
Amsal 19:6-7
Banyak orang yang mengambil hati orang dermawan, setiap orang bersahabat dengan si pemberi. Orang miskin dibenci oleh semua saudaranya, apalagi sahabat-sahabatnya, mereka menjauhi dia. Ia mengejar mereka, memanggil mereka tetapi mereka tidak ada lagi.
Dalam hidup ini, kita perlahan belajar bahwa tidak semua orang yang tersenyum kepada kita benar-benar mengasihi kita.
Ada orang-orang yang hadir karena posisi kita. Ada yang mendekat karena uang kita. Ada yang memuji karena mereka membutuhkan sesuatu dari kita.
Dan sering kali, semua itu baru terlihat ketika keadaan berubah.
Selama semuanya baik, telepon ramai.
Pesan cepat dibalas.
Undangan datang silih berganti.
Orang ingin dekat, ingin terlihat bersama kita, ingin menjadi bagian dari hidup kita.
Tetapi ketika keadaan berbalik, ketika usaha menurun, ketika pengaruh hilang, ketika kita tidak lagi “berguna,” perlahan banyak orang mulai menjauh.
Amsal 19 tidak menutupi kenyataan pahit itu. Salomo berbicara dengan sangat realistis tentang hati manusia.
Dunia sering menghargai seseorang berdasarkan manfaat yang bisa diberikan.
Karena itu orang kaya mudah memiliki banyak “teman,” sementara orang miskin sering merasa sendirian.
Yang menyedihkan, terkadang pengalaman seperti ini meninggalkan luka yang dalam. Kita mulai bertanya-tanya: “Apakah selama ini mereka benar-benar peduli?”
Ada rasa kecewa ketika menyadari bahwa beberapa relasi ternyata berdiri di atas keuntungan, bukan kasih.
Tetapi firman Tuhan hari ini tidak hanya membuka kenyataan manusia; firman Tuhan juga mengarahkan mata kita kepada kasih yang lebih besar dan lebih murni.
Tuhan tidak seperti manusia.
Yesus tidak datang kepada kita karena kita kaya secara rohani. Ia tidak memilih kita karena kita memiliki sesuatu yang menguntungkan bagi-Nya.
Sebaliknya, Alkitab berkata bahwa ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati bagi kita. Itu berarti kasih-Nya hadir justru saat kita tidak layak.
Manusia sering berkata, “Aku akan dekat kalau ada manfaat.” Tetapi Tuhan berkata, “Aku tetap tinggal sekalipun engkau lemah.”
Itulah sebabnya orang percaya tidak boleh membangun identitas hidup berdasarkan penerimaan manusia.
Jika hati kita bergantung pada pengakuan orang, kita akan mudah hancur ketika mereka pergi.
Tetapi jika hati kita berakar dalam kasih Tuhan, kita tetap dapat berdiri sekalipun dunia berubah.
Menariknya, ayat ini juga menjadi cermin bagi diri kita sendiri. Jangan sampai kita hanya hadir bagi orang-orang yang “berguna.”
Sangat mudah tanpa sadar memperlakukan orang kaya dengan hormat, tetapi mengabaikan yang sederhana.
Sangat mudah menjadi ramah kepada orang yang bisa membantu kita, tetapi dingin kepada mereka yang tidak memberi keuntungan apa-apa.
Kasih Kristus memanggil kita untuk berbeda dari pola dunia. Gereja seharusnya menjadi tempat di mana orang diterima bukan karena statusnya, tetapi karena kasih Tuhan.
Persahabatan Kristen seharusnya tetap bertahan bahkan ketika seseorang sedang jatuh, gagal, atau kehilangan segalanya.
Mungkin hari ini ada orang yang merasa ditinggalkan. Orang-orang yang dulu dekat kini menjauh. Dukungan yang dulu ramai kini sunyi.
Jangan biarkan hal itu membuat hati Anda percaya bahwa Anda tidak berharga.
Nilai hidup Anda tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang bertahan di sekitar Anda. Nilai hidup Anda ditentukan oleh fakta bahwa Tuhan sendiri mengasihi Anda.
Dan kasih-Nya tidak berubah oleh keadaan. Ia tetap setia ketika manusia berubah. Ia tetap hadir ketika dunia pergi. Ia tetap memegang ketika semua yang lain melepaskan.
Persahabatan Kristen seharusnya tetap bertahan bahkan ketika seseorang sedang jatuh, gagal, atau kehilangan segalanya.