Memilih untuk Tidak Membalas

Memilih untuk Tidak Membalas


Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.


Mungkin itu terjadi di tempat kerja, dalam keluarga, di antara sahabat, bahkan di dalam pelayanan.

Reaksi pertama kita sering kali adalah ingin segera membalas, menjelaskan bahwa kita benar, atau memastikan orang tersebut menyadari kesalahannya.

Kita merasa bahwa jika tidak segera bereaksi, orang lain akan menganggap kita lemah.

Apakah setiap perkataan yang menyakitkan harus dijawab dengan perkataan yang lebih keras?

Amsal 19:11 mengajak kita melihat bahwa ada kekuatan yang justru muncul ketika kita mampu menahan diri.

Ini berarti orang yang berhikmat tidak membiarkan emosinya menentukan tindakannya.

Ia belajar berhenti sejenak, mempertimbangkan keadaan, dan memilih respons yang tepat.

Ia tidak terburu-buru menyimpulkan maksud orang lain atau memperbesar persoalan sebelum memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Satu perkataan yang tidak menyenangkan dibalas dengan perkataan yang lebih menyakitkan.

Satu kesalahpahaman berkembang menjadi pertengkaran panjang.

Akhirnya, persoalan yang sebenarnya dapat diselesaikan justru merusak hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Tidak semua perkataan harus dijawab.

Terkadang, keputusan paling bijaksana adalah menenangkan diri terlebih dahulu sebelum berbicara.

Menahan diri bukan berarti kita tidak memiliki keberanian, melainkan kita tidak ingin menyerahkan kendali hidup kepada kemarahan.

Amsal 19:11 juga mengatakan bahwa seseorang dipuji karena memaafkan pelanggaran.

Memaafkan memang tidak selalu mudah, terutama ketika kesalahan orang lain benar-benar melukai kita.

Kita mungkin merasa bahwa orang tersebut tidak pantas menerima pengampunan, apalagi jika ia tidak meminta maaf atau tidak menyadari kesalahannya.

Pengampunan juga tidak selalu berarti hubungan harus langsung kembali seperti semula.

Ada kalanya kita perlu menegur, mencari keadilan, atau menetapkan batasan yang sehat.

Akan tetapi, kita tidak harus terus memelihara kebencian dan keinginan untuk membalas.

Ketika kita memaafkan, kita memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hati dan pikiran kita.

Kita berhenti menjadikan luka sebagai alasan untuk menyakiti orang lain.

Kita memberikan ruang bagi penyelesaian, pemulihan, dan perubahan, sekalipun prosesnya membutuhkan waktu.

Kita bukan manusia yang selalu benar.

Kita juga pernah melakukan kesalahan, mengecewakan orang lain, dan membutuhkan pengampunan.

Kesadaran ini seharusnya membuat kita lebih rendah hati ketika menghadapi kesalahan sesama.

Hikmat justru menolong kita mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam, kapan harus menegur dan kapan harus mengampuni.

Tujuannya bukan sekadar memenangkan perdebatan, melainkan melakukan apa yang benar tanpa kehilangan penguasaan diri.

Dunia mungkin menganggap orang yang cepat membalas sebagai orang yang kuat.



Ketika Merendahkan Sesama

Ketika Merendahkan Sesama


Siapa mengolok-olok orang miskin menghina Penciptanya; siapa gembira karena suatu kecelakaan tidak akan luput dari hukuman.


Pernahkah kita melihat seseorang mengalami kegagalan, kehilangan pekerjaan, atau jatuh dalam kesulitan, lalu diam-diam merasa senang karena menganggap dirinya lebih baik?

Mungkin kita tidak mengatakannya secara langsung, tetapi dalam hati muncul pikiran, “Rasain! Memang pantas dia mendapatkannya.”

Kita juga mungkin pernah meremehkan seseorang karena penampilannya sederhana, pekerjaannya dianggap rendah, atau kondisi ekonominya jauh di bawah kita.

Amsal 17:5 memberikan teguran yang serius: “Siapa mengolok-olok orang miskin menghina Penciptanya.”

Mengapa demikian? Karena orang miskin yang kita pandang sebelah mata itu juga diciptakan oleh Allah.

Ia memiliki martabat yang tidak hilang hanya karena kekurangan uang, pendidikan, kesempatan, atau kedudukan.

Ketika kita merendahkan seseorang karena kemiskinannya, kita seolah-olah menganggap bahwa keadaan ekonominya membuat dirinya kurang berharga.

Bagian kedua ayat ini juga menyingkapkan persoalan hati: “Siapa gembira karena suatu kecelakaan tidak akan luput dari hukuman.”

Ada perbedaan antara mengakui bahwa seseorang menuai akibat dari perbuatannya dan menikmati penderitaannya.

Kita boleh belajar dari kesalahan orang lain, tetapi tidak seharusnya bersukacita ketika mereka mengalami kehancuran.

Bahkan jika seseorang pernah menyakiti kita, penderitaannya bukan alasan untuk kehilangan belas kasihan.

Namun, semua itu tidak harus disertai kebencian atau kegembiraan atas penderitaan mereka.

Lalu, bagaimana kita menerapkan firman ini?

Mulailah dengan memperhatikan cara kita berbicara tentang orang yang kurang beruntung.

Apakah kita menghormati mereka atau menjadikannya bahan lelucon?

Ketika seseorang gagal, apakah kita membantu dan mendoakannya atau justru menyebarkan ceritanya untuk mempermalukannya?

Ingatlah bahwa keadaan hidup seseorang dapat berubah.

Mereka yang hari ini berkekurangan mungkin kelak berkecukupan.

Mereka yang sekarang berdiri tegak mungkin suatu hari membutuhkan pertolongan.

Menghormati Allah bukan hanya terlihat dari cara kita beribadah, tetapi juga dari cara kita memperlakukan manusia yang diciptakan-Nya.

Jangan menertawakan mereka yang jatuh, jangan merendahkan mereka yang kekurangan, dan jangan menjadikan penderitaan sesama sebagai sumber kepuasan.

Belajarlah melihat setiap orang dengan belas kasihan.



Mewah Belum Tentu Bahagia

Mewah Belum Tentu Bahagia


Lebih baik sepiring sayur dengan kasih dari pada lembu tambun dengan kebencian.


Bayangkan dua keluarga yang sedang menikmati makan malam.

Keluarga pertama hanya memiliki hidangan sederhana, tetapi mereka makan sambil bercerita, tertawa, dan saling memperhatikan.

Keluarga kedua menikmati makanan mewah di rumah yang besar, tetapi suasana dipenuhi pertengkaran, kepahitan, dan sikap saling mengabaikan.

Keluarga mana yang lebih menikmati kebahagiaan?

Amsal 15:17 memberikan jawaban yang jelas: lebih baik sepiring sayur dengan kasih daripada hidangan mewah yang disertai kebencian.

Kita bekerja keras untuk memiliki rumah yang nyaman, penghasilan yang lebih besar, dan kehidupan yang lebih mapan.  Semua itu tidak salah.

Namun, jangan sampai kita begitu sibuk menyediakan segala sesuatu bagi keluarga sehingga kehilangan waktu untuk benar-benar hadir bagi mereka.

Kita bekerja demi anak-anak, tetapi jarang mendengarkan cerita mereka.

Kita berusaha membahagiakan pasangan, tetapi terlalu sibuk untuk membangun kedekatan.

Kebahagiaan tidak selalu ditemukan dalam sesuatu yang mahal.

Terkadang, kebahagiaan hadir melalui percakapan sederhana, perhatian kecil, kesediaan mendengarkan, atau keberanian meminta maaf.

Hal-hal tersebut mungkin tidak membutuhkan banyak uang, tetapi sangat berarti bagi orang-orang yang kita kasihi.

Sebaliknya, kemewahan tidak dapat menggantikan hubungan yang rusak.

Karena itu, mari mengevaluasi kembali apa yang sedang kita kejar.

Apakah kita hanya berusaha membangun kehidupan yang terlihat berhasil, atau juga membangun hubungan yang dipenuhi kasih?

Kita tetap perlu bekerja keras dan bertanggung jawab atas kehidupan yang Tuhan percayakan.

Namun, jangan biarkan ambisi mengalahkan kasih, kesibukan menghilangkan perhatian, atau kesombongan menghalangi kita untuk berdamai.

Kita mungkin tidak selalu bisa menentukan seberapa banyak yang tersedia di meja makan, tetapi kita dapat belajar menghadirkan kasih dalam kehidupan sehari-hari.



Tegas Karena Kasih

Tegas Karena Kasih


Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.


Banyak orang tua ingin melihat anaknya bahagia.

Mereka berusaha memberikan pendidikan yang baik, memenuhi kebutuhan anak, menyediakan fasilitas yang diperlukan, dan sebisa mungkin menghindarkan anak dari kesulitan.

Mengapa sulit?

Karena kita tidak tega melihat anak menangis.

Kita takut anak kecewa, marah, atau merasa tidak disayangi.

Ada pula orang tua yang tidak ingin mengalami konflik sehingga memilih diam meskipun mengetahui bahwa anaknya sedang melakukan sesuatu yang salah.

Akibatnya, kita mungkin lebih memilih membuat anak merasa senang daripada menolongnya belajar melakukan hal yang benar.

Amsal 13:24 memberikan peringatan yang cukup keras: orang yang tidak mendisiplinkan anaknya digambarkan seolah-olah membenci anak tersebut.

Tentu saja, ini bukan berarti setiap orang tua yang kesulitan mendisiplinkan anak tidak mengasihi anaknya.

Sebaliknya, ayat ini menggunakan bahasa yang tegas untuk menunjukkan betapa seriusnya tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak.

Bayangkan seorang anak yang terus berbohong, mengambil sesuatu yang bukan miliknya, bersikap tidak hormat, atau melukai orang lain.

Jika orang tuanya mengetahui hal itu tetapi selalu membiarkannya, anak tersebut dapat bertumbuh dengan anggapan bahwa perilakunya tidak bermasalah.

Orang tua mungkin merasa sedang menunjukkan kasih karena tidak memarahi anaknya.

Anak perlu belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, bahwa kesalahan harus diakui, dan bahwa ada perilaku yang perlu diperbaiki.

Hal ini tidak berarti setiap kesalahan harus dibalas dengan hukuman.

Ada kalanya anak membutuhkan penjelasan, nasihat, kesempatan memperbaiki kesalahan, atau konsekuensi yang mendidik.

Yang terpenting, orang tua tidak boleh mengabaikan tanggung jawabnya hanya karena menegur anak terasa tidak nyaman.

Sebagian orang mungkin menggunakan Amsal 13:24 untuk membenarkan tindakan kasar terhadap anak.

Namun, ayat ini tidak boleh dipisahkan dari prinsip-prinsip Alkitab lainnya tentang kasih, pengendalian diri, dan tanggung jawab orang tua.

Efesus 6:4 mengingatkan para orang tua agar tidak membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak mereka, melainkan mendidik mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

Artinya, orang tua tidak diberi kebebasan untuk memperlakukan anak sesuka hati.

Mereka justru dipanggil untuk mendidik dengan cara yang mencerminkan karakter Allah.

Ketika orang tua sedang dikuasai kemarahan, teguran dapat berubah menjadi hinaan.

Disiplin dapat berubah menjadi ancaman.

Kesalahan anak yang seharusnya diperbaiki justru menjadi kesempatan bagi orang tua untuk melampiaskan frustrasi.

Karena itu, orang tua perlu belajar mengendalikan diri sebelum mengoreksi anak.

Teguran harus jelas, tetapi tidak merendahkan.

Konsekuensi harus tegas, tetapi tidak sewenang-wenang.

Anak perlu memahami bahwa perilakunya salah, tanpa harus merasa bahwa dirinya tidak berharga atau tidak lagi dikasihi.

Disiplin yang sehat juga memberikan kesempatan kepada anak untuk mengakui kesalahan, memperbaiki perilaku, dan belajar mengambil tanggung jawab.

Tujuan disiplin bukan membuat anak takut kepada orang tuanya, melainkan menolong anak belajar melakukan yang benar sekalipun orang tuanya tidak sedang mengawasi.

Ketika orang tua menanamkan kejujuran, anak mungkin tetap tergoda untuk berbohong.

Ketika orang tua mengajarkan tanggung jawab, anak mungkin masih berusaha menghindari konsekuensi.

Ketika orang tua mengajarkan pengendalian diri, anak mungkin masih mengalami kesulitan mengelola emosinya.

Proses ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan konsistensi.

Terkadang, orang tua merasa lelah karena harus mengingatkan hal yang sama berulang kali.

Mereka mungkin bertanya-tanya apakah semua nasihat dan teguran itu benar-benar menghasilkan perubahan.

Karena itu, orang tua tidak boleh hanya berfokus pada perilaku anak pada hari ini. Mereka juga perlu memikirkan nilai-nilai yang sedang ditanamkan untuk masa depannya.

Kasih berani mengatakan kebenaran.

Kasih bersedia memberikan koreksi.

Kasih tidak menghindari tanggung jawab hanya karena prosesnya melelahkan atau berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan.



Kesabaran dalam Ketekunan

Kesabaran dalam Ketekunan


Dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan tulang.


Ada saatnya kita merasa bahwa semakin keras kita berbicara, semakin cepat orang lain akan mengerti.

Ketika seseorang tidak mendengarkan, kita meninggikan suara.
Ketika pendapat kita ditolak, kita menjadi lebih keras.

Ketika orang lain melakukan kesalahan, kita ingin segera menunjukkan bahwa kita benar.

Amsal tidak sedang mengatakan bahwa kita tidak boleh tegas.

Sebaliknya, ayat ini menunjukkan bahwa ada kekuatan yang sering tidak kita sadari dalam kesabaran dan kelembutan.

Bayangkan tulang yang keras.  Secara manusia, tulang bukan sesuatu yang mudah dipatahkan.

Tetapi Amsal menggunakan gambaran yang kuat: lidah yang lembut dapat “mematahkan tulang.”

Ada orang yang mampu memenangkan perdebatan dengan suara keras, tetapi kehilangan hubungan.

Ada yang berhasil membuktikan bahwa dirinya benar, tetapi membuat orang lain semakin menutup hati.

Ada yang menyampaikan kebenaran, tetapi cara menyampaikannya membuat kebenaran itu tidak lagi didengar.

Kita perlu belajar bahwa kebenaran tidak selalu harus disampaikan dengan keras agar menjadi kuat.

Kadang-kadang satu kalimat yang lembut jauh lebih efektif daripada sepuluh kalimat yang penuh kemarahan.

Kadang-kadang kita tidak perlu segera menjawab. Kita hanya perlu menunggu, berdoa, lalu berbicara pada waktu yang tepat.

Ini sangat penting dalam keluarga.

Suami dapat mengatakan sesuatu kepada istri dengan cara yang membuatnya merasa dihargai atau justru diserang.

Orang tua dapat menegur anak dengan cara yang membuat anak belajar atau justru memberontak.

Kita dapat menyampaikan kritik kepada teman dengan tujuan membangun, tetapi cara yang salah dapat membuatnya merasa direndahkan.

Karena itu, sebelum berbicara, kita perlu bertanya bukan hanya, “Apakah yang akan saya katakan benar?” tetapi juga, “Apakah cara saya menyampaikannya mencerminkan hati Tuhan?”

Yesus sendiri memperlihatkan bahwa kebenaran dan kasih tidak harus dipisahkan.

Ia tidak mengorbankan kebenaran demi menyenangkan manusia, tetapi Ia juga tidak menggunakan kebenaran untuk menghancurkan manusia.

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk melakukan hal yang sama.

Ada waktunya kita harus berbicara.
Ada waktunya kita harus menegur.
Ada waktunya kita harus mengatakan tidak.

Tetapi semuanya dapat dilakukan dengan kesabaran, penguasaan diri, dan kelembutan.

Mungkin hari ini ada seseorang yang sedang sulit kita hadapi.

Jangan buru-buru meninggikan suara.

Jangan merasa bahwa kemarahan adalah satu-satunya cara agar kita didengar.

Berdoalah. Bersabarlah.
Pilih kata-kata dengan hati-hati.
Sampaikan kebenaran dengan kasih.

Sebab terkadang, hati yang tidak dapat ditembus oleh kekerasan justru dapat dibuka oleh kelembutan.



Ketika Cemooh Harus Dihentikan

Ketika Cemooh Harus Dihentikan


Usirlah pencemooh, maka lenyaplah pertengkaran, dan berhentilah perbantahan dan cemooh.


Satu orang mengatakan sesuatu yang merendahkan. Orang lain membalas.

Kemudian muncul pembelaan, serangan balik, dan akhirnya percakapan berubah menjadi pertengkaran.

Itulah sebabnya Amsal 22:10 memberikan nasihat yang cukup tegas: “Usirlah pencemooh, maka lenyaplah pertengkaran.”

Perbedaan pendapat bahkan dapat menjadi kesempatan untuk belajar.  Tetapi ada perbedaan antara berbeda pendapat dan mencemooh.

Orang yang berbeda pendapat masih dapat berdiskusi.

Pencemooh tidak sekadar menyampaikan pendapat; ia merendahkan orang lain, mempermalukan, atau terus memancing konflik.

Menariknya, Salomo tidak berkata bahwa kita harus memenangkan perdebatan melawan pencemooh.  

Ia juga tidak menyuruh kita membalas cemooh dengan cemooh.

Sebaliknya, pengaruh pencemooh itu harus dihentikan.

Kadang-kadang kita justru memperpanjang konflik karena merasa harus menjawab setiap komentar.

Kita merasa harus membela diri setiap kali disindir.
Kita ingin memberikan jawaban terakhir.

Akibatnya, percakapan yang seharusnya sudah selesai terus berlanjut.

Padahal, ada kalanya hikmat berarti mengetahui kapan harus berhenti berbicara.

Hal ini juga berlaku bagi kita sendiri.  Sebelum menunjuk orang lain sebagai pencemooh, kita perlu bertanya: Apakah saya sedang menjadi sumber damai, atau justru sumber pertengkaran?

Apakah perkataan saya membantu orang lain bertumbuh, atau hanya membuat orang lain merasa kecil?

Karena itu, kehidupan Kristen bukan hanya tentang mengatakan sesuatu yang benar, tetapi juga bagaimana dan untuk tujuan apa kita mengatakannya.

Di dalam komunitas keluarga, gereja, pekerjaan, maupun persahabatan, kita membutuhkan keberanian untuk menghentikan pola komunikasi yang merusak.

Bukan dengan kebencian, bukan dengan balas dendam, tetapi dengan hikmat dan batas yang sehat.

Hari ini, mari perhatikan perkataan kita.

Jika ada sesuatu yang perlu dikoreksi, lakukan dengan kasih.
Jika ada perbedaan, bicarakan dengan rendah hati.

Tetapi jika sebuah percakapan hanya menghasilkan cemooh dan pertengkaran yang tidak berujung, mungkin hikmat justru berkata: cukup. Berhentilah.



Tindakan Nyata untuk Berdamai

Tindakan Nyata untuk Berdamai


Pemberian dengan sembunyi-sembunyi memadamkan marah, dan hadiah yang dirahasiakan meredakan kegeraman yang hebat.


Ketika seseorang marah kepada kita, respons pertama yang muncul sering kali adalah membela diri.

Kita ingin menjelaskan bahwa kita tidak sepenuhnya salah.
Kita ingin menunjukkan bahwa orang lain juga bersalah.

Bahkan, kita mungkin tergoda membalas perkataan yang menyakitkan dengan perkataan yang lebih menyakitkan.

Tetapi apakah itu menyelesaikan masalah?   Sering kali tidak!

Satu perkataan melahirkan perkataan lain.
Satu luka dibalas dengan luka berikutnya.

Akhirnya, masalah yang sebenarnya kecil menjadi konflik yang besar.

Ada tindakan yang dilakukan tanpa perlu diketahui orang lain, yang dapat “meredakan kegeraman yang hebat.”

Prinsipnya bukan bahwa kita dapat membeli hati seseorang dengan hadiah.

Bukan pula bahwa setiap kesalahan dapat diselesaikan dengan memberikan sesuatu.

Prinsipnya adalah: kasih tidak selalu harus banyak bicara; kasih juga dapat diwujudkan melalui tindakan.

Mungkin seseorang sedang marah karena kita telah menyakitinya.

Dalam situasi seperti itu, yang dibutuhkan bukan pembelaan diri, tetapi kerendahan hati untuk datang dan berkata, “Saya minta maaf.”

Mungkin hubungan menjadi renggang karena sudah terlalu lama tidak ada perhatian.

Dan yang menarik, Amsal mengatakan pemberian itu dilakukan “dengan sembunyi-sembunyi.”

Artinya, tindakan kasih tidak selalu membutuhkan penonton.

Kita tidak perlu memastikan orang lain tahu bahwa kita sudah berbuat baik.

Kita tidak perlu mengunggahnya.
Kita tidak perlu menuntut penghargaan.

Ada kebaikan yang justru menjadi lebih indah ketika dilakukan tanpa diketahui banyak orang.

Ada orang yang masih kita hindari.
Ada percakapan yang belum selesai.
Ada luka yang belum pulih.

Mungkin hari ini BUKAN waktunya untuk memenangkan perdebatan.

Mungkin waktunya untuk mengambil langkah pertama.

Bukan karena kita kalah, tetapi karena hubungan lebih berharga daripada ego kita.

Sebab terkadang, satu tindakan kasih yang tulus dapat melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh seribu kata.

Jangan selalu bertanya, “Siapa yang harus mulai?”
Mungkin Tuhan sedang bertanya, “Mengapa bukan kamu?”



Tidak Bisa Dibeli

Tidak Bisa Dibeli


Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi isteri yang berakal budi adalah karunia TUHAN.


Rumah yang lebih besar dianggap lebih berhasil.

Harta yang lebih banyak dianggap lebih diberkati.

Barang yang lebih mahal dianggap menunjukkan kehidupan yang lebih baik.

Tidak salah memiliki rumah dan harta.  Bahkan Amsal sendiri mengakui bahwa rumah dan harta dapat menjadi warisan.

Tetapi ayat ini mengajak kita melihat bahwa ada sesuatu yang nilainya tidak dapat dihitung dengan uang.

Menariknya, Amsal tidak mengatakan bahwa pasangan yang kaya adalah karunia Tuhan.

Tidak juga mengatakan pasangan yang terkenal, cantik, tampan, atau memiliki status sosial tinggi.

Yang ditekankan adalah akal budi—hikmat dan pengertian dalam menjalani kehidupan.

Sebab dalam perjalanan rumah tangga, yang membuat hubungan bertahan bukan hanya kemampuan menyediakan kebutuhan materi.

Yang sangat dibutuhkan adalah hikmat untuk berbicara ketika keadaan sulit, kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, kesabaran ketika menghadapi perbedaan, dan ketakutan akan Tuhan ketika harus mengambil keputusan.

Harta dapat membantu sebuah keluarga hidup lebih nyaman, tetapi hikmat membantu keluarga hidup dengan benar.

Kadang-kadang kita lebih mudah bersyukur karena mendapatkan sesuatu daripada bersyukur karena memiliki seseorang.

Kita berterima kasih ketika mendapat kenaikan penghasilan, rumah baru, atau keberhasilan usaha.

Tetapi apakah kita juga berhenti dan berkata, “Tuhan, terima kasih untuk orang-orang yang Engkau tempatkan dalam hidup saya”?

Belajar menghargai hikmatnya.
Mendengarkan nasihatnya.
Menghormati perannya.

Dan jangan menganggap kehadirannya sebagai sesuatu yang biasa hanya karena setiap hari kita melihatnya.

Ketika memikirkan pasangan hidup, jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa orang ini berikan kepada saya?”

Tetapi tanyakan juga, “Apakah orang ini memiliki hikmat dan karakter untuk berjalan bersama Tuhan dan bersama saya?”

Dan ini tidak bisa dibeli dengan uang.

Pada akhirnya, Amsal 19:14 mengingatkan kita bahwa tidak semua yang berharga dapat diwariskan, dibeli, atau dikumpulkan.

Ada berkat yang hanya dapat diterima sebagai pemberian Tuhan.

Hitung juga siapa yang Tuhan tempatkan di dalam hidup kita.

Mungkin kita belum memiliki rumah besar.
Mungkin harta kita tidak banyak.

Tetapi jika Tuhan memberikan kepada kita orang-orang yang mengasihi Tuhan, memiliki hikmat, dan mau berjalan bersama kita dalam suka maupun duka, kita sedang memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada yang dapat dibeli dengan uang.



Marah Membuat Bodoh

Marah Membuat Bodoh


Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana bersabar.


Mungkin seseorang menulis sesuatu yang menurut Anda tidak sopan.

Anda membaca sekali, lalu membacanya lagi. Semakin dibaca, semakin kesal.

Jari mulai ingin mengetik balasan.

Dalam kepala sudah tersusun berbagai kalimat untuk membela diri.

Lalu Anda mengirimkannya.

Beberapa jam kemudian, ketika emosi sudah reda, Anda membaca kembali pesan tersebut dan berpikir, “Kenapa tadi saya membalas seperti itu?”

Masalahnya mungkin masih ada.
Orang tersebut mungkin memang salah.
Tetapi sekarang ada masalah baru: respons kita yang lahir dari kemarahan.

Perhatikan kata “lekas.” Salomo bukan hanya berbicara tentang orang yang marah, tetapi tentang orang yang cepat sekali bereaksi ketika marah.

Kita hidup di zaman yang membuat hal ini semakin mudah.

Ketika tersinggung, kita bisa langsung membalas pesan.
Ketika tidak setuju, kita bisa langsung berkomentar.
Ketika kecewa, kita bisa langsung mengumumkannya.

Kita tidak perlu menunggu lama untuk melampiaskan apa yang kita rasakan.

Tetapi kemampuan untuk segera bereaksi bukan berarti kita memiliki hikmat untuk bereaksi dengan benar.

Ketika marah, kita cenderung melihat persoalan hanya dari sudut pandang kita.

Kita mengingat kesalahan orang lain, tetapi lupa memeriksa kesalahan kita sendiri.

Kita merasa harus segera menjelaskan diri. Kita ingin membuktikan bahwa kita benar.

Bahkan kita mungkin mulai mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak akan kita katakan jika hati sedang tenang.

Kebodohan di sini bukan berarti seseorang tidak pintar.

Seseorang bisa sangat berpendidikan, berpengalaman, bahkan sangat cerdas, tetapi tetap berlaku bodoh ketika membiarkan kemarahannya mengendalikan perkataan dan tindakannya.

Orang bijaksana bukan orang yang tidak pernah marah.

Orang bijaksana adalah orang yang tidak membiarkan kemarahan menentukan responsnya.

Ia tahu kapan harus berhenti.
Ia tahu kapan harus diam.
Ia tahu kapan harus menunda jawaban.

Ia tahu bahwa tidak semua perkataan harus dibalas dan tidak semua konflik harus diselesaikan ketika emosi sedang tinggi.

Jarak itu sangat penting.

Di dalam jarak itu kita dapat berpikir.  
Kita dapat berdoa.
Kita dapat mempertimbangkan akibat dari perkataan kita.
Kita dapat melihat persoalan dengan lebih lengkap.

Bahkan mungkin kita menyadari bahwa sesuatu yang awalnya terlihat sangat besar sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan.

Bukan berarti kesabaran membuat kita menjadi lemah.

Justru diperlukan kekuatan untuk menahan diri ketika kita memiliki kesempatan untuk membalas.

Ada kalanya kita memang harus berbicara.
Ada kalanya kesalahan harus ditegur.
Ada kalanya keputusan harus dibuat.

Tetapi semuanya dapat dilakukan dengan cara yang berbeda ketika kita tidak lagi dikuasai oleh emosi.

Jika sebuah pesan membuat marah, tidak harus langsung dibalas.

Jika sebuah percakapan mulai memanas, mungkin kita perlu berhenti sejenak.

Jika seseorang menyakiti kita, jangan langsung menentukan masa depan hubungan berdasarkan emosi beberapa menit.

Berdoalah terlebih dahulu.
Tenangkan hati.
Pikirkan kembali.

Kemudian bertindaklah dengan hikmat.

Kemarahan mungkin datang tanpa kita undang. Tetapi kita tidak harus memberinya kendali.

Jangan biarkan emosi sesaat menghasilkan perkataan yang meninggalkan luka panjang.

Jangan biarkan kemarahan beberapa menit menghasilkan keputusan yang harus kita sesali berbulan-bulan.

Hari ini, ketika sesuatu membuat Anda naik darah, berhentilah sejenak dan tanyakan:

“Apakah saya sedang bertindak dengan hikmat, atau hanya sedang bereaksi karena marah?”

Kadang-kadang, tindakan paling bijaksana bukanlah mengatakan lebih banyak.

Kadang-kadang, tindakan paling bijaksana adalah berhenti, menenangkan hati, dan memberi kesempatan kepada hikmat untuk memimpin.



Berbuat Baik Kepada Diri Sendiri

Berbuat Baik Kepada Diri Sendiri


Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri.


Kita memberikan waktu.
Memberikan perhatian.
Memberikan pertolongan.
Memberikan pengampunan.

Bahkan terkadang memberikan kesempatan kedua.

Karena itu, ada saat-saat ketika kita merasa bahwa menjadi orang baik hanya membuat kita rugi.

Karena sesungguhnya kemurahan hati membentuk hati kita.

Ketika kita belajar peduli kepada orang lain, hati kita tidak menjadi semakin miskin—justru semakin kaya.

Ketika kita belajar mengampuni, kita tidak kehilangan sesuatu yang berharga—kita sedang dibebaskan dari kepahitan.

Ketika kita menolong seseorang yang membutuhkan, kita bukan sekadar meringankan beban orang itu—kita juga sedang belajar menjadi pribadi yang tidak hidup berpusat pada diri sendiri.

Seseorang mungkin menyakiti orang lain karena merasa sedang mempertahankan dirinya.

Ia menyimpan dendam karena merasa berhak.

Ia menolak mengampuni karena merasa orang lain harus menerima akibat perbuatannya.

Tetapi sedikit demi sedikit, kepahitan yang dipelihara akan menyakiti orang yang menyimpannya.

Hati menjadi keras.
Kasih semakin berkurang.
Hubungan semakin rusak.
Dan hidup menjadi semakin berat.

Tuhan memanggil kita untuk tidak menjadikan luka yang pernah kita terima sebagai alasan untuk melukai orang lain.

Mungkin kita tidak dapat mengubah apa yang sudah dilakukan orang kepada kita.  Tetapi kita dapat memilih siapa kita ketika menghadapi mereka.

Bukan selalu dalam bentuk uang.

Mungkin ia membutuhkan pengertian.
Mungkin ia membutuhkan pengampunan.
Mungkin ia membutuhkan pertolongan.
Mungkin ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Ketika kita memilih untuk hidup dalam kasih dan kemurahan hati, kita sedang membentuk hati yang semakin menyerupai kehendak Tuhan.

Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita berikan kepada orang lain juga menjadi kebaikan yang Tuhan kerjakan di dalam diri kita.