Di Tengah Godaan Keuntungan


Orang yang menindas orang lemah untuk mendapat keuntungan atau memberi kepada orang kaya, hanya merugikan diri saja.


Namun, tidak semua kesempatan layak diambil, dan tidak semua keuntungan pantas dikejar.

Ada keuntungan yang diperoleh melalui kerja keras, kejujuran, dan pelayanan yang baik.

Namun, ada pula keuntungan yang diperoleh dengan memanfaatkan kelemahan orang lain atau menjilat mereka yang memiliki kekuasaan.

Bayangkan seseorang yang mengetahui bahwa tetangganya sedang mengalami kesulitan keuangan.  

Karena membutuhkan uang dengan segera, tetangganya itu terpaksa menjual barang berharga dengan harga yang jauh di bawah nilai sebenarnya.

Orang tersebut melihat kesempatan untuk membeli barang itu dengan sangat murah, bukan karena ingin menolong, melainkan karena mengetahui bahwa pemiliknya tidak memiliki pilihan lain.

Secara bisnis, transaksi itu mungkin terlihat menguntungkan.  Namun, secara moral, kita perlu bertanya apakah keuntungan tersebut diperoleh dengan cara yang benar.

Amsal 22:16 memberikan peringatan yang tegas tentang sikap seperti ini.

Firman Tuhan berkata, “Orang yang menindas orang lemah untuk mendapat keuntungan atau memberi kepada orang kaya, hanya merugikan diri saja.”

Ayat ini menyoroti dua bentuk perilaku yang tampaknya berbeda, tetapi memiliki akar masalah yang sama: keinginan untuk memperoleh keuntungan dengan cara yang tidak benar.

Orang yang lemah dapat berupa mereka yang miskin, tidak memiliki kuasa, kurang memahami suatu persoalan, atau sedang berada dalam keadaan terdesak.

Mereka mungkin tidak memiliki kemampuan untuk membela haknya atau menolak perlakuan yang tidak adil.

Dalam keadaan seperti itu, orang yang lebih kuat memiliki pilihan: menggunakan keunggulannya untuk menolong atau justru memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi.

Persoalannya bukan terletak pada keuntungan itu sendiri, melainkan pada cara keuntungan tersebut diperoleh.

Ketika seseorang sengaja memanfaatkan penderitaan orang lain demi memperbesar kekayaannya, ia sedang mengorbankan kasih dan keadilan demi kepentingan pribadi.

Prinsip ini berlaku jauh melampaui dunia bisnis.

Seorang atasan dapat memanfaatkan karyawan yang takut kehilangan pekerjaan dengan memberikan beban yang tidak wajar tanpa penghargaan yang layak.

Seseorang dapat mengambil keuntungan dari ketidaktahuan orang lain dalam sebuah transaksi.

Bahkan, dalam pelayanan, seseorang dapat memanfaatkan kepercayaan jemaat untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Bentuknya berbeda-beda, tetapi semuanya menunjukkan bagaimana kepentingan pribadi dapat mengalahkan kepedulian terhadap sesama.

Pada zaman sekarang, hal ini dapat terlihat dalam kebiasaan mencari muka kepada orang yang memiliki kekayaan, jabatan, atau pengaruh.

Seseorang mungkin memberikan perhatian yang berlebihan kepada orang penting bukan karena ketulusan, melainkan karena berharap mendapatkan fasilitas, kesempatan, atau keuntungan tertentu.

Menghormati pemimpin, menghargai orang yang berjasa, dan memberikan hadiah dengan tulus juga bukan tindakan yang tercela.

Yang diperingatkan oleh Amsal adalah motivasi di balik pemberian tersebut ketika pemberian digunakan sebagai sarana untuk mengejar keuntungan pribadi.

Kebaikan yang seharusnya lahir dari ketulusan dapat berubah menjadi alat untuk memanipulasi orang lain.

Terhadap orang yang lemah, seseorang tergoda mengambil lebih banyak karena merasa memiliki posisi yang lebih kuat.

Terhadap orang yang kaya dan berkuasa, seseorang tergoda memberikan sesuatu atau menunjukkan perhatian berlebihan karena berharap memperoleh balasan.

Dalam kedua keadaan itu, orang lain tidak lagi dipandang sebagai sesama yang patut dihormati, tetapi sebagai sarana untuk mencapai tujuan pribadi.

Mengapa firman Tuhan berkata bahwa orang seperti itu hanya merugikan dirinya sendiri?

Karena keuntungan yang diperoleh secara tidak benar tidak selalu membawa kebaikan bagi kehidupan seseorang.

Ia mungkin memperoleh uang, fasilitas, atau kedudukan untuk sementara waktu, tetapi kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga: integritas.

Kepercayaan orang lain dapat rusak, hubungan menjadi transaksional, dan hati semakin terbiasa mengutamakan keuntungan daripada kebenaran.

Lebih jauh lagi, kehidupan yang berorientasi pada keuntungan pribadi akan membuat seseorang terus-menerus menilai orang berdasarkan manfaatnya.

Ia akan mendekati orang yang dianggap menguntungkan dan mengabaikan mereka yang dianggap tidak memiliki sesuatu untuk diberikan.

Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk memiliki cara pandang yang berbeda. Kita boleh bekerja dengan tekun, membangun usaha, mengembangkan kemampuan, dan mengharapkan hasil yang baik.

Namun, kita tidak boleh menjadikan keuntungan sebagai ukuran tertinggi dalam setiap keputusan.

Ada saatnya kita harus menolak kesempatan yang tampaknya menguntungkan karena kesempatan itu mengharuskan kita mengorbankan kejujuran.

Ada kalanya kita perlu memperlakukan orang yang tidak memiliki kekuasaan dengan hormat, meskipun kita tidak akan memperoleh keuntungan apa pun darinya.

Ketulusan terlihat ketika kita tetap menghargai seseorang meskipun ia tidak memiliki kekayaan, jabatan, atau pengaruh yang dapat membantu kita.

Karakter yang benar tidak hanya tampak ketika orang lain mengawasi kita, tetapi juga ketika kita memiliki kesempatan untuk bertindak demi kepentingan sendiri tanpa diketahui siapa pun.

Pada akhirnya, Amsal 22:16 mengingatkan kita bahwa keberhasilan sejati bukan sekadar tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan juga tentang bagaimana kita memperolehnya.

Jangan sampai kita membangun kehidupan yang terlihat berhasil dengan mengorbankan orang-orang yang lebih lemah, atau membangun relasi dengan orang-orang berpengaruh hanya demi mendapatkan keuntungan.

Karena itu, kejarlah keberhasilan dengan kejujuran, perlakukan setiap orang dengan hormat, dan jangan biarkan keserakahan menentukan nilai dari setiap keputusan kita.

Sebab, keuntungan yang diperoleh dengan mengorbankan kebenaran pada akhirnya dapat merugikan diri sendiri, sedangkan integritas yang dipelihara di hadapan Tuhan akan menjaga arah hidup kita tetap benar.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *