikit, kepahitan yang dipelihara akan menyakiti orang yang menyimpannya.

Hati menjadi keras.
Kasih semakin berkurang.
Hubungan semakin rusak.
Dan hidup menjadi semakin berat.

Tuhan memanggil kita untuk tidak menjadikan luka yang pernah kita terima sebagai alasan untuk melukai orang lain.

Mungkin kita tidak dapat mengubah apa yang sudah dilakukan orang kepada kita.  Tetapi kita dapat memilih siapa kita ketika menghadapi mereka.

Bukan selalu dalam bentuk uang.

Mungkin ia membutuhkan pengertian.
Mungkin ia membutuhkan pengampunan.
Mungkin ia membutuhkan pertolongan.
Mungkin ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Ketika kita memilih untuk hidup dalam kasih dan kemurahan hati, kita sedang membentuk hati yang semakin menyerupai kehendak Tuhan.

Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita berikan kepada orang lain juga menjadi kebaikan yang Tuhan kerjakan di dalam diri kita.



Tetap Hormati ketika Mereka Menua

Tetap Hormati ketika Mereka Menua


Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua.


Ketika masih kecil, ayah dan ibu adalah orang yang ditanya hampir tentang segala sesuatu.

Bagaimana memakai sesuatu, ke mana harus pergi, apa yang harus dilakukan, bahkan bagaimana menghadapi masalah.

Namun, waktu berjalan.  

Anak bertumbuh, bersekolah, bekerja, memiliki pengalaman sendiri, dan akhirnya memiliki kehidupan yang jauh berbeda dari kehidupan orang tuanya.

Orang tua yang dahulu menjadi tempat meminta nasihat mulai dianggap kurang memahami zaman.

Apa yang dahulu terdengar seperti nasihat mulai terdengar seperti ceramah.

Bahkan tanpa disadari, seorang anak dapat mulai memandang orang tuanya sebagai orang yang “sudah ketinggalan zaman”.

“Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau.”  Perintah ini mengingatkan kita bahwa sebelum kita memiliki pengalaman, orang tua telah lebih dahulu menjalani kehidupan.

Mereka mungkin tidak selalu benar.

Mereka juga manusia yang memiliki kelemahan, kesalahan, dan keterbatasan.

Tetapi kelemahan mereka tidak membatalkan penghormatan yang seharusnya kita berikan kepada mereka.

Alkitab tidak mengajarkan ketaatan kepada manusia melebihi ketaatan kepada Tuhan.

Namun, sikap hati kita tetap penting.  

Kita dapat berbeda pendapat tanpa menjadi kasar.

Kita dapat mengambil keputusan yang berbeda tanpa merendahkan.

Kita dapat menjelaskan pilihan kita tanpa membuat mereka merasa tidak berarti.

Tunjukkan kepada mereka bahwa ada perbedaan besar antara tidak mengikuti nasihat dan tidak menghormati orang yang memberikan nasihat.

Bagian kedua ayat ini bahkan lebih menyentuh: “janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua.”

Usia mengubah banyak hal.

Orang tua yang dahulu kuat mungkin sekarang membutuhkan bantuan.

Mereka yang dahulu berjalan cepat mungkin sekarang harus berjalan perlahan.

Mereka yang dahulu mengurus banyak orang mungkin sekarang membutuhkan orang lain untuk mengurus mereka.

Situasi ini dapat menjadi ujian bagi kasih seorang anak.

Ketika orang tua sudah tua, hubungan dapat berubah.

Dahulu mereka yang memberikan waktu, tenaga, uang, perhatian, dan pengorbanan kepada anak.

Sekarang mungkin giliran anak memberikan waktu, perhatian, kesabaran, dan pertolongan kepada mereka.

Dunia sering menghargai manusia berdasarkan kemampuan.

Ketika seseorang kuat, produktif, berhasil, dan berguna, ia mudah dihormati.

Tetapi ketika seseorang menjadi tua dan kemampuannya berkurang, dunia dapat menganggapnya kurang penting.

Firman Tuhan berkata sebaliknya.

Nilai seorang ibu tidak berkurang karena rambutnya memutih. Nilai seorang ayah tidak berkurang karena tubuhnya tidak lagi sekuat dahulu. Mereka tetap layak dihormati.

Waspadailah bahwa kesuksesan anak kadang-kadang dapat membuatnya melupakan orang tua.

Anak memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.
Kariernya semakin baik.
Penghasilannya meningkat.
Wawasannya semakin luas.

Ia mungkin tinggal di tempat yang jauh dan menjalani kehidupan yang tidak lagi sama dengan kehidupan keluarganya.

Semua itu adalah hal yang baik. Tetapi keberhasilan tidak boleh membuat seseorang kehilangan kerendahan hati.

Jangan sampai kita menjadi terlalu sibuk untuk mendengarkan orang tua.

Jangan sampai kita merasa malu berjalan bersama mereka karena penampilan mereka.

Jangan sampai kita merasa terganggu ketika mereka mengulang cerita yang sama.

Jangan sampai keterbatasan mereka membuat kita memperlakukan mereka sebagai beban.

Sebab sebelum kita mampu berdiri sendiri, ada tangan yang pernah menopang kita.

Sebelum kita mampu berjalan sendiri, ada orang yang mungkin pernah menggandeng kita.

Sebelum kita memiliki pencapaian yang dapat kita banggakan, ada orang tua yang mungkin telah berkorban tanpa pernah meminta penghargaan.

Dengarkan mereka.
Hubungi mereka.
Luangkan waktu untuk mereka.
Bersabarlah ketika mereka mulai lambat.
Jangan mempermalukan mereka karena usia mereka.

Dan jangan menunggu sampai kehilangan kesempatan untuk menunjukkan kasih.

Kadang-kadang bentuk penghormatan yang paling sederhana adalah duduk dan mendengarkan.

Menjawab dengan lembut.
Menanyakan kabar.
Membantu ketika mereka membutuhkan.

Atau sekadar membuat mereka merasa bahwa kehadiran mereka masih berarti.

Amsal 23:22 mengingatkan kita bahwa kasih kepada orang tua bukanlah kewajiban yang hanya berlaku ketika kita masih kecil. Kasih itu seharusnya bertumbuh menjadi penghormatan yang dewasa.



Sukacita yang Dipelihara

Sukacita yang Dipelihara


Diberkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan isteri masa mudamu:rusa yang manis, kijang yang jelita; biarlah buah dadanya selalu memuaskan engkau, dan engkau senantiasa berahi karena cintanya.


Padahal kenyataannya tidak demikian.

Pernikahan yang kuat bukan dibangun oleh waktu, tetapi oleh komitmen untuk terus mengasihi, menghargai, dan memelihara hubungan itu setiap hari.

Amsal 5:18–19 mengingatkan bahwa pasangan hidup bukanlah beban yang harus ditanggung, melainkan berkat yang harus disyukuri.

Sang penulis bahkan mendorong agar suami “bersukacita” dengan istrinya.

Kata itu menunjukkan sebuah pilihan yang aktif.  

Karena sesungguhnya sukacita tidak selalu muncul secara otomatis, tetapi dipelihara melalui perhatian, komunikasi, pengampunan, doa bersama, dan kasih yang terus diperbarui.

Kesibukan pekerjaan, tanggung jawab mengurus anak, tekanan ekonomi, atau rutinitas yang monoton dapat membuat suami istri hidup serumah tetapi kehilangan kedekatan hati.

Ketika hati menjadi kosong, godaan dari luar akan terasa semakin menarik.

Karena itulah Amsal tidak hanya berkata, “Jangan berzinah,” tetapi juga mengajarkan prinsip yang lebih dalam: penuhilah hatimu dengan kasih kepada pasanganmu sendiri.

Orang yang bersyukur atas anugerah yang Tuhan berikan akan lebih kuat menghadapi godaan untuk mencari kepuasan di tempat lain.

Kesetiaan selalu dimulai dari hati yang puas di dalam Tuhan.

Orang yang belajar bersyukur atas apa yang Tuhan percayakan kepadanya tidak mudah dikuasai oleh keinginan yang salah.

Sebaliknya, hati yang terus merasa kurang akan selalu tergoda mengejar sesuatu yang bukan miliknya.

Ingat kembali alasan mengapa Tuhan mempertemukan Anda berdua.

Luangkan waktu untuk berbicara, tertawa bersama, berdoa bersama, dan saling membangun.

Peliharalah kasih itu sebelum dunia mencoba merampasnya.

Rumah tangga yang dipenuhi syukur, kesetiaan, dan sukacita bukanlah rumah tangga yang tanpa masalah, melainkan rumah tangga yang setiap hari memilih untuk mengasihi sesuai kehendak Tuhan.



Lebih Berharga dari Permata

Lebih Berharga dari Permata


Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata


Penampilan, jabatan, penghasilan, jumlah pengikut di media sosial, atau pencapaian hidup menjadi ukuran keberhasilan.

Dunia begitu mudah terpesona oleh hal-hal yang tampak di luar.

Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih bernilai daripada semua itu, yaitu karakter.

Yang menarik, ayat ini tidak langsung berbicara tentang kecantikannya, kekayaannya, atau status sosialnya.

Yang pertama kali ditekankan justru nilainya. Ia begitu berharga sehingga dibandingkan dengan permata yang paling mahal sekalipun.

Mengapa karakter memiliki nilai yang begitu tinggi?

Karena karakter tidak dapat dibeli.

Uang dapat membeli rumah, tetapi tidak dapat membeli keluarga yang penuh kasih.

Uang dapat membeli perhiasan, tetapi tidak dapat membeli kesetiaan.

Uang dapat membeli pendidikan, tetapi tidak dapat membeli kebijaksanaan.

Kita rela mengeluarkan biaya besar untuk pakaian, kendaraan, atau gawai terbaru, tetapi sering kali lalai membangun kehidupan doa, membaca firman, menjaga perkataan, atau belajar mengampuni.

Padahal, penampilan hanya menarik perhatian sesaat, sedangkan karakter memenangkan kepercayaan seumur hidup.

Di dalam keluarga, karakter jauh lebih penting daripada kemampuan.

Suami atau istri yang memiliki karakter takut akan Tuhan akan menjadi berkat bagi pasangannya.

Orang tua yang memiliki integritas akan menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Anak-anak yang bertumbuh dalam kejujuran akan membawa sukacita bagi keluarganya.

Prinsip ini juga berlaku dalam pekerjaan dan pelayanan.

Banyak orang memiliki talenta yang luar biasa, tetapi gagal mempertahankan kepercayaan karena karakternya rapuh.

Sebaliknya, orang yang mungkin tidak paling berbakat sering kali dipercaya memegang tanggung jawab besar karena hidupnya dapat diandalkan.

Ketika Samuel hendak mengurapi raja yang baru, Tuhan berkata bahwa manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.

Penilaian Tuhan tidak pernah keliru, sebab Dia mengetahui siapa diri kita ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Apakah kita lebih sibuk membangun citra daripada membangun karakter?

Apakah kita lebih ingin dikagumi orang daripada menyenangkan hati Tuhan?

Jika demikian, kita sedang mengejar sesuatu yang nilainya sementara.

Ia dibangun melalui keputusan-keputusan kecil setiap hari: berkata jujur ketika berbohong lebih mudah, tetap setia ketika tidak ada yang memperhatikan, bekerja dengan sungguh-sungguh meskipun tidak dipuji, mengampuni ketika hati terluka, dan tetap hidup benar sekalipun lingkungan mendorong kita berkompromi.

Inilah karakter yang menurut firman Tuhan lebih berharga daripada permata.

Permata dapat hilang, dicuri, atau hancur.

Namun karakter yang dibentuk Tuhan akan menjadi warisan yang memberkati keluarga, gereja, dan banyak orang bahkan setelah kita tidak lagi ada.

Kiranya setiap hari kita tidak hanya berusaha menjadi pribadi yang berhasil menurut dunia, tetapi menjadi pribadi yang bernilai di hadapan Tuhan.



Nilai Sebuah Pemberian

Nilai Sebuah Pemberian


Suap yang telah kaumakan, kau akan muntahkan, dan kata-katamu yang manis kausia-siakan.


Mungkin awalnya kita merasa bersyukur karena ditraktir makan, diberi hadiah, atau ditolong dalam suatu kesulitan.  Namun beberapa waktu kemudian, orang itu terus mengungkit apa yang telah diberikannya.

Ia menceritakannya kepada banyak orang.  Ia mengharapkan balasan.  

Bahkan ia menggunakan pemberiannya sebagai alat untuk mengendalikan atau membuat kita merasa berutang budi.

Saat itulah sukacita yang semula kita rasakan berubah menjadi penyesalan.

Apa yang tadinya tampak sebagai kasih ternyata hanyalah transaksi yang dibungkus dengan keramahan.

Itulah gambaran yang diberikan Salomo.  Makanan yang sudah dimakan seolah-olah ingin dimuntahkan kembali karena kita sadar bahwa pemberian itu tidak pernah lahir dari hati yang tulus.

Kata-kata pujian yang telah kita ucapkan pun terasa sia-sia, karena ternyata kita sedang menghargai sesuatu yang sejak awal tidak diberikan dengan kasih.

Ayat ini mengajak kita bukan hanya berhati-hati terhadap orang lain, tetapi terlebih dahulu memeriksa hati kita sendiri.

Mengapa kita memberi?
Mengapa kita menolong?
Mengapa kita melayani?

Kita memberi supaya dihormati.
Kita melayani supaya dipuji.

Kita membantu supaya suatu hari nanti orang itu membalas jasa kita.
Kita bermurah hati supaya nama kita semakin dikenal.

Dari luar semuanya tampak baik, tetapi Allah melihat motivasi yang tersembunyi di dalam hati.

Yesus sendiri mengajarkan bahwa ketika memberi sedekah, jangan sampai tangan kiri mengetahui apa yang diperbuat tangan kanan.

Prinsipnya sederhana.  Kebaikan yang sejati tidak haus akan pengakuan.  Kasih yang sejati tidak terus menghitung pengorbanannya.

Orang yang sungguh-sungguh mengasihi akan lebih bersukacita melihat orang lain diberkati daripada sibuk menghitung apa yang sudah ia keluarkan.

Seorang suami yang terus mengingatkan istrinya tentang semua pengorbanannya akan membuat kasih terasa seperti beban.

Seorang istri yang selalu mengungkit semua jasanya kepada suami juga akan melukai hubungan mereka.

Orang tua yang terus mengingatkan anak-anak tentang biaya yang telah mereka keluarkan dapat membuat kasih berubah menjadi tekanan.

Padahal kasih yang sejati memberi dengan sukacita, bukan dengan catatan utang.

Ada orang yang melayani bertahun-tahun, tetapi setiap kali terjadi perbedaan pendapat, ia mulai menghitung semua jasanya.

“Saya sudah melakukan ini.”
“Saya sudah berkorban itu.”

Akibatnya, pelayanan yang semula menjadi berkat berubah menjadi alat untuk menuntut penghargaan.

Tuhan tidak menghendaki hati seperti itu.

Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal bukan karena manusia layak menerimanya, melainkan karena kasih-Nya yang besar.

Keselamatan bukanlah transaksi. Itu adalah anugerah.

Karena kita telah menerima kasih yang demikian besar, kita pun dipanggil untuk mengasihi dengan motivasi yang sama.

Menolong tanpa mengharapkan balasan.
Mengasihi tanpa menyimpan daftar pengorbanan.

Ketika kita melakukan semua itu, hubungan kita akan dipenuhi damai sejahtera, dan orang lain akan merasakan kehangatan kasih Kristus melalui hidup kita.