
Amsal 24:13-14
Anakku, makanlah madu, sebab itu baik; dan tetesan madu manis untuk langit-langit mulutmu. Ketahuilah, bahwa demikian hikmat untuk jiwamu: jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang.
Kita semua menyukai sesuatu yang manis.
Madu adalah salah satu gambaran yang paling sederhana tentang sesuatu yang menyenangkan. Ketika madu menyentuh lidah, kita langsung merasakan manisnya.
Namun Salomo menggunakan madu untuk mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam.
Ada sesuatu yang manis bukan hanya bagi mulut, tetapi juga bagi jiwa: hikmat.
Hikmat tidak selalu terasa manis pada awalnya.
Kadang hikmat membuat kita harus menunggu ketika kita ingin segera mendapatkan sesuatu.
Hikmat membuat kita berkata tidak ketika kesempatan yang ada sebenarnya sangat menarik.
Hikmat mengajarkan kita untuk mengendalikan perkataan ketika kita sebenarnya ingin membalas.
Hikmat juga menolong kita menerima bahwa tidak semua keinginan harus diwujudkan.
Tetapi justru di situlah nilainya.
Apa yang terasa menyenangkan hari ini belum tentu baik bagi masa depan.
Sebaliknya, sesuatu yang terasa berat hari ini dapat menjadi perlindungan bagi kehidupan kita di kemudian hari.
Karena itu Salomo berkata bahwa hikmat adalah seperti madu bagi jiwa.
Hikmat memberikan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kesenangan sesaat.
Hikmat memberikan arah.
Dan ayat 14 membawa kita kepada sebuah janji yang indah:
“Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang.”
Perhatikan bahwa ayat ini tidak berkata bahwa orang berhikmat tidak akan mengalami kesulitan. Alkitab tidak menjanjikan kehidupan tanpa masalah.
Yang diberikan hikmat adalah kemampuan untuk menjalani kehidupan dengan arah yang benar.
Ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, hikmat menolong kita menentukan bagaimana kita harus hidup hari ini.
Ketika masa depan terlihat tidak pasti, hikmat mengingatkan kita untuk tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan keadaan sesaat.
Ketika harapan mulai melemah, hikmat menolong kita kembali kepada kebenaran Tuhan.
Mungkin hari ini kita sedang berada dalam situasi yang membuat kita bertanya-tanya tentang masa depan.
Kita belum tahu bagaimana semuanya akan berakhir.
Tetapi: Jangan hanya mencari jalan yang terlihat paling mudah. Carilah hikmat Tuhan.
Sebab sesuatu yang kita anggap manis hari ini bisa saja menjadi pahit di kemudian hari.
Tetapi hikmat Tuhan, sekalipun terkadang menuntut kesabaran dan ketaatan, memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: masa depan dan harapan.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apa yang saya inginkan?”
Belajarlah bertanya:
“Apa yang bijaksana di hadapan Tuhan?”
Sebab ketika kita memilih untuk hidup dalam hikmat Tuhan, kita sedang membangun kehidupan bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan.
Hikmat mungkin tidak selalu terasa mudah, tetapi hikmat selalu membawa kebaikan bagi jiwa, masa depan, dan harapan kita.