
Amsal 2:12-15
supaya engkau terlepas dari jalan yang jahat, dari orang yang mengucapkan tipu muslihat, dari mereka yang meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang gelap; yang bersukacita melakukan kejahatan, bersorak-sorak karena tipu muslihat yang jahat, yang berliku-liku jalannya dan yang sesat perilakunya;
Dalam kehidupan, kita membutuhkan pemimpin.
Di keluarga ada orang tua.
Di gereja ada pemimpin rohani.
Di pekerjaan ada atasan.
Di komunitas ada orang yang dipercaya untuk memimpin.
Ketika seseorang berjalan di depan kita, secara alami kita cenderung mengikuti arah yang ia tunjukkan.
Tetapi Amsal 2:12–15 memberikan sebuah peringatan penting:
Tidak semua orang yang berjalan di depan kita adalah orang yang harus kita ikuti.
Amsal menggambarkan orang-orang yang telah meninggalkan jalan yang lurus dan memilih jalan yang gelap.
Mereka bahkan mengucapkan tipu muslihat dan membawa kehidupan mereka semakin jauh dari kebenaran.
Karena itu, hikmat bukan hanya diperlukan untuk menentukan apa yang benar dan salah, tetapi juga untuk menentukan siapa yang layak kita ikuti.
Maka: Jangan mengikuti pemimpin hanya karena dia pemimpin
Kita sering berpikir: “Dia pemimpin, jadi saya harus mengikuti.”
Tetapi kepemimpinan tidak berarti bahwa semua keputusan seorang pemimpin pasti benar.
Seseorang dapat memiliki jabatan, pengalaman, kemampuan berbicara, pengaruh, bahkan banyak pengikut—tetapi itu tidak otomatis berarti bahwa arah yang diberikannya benar.
Karena itu, pertanyaan hikmat bukan hanya: “Siapa yang memimpin?”
Tetapi: “Ke mana dia membawa saya?”
Perhatikan arahnya.
Apakah ia membawa kita semakin dekat kepada Tuhan atau semakin jauh?
Apakah ia membawa kita kepada kebenaran atau kompromi?
Apakah ia mendorong kita kepada kasih dan keadilan atau kepada kebencian dan kepentingan diri?
Apakah ia membentuk karakter yang benar atau justru membenarkan kesalahan?
Jangan hanya melihat siapa yang berjalan di depan. Lihat juga jalan yang sedang ditempuhnya.
Jangan menyerahkan hati nurani kepada pemimpin
Ada bahaya ketika seseorang berkata: “Saya hanya mengikuti perintah.”
Tetapi Tuhan tidak memanggil kita untuk menyerahkan hati nurani sepenuhnya kepada manusia.
Kita memang dipanggil untuk menghormati pemimpin dan otoritas. Namun ada batas yang tidak boleh dilampaui.
Ketika seorang pemimpin mengarahkan kita kepada sesuatu yang jelas bertentangan dengan kebenaran Tuhan, kita tidak boleh mengikutinya hanya karena ia memiliki jabatan.
Prinsip para rasul tetap berlaku: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” (Kisah Para Rasul 5:29)
Ini bukan alasan untuk memberontak terhadap semua pemimpin.
Sebaliknya, ini adalah pengingat bahwa kesetiaan kepada manusia tidak boleh menggantikan kesetiaan kepada Tuhan.
Kita dapat menghormati seorang pemimpin tanpa membenarkan kesalahannya.
Kita dapat menghargai jasanya tanpa mengikuti semua keputusannya.
Kita dapat menghormati otoritas tanpa menyerahkan hati nurani kita kepada manusia.
Pemimpin yang salah dapat membuat jalan yang salah terlihat benar.
Jalan yang salah tidak selalu terlihat buruk sejak awal.
Kadang-kadang semuanya dimulai dari sebuah perkataan.
“Ini demi kebaikan bersama.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Kalau kita tidak melakukan ini, kita akan kalah.”
“Ini hanya kompromi kecil.”
Sedikit demi sedikit, cara berpikir kita berubah.
Apa yang dahulu kita anggap salah mulai terasa biasa.
Apa yang dahulu membuat kita tidak nyaman mulai kita benarkan.
Amsal 2:12 mengingatkan tentang orang yang mengucapkan tipu muslihat.
Karena itu, kita harus berhati-hati terhadap perkataan yang membentuk cara berpikir kita.
Seorang pemimpin tidak hanya memimpin melalui keputusan. Ia juga memimpin melalui nilai, perkataan, dan cara berpikir yang ia tanamkan kepada orang-orang yang mengikutinya.
Maka jangan hanya bertanya: “Siapa yang mengatakan ini?”
Tetapi tanyakan: “Apakah yang dikatakannya benar?”
Kesetiaan kepada manusia tidak boleh mengalahkan kebenaran
Kadang-kadang kita sulit berhenti mengikuti seorang pemimpin karena kita merasa memiliki utang budi.
“Dia sudah banyak berjasa.”
“Dia sudah lama memimpin.”
“Dia sudah melakukan banyak hal baik.”
Semua itu mungkin benar. Tetapi seseorang yang pernah melakukan banyak kebaikan tetap dapat membuat keputusan yang salah.
Karena itu, kesetiaan tidak berarti mengikuti seseorang dalam segala hal. Kesetiaan yang sehat tetap memiliki batas: Kita setia kepada kebenaran.
Jika seseorang membawa kita ke jalan yang salah, hikmat memberi keberanian untuk berkata: “Saya menghormati Anda, tetapi saya tidak dapat mengikuti arah ini.”
Jangan takut meninggalkan jalan yang salah
Amsal 2:15 menggambarkan orang-orang yang jalannya berliku-liku dan sesat.
Jalan yang salah dapat menjadi semakin sulit ditinggalkan jika kita sudah berjalan terlalu jauh.
Karena itu, ketika hikmat Tuhan menunjukkan bahwa kita sedang berada di jalan yang salah, jangan menunggu sampai semuanya menjadi lebih buruk.
Ada saat ketika hikmat berkata: Berhenti.
Ada saat ketika hikmat berkata: Jangan ikut.
Dan ada saat ketika hikmat berkata: Kembali ke jalan yang benar.
Meninggalkan jalan yang salah bukan berarti kita tidak setia. Kadang-kadang justru itulah bentuk kesetiaan kita kepada Tuhan.
Jangan mengikuti seseorang hanya karena ia populer.
Jangan mengikuti seseorang hanya karena ia memiliki jabatan.
Jangan mengikuti seseorang hanya karena banyak orang mengikutinya.
Dan jangan mengikuti seseorang hanya karena ia pernah berjasa.
Perhatikan jalannya.
Periksa perkataannya.
Lihat buah kehidupannya.
Dan bandingkan arah yang diberikannya dengan kebenaran Tuhan.
Sebab pemimpin yang salah dapat membuat jalan yang salah terlihat benar.
Jangan ikuti seseorang hanya karena ia berjalan di depanmu; pastikan terlebih dahulu bahwa jalan yang ia tempuh adalah jalan yang benar.