
Amsal 15:16
Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN, dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan.
Pernahkah kita memperhatikan bahwa seseorang bisa memiliki sangat sedikit, tetapi wajahnya terlihat begitu tenang?
Sebaliknya, ada orang yang memiliki rumah, kendaraan, tabungan, investasi, dan berbagai bentuk kekayaan, tetapi pikirannya tidak pernah benar-benar beristirahat.
Yang satu mungkin tidak memiliki banyak, tetapi dapat tidur dengan nyenyak.
Yang lain memiliki banyak, tetapi terus memikirkan bagaimana mempertahankan semuanya.
Inilah realitas yang dibicarakan Amsal 15:16.
Amsal berkata, “Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN, dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan.”
Perhatikan bahwa Amsal tidak berkata, “Lebih baik miskin daripada kaya.”
Kekayaan bukanlah dosa.
Memiliki banyak bukanlah otomatis salah.
Tuhan bahkan dapat mempercayakan kekayaan kepada seseorang untuk dikelola bagi kebaikan dan kemuliaan-Nya.
Yang menjadi perhatian Amsal adalah apa yang terjadi di dalam hati manusia ketika berhadapan dengan harta.
Ada orang yang memiliki sedikit tetapi hatinya dipenuhi rasa cukup karena ia takut akan Tuhan.
Ia tahu bahwa sumber kehidupannya bukan rekening banknya, pekerjaannya, bisnisnya, atau aset yang dimilikinya.
Semua itu hanyalah alat yang Tuhan percayakan.
Sebaliknya, ada orang yang memiliki banyak tetapi hatinya dipenuhi kecemasan.
Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula yang harus dijaga.
Ia takut kehilangan.
Ia takut nilainya turun.
Ia takut masa depan.
Ia takut tidak memiliki cukup.
Ironisnya, sesuatu yang seharusnya membuat hidup lebih nyaman justru dapat membuat hati semakin tidak tenang.
Masalahnya bukan pada berapa banyak yang ada di tangan, tetapi pada siapa yang menjadi sandaran hati.
Ketika harta menjadi sumber keamanan kita, kita tidak akan pernah merasa cukup.
Kita akan selalu membutuhkan sedikit lebih banyak untuk merasa aman.
Setelah mendapat lebih banyak, standar rasa aman itu kembali bergeser.
Tetapi ketika Tuhan menjadi sumber keamanan kita, kita dapat menikmati berkat tanpa diperbudak oleh berkat tersebut.
Kita tetap bekerja keras, tetapi tidak menjadikan pekerjaan sebagai Tuhan.
Kita tetap menabung dan merencanakan masa depan, tetapi tidak menganggap tabungan sebagai jaminan mutlak hidup kita.
Kita tetap berusaha meningkatkan keadaan ekonomi, tetapi tidak mengukur nilai diri berdasarkan jumlah kekayaan.
Kita dapat bersyukur ketika Tuhan memberi lebih banyak, tetapi juga tetap percaya ketika Tuhan memberikan lebih sedikit daripada yang kita harapkan.
Inilah kekayaan yang sesungguhnya: memiliki hati yang tenang karena tahu bahwa hidup berada di tangan Tuhan.
Mungkin hari ini kita sedang berada dalam keadaan yang tidak ideal secara finansial.
Mungkin ada banyak kebutuhan yang belum terpenuhi.
Mungkin kita berharap memiliki lebih banyak daripada yang kita miliki sekarang.
Amsal 15:16 tidak mengajarkan kita untuk berhenti berusaha.
Ayat ini mengingatkan kita agar jangan sampai keinginan memiliki lebih banyak membuat kita kehilangan apa yang jauh lebih berharga: takut akan Tuhan dan ketenangan hati.
Sebab sebanyak apa pun harta yang kita miliki, semuanya tetap tidak cukup untuk menggantikan damai sejahtera dari Tuhan.
Karena itu, sebelum kita bertanya, “Berapa banyak yang harus saya miliki agar saya merasa aman?”, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apakah saya sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan yang memelihara hidup saya?”
Orang yang takut akan Tuhan mungkin tidak selalu memiliki paling banyak, tetapi ia memiliki dasar yang tidak mudah diguncangkan.
Sebab pada akhirnya, kekayaan terbesar bukanlah ketika tangan kita penuh, melainkan ketika hati kita tenang karena Tuhan menjadi sandaran kita.
Lebih baik memiliki sedikit dengan hati yang tenang bersama Tuhan, daripada memiliki banyak tetapi hidup dalam kecemasan.