Lebih Berharga Dari Pujian


Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar.


Ada kalanya seseorang menegur karena ia melihat sesuatu yang tidak mampu kita lihat tentang diri kita sendiri.

Ia mungkin melihat sikap yang salah, keputusan yang keliru, atau kebiasaan yang perlahan-lahan membawa kita menjauh dari jalan yang benar.

Karena itu, jangan terlalu cepat menolak teguran hanya karena teguran itu tidak menyenangkan.

Bayangkan seseorang yang sedang berjalan dengan noda di wajahnya.

Orang-orang di sekitarnya mungkin memilih diam supaya tidak membuatnya malu.

Tetapi seorang sahabat berkata, “Ada sesuatu di wajahmu.”

Mungkin perkataan itu membuatnya tidak nyaman sesaat, tetapi justru sahabat itulah yang menolongnya.

Demikian pula dalam kehidupan rohani.

Terkadang Tuhan memakai orang lain untuk menunjukkan sesuatu yang perlu diperbaiki dalam diri kita.

Yang menjadi persoalan bukan hanya apakah teguran itu benar, tetapi juga apakah kita memiliki telinga yang mau mendengar.

Artinya, teguran menjadi berharga ketika kita menerimanya dengan hati yang terbuka.

Kita perlu belajar membedakan antara kritik yang menjatuhkan dan teguran yang membangun.

Tidak semua perkataan orang harus kita terima begitu saja.

Tetapi ketika seseorang yang bijaksana, yang mengasihi kita, menunjukkan sesuatu yang perlu diperbaiki, jangan langsung membela diri.

Berhentilah sejenak.
Dengarkan.
Doakan.
Periksa hati kita di hadapan Tuhan.

Mungkin ada sesuatu yang Tuhan ingin ubah melalui teguran tersebut.

Hari ini, jangan hanya berdoa, “Tuhan, berikan aku hikmat untuk berbicara.”

Berdoalah juga:
“Tuhan, berikan aku kerendahan hati untuk mendengar.”

Sebab terkadang pertumbuhan terbesar dalam hidup kita tidak dimulai ketika seseorang memuji kita, tetapi ketika seseorang dengan kasih menunjukkan kepada kita apa yang perlu diperbaiki.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *