
Amsal 28:3
Orang miskin yang menindas orang-orang yang lemah adalah seperti hujan deras, tetapi tidak memberi makanan.
Kita sering berpikir bahwa orang yang pernah mengalami kesulitan akan lebih mudah memahami kesulitan orang lain.
Orang yang pernah kekurangan seharusnya mengerti bagaimana rasanya tidak memiliki apa-apa.
Orang yang pernah diperlakukan tidak adil seharusnya mengetahui betapa menyakitkannya ketidakadilan.
Orang yang pernah berada di posisi lemah seharusnya memiliki belas kasihan kepada mereka yang sekarang berada dalam posisi yang lebih lemah.
Tetapi Amsal 28:3 menunjukkan kenyataan yang berbeda.
Pengalaman buruk tidak otomatis menghasilkan karakter yang baik.
Seseorang dapat mengalami penderitaan, tetapi kemudian memilih membuat orang lain menderita.
Seseorang dapat pernah menjadi korban, tetapi kemudian ketika mendapatkan sedikit kekuasaan, ia berubah menjadi pelaku.
Seseorang dapat pernah diperlakukan tidak adil, tetapi kemudian menggunakan kesempatan yang dimilikinya untuk memperlakukan orang lain dengan cara yang sama.
Karena itu, masalah terbesar bukanlah apa yang pernah kita alami, tetapi apa yang kita pilih untuk lakukan dengan apa yang pernah kita alami.
Ada orang yang terluka lalu menjadi lebih lembut. Tetapi ada juga yang terluka lalu menjadi lebih keras.
Ada orang yang pernah kekurangan lalu belajar berbagi. Tetapi ada pula yang pernah kekurangan lalu menjadi semakin egois.
Ada orang yang pernah berada di bawah lalu ketika memperoleh sedikit kekuasaan mulai menekan orang-orang yang berada di bawahnya.
Inilah yang membuat ayat ini begitu relevan.
Perhatikan bahwa Amsal tidak berkata bahwa orang miskin menindas orang kaya. Yang dikatakan adalah orang miskin menindas orang-orang yang lemah.
Artinya, selalu ada kemungkinan bahwa seseorang yang merasa dirinya lemah ternyata masih memiliki seseorang yang lebih lemah daripadanya.
Kita mungkin tidak memiliki banyak uang, tetapi kita masih bisa memiliki kuasa atas seseorang.
Kita mungkin bukan seorang pemimpin besar, tetapi kita bisa memiliki posisi yang membuat orang lain bergantung kepada kita.
Kita mungkin tidak memiliki jabatan tinggi, tetapi kita bisa menggunakan perkataan, pengalaman, senioritas, koneksi, atau pengaruh untuk menekan orang lain.
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Jangan karena kita pernah disakiti, kita merasa berhak menyakiti.
Jangan karena dahulu kita diperlakukan dengan kasar, kita menganggap kekasaran adalah hal yang wajar.
Jangan karena kita pernah diperlakukan tidak adil, kita membenarkan ketidakadilan ketika sekarang kita mempunyai kesempatan untuk melakukannya.
Jangan karena kita pernah berada di posisi yang tidak berdaya, kita kemudian menggunakan sedikit kekuatan yang kita miliki untuk mempermainkan orang lain.
Luka tidak boleh menjadi alasan untuk melukai.
Amsal kemudian menggunakan gambaran yang sangat kuat: “seperti hujan deras, tetapi tidak memberi makanan.”
Hujan seharusnya membawa kehidupan. Tetapi hujan yang terlalu deras justru dapat menghancurkan.
Demikian pula seseorang seharusnya menggunakan apa yang Tuhan berikan untuk menjadi berkat.
Kekuatan seharusnya melindungi.
Pengetahuan seharusnya menolong.
Pengalaman seharusnya membimbing.
Jabatan seharusnya melayani.
Pengaruh seharusnya membangun.
Namun semuanya dapat berubah menjadi alat penindasan ketika hati tidak lagi memikirkan kebaikan orang lain.
Karena itu, pertanyaan penting hari ini bukan hanya, “Apakah saya sedang ditindas?”
Pertanyaan yang lebih dalam adalah, “Apakah tanpa saya sadari saya sedang menindas seseorang yang lebih lemah daripada saya?”
Mungkin kita tidak menyadarinya karena kita merasa diri kita sendiri masih berada dalam posisi sulit.
Tetapi selalu ada kemungkinan bahwa seseorang yang kita anggap “tidak penting” justru sedang terluka karena cara kita memperlakukannya.
Di keluarga, apakah kita menggunakan posisi sebagai orang tua, pasangan, atau anggota keluarga yang lebih tua untuk menekan orang lain?
Di tempat kerja, apakah kita menggunakan pengalaman, jabatan, atau pengetahuan untuk mempermalukan orang yang lebih junior?
Di dalam pelayanan, apakah kita menggunakan kepercayaan yang diberikan kepada kita untuk mengendalikan orang lain?
Dalam hubungan sehari-hari, apakah kita menikmati kelemahan seseorang karena kelemahan itu membuat kita merasa lebih kuat?
Amsal mengajak kita untuk memeriksa hati.
Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi kuat supaya kita dapat menekan yang lemah. Tuhan memberi kekuatan supaya kita dapat menjadi tempat perlindungan bagi yang lemah.
Karena itu, pengalaman masa lalu seharusnya tidak membuat kita semakin kejam.
Biarlah pengalaman tersebut membuat kita semakin mengerti belas kasihan.
Jika kita pernah merasakan ditolak, belajarlah menerima.
Jika kita pernah merasakan diperlakukan tidak adil, belajarlah berlaku adil.
Jika kita pernah merasakan ditekan, jangan ulangi tekanan itu kepada orang lain.
Jika kita pernah berada di bawah, jangan ketika naik kemudian melupakan bagaimana rasanya berada di sana.
Jangan jadikan luka sebagai alasan untuk melukai. Biarlah apa yang pernah kita alami menjadi alasan untuk menghadirkan kasih, bukan alasan untuk mengulang kejahatan.
Jangan gunakan luka masa lalu untuk membenarkan tindakan yang melukai orang lain. Kekuatan yang Tuhan berikan bukan untuk menindas yang lemah, tetapi untuk menjadi berkat bagi mereka.