Jangan Sampai Kehilangan Kejernihan

Jangan Sampai Kehilangan Kejernihan


Tidaklah pantas bagi raja, Lemuel, tidaklah pantas bagi raja meminum anggur, ataupun bagi para pembesar meminum minuman keras, supaya jangan karena minum ia melupakan apa yang telah ditetapkan, dan membengkokkan hak semua orang yang tertindas.


Sebuah kebiasaan.
Sebuah kesenangan.
Sebuah ambisi.
Sebuah keinginan untuk dipuji.
Bahkan sesuatu yang sebenarnya boleh dinikmati.

Masalahnya bukan selalu pada benda atau aktivitas itu sendiri.

Masalah muncul ketika kita tidak lagi mengendalikannya, tetapi justru kita yang dikendalikan olehnya.

Seorang raja tidak boleh kehilangan kejernihan pikirannya.  

Ia memiliki tanggung jawab terhadap orang lain.

Jika ia kehilangan kendali atas dirinya, keputusan yang salah dapat merugikan orang yang berada di bawah kepemimpinannya.

Ini bukan hanya persoalan seorang raja.

Seorang ayah yang tidak mampu mengendalikan emosinya dapat melukai keluarganya.

Seorang pemimpin gereja yang tidak mampu mengendalikan egonya dapat melukai jemaat.

Seorang atasan yang tidak mampu mengendalikan ambisinya dapat memperlakukan bawahannya dengan tidak adil.

Bahkan kita sendiri dapat kehilangan arah ketika sesuatu yang kita sukai mulai mengambil tempat yang seharusnya hanya diberikan kepada Tuhan.

Karena itu, pertanyaan yang penting bukan hanya:
“Apakah ini boleh?”

Tetapi:
“Apakah saya masih mengendalikan hal ini, atau justru hal ini sudah mengendalikan saya?”

Kebijaksanaan bukan hanya mengetahui apa yang boleh, tetapi juga mengetahui kapan harus berhenti.

Semakin besar tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepada kita, semakin penting pengendalian diri.

Sebab pada akhirnya, masalahnya bukan hanya bagaimana kita menjalani hidup kita sendiri.

Cara kita mengendalikan diri akan menentukan bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Maka:
Jangan biarkan kesenangan menguasai keputusanmu.
Jangan biarkan emosi menguasai perkataanmu.
Jangan biarkan ambisi menguasai hatimu.
Jangan biarkan kekuasaan menguasai karaktermu.



Jangan Tidak Pernah Merasa Cukup

Jangan Tidak Pernah Merasa Cukup


Si lintah mempunyai dua anak perempuan, yang berkata: ‘Untukku! Untukku!’ Ada tiga hal yang tak akan kenyang, ada empat hal yang tak pernah berkata: ‘Cukup!’ Dunia orang mati dan rahim yang mandul, tanah yang tidak pernah kenyang air dan api yang tidak pernah berkata: ‘Cukup!’


Kita berkata, “Kalau saya sudah memiliki ini, saya akan senang.”
Lalu setelah mendapatkannya, muncul keinginan yang lain.

“Kalau saya punya yang lebih bagus, pasti lebih bahagia.”
Kemudian setelah mendapat yang lebih bagus:

“Kalau saya punya lebih banyak, pasti lebih tenang.”

Tanpa sadar, hidup kita berubah menjadi perlombaan untuk mendapatkan sesuatu yang berikutnya.

Lintah digambarkan memiliki dua anak perempuan yang terus berkata, “Untukku! Untukku!”

Kalimat itu menggambarkan hati yang selalu menuntut bagian untuk dirinya sendiri.

Bukan lagi, “Apa yang dapat saya berikan?”  Tetapi, “Apa yang bisa saya dapatkan?”

Bukan lagi, “Apakah ini cukup?”  Tetapi, “Apa lagi yang bisa saya miliki?”

Dan masalahnya, semakin kita mengikuti hati yang seperti ini, semakin hati kita sulit merasa puas.

Alkitab tidak mengatakan bahwa memiliki uang, rumah, pekerjaan yang baik, atau kehidupan yang nyaman adalah dosa.

Masalahnya muncul ketika apa yang kita miliki tidak pernah terasa cukup bagi hati kita.

Kita dapat memiliki sedikit tetapi sangat tamak.

Sebaliknya, seseorang dapat memiliki banyak tetapi tetap mampu berkata, “Tuhan, terima kasih. Ini cukup.”

Jadi, ukuran keserakahan bukan hanya jumlah yang kita miliki.

Ukuran keserakahan adalah apakah hati kita masih mampu berkata “cukup.”

Semuanya menggambarkan sesuatu yang terus menerima tetapi tidak pernah mengatakan, “Sudah cukup.”

Begitu pula hati manusia.

Hari ini kita mengejar satu juta.   Besok sepuluh juta.

Kemudian seratus juta.   Setelah itu satu miliar.

Bukan berarti angka yang lebih besar selalu salah.

Tetapi kita harus berhati-hati ketika kebahagiaan kita selalu ditunda sampai kita memiliki lebih banyak.

Sebab kalau kepuasan kita bergantung pada “lebih”, maka kita sedang mengejar sesuatu yang tidak mempunyai garis akhir.

Ada sesuatu yang perlu kita pelajari: hidup yang diberkati bukan berarti hidup yang memiliki segala sesuatu yang kita inginkan.

Kadang-kadang berkat Tuhan justru membuat kita mampu menikmati apa yang sudah diberikan-Nya.

Kita dapat bekerja keras tanpa diperbudak oleh uang.
Kita dapat memiliki ambisi tanpa menjadi tamak.

Kita dapat menikmati keberhasilan tanpa harus membandingkan diri dengan orang lain.

Kita dapat menginginkan sesuatu tanpa membiarkan keinginan itu menguasai hati.

“Apa yang sebenarnya sedang saya kejar?”

Apakah kita sedang mengejar kebutuhan?

Ataukah kita sedang mencoba mengisi kekosongan hati dengan semakin banyak hal?

Karena bisa jadi masalah kita bukan kekurangan.

Bisa jadi masalah kita adalah hati yang sudah terlalu terbiasa berkata: “Masih kurang.”

Belajarlah berkata cukup.



Kasih Bukan Berarti Membiarkan

Kasih Bukan Berarti Membiarkan


Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya


Ketika anak berbuat salah, orang tua berkata, “Sudahlah, masih kecil.”

Ketika anak bersikap tidak sopan, dibiarkan.

Ketika anak tidak bertanggung jawab, orang tua membereskan semuanya.

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua mencari alasan untuk membelanya.

Awalnya semua itu mungkin terlihat seperti kasih.

Anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang memeluknya ketika menangis.

Anak juga membutuhkan orang tua yang berani berkata, “Tidak. Itu salah.”

Anak tidak hanya membutuhkan pujian. Ia juga membutuhkan teguran.

Anak tidak hanya membutuhkan kebebasan. Ia juga membutuhkan batas.

Anak tidak hanya membutuhkan kasih. Ia membutuhkan kasih yang mendidik.

Artinya, anak tidak otomatis menjadi bijaksana hanya karena bertambah usia.

Hikmat harus dibentuk melalui proses belajar, termasuk melalui koreksi ketika ia mengambil keputusan yang salah.

Di sinilah tanggung jawab orang tua menjadi sangat penting.

Jika setiap konsekuensi selalu diambil alih oleh orang tua, anak tidak belajar menghadapi akibat dari pilihannya.

Jika setiap teguran dianggap sebagai bentuk ketidakcintaan, anak akan tumbuh tanpa kemampuan menerima koreksi.

Disiplin yang benar tidak berkata, “Aku menghukummu karena aku marah kepadamu.”

Disiplin yang benar berkata, “Aku menegurmu karena aku mengasihimu dan aku ingin kamu belajar hidup dengan benar.”

Karena itu, tujuan disiplin bukan sekadar menghentikan perilaku yang salah, tetapi membentuk hati yang belajar mencintai apa yang benar.

Itulah sasaran akhirnya.

Anak yang bijaksana bukan anak yang selalu takut kepada orang tuanya.  

Anak yang bijaksana adalah anak yang suatu hari mampu berkata:
“Saya tahu mengapa itu salah, dan saya memilih untuk tidak melakukannya meskipun tidak ada orang tua yang melihat.”

Itulah keberhasilan sebuah didikan.

Kita pun membutuhkan teguran.

Kadang-kadang Tuhan menggunakan firman-Nya untuk menunjukkan kesalahan kita.

Kadang-kadang Ia menggunakan pasangan hidup, orang tua, sahabat, pemimpin rohani, atau orang yang mengasihi kita untuk menunjukkan sesuatu yang tidak mampu kita lihat sendiri.

Orang yang tidak mau menerima teguran akan sulit menjadi bijaksana.

Sebaliknya, orang yang bersedia dikoreksi sedang membuka dirinya untuk bertumbuh.

Kasihilah anak-anak kita dengan cukup kuat untuk memeluk mereka, tetapi juga cukup berani untuk menegur mereka.

Dan jika kita adalah anak-anak Tuhan, jangan hanya mencari perkataan yang menyenangkan hati.

Carilah juga teguran yang menyelamatkan kita dari jalan yang salah.

Sebab terkadang, teguran yang paling tidak kita sukai justru adalah teguran yang paling kita butuhkan.



Jangan Menindas yang Lemah

Jangan Menindas yang Lemah


Orang miskin yang menindas orang-orang yang lemah adalah seperti hujan deras, tetapi tidak memberi makanan.


Orang yang pernah kekurangan seharusnya mengerti bagaimana rasanya tidak memiliki apa-apa.

Orang yang pernah diperlakukan tidak adil seharusnya mengetahui betapa menyakitkannya ketidakadilan.

Orang yang pernah berada di posisi lemah seharusnya memiliki belas kasihan kepada mereka yang sekarang berada dalam posisi yang lebih lemah.

Tetapi Amsal 28:3 menunjukkan kenyataan yang berbeda.

Pengalaman buruk tidak otomatis menghasilkan karakter yang baik.

Seseorang dapat mengalami penderitaan, tetapi kemudian memilih membuat orang lain menderita.

Seseorang dapat pernah menjadi korban, tetapi kemudian ketika mendapatkan sedikit kekuasaan, ia berubah menjadi pelaku.

Seseorang dapat pernah diperlakukan tidak adil, tetapi kemudian menggunakan kesempatan yang dimilikinya untuk memperlakukan orang lain dengan cara yang sama.

Ada orang yang terluka lalu menjadi lebih lembut. Tetapi ada juga yang terluka lalu menjadi lebih keras.

Ada orang yang pernah kekurangan lalu belajar berbagi. Tetapi ada pula yang pernah kekurangan lalu menjadi semakin egois.

Ada orang yang pernah berada di bawah lalu ketika memperoleh sedikit kekuasaan mulai menekan orang-orang yang berada di bawahnya.

Inilah yang membuat ayat ini begitu relevan.

Perhatikan bahwa Amsal tidak berkata bahwa orang miskin menindas orang kaya.  Yang dikatakan adalah orang miskin menindas orang-orang yang lemah.

Artinya, selalu ada kemungkinan bahwa seseorang yang merasa dirinya lemah ternyata masih memiliki seseorang yang lebih lemah daripadanya.

Kita mungkin tidak memiliki banyak uang, tetapi kita masih bisa memiliki kuasa atas seseorang.

Kita mungkin bukan seorang pemimpin besar, tetapi kita bisa memiliki posisi yang membuat orang lain bergantung kepada kita.

Kita mungkin tidak memiliki jabatan tinggi, tetapi kita bisa menggunakan perkataan, pengalaman, senioritas, koneksi, atau pengaruh untuk menekan orang lain.

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Jangan karena dahulu kita diperlakukan dengan kasar, kita menganggap kekasaran adalah hal yang wajar.

Jangan karena kita pernah diperlakukan tidak adil, kita membenarkan ketidakadilan ketika sekarang kita mempunyai kesempatan untuk melakukannya.

Jangan karena kita pernah berada di posisi yang tidak berdaya, kita kemudian menggunakan sedikit kekuatan yang kita miliki untuk mempermainkan orang lain.

Luka tidak boleh menjadi alasan untuk melukai.

Hujan seharusnya membawa kehidupan.  Tetapi hujan yang terlalu deras justru dapat menghancurkan.

Demikian pula seseorang seharusnya menggunakan apa yang Tuhan berikan untuk menjadi berkat.

Kekuatan seharusnya melindungi.
Pengetahuan seharusnya menolong.
Pengalaman seharusnya membimbing.
Jabatan seharusnya melayani.
Pengaruh seharusnya membangun.

Namun semuanya dapat berubah menjadi alat penindasan ketika hati tidak lagi memikirkan kebaikan orang lain.

Karena itu, pertanyaan penting hari ini bukan hanya, “Apakah saya sedang ditindas?”

Pertanyaan yang lebih dalam adalah, “Apakah tanpa saya sadari saya sedang menindas seseorang yang lebih lemah daripada saya?”

Tetapi selalu ada kemungkinan bahwa seseorang yang kita anggap “tidak penting” justru sedang terluka karena cara kita memperlakukannya.

Di keluarga, apakah kita menggunakan posisi sebagai orang tua, pasangan, atau anggota keluarga yang lebih tua untuk menekan orang lain?

Di tempat kerja, apakah kita menggunakan pengalaman, jabatan, atau pengetahuan untuk mempermalukan orang yang lebih junior?

Di dalam pelayanan, apakah kita menggunakan kepercayaan yang diberikan kepada kita untuk mengendalikan orang lain?

Dalam hubungan sehari-hari, apakah kita menikmati kelemahan seseorang karena kelemahan itu membuat kita merasa lebih kuat?

Amsal mengajak kita untuk memeriksa hati.

Karena itu, pengalaman masa lalu seharusnya tidak membuat kita semakin kejam.

Biarlah pengalaman tersebut membuat kita semakin mengerti belas kasihan.

Jika kita pernah merasakan ditolak, belajarlah menerima.
Jika kita pernah merasakan diperlakukan tidak adil, belajarlah berlaku adil.

Jika kita pernah merasakan ditekan, jangan ulangi tekanan itu kepada orang lain.

Jika kita pernah berada di bawah, jangan ketika naik kemudian melupakan bagaimana rasanya berada di sana.



Niat Baik Saja Tidak Cukup

Niat Baik Saja Tidak Cukup


Siapa pagi-pagi sekali memberi selamat dengan suara nyaring, hal itu akan dianggap sebagai kutuk baginya.


Kita mungkin ingin menolong, tetapi pertolongan kita terasa mengatur.

Kita ingin mengingatkan, tetapi perkataan kita terdengar menghakimi.

Kita ingin memberi semangat, tetapi orang lain justru merasa ditekan.

Kita ingin menyampaikan berkat, tetapi karena waktu dan cara yang tidak tepat, berkat itu malah terasa seperti gangguan.

Itulah gambaran sederhana dari Amsal 27:14.

Bayangkan seseorang masih tertidur lelap pada pagi hari.

Tiba-tiba ada orang datang dengan suara sangat keras dan berkata, “Selamat pagi! Tuhan memberkati!”

Secara isi, perkataan itu baik.

Tetapi karena waktunya tidak tepat dan suaranya berlebihan, orang yang mendengarnya mungkin justru merasa terganggu.

Kita sering terlalu fokus pada niat kita:

“Saya tidak bermaksud menyakiti.”
“Saya hanya mau membantu.”
“Saya kan mengatakan yang benar.”

Tetapi kehidupan bersama orang lain tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita maksudkan, melainkan juga oleh bagaimana perkataan dan tindakan kita berdampak kepada mereka.

Apakah ini perlu dikatakan?
Apakah sekarang waktunya?
Apakah cara saya menyampaikannya tepat?
Apakah orang ini sedang siap menerimanya?

Ada perkataan yang benar tetapi waktunya salah.

Ada nasihat yang baik tetapi cara penyampaiannya salah.

Ada perhatian yang tulus tetapi diberikan tanpa kepekaan.

Dan ada berkat yang seharusnya menyenangkan, tetapi justru terasa seperti beban.

Efesus 4:29 mengingatkan agar perkataan kita membangun dan memberi kasih karunia kepada mereka yang mendengarnya.

Artinya, tujuan perkataan kita bukan sekadar mengeluarkan apa yang ada dalam pikiran kita, tetapi memberikan sesuatu yang membangun kepada orang yang mendengarnya.

Jangan hanya bertanya:
“Apakah yang akan saya katakan itu benar?”

Tetapi tanyakan juga:
“Apakah ini waktu yang tepat, cara yang tepat, dan apakah perkataan ini akan membangun?”



Bahaya Merasa Diri Bijak

Bahaya Merasa Diri Bijak


Jika engkau melihat orang yang menganggap dirinya bijak, harapan bagi orang bebal lebih banyak dari pada bagi orang itu.


Ada orang yang tidak tahu jalan tetapi mau bertanya.
Ada orang yang tersesat tetapi mau menerima petunjuk.
Ada orang yang salah tetapi mau kembali.
Ada orang yang belum mengerti tetapi mau belajar.

Orang seperti ini masih memiliki harapan.

Ia tidak mau bertanya.
Ia tidak mau mendengar.
Ia tidak mau menerima petunjuk.

Bahkan ketika orang lain menunjukkan bahwa ia salah, ia tetap mempertahankan jalannya.

Orang seperti inilah yang sedang diperingatkan Salomo.

Mungkin selama ini kita berdoa agar Tuhan memberikan hikmat.

Tetapi Amsal 26:12 mengajak kita melihat sisi yang lain:
Apakah kita masih memiliki kerendahan hati untuk menerima hikmat ketika Tuhan memberikannya?

Sebab Tuhan dapat memberikan nasihat melalui firman-Nya.

Dan juga:
Tuhan dapat memberikan koreksi melalui orang lain.
Tuhan dapat menggunakan pasangan kita.
Tuhan dapat memakai anak-anak kita.
Tuhan dapat memakai rekan pelayanan.

Bahkan Tuhan dapat memakai seseorang yang jauh lebih muda atau lebih sederhana daripada kita.

Maka pertanyaannya bukan:
“Siapa yang memberikan nasihat itu kepada saya?”

Pertanyaannya adalah:
“Apakah Tuhan sedang mengajar saya melalui orang itu?”

Sebab mungkin justru pada saat kita merasa sudah tahu semuanya, kita sedang berhenti belajar.

Hari ini, marilah kita meminta hati yang rendah hati:

“Tuhan, jangan biarkan saya menjadi orang yang merasa sudah tahu semuanya. Beri saya hati yang mau mendengar, mau belajar, mau menerima teguran, dan mau berubah.”

Karena orang yang menyadari bahwa dirinya masih perlu belajar masih memiliki banyak harapan.



Lebih Berharga Dari Pujian

Lebih Berharga Dari Pujian


Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar.


Ada kalanya seseorang menegur karena ia melihat sesuatu yang tidak mampu kita lihat tentang diri kita sendiri.

Ia mungkin melihat sikap yang salah, keputusan yang keliru, atau kebiasaan yang perlahan-lahan membawa kita menjauh dari jalan yang benar.

Karena itu, jangan terlalu cepat menolak teguran hanya karena teguran itu tidak menyenangkan.

Bayangkan seseorang yang sedang berjalan dengan noda di wajahnya.

Orang-orang di sekitarnya mungkin memilih diam supaya tidak membuatnya malu.

Tetapi seorang sahabat berkata, “Ada sesuatu di wajahmu.”

Mungkin perkataan itu membuatnya tidak nyaman sesaat, tetapi justru sahabat itulah yang menolongnya.

Demikian pula dalam kehidupan rohani.

Terkadang Tuhan memakai orang lain untuk menunjukkan sesuatu yang perlu diperbaiki dalam diri kita.

Yang menjadi persoalan bukan hanya apakah teguran itu benar, tetapi juga apakah kita memiliki telinga yang mau mendengar.

Artinya, teguran menjadi berharga ketika kita menerimanya dengan hati yang terbuka.

Kita perlu belajar membedakan antara kritik yang menjatuhkan dan teguran yang membangun.

Tidak semua perkataan orang harus kita terima begitu saja.

Tetapi ketika seseorang yang bijaksana, yang mengasihi kita, menunjukkan sesuatu yang perlu diperbaiki, jangan langsung membela diri.

Berhentilah sejenak.
Dengarkan.
Doakan.
Periksa hati kita di hadapan Tuhan.

Mungkin ada sesuatu yang Tuhan ingin ubah melalui teguran tersebut.

Hari ini, jangan hanya berdoa, “Tuhan, berikan aku hikmat untuk berbicara.”

Berdoalah juga:
“Tuhan, berikan aku kerendahan hati untuk mendengar.”

Sebab terkadang pertumbuhan terbesar dalam hidup kita tidak dimulai ketika seseorang memuji kita, tetapi ketika seseorang dengan kasih menunjukkan kepada kita apa yang perlu diperbaiki.



Yang Manis Bagi Jiwa

Yang Manis Bagi Jiwa


Anakku, makanlah madu, sebab itu baik; dan tetesan madu manis untuk langit-langit mulutmu. Ketahuilah, bahwa demikian hikmat untuk jiwamu: jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang.


Madu adalah salah satu gambaran yang paling sederhana tentang sesuatu yang menyenangkan. Ketika madu menyentuh lidah, kita langsung merasakan manisnya.

Namun Salomo menggunakan madu untuk mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Ada sesuatu yang manis bukan hanya bagi mulut, tetapi juga bagi jiwa: hikmat.

Kadang hikmat membuat kita harus menunggu ketika kita ingin segera mendapatkan sesuatu.

Hikmat membuat kita berkata tidak ketika kesempatan yang ada sebenarnya sangat menarik.

Hikmat mengajarkan kita untuk mengendalikan perkataan ketika kita sebenarnya ingin membalas.

Hikmat juga menolong kita menerima bahwa tidak semua keinginan harus diwujudkan.

Tetapi justru di situlah nilainya.

Apa yang terasa menyenangkan hari ini belum tentu baik bagi masa depan.

Sebaliknya, sesuatu yang terasa berat hari ini dapat menjadi perlindungan bagi kehidupan kita di kemudian hari.

Hikmat memberikan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kesenangan sesaat.

Hikmat memberikan arah.

Dan ayat 14 membawa kita kepada sebuah janji yang indah:
“Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang.”

Yang diberikan hikmat adalah kemampuan untuk menjalani kehidupan dengan arah yang benar.

Ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, hikmat menolong kita menentukan bagaimana kita harus hidup hari ini.

Ketika masa depan terlihat tidak pasti, hikmat mengingatkan kita untuk tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan keadaan sesaat.

Ketika harapan mulai melemah, hikmat menolong kita kembali kepada kebenaran Tuhan.

Mungkin hari ini kita sedang berada dalam situasi yang membuat kita bertanya-tanya tentang masa depan.

Kita belum tahu bagaimana semuanya akan berakhir.

Tetapi: Jangan hanya mencari jalan yang terlihat paling mudah.  Carilah hikmat Tuhan.

Tetapi hikmat Tuhan, sekalipun terkadang menuntut kesabaran dan ketaatan, memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: masa depan dan harapan.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apa yang saya inginkan?”

Belajarlah bertanya:
“Apa yang bijaksana di hadapan Tuhan?”

Sebab ketika kita memilih untuk hidup dalam hikmat Tuhan, kita sedang membangun kehidupan bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan.



Tetap Hormati ketika Mereka Menua

Tetap Hormati ketika Mereka Menua


Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua.


Ketika masih kecil, ayah dan ibu adalah orang yang ditanya hampir tentang segala sesuatu.

Bagaimana memakai sesuatu, ke mana harus pergi, apa yang harus dilakukan, bahkan bagaimana menghadapi masalah.

Namun, waktu berjalan.  

Anak bertumbuh, bersekolah, bekerja, memiliki pengalaman sendiri, dan akhirnya memiliki kehidupan yang jauh berbeda dari kehidupan orang tuanya.

Orang tua yang dahulu menjadi tempat meminta nasihat mulai dianggap kurang memahami zaman.

Apa yang dahulu terdengar seperti nasihat mulai terdengar seperti ceramah.

Bahkan tanpa disadari, seorang anak dapat mulai memandang orang tuanya sebagai orang yang “sudah ketinggalan zaman”.

“Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau.”  Perintah ini mengingatkan kita bahwa sebelum kita memiliki pengalaman, orang tua telah lebih dahulu menjalani kehidupan.

Mereka mungkin tidak selalu benar.

Mereka juga manusia yang memiliki kelemahan, kesalahan, dan keterbatasan.

Tetapi kelemahan mereka tidak membatalkan penghormatan yang seharusnya kita berikan kepada mereka.

Alkitab tidak mengajarkan ketaatan kepada manusia melebihi ketaatan kepada Tuhan.

Namun, sikap hati kita tetap penting.  

Kita dapat berbeda pendapat tanpa menjadi kasar.

Kita dapat mengambil keputusan yang berbeda tanpa merendahkan.

Kita dapat menjelaskan pilihan kita tanpa membuat mereka merasa tidak berarti.

Tunjukkan kepada mereka bahwa ada perbedaan besar antara tidak mengikuti nasihat dan tidak menghormati orang yang memberikan nasihat.

Bagian kedua ayat ini bahkan lebih menyentuh: “janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua.”

Usia mengubah banyak hal.

Orang tua yang dahulu kuat mungkin sekarang membutuhkan bantuan.

Mereka yang dahulu berjalan cepat mungkin sekarang harus berjalan perlahan.

Mereka yang dahulu mengurus banyak orang mungkin sekarang membutuhkan orang lain untuk mengurus mereka.

Situasi ini dapat menjadi ujian bagi kasih seorang anak.

Ketika orang tua sudah tua, hubungan dapat berubah.

Dahulu mereka yang memberikan waktu, tenaga, uang, perhatian, dan pengorbanan kepada anak.

Sekarang mungkin giliran anak memberikan waktu, perhatian, kesabaran, dan pertolongan kepada mereka.

Dunia sering menghargai manusia berdasarkan kemampuan.

Ketika seseorang kuat, produktif, berhasil, dan berguna, ia mudah dihormati.

Tetapi ketika seseorang menjadi tua dan kemampuannya berkurang, dunia dapat menganggapnya kurang penting.

Firman Tuhan berkata sebaliknya.

Nilai seorang ibu tidak berkurang karena rambutnya memutih. Nilai seorang ayah tidak berkurang karena tubuhnya tidak lagi sekuat dahulu. Mereka tetap layak dihormati.

Waspadailah bahwa kesuksesan anak kadang-kadang dapat membuatnya melupakan orang tua.

Anak memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.
Kariernya semakin baik.
Penghasilannya meningkat.
Wawasannya semakin luas.

Ia mungkin tinggal di tempat yang jauh dan menjalani kehidupan yang tidak lagi sama dengan kehidupan keluarganya.

Semua itu adalah hal yang baik. Tetapi keberhasilan tidak boleh membuat seseorang kehilangan kerendahan hati.

Jangan sampai kita menjadi terlalu sibuk untuk mendengarkan orang tua.

Jangan sampai kita merasa malu berjalan bersama mereka karena penampilan mereka.

Jangan sampai kita merasa terganggu ketika mereka mengulang cerita yang sama.

Jangan sampai keterbatasan mereka membuat kita memperlakukan mereka sebagai beban.

Sebab sebelum kita mampu berdiri sendiri, ada tangan yang pernah menopang kita.

Sebelum kita mampu berjalan sendiri, ada orang yang mungkin pernah menggandeng kita.

Sebelum kita memiliki pencapaian yang dapat kita banggakan, ada orang tua yang mungkin telah berkorban tanpa pernah meminta penghargaan.

Dengarkan mereka.
Hubungi mereka.
Luangkan waktu untuk mereka.
Bersabarlah ketika mereka mulai lambat.
Jangan mempermalukan mereka karena usia mereka.

Dan jangan menunggu sampai kehilangan kesempatan untuk menunjukkan kasih.

Kadang-kadang bentuk penghormatan yang paling sederhana adalah duduk dan mendengarkan.

Menjawab dengan lembut.
Menanyakan kabar.
Membantu ketika mereka membutuhkan.

Atau sekadar membuat mereka merasa bahwa kehadiran mereka masih berarti.

Amsal 23:22 mengingatkan kita bahwa kasih kepada orang tua bukanlah kewajiban yang hanya berlaku ketika kita masih kecil. Kasih itu seharusnya bertumbuh menjadi penghormatan yang dewasa.



Tuhan Selalu Menjaga Kebenaran

Tuhan Selalu Menjaga Kebenaran


Mata TUHAN menjaga pengetahuan, tetapi Ia membatalkan perkataan si pengkhianat.


Kita mungkin sudah menjelaskan dengan jujur, tetapi perkataan kita disalahartikan.

Kita sudah berusaha melakukan yang benar, tetapi muncul cerita lain yang membuat kita terlihat bersalah.

Lebih menyakitkan lagi ketika perkataan yang tidak benar justru lebih cepat dipercaya daripada penjelasan yang jujur.

Dalam situasi seperti itu, kita mudah merasa harus membela diri dengan segala cara.

Kita ingin menjelaskan lebih banyak, membalas perkataan yang menyakitkan, atau berusaha memastikan semua orang mengetahui versi kita.

Tuhan melihat apa yang manusia tidak lihat.  

Ia mengetahui fakta yang sebenarnya, motivasi yang tersembunyi, dan kebenaran yang mungkin tidak diketahui oleh siapa pun.

Ketika manusia hanya melihat potongan cerita, Tuhan melihat seluruhnya.

Ini memberikan penghiburan yang besar.

Kita tidak harus hidup dengan ketakutan bahwa kebenaran akan selamanya kalah hanya karena untuk sementara orang lain tidak melihatnya.

Ada perkataan yang bukan sekadar salah informasi, tetapi lahir dari hati yang tidak setia.

Ada orang yang menggunakan perkataan untuk menipu, menjatuhkan, memanipulasi, atau menyembunyikan maksud yang sebenarnya.

Perkataan seperti itu mungkin terlihat kuat untuk sementara waktu, tetapi Tuhan sanggup membatalkannya.

Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan bahwa kita harus membalas pengkhianatan dengan pengkhianatan.

Amsal justru mengajarkan kita untuk hidup dalam hikmat.

Ketika menghadapi perkataan yang tidak benar, respons kita tidak boleh berubah menjadi kebohongan baru.

Kita tidak perlu menjadi seperti orang yang melawan kita untuk mempertahankan kebenaran.

Jika kita mengetahui bahwa kita sedang berjalan dalam kebenaran, tetaplah berjalan dalam kebenaran.

Jika perlu menjelaskan, jelaskan dengan jujur.
Jika perlu meminta maaf, mintalah maaf.
Jika ada kesalahan kita, jangan sembunyikan.

Ada hal yang dapat kita lakukan, dan ada hal yang harus kita serahkan kepada Tuhan.

Kita bertanggung jawab atas perkataan dan karakter kita.

Tuhan bertanggung jawab atas bagaimana kebenaran itu pada akhirnya dinyatakan dan bagaimana perkataan yang jahat digagalkan.

Tidak semua yang terdengar meyakinkan adalah benar.

Hikmat bukan hanya kemampuan berbicara, tetapi juga kemampuan menguji apa yang kita dengar.

Jangan terlalu cepat mempercayai sebuah cerita hanya karena disampaikan dengan percaya diri.

Jangan ikut menyebarkan sesuatu hanya karena banyak orang sudah membicarakannya.

Ingatlah bahwa Tuhan melihat kebenaran secara utuh.

Ketika manusia salah memahami kita, Tuhan tetap melihat.

Ketika perkataan yang tidak benar diarahkan kepada kita, Tuhan tetap mengetahui.

Dan ketika kebohongan tampaknya semakin kuat, Tuhan tetap berkuasa membatalkannya.

Karena itu, tetaplah hidup dalam kebenaran, sekalipun kebenaran itu belum segera terlihat.

Jangan membalas kebohongan dengan kebohongan.

Percayalah kepada Tuhan yang melihat semuanya, menjaga kebenaran, dan sanggup membatalkan perkataan yang tidak benar.