Jangan Tergesa-gesa Mengejar Hasil

Jangan Tergesa-gesa Mengejar Hasil


Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan.


Kita ingin hasil yang cepat, keuntungan yang cepat, pekerjaan yang cepat selesai, bahkan pertumbuhan yang cepat.

Ketika hasil tidak segera terlihat, kita mulai merasa bahwa proses yang sedang dijalani terlalu lambat.

Kita mulai merasa bahwa yang kita lakukan sama sekali tidak berhasil, karena hasilnya tidak cepat terlihat.

Sadarilah bahwa ada perbedaan antara cepat dan tergesa-gesa.

Orang yang rajin tetap bergerak maju, tetapi ia tidak mengabaikan proses.

Ia sadar bahwa tindakan merencanakan, mempertimbangkan, kemudian mengerjakan apa yang sudah direncanakan dengan tekun adalah bagian dari proses yang harus dilalui.

Sebaliknya, orang yang tergesa-gesa ingin segera sampai pada hasil.

Karena terlalu fokus pada hasil, ia dapat mengabaikan hal-hal penting dalam perjalanan.

Ketidak-sabaran seringkali membuat kita lupa akan hal-hal yang penting.

Dalam pekerjaan, kita perlu belajar bahwa hasil yang baik sering kali membutuhkan waktu.

Dalam membangun usaha, diperlukan perencanaan. Dalam pelayanan, diperlukan kesetiaan.

Dalam membangun keluarga, diperlukan kesabaran. Dalam pertumbuhan rohani, diperlukan disiplin dan ketekunan.

Mungkin hari ini kita belum melihat hasil sebesar yang kita harapkan.

Tetapi jika kita sedang berjalan dengan benar, terus merencanakan dengan bijaksana dan mengerjakannya dengan tekun, jangan menyerah hanya karena hasil belum terlihat.

Karena itu, hari ini tanyakan kepada diri sendiri:

Apakah saya sedang tekun menjalani proses, atau sedang tergesa-gesa mengejar hasil?

Jika ada sesuatu yang sedang kita bangun, jangan hanya bertanya, “Kapan hasilnya terlihat?”

Belajarlah bertanya, “Apakah saya sudah mengerjakannya dengan benar dan tekun?”

Sebab kelimpahan yang sehat bukanlah hasil dari ketergesaan, melainkan buah dari rancangan yang bijaksana dan kerajinan yang terus-menerus.



Melihat dan Mendengar Dengan Benar

Melihat dan Mendengar Dengan Benar


Telinga yang mendengar dan mata yang melihat, kedua-duanya dibuat oleh TUHAN


Setiap pagi kita membuka mata dan melihat keadaan di sekitar kita.

Kita mendengar suara orang berbicara, mendengar berita, membaca berbagai informasi, dan menerima begitu banyak suara sepanjang hari.

Karena semuanya terjadi secara alami, kita jarang berhenti untuk menyadari bahwa kemampuan itu sendiri adalah pemberian Tuhan.

Amsal 20:12 membawa kita kembali kepada sumbernya: “Telinga yang mendengar dan mata yang melihat, kedua-duanya dibuat oleh TUHAN.”

Ada sesuatu yang sangat sederhana tetapi penting dalam ayat ini.

Tuhan bukan hanya memperhatikan hal-hal besar dalam kehidupan kita.

Ia adalah Pencipta yang memberikan kepada kita kemampuan untuk melihat dan mendengar.

Karena itu, mata dan telinga seharusnya tidak hanya digunakan untuk memenuhi keinginan kita, tetapi juga untuk belajar mengenali kebenaran dan berjalan dalam hikmat.

Kita dapat melihat seseorang yang sedang terluka, tetapi memilih tidak peduli.

Kita dapat melihat bahwa sebuah keputusan mulai membawa masalah, tetapi tetap mempertahankannya karena kita tidak mau mengakui kesalahan.

Kita dapat melihat kelemahan orang lain dengan sangat jelas, tetapi tidak mampu melihat kelemahan diri sendiri.

Kita mendengar nasihat, tetapi hanya menerima nasihat yang sesuai dengan keinginan kita.

Kita mendengar teguran, tetapi segera mencari alasan untuk membela diri.

Kita mendengar firman Tuhan, tetapi setelah mendengarnya kita kembali menjalani hidup seperti sebelumnya.

Di sinilah hikmat menjadi penting.

Orang berhikmat bukan hanya orang yang mampu melihat, tetapi orang yang bersedia melihat kenyataan sebagaimana adanya.

Orang berhikmat bukan hanya orang yang mampu mendengar, tetapi orang yang bersedia menerima kebenaran sekalipun kebenaran itu tidak selalu menyenangkan.

Mungkin Tuhan sudah menunjukkan sesuatu melalui keadaan yang kita alami.

Mungkin sebuah kegagalan sedang memperlihatkan bahwa ada keputusan yang perlu diperbaiki.

Mungkin teguran dari seseorang sebenarnya sedang menolong kita melihat bagian diri yang selama ini tidak kita sadari.

Mungkin firman Tuhan sudah berkali-kali berbicara tentang sesuatu yang perlu kita ubah, tetapi kita terus mengabaikannya.

Jangan hanya menggunakan mata untuk mencari kesalahan orang lain.  Gunakan mata untuk melihat apa yang Tuhan ingin kita pelajari.

Jangan hanya menggunakan telinga untuk mendengar pujian. Gunakan telinga untuk menerima nasihat dan teguran yang dapat membawa kita kepada kehidupan yang lebih benar.

Jangan hanya melihat apa yang ada di depan mata.  Belajarlah melihat dengan hikmat.

Jangan hanya mendengar kata-kata yang menyenangkan.  Belajarlah mendengar kebenaran.

Tetapi kita dapat menentukan bagaimana kita meresponsnya.

Kita dapat memilih apakah kita akan menjadi orang yang keras hati atau orang yang mau belajar.

Ada kalanya Tuhan menggunakan sesuatu yang tidak menyenangkan untuk membuka mata kita.

Ada kalanya Ia memakai perkataan yang keras tetapi benar untuk membuka telinga kita.

Dan ketika itu terjadi, respons yang bijaksana bukanlah langsung menolak, melainkan berhenti sejenak dan bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau ingin saya lihat? Apa yang Engkau ingin saya dengar?”

Hari ini, jangan terburu-buru melewati apa yang Tuhan izinkan kita lihat dan dengar.

Perhatikan.  Dengarkan.  Renungkan.  Belajarlah.

Sebab mungkin di balik sesuatu yang selama ini kita anggap biasa, Tuhan sedang mengajar kita sesuatu yang sangat penting.



Waspadalah Terhadap Amarah yang Harus Dibayar

Waspadalah Terhadap Amarah yang Harus Dibayar


Orang yang sangat cepat marah akan kena denda, karena jika engkau hendak menolongnya, engkau hanya menambah marahnya.


Ketika tersinggung, ia berkata kasar.
Ketika kecewa, ia meledak.

Ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan, ia melampiaskan kemarahannya kepada orang lain.

Setelah semuanya terjadi, orang-orang di sekitarnya datang membereskan akibatnya.

Masalahnya, kalau hal ini terus berlangsung, orang tersebut tidak pernah belajar.

Ini bukan berarti kita harus menjadi tidak peduli kepada orang yang sedang jatuh karena kesalahannya.

Tetapi ada perbedaan antara menolong seseorang keluar dari masalah dan terus-menerus menyelamatkan seseorang dari konsekuensi perilakunya.

Jika setiap kali seseorang marah kita langsung membereskan masalah yang dibuatnya, meminta maaf atas namanya, memperbaiki hubungan yang dirusaknya, atau melindunginya dari akibat tindakannya, mungkin kita sedang menolongnya untuk sementara—tetapi kita juga bisa membuatnya tidak pernah belajar mengendalikan diri.

Amsal bahkan mengatakan bahwa ketika orang seperti itu terus diselamatkan, kita mungkin harus melakukannya lagi.

Kadang-kadang kasih justru berarti membiarkan seseorang merasakan akibat dari pilihannya, supaya ia belajar.

Anak yang selalu dibela ketika berbuat salah tidak belajar bertanggung jawab.

Orang dewasa yang selalu diselamatkan dari akibat kemarahannya tidak belajar mengendalikan amarah.

Dan seseorang yang tidak pernah merasakan konsekuensi dari perilakunya akan semakin mudah mengulangi perilaku yang sama.

Karena itu, ketika kita sendiri sedang marah, jangan buru-buru bertanya, “Bagaimana supaya orang lain mengerti kemarahanku?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Amsal 19:19 mengajak kita untuk berhenti menyalahkan keadaan, orang lain, atau situasi sebagai alasan untuk kemarahan kita.

Kita perlu belajar bertanggung jawab atas respons kita sendiri.

Mungkin kita memang diperlakukan tidak adil.
Mungkin perkataan orang lain memang menyakitkan.
Mungkin ada alasan yang membuat kita kecewa.

Tetapi alasan untuk marah tidak otomatis menjadi izin untuk melampiaskan amarah.

Orang bijaksana belajar berhenti sebelum berbicara.
Belajar diam sebelum membalas.
Belajar mengambil waktu sebelum mengambil keputusan.

Dan belajar menerima teguran ketika orang lain menunjukkan bahwa kemarahannya sudah mulai menguasai dirinya.

Sebab kematangan rohani bukan berarti kita tidak pernah marah.

Hari ini, mungkin Tuhan sedang mengingatkan kita tentang sebuah pola yang terus berulang: marah, membuat masalah, menyesal, diselamatkan, lalu marah lagi.

Jangan terus hidup dalam siklus itu.

Belajarlah menguasai amarah sebelum amarah membawa kita kepada konsekuensi yang lebih besar.

Dan jika kita sedang berhadapan dengan seseorang yang selalu marah, jangan selalu menjadi orang yang membereskan semua akibatnya.

Tolong dia belajar bertanggung jawab.
Tegur dengan kasih.
Berikan batas yang sehat.

Dan arahkan dia kepada perubahan.



Pemberian yang membuka Pintu

Pemberian yang membuka Pintu


Hadiah memberi keluasan kepada orang, membawa dia menghadap orang-orang besar.


Ada kesempatan yang muncul ketika seseorang melihat apa yang kita kerjakan, apa yang kita miliki, atau apa yang dengan tulus kita berikan.

Amsal berkata, “Hadiah memberi keluasan kepada seseorang, ia membawa dia menghadap orang-orang besar.”

Pemberian dapat membuka pintu.

Sebuah karya dapat membuka kesempatan.
Sebuah talenta dapat membawa seseorang ke tempat yang lebih luas.
Kemurahan hati dapat membangun hubungan.

Bahkan sesuatu yang sederhana yang kita berikan kepada orang lain dapat menjadi jalan menuju kesempatan yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.

Alkitab tidak pernah membenarkan suap.

Pemberian yang dimaksud dalam Amsal 18:16 bukanlah manipulasi untuk mendapatkan keuntungan yang tidak benar.

Sebaliknya, ayat ini menunjukkan sebuah kenyataan bahwa apa yang kita miliki dan berikan dapat memengaruhi kesempatan yang kita terima.

Karena itu, pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang bisa saya dapatkan?”, tetapi juga, “Apa yang Tuhan sudah berikan kepada saya sehingga dapat saya gunakan untuk memberkati orang lain?”

Mungkin Tuhan memberikan kepadamu kemampuan berbicara. Gunakan untuk membangun.

Mungkin Tuhan memberikan kemampuan bekerja. Gunakan untuk menghasilkan sesuatu yang berguna.

Mungkin Tuhan mempercayakan harta. Gunakan dengan murah hati dan bertanggung jawab.

Mungkin Tuhan memberikan kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang tertentu.

Pintu yang terbuka bukan selalu tanda bahwa kita harus masuk untuk kepentingan diri sendiri.

Kadang Tuhan membuka pintu supaya melalui kita, orang lain menerima pertolongan, kebenaran, dan berkat.

Jangan takut memberikan apa yang Tuhan percayakan kepadamu.

Talenta yang diberikan Tuhan dapat membuka pintu.
Kemurahan hati dapat membuka pintu.
Kerja keras dapat membuka pintu.
Karya yang baik dapat membuka pintu.

Bukan pemberian kita yang menentukan masa depan kita. Tuhanlah yang memegang masa depan kita.

Maka gunakan apa yang ada di tanganmu dengan bijaksana.

Berikan dengan tulus. Berkaryalah dengan sungguh-sungguh.



Obat Bagi Hati yang Lelah

Obat Bagi Hati yang Lelah


Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.


Persoalan masih ada.
Tanggung jawab masih harus diselesaikan.
Orang-orang yang mengecewakan kita mungkin belum berubah.

Bahkan doa yang kita panjatkan mungkin belum mendapatkan jawaban seperti yang kita harapkan.

Namun, ada sesuatu yang dapat Tuhan kerjakan terlebih dahulu: hati kita.

Sukacita tidak selalu menghilangkan masalah, tetapi sukacita memberi kita kekuatan untuk menghadapi masalah tanpa kehilangan pengharapan.

Sukacita Kristen bukanlah berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Sukacita adalah kemampuan untuk berkata, “Keadaanku mungkin belum baik, tetapi Tuhan tetap baik.”

Itulah sebabnya sukacita tidak bergantung sepenuhnya pada keadaan.

Kita dapat bersyukur bukan karena semua yang terjadi menyenangkan, tetapi karena kita tahu bahwa hidup kita tetap berada di tangan Tuhan.

Kita mulai melihat segala sesuatu secara negatif.

Hal-hal kecil terasa berat.

Kita kehilangan tenaga untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.

Ada pikiran yang perlu kita lepaskan.
Ada luka yang perlu kita serahkan kepada Tuhan.
Ada kekhawatiran yang perlu kita bawa dalam doa.
Ada pengampunan yang perlu kita berikan.

Dan ada kebenaran Firman Tuhan yang perlu kembali memenuhi pikiran kita.

Hari ini mungkin belum memberikan semua jawaban yang kita inginkan.

Tetapi kita tetap memiliki alasan untuk bersukacita: Tuhan masih ada, Tuhan masih bekerja, dan Tuhan tidak pernah kehilangan kendali atas hidup kita.

Jangan biarkan keadaan mencuri sukacita yang Tuhan berikan.



Hanya Tuhan yang Tahu Jalan Terbaik

Hanya Tuhan yang Tahu Jalan Terbaik


Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.”


Kita merencanakan pendidikan, pekerjaan, keluarga, pelayanan, keuangan, bahkan hal-hal sederhana untuk hari esok. 

Kita ingin mengetahui ke mana hidup kita akan berjalan dan apa yang akan terjadi di masa depan.

Perencanaan adalah bagian dari tanggung jawab manusia. 

Tuhan memberikan kepada kita kemampuan untuk berpikir, mempertimbangkan pilihan, melihat konsekuensi, dan mempersiapkan diri. 

Karena itu, kehidupan yang percaya kepada Tuhan bukanlah kehidupan yang berjalan tanpa arah.

Ada proses berpikir di dalam diri kita.  Ada keinginan, pertimbangan, harapan, dan keputusan. 

Kita tidak diminta untuk menjadi pasif. 

Kita tetap harus bekerja, berusaha, belajar, mengambil keputusan, dan merencanakan dengan sebaik mungkin.

Masalahnya bukan pada perencanaan. 

Masalah muncul ketika kita mulai menganggap bahwa rencana kita pasti menjadi kenyataan hanya karena kita sudah merencanakannya dengan baik.

Kalimat kedua membawa kita kepada sebuah kebenaran yang lebih besar: “tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.”

Di sinilah kita diingatkan bahwa hidup kita berada di bawah kedaulatan Tuhan. 

Kita dapat merancang jalan, tetapi kita tidak menguasai seluruh keadaan yang akan kita temui di sepanjang jalan itu.

Betapa seringnya kita mengalami hal seperti ini. 

Kita sudah membuat rencana dengan matang, tetapi keadaan berubah.   Sesuatu yang kita harapkan tidak terjadi. 

Pintu yang kita kira akan terbuka ternyata tertutup. 

Sebaliknya, sebuah kesempatan yang tidak pernah kita pikirkan justru datang dari arah yang tidak terduga.

Pada saat seperti itu, kita mudah bertanya, “Tuhan, mengapa rencana saya berubah?”

Namun mungkin pertanyaan yang lebih baik adalah, “Tuhan, ke mana Engkau sedang mengarahkan langkah saya?”

Ada perbedaan besar antara kedua pertanyaan tersebut.  Pertanyaan pertama berpusat pada rencana kita.  Pertanyaan kedua mengarahkan hati kita kepada Tuhan.

Kadang-kadang orang salah memahami kedaulatan Allah. 

Karena Tuhan menentukan arah langkah, mereka berpikir bahwa manusia tidak perlu merencanakan atau berusaha. 

Tetapi Amsal 16:9 justru menyatukan keduanya.

Kita berpikir. 
Kita merencanakan. 
Kita mengambil langkah. 

Namun di atas semua itu, Tuhan tetap berdaulat.

Artinya, kita tidak perlu takut merencanakan masa depan. 

Kita hanya perlu belajar memegang rencana itu dengan tangan yang terbuka. 

Kita boleh memiliki visi yang besar, tetapi jangan menjadikan visi itu sebagai sesuatu yang lebih penting daripada kehendak Tuhan.

Kita boleh berharap sebuah pintu terbuka, tetapi kita juga harus siap menerima ketika Tuhan menutupnya. 

Kita boleh berdoa untuk sesuatu yang kita inginkan, tetapi kita juga harus memiliki hati yang berkata, “Jadilah kehendak-Mu.”

Ketika Tuhan Mengubah Arah

Ada perubahan dalam hidup yang pada awalnya terasa seperti kegagalan. 

Rencana yang batal, pekerjaan yang tidak jadi, hubungan yang berubah, pelayanan yang harus dihentikan, atau kesempatan yang terlewatkan dapat membuat kita merasa bahwa hidup kita keluar dari jalur.

Tetapi Amsal 16:9 mengingatkan bahwa perubahan arah tidak selalu berarti Tuhan kehilangan kendali.  Bisa jadi justru di situlah tangan Tuhan sedang bekerja.

Kita melihat pintu yang tertutup, tetapi Tuhan melihat jalan yang sedang dibuka di tempat lain. 

Kita melihat keterlambatan, tetapi Tuhan melihat waktu yang tepat. 

Kita melihat kehilangan, tetapi Tuhan dapat menggunakannya untuk membawa kita kepada sesuatu yang lebih sesuai dengan kehendak-Nya.

Karena itu, ketika Tuhan mengubah arah langkah kita, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa semuanya telah gagal.

Mungkin Tuhan sedang mengarahkan.

Berjalan dengan Hati yang Terbuka kepada Tuhan

Amsal 16:9 mengajarkan sebuah sikap hidup: rencanakan dengan sungguh-sungguh, tetapi percayalah kepada Tuhan dengan lebih sungguh-sungguh.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. 
Kita tidak mengetahui semua tikungan di depan. 

Tetapi kita mengenal Tuhan yang memegang hari esok.

Pikirkan jalanmu. 
Buatlah rencana. 
Kerjakan tanggung jawabmu. 
Gunakan hikmat yang Tuhan berikan. 

Namun ketika Tuhan mengubah arah, jangan melawan hanya karena arah itu berbeda dari keinginan kita.

Belajarlah berkata, “Tuhan, saya mempunyai rencana, tetapi saya percaya Engkau mempunyai tujuan yang lebih besar.  Tuntunlah langkah saya.”

Sebab pada akhirnya, kehidupan yang diberkati bukanlah kehidupan di mana semua rencana kita berhasil. 

Kehidupan yang diberkati adalah kehidupan yang langkahnya berada di dalam tangan Tuhan.



Yang Lebih Berharga dari Banyak Harta

Yang Lebih Berharga dari Banyak Harta


Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN, dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan.


Sebaliknya, ada orang yang memiliki rumah, kendaraan, tabungan, investasi, dan berbagai bentuk kekayaan, tetapi pikirannya tidak pernah benar-benar beristirahat.

Yang satu mungkin tidak memiliki banyak, tetapi dapat tidur dengan nyenyak.

Yang lain memiliki banyak, tetapi terus memikirkan bagaimana mempertahankan semuanya.

Inilah realitas yang dibicarakan Amsal 15:16.

Amsal berkata, “Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN, dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan.”

Kekayaan bukanlah dosa.  
Memiliki banyak bukanlah otomatis salah.

Tuhan bahkan dapat mempercayakan kekayaan kepada seseorang untuk dikelola bagi kebaikan dan kemuliaan-Nya.

Yang menjadi perhatian Amsal adalah apa yang terjadi di dalam hati manusia ketika berhadapan dengan harta.

Ada orang yang memiliki sedikit tetapi hatinya dipenuhi rasa cukup karena ia takut akan Tuhan.

Ia tahu bahwa sumber kehidupannya bukan rekening banknya, pekerjaannya, bisnisnya, atau aset yang dimilikinya.

Semua itu hanyalah alat yang Tuhan percayakan.

Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula yang harus dijaga.

Ia takut kehilangan.
Ia takut nilainya turun.
Ia takut masa depan.
Ia takut tidak memiliki cukup.

Ironisnya, sesuatu yang seharusnya membuat hidup lebih nyaman justru dapat membuat hati semakin tidak tenang.

Ketika harta menjadi sumber keamanan kita, kita tidak akan pernah merasa cukup.

Kita akan selalu membutuhkan sedikit lebih banyak untuk merasa aman.

Setelah mendapat lebih banyak, standar rasa aman itu kembali bergeser.

Tetapi ketika Tuhan menjadi sumber keamanan kita, kita dapat menikmati berkat tanpa diperbudak oleh berkat tersebut.

Kita tetap bekerja keras, tetapi tidak menjadikan pekerjaan sebagai Tuhan.

Kita tetap menabung dan merencanakan masa depan, tetapi tidak menganggap tabungan sebagai jaminan mutlak hidup kita.

Kita tetap berusaha meningkatkan keadaan ekonomi, tetapi tidak mengukur nilai diri berdasarkan jumlah kekayaan.

Kita dapat bersyukur ketika Tuhan memberi lebih banyak, tetapi juga tetap percaya ketika Tuhan memberikan lebih sedikit daripada yang kita harapkan.

Mungkin hari ini kita sedang berada dalam keadaan yang tidak ideal secara finansial.

Mungkin ada banyak kebutuhan yang belum terpenuhi.

Mungkin kita berharap memiliki lebih banyak daripada yang kita miliki sekarang.

Amsal 15:16 tidak mengajarkan kita untuk berhenti berusaha.  

Ayat ini mengingatkan kita agar jangan sampai keinginan memiliki lebih banyak membuat kita kehilangan apa yang jauh lebih berharga: takut akan Tuhan dan ketenangan hati.

Sebab sebanyak apa pun harta yang kita miliki, semuanya tetap tidak cukup untuk menggantikan damai sejahtera dari Tuhan.

Karena itu, sebelum kita bertanya, “Berapa banyak yang harus saya miliki agar saya merasa aman?”, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apakah saya sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan yang memelihara hidup saya?”

Orang yang takut akan Tuhan mungkin tidak selalu memiliki paling banyak, tetapi ia memiliki dasar yang tidak mudah diguncangkan.



Periksa Ujung Jalanmu

Periksa Ujung Jalanmu


Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.


Kadang-kadang kita mengambil keputusan karena semuanya tampak masuk akal.

Perhitungannya benar, peluangnya besar, perasaannya nyaman, dan orang-orang di sekitar kita bahkan mendukungnya.

Tetapi Amsal 14:12 mengingatkan bahwa apa yang terlihat benar belum tentu benar di hadapan Tuhan.

Artinya, seseorang dapat berjalan dengan penuh keyakinan sambil sebenarnya sedang menuju arah yang salah.

Inilah salah satu bahaya terbesar dalam kehidupan rohani: bukan ketika kita tahu bahwa kita sedang salah, tetapi ketika kita salah dan yakin bahwa kita benar.

“Menurut saya, ini baik.”
“Saya merasa damai.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Secara logika, ini masuk akal.”

Semua itu bisa menjadi pertimbangan, tetapi bukan standar terakhir.

Standar terakhir seharusnya adalah kehendak dan firman Tuhan.

Daud pernah berdoa:
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku.”
— Mazmur 139:23

Doa seperti ini menunjukkan kerendahan hati: “Tuhan, jangan biarkan saya hanya percaya kepada penilaian saya sendiri.”

Apakah jalan ini sesuai dengan firman-Mu?
Apakah motivasi saya benar?
Apakah keputusan ini membawa saya semakin dekat kepada Kristus?

Jika konsekuensinya tidak menyenangkan, apakah saya tetap mau menaati Tuhan?

Kadang jalan ketaatan terasa lebih lambat.
Kadang kita harus menunggu.

Kadang kita harus berkata tidak kepada kesempatan yang menguntungkan.

Kadang kita harus kehilangan sesuatu yang kita inginkan demi mempertahankan apa yang benar.

Jalan dosa mungkin menawarkan kenikmatan sementara, tetapi berakhir dalam kehancuran.

Jalan kompromi mungkin memberikan keuntungan sesaat, tetapi perlahan merusak karakter.

Jalan kesombongan mungkin membuat kita terlihat berhasil, tetapi akhirnya menjauhkan kita dari Tuhan.

Sebaliknya, jalan ketaatan kepada Tuhan mungkin tidak selalu mudah, tetapi ujungnya adalah kehidupan yang berada di dalam kehendak-Nya.

Hari ini, mungkin ada keputusan yang sedang kita hadapi.

Jangan hanya bertanya, “Apakah jalan ini terlihat benar?”
Tanyakan juga: “Ke mana jalan ini akan membawa saya?”

Sebab hikmat bukan hanya kemampuan memilih jalan yang terlihat baik.



Ketika Harapan Harus Menunggu

Ketika Harapan Harus Menunggu


Harapan yang tertunda menyedihkan hati, tetapi keinginan yang terpenuhi adalah pohon kehidupan.


Menunggu jawaban doa.
Menunggu pekerjaan yang belum datang.
Menunggu pemulihan hubungan.

Menunggu keadaan keluarga berubah.
Menunggu kesempatan yang sudah lama didoakan.

Bahkan terkadang kita menunggu sesuatu yang sederhana, tetapi karena penantiannya begitu panjang, hati mulai kehilangan kekuatan.

Awalnya kita masih dapat berkata, “Tuhan pasti menolong.”
Beberapa waktu kemudian kita berkata, “Tuhan, kapan?”

Setelah semakin lama, pertanyaan itu dapat berubah menjadi, “Tuhan, apakah Engkau benar-benar mendengar?”

Amsal 13:12 memahami pergumulan itu.  

Alkitab tidak berpura-pura bahwa menunggu selalu mudah.  Firman Tuhan mengakui bahwa harapan yang tertunda dapat menyedihkan hati.

Kita berharap, tetapi belum menerima.
Kita berdoa, tetapi belum melihat jawaban.
Kita sudah berusaha, tetapi hasilnya belum berubah.
Kita sudah melakukan apa yang kita bisa, tetapi pintu yang kita nantikan masih tertutup.

Pada saat seperti itu, kita mudah menyimpulkan bahwa Tuhan sedang tidak bekerja.

Seorang anak mungkin tidak mengerti mengapa orang tuanya mengatakan, “Tunggu.”

Dari sudut pandang anak, penundaan terasa seperti penolakan.  Tetapi orang tua mungkin mengetahui sesuatu yang belum diketahui anak itu.

Demikian pula dengan Tuhan.  

Kita melihat hari ini. Tuhan melihat seluruh perjalanan.

Kita melihat apa yang kita inginkan. Tuhan melihat apa yang benar-benar kita perlukan.

Kita melihat pintu yang ingin dibuka. Tuhan melihat ke mana pintu itu akan membawa kita.

Tuhan selalu dapat menggunakan penantian untuk mengubah kita sebelum Ia mengubah keadaan kita.

Mungkin kita sedang meminta Tuhan mengubah situasi, tetapi Tuhan sedang terlebih dahulu mengubah hati kita.

Kita meminta jalan keluar, tetapi Tuhan sedang mengajarkan ketekunan.

Kita meminta jawaban, tetapi Tuhan sedang mengajar kita percaya.

Kita meminta sesuatu segera, tetapi Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk menerima sesuatu itu dengan cara yang benar.

Kita dapat begitu terobsesi dengan apa yang kita tunggu sampai lupa kepada Pribadi yang kepada-Nya kita menunggu.

Jangan sampai kita berkata, “Saya akan percaya kepada Tuhan kalau Dia memberikan apa yang saya minta.”

Iman berkata sebaliknya:
“Saya tetap percaya kepada Tuhan, sekalipun saya belum menerima apa yang saya minta.”

Ini bukan berarti kita tidak boleh kecewa.

Daud pun pernah berseru, “Berapa lama lagi, TUHAN?”

Tuhan tidak meminta kita berpura-pura kuat.  Kita boleh membawa kekecewaan, air mata, dan pertanyaan kita kepada-Nya.

Tetapi setelah membawa semuanya kepada Tuhan, kita belajar menyerahkan hasilnya kepada-Nya.

Ada kalanya Tuhan memberikan apa yang kita doakan.
Ada kalanya Ia memberikan sesuatu yang berbeda.
Ada kalanya Ia meminta kita menunggu jauh lebih lama daripada yang kita inginkan.

Dan ada kalanya kita baru memahami maksud-Nya setelah bertahun-tahun berlalu.

Namun dalam semuanya itu, karakter Tuhan tidak berubah.

Amsal 13:12 juga mengingatkan kita bahwa ketika keinginan akhirnya terpenuhi, sukacitanya seperti pohon kehidupan.

Setelah lama menunggu, sesuatu yang dahulu hanya kita lihat melalui doa akhirnya dapat kita nikmati sebagai jawaban Tuhan.

Mungkin hari ini kita sedang berada di antara kedua bagian ayat tersebut: harapan yang tertunda.

Jika demikian, jangan menyerah.

Jangan membuat keputusan besar hanya karena sedang lelah menunggu.

Jangan meninggalkan Tuhan hanya karena jawaban-Nya belum terlihat.

Jangan menganggap pintu yang belum terbuka sebagai bukti bahwa Tuhan telah melupakan kita.

Tetaplah berdoa.
Tetaplah bekerja dengan setia.
Tetaplah hidup dalam kebenaran.

Kita tidak tahu berapa lama penantian itu akan berlangsung. Tetapi kita tahu siapa yang memegang masa depan kita.

Mungkin jawaban Tuhan belum datang hari ini.  Mungkin besok juga belum.

Tetapi selama kita menunggu, percayalah bahwa Tuhan tidak berhenti menjadi Tuhan.



Tetap Kokoh Berdiri

Tetap Kokoh Berdiri


Orang fasik dijatuhkan sehingga mereka tidak ada lagi, tetapi rumah orang benar berdiri tetap.


Dari luar, kita mungkin hanya melihat dinding, tiang, lantai, dan atap.  

Fondasi berada di bawah tanah.  Tidak terlihat, tetapi justru menentukan apakah bangunan itu akan bertahan atau runtuh.

Demikian juga dengan kehidupan.

Ada orang yang kelihatannya sangat kuat.  Kariernya baik, keuangannya stabil, relasinya luas, pengaruhnya besar, dan hidupnya tampak berhasil.

Dari luar, semuanya terlihat kokoh. Tetapi kekuatan yang sesungguhnya tidak selalu dapat dilihat dari apa yang tampak.

Perhatikan bahwa Salomo tidak mengatakan orang fasik tidak pernah berdiri.  Justru mereka mungkin terlihat sangat kuat.

Mereka dapat membangun banyak hal.  

Mereka dapat memperoleh kekayaan, jabatan, pengaruh, bahkan penghormatan manusia.

Tetapi semua itu tidak menjamin bahwa apa yang mereka bangun akan bertahan.

Sebaliknya, ada orang benar yang kehidupannya mungkin tidak terlihat spektakuler.

Ia tidak selalu menjadi orang yang paling kaya.
Tidak selalu mendapatkan posisi tertinggi.
Tidak selalu memiliki banyak pengikut.

Bahkan mungkin hidupnya mengalami banyak kesulitan.

Karena yang membuat sebuah kehidupan kokoh bukan terutama seberapa tinggi yang berhasil dibangun, melainkan di atas dasar apa semuanya dibangun.

Orang benar dalam kitab Amsal bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Orang benar adalah orang yang memilih hidup dalam takut akan Tuhan.

Ia menjadikan firman Tuhan sebagai pedoman.

Ia mungkin jatuh, tetapi ia kembali.
Ia mungkin gagal, tetapi ia tidak meninggalkan Tuhan.

Ia mungkin mengalami tekanan, tetapi ia tetap memilih jalan kebenaran.

Itulah sebabnya kehidupannya memiliki daya tahan.

Kita sering menghabiskan banyak energi untuk membangun sesuatu yang dapat dilihat orang.

Kita membangun karier.
Kita membangun bisnis.
Kita membangun rumah.
Kita membangun reputasi.
Kita membangun jaringan.
Kita membangun masa depan anak-anak kita.

Semua itu tidak salah.

Sebab pada akhirnya, banyak hal yang kita bangun akan mengalami ujian.

Kekayaan dapat berkurang.
Jabatan dapat hilang.
Kesehatan dapat berubah.
Relasi dapat mengalami konflik.
Rencana dapat gagal.

Orang-orang yang dahulu mendukung kita dapat pergi.
Bahkan sesuatu yang kita pikir akan bertahan selamanya dapat tiba-tiba berubah.

Pada saat itulah fondasi kehidupan menjadi terlihat.

Dua orang sama-sama membangun rumah. Dari luar, mungkin rumah mereka terlihat sama.

Tetapi ketika hujan turun, banjir datang, dan angin bertiup, perbedaan fondasi mereka menjadi nyata.

Faktanya: Badai tidak menentukan fondasi. Badai mengungkapkan fondasi.

Demikian juga dengan kehidupan kita.

Masa sulit mungkin bukan sedang menghancurkan kehidupan kita.  Bisa jadi masa sulit sedang menunjukkan kepada kita apa yang selama ini menjadi dasar kehidupan kita.

Jika dasar kita adalah uang, kita akan hancur ketika uang hilang.

Jika dasar kita adalah jabatan, kita akan kehilangan arah ketika jabatan berakhir.

Jika dasar kita adalah penerimaan manusia, kita akan merasa tidak berharga ketika orang menolak kita.

Jika dasar kita adalah keberhasilan, kita akan kehilangan sukacita ketika mengalami kegagalan.

Tetapi jika dasar kita adalah Tuhan, kita memiliki sesuatu yang tidak mudah diruntuhkan oleh perubahan keadaan.

Perhatikan kata “tetap.”

Tetap berdiri bukan berarti tidak pernah diguncangkan.
Tetap berdiri berarti setelah guncangan itu datang, ia masih ada.

Mungkin hari ini kehidupan kita sedang diguncangkan.

Ada masalah dalam keluarga. Ada ketidakpastian mengenai pekerjaan.

Ada pergumulan dalam pelayanan. Ada keputusan besar yang harus diambil.

Ada sesuatu yang kita bangun bertahun-tahun tetapi sekarang terasa seperti sedang runtuh.

Sebab Tuhan tidak hanya ingin membuat hidup kita terlihat baik.  Tuhan ingin membangun kehidupan yang kokoh.

Dan kehidupan seperti itu tidak dibangun dalam satu hari.

Ia dibangun melalui keputusan-keputusan kecil setiap hari:

memilih kejujuran ketika berbohong lebih mudah,
memilih kesetiaan ketika menyerah terasa lebih nyaman,

memilih mengampuni ketika hati terluka,
memilih menaati firman ketika jalan lain terlihat lebih menguntungkan,

dan memilih percaya kepada Tuhan ketika kita belum melihat hasilnya.

Suatu hari, banyak hal yang sekarang terlihat besar mungkin tidak lagi penting.

Yang akan tersisa bukan seberapa tinggi kita pernah berdiri di hadapan manusia, melainkan apakah kehidupan kita sungguh berdiri di hadapan Allah.

Karena itu, jangan hanya membangun kehidupan yang terlihat kuat.  Bangunlah kehidupan yang sungguh-sungguh kuat.

Jangan hanya mengejar rumah yang besar.  Bangunlah rumah kehidupan yang memiliki dasar yang benar.

Jangan hanya meninggalkan warisan berupa harta. Tinggalkanlah warisan berupa iman, karakter, kebenaran, dan kehidupan yang takut akan Tuhan.