
Amsal 30:15-16
Si lintah mempunyai dua anak perempuan, yang berkata: ‘Untukku! Untukku!’ Ada tiga hal yang tak akan kenyang, ada empat hal yang tak pernah berkata: ‘Cukup!’ Dunia orang mati dan rahim yang mandul, tanah yang tidak pernah kenyang air dan api yang tidak pernah berkata: ‘Cukup!’
Pernahkah kita mendapatkan sesuatu yang sudah lama kita inginkan, tetapi setelah memilikinya, ternyata kita tidak merasa puas?
Kita berkata, “Kalau saya sudah memiliki ini, saya akan senang.”
Lalu setelah mendapatkannya, muncul keinginan yang lain.
“Kalau saya punya yang lebih bagus, pasti lebih bahagia.”
Kemudian setelah mendapat yang lebih bagus:
“Kalau saya punya lebih banyak, pasti lebih tenang.”
Tanpa sadar, hidup kita berubah menjadi perlombaan untuk mendapatkan sesuatu yang berikutnya.
Amsal 30:15-16 memperlihatkan betapa berbahayanya hati yang tidak pernah berkata cukup.
Lintah digambarkan memiliki dua anak perempuan yang terus berkata, “Untukku! Untukku!”
Kalimat itu menggambarkan hati yang selalu menuntut bagian untuk dirinya sendiri.
Bukan lagi, “Apa yang dapat saya berikan?” Tetapi, “Apa yang bisa saya dapatkan?”
Bukan lagi, “Apakah ini cukup?” Tetapi, “Apa lagi yang bisa saya miliki?”
Dan masalahnya, semakin kita mengikuti hati yang seperti ini, semakin hati kita sulit merasa puas.
Yang berbahaya bukan memiliki banyak, tetapi tidak pernah merasa cukup
Alkitab tidak mengatakan bahwa memiliki uang, rumah, pekerjaan yang baik, atau kehidupan yang nyaman adalah dosa.
Masalahnya muncul ketika apa yang kita miliki tidak pernah terasa cukup bagi hati kita.
Kita dapat memiliki sedikit tetapi sangat tamak.
Sebaliknya, seseorang dapat memiliki banyak tetapi tetap mampu berkata, “Tuhan, terima kasih. Ini cukup.”
Jadi, ukuran keserakahan bukan hanya jumlah yang kita miliki.
Ukuran keserakahan adalah apakah hati kita masih mampu berkata “cukup.”
Itulah sebabnya Amsal menggunakan gambaran yang sangat kuat: dunia orang mati, rahim yang mandul, tanah yang menyerap air, dan api.
Semuanya menggambarkan sesuatu yang terus menerima tetapi tidak pernah mengatakan, “Sudah cukup.”
Begitu pula hati manusia.
Jika kita membiarkan keinginan terus memimpin, maka tidak ada jumlah yang benar-benar cukup.
Hari ini kita mengejar satu juta. Besok sepuluh juta.
Kemudian seratus juta. Setelah itu satu miliar.
Bukan berarti angka yang lebih besar selalu salah.
Tetapi kita harus berhati-hati ketika kebahagiaan kita selalu ditunda sampai kita memiliki lebih banyak.
Sebab kalau kepuasan kita bergantung pada “lebih”, maka kita sedang mengejar sesuatu yang tidak mempunyai garis akhir.
Tuhan tidak memanggil kita untuk memiliki semuanya
Ada sesuatu yang perlu kita pelajari: hidup yang diberkati bukan berarti hidup yang memiliki segala sesuatu yang kita inginkan.
Kadang-kadang berkat Tuhan justru membuat kita mampu menikmati apa yang sudah diberikan-Nya.
Kita dapat bekerja keras tanpa diperbudak oleh uang.
Kita dapat memiliki ambisi tanpa menjadi tamak.
Kita dapat menikmati keberhasilan tanpa harus membandingkan diri dengan orang lain.
Kita dapat menginginkan sesuatu tanpa membiarkan keinginan itu menguasai hati.
Karena pada akhirnya, kepuasan tidak ditemukan dalam semakin banyak memiliki, tetapi dalam mengetahui bahwa Tuhan adalah sumber segala yang kita perlukan.
Hari ini, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
“Apa yang sebenarnya sedang saya kejar?”
Apakah kita sedang mengejar kebutuhan?
Ataukah kita sedang mencoba mengisi kekosongan hati dengan semakin banyak hal?
Karena bisa jadi masalah kita bukan kekurangan.
Bisa jadi masalah kita adalah hati yang sudah terlalu terbiasa berkata: “Masih kurang.”
Belajarlah berkata cukup.
Bukan karena semua yang kita inginkan sudah kita miliki, tetapi karena kita percaya bahwa Tuhan tahu apa yang kita perlukan.
Hati yang tidak pernah berkata “cukup” akan selalu merasa kekurangan, tetapi hati yang bersyukur dapat menemukan kepuasan bahkan dalam kesederhanaan.