Membanggakan, Bukan Memalukan


Isteri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya.


Kata-kata mereka menguatkan.
Sikap mereka meneduhkan.
Kehidupan mereka membuat orang lain merasa ditolong untuk menjadi lebih baik.

Kehadiran seperti itu bukan muncul secara instan, tetapi dibentuk melalui karakter yang terus bertumbuh di dalam Tuhan.

Bukan selalu melalui pertengkaran besar, tetapi lewat kata-kata tajam, sindiran kecil, ego yang tidak mau mengalah, atau kebiasaan mempermalukan orang lain.

Sedikit demi sedikit, semuanya mengikis kehangatan hubungan seperti penyakit yang diam-diam merusak tulang dari dalam.

Kita bisa memiliki kecantikan, kemampuan, talenta, atau pencapaian, tetapi tanpa karakter yang takut Tuhan, semua itu tidak akan memberi kekuatan sejati bagi orang lain.

Karena walau dunia sering mengagumi penampilan luar, tetapi Tuhan melihat kualitas hati.

Bukan karena sempurna, tetapi karena hidup dipenuhi hikmat, kasih, kesetiaan, dan kerendahan hati.

Orang seperti ini menghadirkan rasa aman. Mereka tidak sibuk menjatuhkan, melainkan mengangkat.

Mereka tidak mempermalukan, tetapi menjaga dan menghormati.

memilih mengampuni daripada menyimpan kepahitan,
memilih berkata lembut daripada kasar,
memilih setia daripada egois, dan
memilih takut akan Tuhan daripada mengikuti keinginan diri sendiri.

Apakah perkataan kita menjadi mahkota yang menguatkan, atau luka yang diam-diam melukai?

Tuhan rindu membentuk hidup kita menjadi pribadi yang membawa damai dan kehormatan.

Ketika hati dipenuhi hikmat Tuhan, relasi kita pun dapat menjadi tempat di mana kasih, kekuatan, dan penghiburan bertumbuh.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *