Jaga Apa yang Tuhan Percayakan

Jaga Apa yang Tuhan Percayakan


Biarlah mata airmu meluap ke luar, dan aliran-aliran air itu ke lapangan-lapangan.  Biarlah itu menjadi kepunyaanmu sendiri, jangan orang asing turut menikmatinya.


Ada hal-hal dalam hidup yang memang Tuhan berikan untuk dinikmati dalam batas dan hubungan yang benar.

Amsal menggunakan gambaran air yang mengalir untuk menggambarkan sesuatu yang seharusnya tetap berada dalam kepemilikan yang tepat.

Ini adalah prinsip yang penting dalam kehidupan: sesuatu yang berharga harus dijaga, bukan dicurahkan sembarangan.

Dalam konteks Amsal 5, hal ini terutama berbicara mengenai kesetiaan dalam pernikahan.

Tuhan memberikan seks sebagai bagian dari anugerah-Nya dalam pernikahan, bukan sebagai sesuatu yang bebas dinikmati tanpa batas dengan siapa saja.

Masalahnya, godaan sering membuat sesuatu yang salah terlihat menarik.

Kita mulai berpikir, “Tidak apa-apa, hanya sekali.”
Atau, “Toh, Tidak ada yang tahu.”

Tetapi dosa tidak pernah hanya berbicara tentang apa yang kita inginkan saat ini.

Dosa juga membawa konsekuensi yang mungkin baru kita sadari kemudian.

Karena itu, menjaga kesetiaan bukan hanya soal menolak orang lain, tetapi juga soal menghargai apa yang sudah Tuhan percayakan kepada kita.

Jika Tuhan memberikan pasangan, jagalah pasangan itu.

Jika Tuhan memberikan keluarga, jagalah keluarga itu.

Jika Tuhan memberikan kepercayaan, jagalah kepercayaan itu.

Menariknya, Alkitab tidak hanya berkata, “Jangan melakukan dosa.”

Alkitab juga mengajarkan kita untuk melihat nilai dari apa yang sedang kita lindungi.

Kita menjaga bukan karena sesuatu itu tidak berharga, tetapi justru karena itu sangat berharga.

Hari ini, mungkin ada batas yang mulai kita abaikan.

Ada percakapan yang seharusnya dihentikan.
Ada kedekatan yang mulai melewati batas.
Ada perhatian dari seseorang yang mulai kita nikmati secara tidak sehat.

Ada sesuatu yang seharusnya menjadi milik kita dalam hubungan yang benar, tetapi mulai kita curahkan kepada “orang asing”.

Belajarlah berkata cukup sebelum terlambat.

Kesetiaan bukan sekadar tidak meninggalkan seseorang.

Kesetiaan juga berarti menjaga hati, menjaga mata, menjaga pikiran, dan menjaga batas,

karena kita sadar bahwa apa yang Tuhan percayakan kepada kita adalah sesuatu yang berharga.

Apa yang berharga harus dijaga. Jangan dicurahkan sembarangan.



Hati yang Harus Dijaga

Hati yang Harus Dijaga


Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.


Kita sering berhati-hati terhadap banyak hal.

Kita menjaga kesehatan.
Menjaga rumah.
Menjaga kendaraan.
Menjaga uang.
Menjaga barang-barang berharga.

Tetapi bagaimana dengan hati kita?

Mengapa hati begitu penting?

Karena kehidupan kita mengalir dari apa yang ada di dalam hati.

Ketika hati dipenuhi kepahitan, kepahitan itu akhirnya keluar melalui perkataan dan tindakan.

Ketika hati dipenuhi iri hati, kita mulai membandingkan diri dengan orang lain.

Ketika hati dipenuhi kesombongan, kita sulit menerima nasihat.

Sebaliknya, ketika hati dipenuhi takut akan Tuhan, hal itu akan memengaruhi cara kita mengambil keputusan dan memperlakukan orang lain.

Ada hal-hal yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain, tetapi Tuhan melihatnya.

Mungkin kita masih tersenyum di luar, tetapi menyimpan kemarahan di dalam.

Mungkin kita terlihat baik-baik saja, tetapi hati kita dipenuhi iri hati.

Mungkin kita tidak mengucapkan sesuatu yang buruk, tetapi terus memeliharanya dalam pikiran.

Hati yang tidak dijaga dapat perlahan-lahan mengarahkan kehidupan kita ke jalan yang salah.

Apa yang kita dengarkan.
Apa yang kita pikirkan.
Apa yang kita ingat-ingat.
Apa yang kita inginkan.
Apa yang kita biarkan menguasai hati.

Namun, menjaga hati bukan berarti kita mampu membersihkan hati kita dengan kekuatan sendiri.

Kita membutuhkan Tuhan.

Daud pernah berdoa:
“Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!”

Hati yang benar bukan hanya hati yang berusaha menjadi baik, tetapi hati yang terus-menerus dibentuk oleh Tuhan.

Hari ini, mungkin ada sesuatu yang sedang kita simpan di dalam hati—kekecewaan, kemarahan, ambisi, iri hati, ketakutan, atau luka masa lalu.

Jangan biarkan hal itu menjadi sumber yang mengalirkan kehidupan kita.

Bawa kepada Tuhan.



Ketika Sesuatu Datang Tanpa Diduga

Ketika Sesuatu Datang Tanpa Diduga


Janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba, atau kepada kebinasaan orang fasik, bila itu datang.  Karena TUHANlah yang menjadi tempat kepercayaanmu, dan Ia akan menjaga kakimu, sehingga tidak terperosok.


Kita bisa membuat rencana keuangan.
Kita bisa menabung untuk kebutuhan masa depan.

Kita bisa merencanakan pekerjaan, pendidikan, perjalanan, bahkan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi.

Telepon dapat berdering membawa berita yang tidak kita harapkan.
Seseorang dapat menyampaikan kabar yang mengubah rencana kita.
Masalah dapat muncul ketika kita merasa semuanya baik-baik saja.

Dan justru karena kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi, kita sering hidup dengan rasa takut terhadap sesuatu yang sebenarnya belum terjadi.

Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan, “Kekejutan itu tidak akan pernah datang.”

Alkitab justru mengakui bahwa sesuatu yang tidak terduga bisa datang.

Inilah realitas kehidupan.

Menjadi orang percaya tidak berarti kita mendapat jaminan bahwa hidup akan selalu berjalan sesuai rencana.

Kita tetap dapat menghadapi kehilangan, kegagalan, perubahan, konflik, ketidakpastian, dan berbagai keadaan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Ayat 26 memberikan jawabannya:
“Karena TUHANlah yang menjadi tempat kepercayaanmu.”

Di sinilah letak perbedaannya.

Kita sering mencari rasa aman dengan memastikan bahwa semuanya berada dalam kendali kita.

Kita merasa tenang ketika pekerjaan aman, keluarga baik-baik saja, keuangan cukup, kesehatan baik, dan masa depan terlihat jelas.

Tetapi kalau ketenangan kita bergantung kepada keadaan, maka ketenangan itu akan hilang ketika keadaan berubah.

Keadaan dapat berubah.
Rencana dapat gagal.
Orang dapat mengecewakan.
Masa depan dapat terlihat tidak jelas.
Tetapi Tuhan tidak berubah.

Itulah sebabnya orang percaya dapat menghadapi sesuatu yang tidak diketahui tanpa harus hidup dikuasai ketakutan.

Ia tidak dapat melihat seluruh jalan di depannya.
Ia tidak tahu apa yang akan ditemuinya beberapa puluh meter kemudian.

Tetapi ia tetap dapat melangkah karena ia percaya kepada orang yang menuntunnya.

Begitu juga dengan kehidupan kita.

Iman bukan berarti kita mengetahui apa yang akan terjadi. Iman berarti kita percaya kepada Tuhan yang mengetahui apa yang akan terjadi.

Firman Tuhan berkata:
“Ia akan menjaga kakimu, sehingga tidak terperosok.”

Ada perbedaan besar antara Tuhan menghilangkan semua masalah dan Tuhan menjaga kita di tengah masalah.

Kadang-kadang kita berdoa agar Tuhan segera mengubah keadaan.

Tetapi dalam situasi tertentu, Tuhan justru menguatkan kita untuk melewati keadaan tersebut.

Kita mungkin tidak mendapatkan jawaban yang langsung.
Kita mungkin belum melihat jalan keluar.
Kita mungkin belum mengetahui bagaimana semuanya akan berakhir.

Tetapi kita dapat tetap berjalan karena kaki kita tidak berjalan sendirian.

Tuhan menjaga.
Tuhan menyertai.
Tuhan memegang.

Karena itu, jangan biarkan ketakutan terhadap kemungkinan masa depan mencuri damai sejahtera yang Tuhan berikan untuk hari ini.

Kita membayangkan kegagalan.
Kita membayangkan kehilangan.
Kita membayangkan masalah.
Kita membayangkan berbagai kemungkinan buruk.

Padahal semuanya belum tentu terjadi.

Amsal mengingatkan kita untuk kembali kepada dasar yang benar:
Bukan “Saya tahu apa yang akan terjadi,” tetapi “Saya tahu kepada siapa saya percaya.”

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.

Kita bahkan tidak tahu apa yang mungkin datang beberapa jam dari sekarang.

Tetapi kita tahu bahwa Tuhan ada di sana.

Ketika sesuatu datang secara tiba-tiba, kita tidak perlu menghadapi semuanya dengan kekuatan sendiri.

Ketika berita buruk datang, Tuhan tetap menjadi tempat kepercayaan.

Ketika rencana berubah, Tuhan tetap memegang langkah kita.

Ketika jalan di depan terlihat gelap, Tuhan tetap tahu ke mana kita sedang berjalan.

Jadi, jangan takut hanya karena masa depan tidak dapat kita lihat.



Jangan Ikuti Pemimpin Secara Buta

Jangan Ikuti Pemimpin Secara Buta


supaya engkau terlepas dari jalan yang jahat, dari orang yang mengucapkan tipu muslihat, dari mereka yang meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang gelap; yang bersukacita melakukan kejahatan, bersorak-sorak karena tipu muslihat yang jahat, yang berliku-liku jalannya dan yang sesat perilakunya;


Di keluarga ada orang tua.
Di gereja ada pemimpin rohani.
Di pekerjaan ada atasan.
Di komunitas ada orang yang dipercaya untuk memimpin.

Ketika seseorang berjalan di depan kita, secara alami kita cenderung mengikuti arah yang ia tunjukkan.

Tetapi Amsal 2:12–15 memberikan sebuah peringatan penting:
Tidak semua orang yang berjalan di depan kita adalah orang yang harus kita ikuti.

Mereka bahkan mengucapkan tipu muslihat dan membawa kehidupan mereka semakin jauh dari kebenaran.

Karena itu, hikmat bukan hanya diperlukan untuk menentukan apa yang benar dan salah, tetapi juga untuk menentukan siapa yang layak kita ikuti.

Maka: Jangan mengikuti pemimpin hanya karena dia pemimpin

Kita sering berpikir: “Dia pemimpin, jadi saya harus mengikuti.”

Tetapi kepemimpinan tidak berarti bahwa semua keputusan seorang pemimpin pasti benar.

Seseorang dapat memiliki jabatan, pengalaman, kemampuan berbicara, pengaruh, bahkan banyak pengikut—tetapi itu tidak otomatis berarti bahwa arah yang diberikannya benar.

Karena itu, pertanyaan hikmat bukan hanya:  “Siapa yang memimpin?”
Tetapi: “Ke mana dia membawa saya?”


Apakah ia membawa kita semakin dekat kepada Tuhan atau semakin jauh?

Apakah ia membawa kita kepada kebenaran atau kompromi?

Apakah ia mendorong kita kepada kasih dan keadilan atau kepada kebencian dan kepentingan diri?

Apakah ia membentuk karakter yang benar atau justru membenarkan kesalahan?

Jangan menyerahkan hati nurani kepada pemimpin

Ada bahaya ketika seseorang berkata: “Saya hanya mengikuti perintah.”

Tetapi Tuhan tidak memanggil kita untuk menyerahkan hati nurani sepenuhnya kepada manusia.

Ketika seorang pemimpin mengarahkan kita kepada sesuatu yang jelas bertentangan dengan kebenaran Tuhan, kita tidak boleh mengikutinya hanya karena ia memiliki jabatan.

Prinsip para rasul tetap berlaku: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” (Kisah Para Rasul 5:29)

Ini bukan alasan untuk memberontak terhadap semua pemimpin.

Sebaliknya, ini adalah pengingat bahwa kesetiaan kepada manusia tidak boleh menggantikan kesetiaan kepada Tuhan.

Kita dapat menghargai jasanya tanpa mengikuti semua keputusannya.

Kita dapat menghormati otoritas tanpa menyerahkan hati nurani kita kepada manusia.

Jalan yang salah tidak selalu terlihat buruk sejak awal.

Kadang-kadang semuanya dimulai dari sebuah perkataan.

“Ini demi kebaikan bersama.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Kalau kita tidak melakukan ini, kita akan kalah.”
“Ini hanya kompromi kecil.”

Sedikit demi sedikit, cara berpikir kita berubah.
Apa yang dahulu kita anggap salah mulai terasa biasa.
Apa yang dahulu membuat kita tidak nyaman mulai kita benarkan.

Amsal 2:12 mengingatkan tentang orang yang mengucapkan tipu muslihat.

Karena itu, kita harus berhati-hati terhadap perkataan yang membentuk cara berpikir kita.

Seorang pemimpin tidak hanya memimpin melalui keputusan. Ia juga memimpin melalui nilai, perkataan, dan cara berpikir yang ia tanamkan kepada orang-orang yang mengikutinya.

Maka jangan hanya bertanya:  “Siapa yang mengatakan ini?”
Tetapi tanyakan: “Apakah yang dikatakannya benar?”

Kesetiaan kepada manusia tidak boleh mengalahkan kebenaran

“Dia sudah banyak berjasa.”
“Dia sudah lama memimpin.”
“Dia sudah melakukan banyak hal baik.”

Semua itu mungkin benar.  Tetapi seseorang yang pernah melakukan banyak kebaikan tetap dapat membuat keputusan yang salah.

Karena itu, kesetiaan tidak berarti mengikuti seseorang dalam segala hal.  Kesetiaan yang sehat tetap memiliki batas:  Kita setia kepada kebenaran.

Jika seseorang membawa kita ke jalan yang salah, hikmat memberi keberanian untuk berkata: “Saya menghormati Anda, tetapi saya tidak dapat mengikuti arah ini.”

Amsal 2:15 menggambarkan orang-orang yang jalannya berliku-liku dan sesat.

Jalan yang salah dapat menjadi semakin sulit ditinggalkan jika kita sudah berjalan terlalu jauh.

Karena itu, ketika hikmat Tuhan menunjukkan bahwa kita sedang berada di jalan yang salah, jangan menunggu sampai semuanya menjadi lebih buruk.

Ada saat ketika hikmat berkata:  Berhenti.
Ada saat ketika hikmat berkata: Jangan ikut.
Dan ada saat ketika hikmat berkata: Kembali ke jalan yang benar.

Jangan mengikuti seseorang hanya karena ia populer.

Jangan mengikuti seseorang hanya karena ia memiliki jabatan.

Jangan mengikuti seseorang hanya karena banyak orang mengikutinya.

Dan jangan mengikuti seseorang hanya karena ia pernah berjasa.

Perhatikan jalannya.
Periksa perkataannya.
Lihat buah kehidupannya.
Dan bandingkan arah yang diberikannya dengan kebenaran Tuhan.

Sebab pemimpin yang salah dapat membuat jalan yang salah terlihat benar.



Berani Menolak Ajakan

Berani Menolak Ajakan


Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut.


Ada ajakan yang membawa kita menjadi lebih baik, tetapi ada juga ajakan yang perlahan-lahan membawa kita menjauh dari Tuhan.

Sering kali kita berpikir bahwa dosa dimulai ketika kita melakukan sesuatu yang salah.

Seseorang mengajak.
Kita mendengar.
Kita mempertimbangkan.
Kita mulai tertarik.

Kemudian kita mengikuti.

Jangan menunggu sampai dosa menjadi kebiasaan baru kita berkata, “Seandainya waktu itu saya tidak ikut.”

Jangan menunggu sampai hubungan yang salah menjadi terlalu dalam.

Jangan menunggu sampai kompromi menjadi gaya hidup.

Jangan menunggu sampai kita kehilangan kendali.

Mungkin kita akan dianggap aneh.

Mungkin kita kehilangan kesempatan untuk diterima oleh kelompok tertentu.

Tetapi kehilangan penerimaan manusia jauh lebih kecil daripada kehilangan arah hidup karena mengikuti ajakan yang salah.

Orang bijak tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan. Ia juga tahu apa yang harus ditolak.

Hari ini, mungkin ada sebuah ajakan yang sedang kita pertimbangkan.

Tanyakan: “Kalau saya mengikuti ajakan ini, apakah saya sedang semakin dekat kepada Tuhan atau semakin jauh dari-Nya?”