Bahaya Merasa Diri Bijak

Bahaya Merasa Diri Bijak


Jika engkau melihat orang yang menganggap dirinya bijak, harapan bagi orang bebal lebih banyak dari pada bagi orang itu.


Ada orang yang tidak tahu jalan tetapi mau bertanya.
Ada orang yang tersesat tetapi mau menerima petunjuk.
Ada orang yang salah tetapi mau kembali.
Ada orang yang belum mengerti tetapi mau belajar.

Orang seperti ini masih memiliki harapan.

Ia tidak mau bertanya.
Ia tidak mau mendengar.
Ia tidak mau menerima petunjuk.

Bahkan ketika orang lain menunjukkan bahwa ia salah, ia tetap mempertahankan jalannya.

Orang seperti inilah yang sedang diperingatkan Salomo.

Mungkin selama ini kita berdoa agar Tuhan memberikan hikmat.

Tetapi Amsal 26:12 mengajak kita melihat sisi yang lain:
Apakah kita masih memiliki kerendahan hati untuk menerima hikmat ketika Tuhan memberikannya?

Sebab Tuhan dapat memberikan nasihat melalui firman-Nya.

Dan juga:
Tuhan dapat memberikan koreksi melalui orang lain.
Tuhan dapat menggunakan pasangan kita.
Tuhan dapat memakai anak-anak kita.
Tuhan dapat memakai rekan pelayanan.

Bahkan Tuhan dapat memakai seseorang yang jauh lebih muda atau lebih sederhana daripada kita.

Maka pertanyaannya bukan:
“Siapa yang memberikan nasihat itu kepada saya?”

Pertanyaannya adalah:
“Apakah Tuhan sedang mengajar saya melalui orang itu?”

Sebab mungkin justru pada saat kita merasa sudah tahu semuanya, kita sedang berhenti belajar.

Hari ini, marilah kita meminta hati yang rendah hati:

“Tuhan, jangan biarkan saya menjadi orang yang merasa sudah tahu semuanya. Beri saya hati yang mau mendengar, mau belajar, mau menerima teguran, dan mau berubah.”

Karena orang yang menyadari bahwa dirinya masih perlu belajar masih memiliki banyak harapan.



Lebih Berharga Dari Pujian

Lebih Berharga Dari Pujian


Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar.


Ada kalanya seseorang menegur karena ia melihat sesuatu yang tidak mampu kita lihat tentang diri kita sendiri.

Ia mungkin melihat sikap yang salah, keputusan yang keliru, atau kebiasaan yang perlahan-lahan membawa kita menjauh dari jalan yang benar.

Karena itu, jangan terlalu cepat menolak teguran hanya karena teguran itu tidak menyenangkan.

Bayangkan seseorang yang sedang berjalan dengan noda di wajahnya.

Orang-orang di sekitarnya mungkin memilih diam supaya tidak membuatnya malu.

Tetapi seorang sahabat berkata, “Ada sesuatu di wajahmu.”

Mungkin perkataan itu membuatnya tidak nyaman sesaat, tetapi justru sahabat itulah yang menolongnya.

Demikian pula dalam kehidupan rohani.

Terkadang Tuhan memakai orang lain untuk menunjukkan sesuatu yang perlu diperbaiki dalam diri kita.

Yang menjadi persoalan bukan hanya apakah teguran itu benar, tetapi juga apakah kita memiliki telinga yang mau mendengar.

Artinya, teguran menjadi berharga ketika kita menerimanya dengan hati yang terbuka.

Kita perlu belajar membedakan antara kritik yang menjatuhkan dan teguran yang membangun.

Tidak semua perkataan orang harus kita terima begitu saja.

Tetapi ketika seseorang yang bijaksana, yang mengasihi kita, menunjukkan sesuatu yang perlu diperbaiki, jangan langsung membela diri.

Berhentilah sejenak.
Dengarkan.
Doakan.
Periksa hati kita di hadapan Tuhan.

Mungkin ada sesuatu yang Tuhan ingin ubah melalui teguran tersebut.

Hari ini, jangan hanya berdoa, “Tuhan, berikan aku hikmat untuk berbicara.”

Berdoalah juga:
“Tuhan, berikan aku kerendahan hati untuk mendengar.”

Sebab terkadang pertumbuhan terbesar dalam hidup kita tidak dimulai ketika seseorang memuji kita, tetapi ketika seseorang dengan kasih menunjukkan kepada kita apa yang perlu diperbaiki.



Yang Manis Bagi Jiwa

Yang Manis Bagi Jiwa


Anakku, makanlah madu, sebab itu baik; dan tetesan madu manis untuk langit-langit mulutmu. Ketahuilah, bahwa demikian hikmat untuk jiwamu: jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang.


Madu adalah salah satu gambaran yang paling sederhana tentang sesuatu yang menyenangkan. Ketika madu menyentuh lidah, kita langsung merasakan manisnya.

Namun Salomo menggunakan madu untuk mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Ada sesuatu yang manis bukan hanya bagi mulut, tetapi juga bagi jiwa: hikmat.

Kadang hikmat membuat kita harus menunggu ketika kita ingin segera mendapatkan sesuatu.

Hikmat membuat kita berkata tidak ketika kesempatan yang ada sebenarnya sangat menarik.

Hikmat mengajarkan kita untuk mengendalikan perkataan ketika kita sebenarnya ingin membalas.

Hikmat juga menolong kita menerima bahwa tidak semua keinginan harus diwujudkan.

Tetapi justru di situlah nilainya.

Apa yang terasa menyenangkan hari ini belum tentu baik bagi masa depan.

Sebaliknya, sesuatu yang terasa berat hari ini dapat menjadi perlindungan bagi kehidupan kita di kemudian hari.

Hikmat memberikan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kesenangan sesaat.

Hikmat memberikan arah.

Dan ayat 14 membawa kita kepada sebuah janji yang indah:
“Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang.”

Yang diberikan hikmat adalah kemampuan untuk menjalani kehidupan dengan arah yang benar.

Ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, hikmat menolong kita menentukan bagaimana kita harus hidup hari ini.

Ketika masa depan terlihat tidak pasti, hikmat mengingatkan kita untuk tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan keadaan sesaat.

Ketika harapan mulai melemah, hikmat menolong kita kembali kepada kebenaran Tuhan.

Mungkin hari ini kita sedang berada dalam situasi yang membuat kita bertanya-tanya tentang masa depan.

Kita belum tahu bagaimana semuanya akan berakhir.

Tetapi: Jangan hanya mencari jalan yang terlihat paling mudah.  Carilah hikmat Tuhan.

Tetapi hikmat Tuhan, sekalipun terkadang menuntut kesabaran dan ketaatan, memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: masa depan dan harapan.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apa yang saya inginkan?”

Belajarlah bertanya:
“Apa yang bijaksana di hadapan Tuhan?”

Sebab ketika kita memilih untuk hidup dalam hikmat Tuhan, kita sedang membangun kehidupan bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan.



Tetap Hormati ketika Mereka Menua

Tetap Hormati ketika Mereka Menua


Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua.


Ketika masih kecil, ayah dan ibu adalah orang yang ditanya hampir tentang segala sesuatu.

Bagaimana memakai sesuatu, ke mana harus pergi, apa yang harus dilakukan, bahkan bagaimana menghadapi masalah.

Namun, waktu berjalan.  

Anak bertumbuh, bersekolah, bekerja, memiliki pengalaman sendiri, dan akhirnya memiliki kehidupan yang jauh berbeda dari kehidupan orang tuanya.

Orang tua yang dahulu menjadi tempat meminta nasihat mulai dianggap kurang memahami zaman.

Apa yang dahulu terdengar seperti nasihat mulai terdengar seperti ceramah.

Bahkan tanpa disadari, seorang anak dapat mulai memandang orang tuanya sebagai orang yang “sudah ketinggalan zaman”.

“Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau.”  Perintah ini mengingatkan kita bahwa sebelum kita memiliki pengalaman, orang tua telah lebih dahulu menjalani kehidupan.

Mereka mungkin tidak selalu benar.

Mereka juga manusia yang memiliki kelemahan, kesalahan, dan keterbatasan.

Tetapi kelemahan mereka tidak membatalkan penghormatan yang seharusnya kita berikan kepada mereka.

Alkitab tidak mengajarkan ketaatan kepada manusia melebihi ketaatan kepada Tuhan.

Namun, sikap hati kita tetap penting.  

Kita dapat berbeda pendapat tanpa menjadi kasar.

Kita dapat mengambil keputusan yang berbeda tanpa merendahkan.

Kita dapat menjelaskan pilihan kita tanpa membuat mereka merasa tidak berarti.

Tunjukkan kepada mereka bahwa ada perbedaan besar antara tidak mengikuti nasihat dan tidak menghormati orang yang memberikan nasihat.

Bagian kedua ayat ini bahkan lebih menyentuh: “janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua.”

Usia mengubah banyak hal.

Orang tua yang dahulu kuat mungkin sekarang membutuhkan bantuan.

Mereka yang dahulu berjalan cepat mungkin sekarang harus berjalan perlahan.

Mereka yang dahulu mengurus banyak orang mungkin sekarang membutuhkan orang lain untuk mengurus mereka.

Situasi ini dapat menjadi ujian bagi kasih seorang anak.

Ketika orang tua sudah tua, hubungan dapat berubah.

Dahulu mereka yang memberikan waktu, tenaga, uang, perhatian, dan pengorbanan kepada anak.

Sekarang mungkin giliran anak memberikan waktu, perhatian, kesabaran, dan pertolongan kepada mereka.

Dunia sering menghargai manusia berdasarkan kemampuan.

Ketika seseorang kuat, produktif, berhasil, dan berguna, ia mudah dihormati.

Tetapi ketika seseorang menjadi tua dan kemampuannya berkurang, dunia dapat menganggapnya kurang penting.

Firman Tuhan berkata sebaliknya.

Nilai seorang ibu tidak berkurang karena rambutnya memutih. Nilai seorang ayah tidak berkurang karena tubuhnya tidak lagi sekuat dahulu. Mereka tetap layak dihormati.

Waspadailah bahwa kesuksesan anak kadang-kadang dapat membuatnya melupakan orang tua.

Anak memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.
Kariernya semakin baik.
Penghasilannya meningkat.
Wawasannya semakin luas.

Ia mungkin tinggal di tempat yang jauh dan menjalani kehidupan yang tidak lagi sama dengan kehidupan keluarganya.

Semua itu adalah hal yang baik. Tetapi keberhasilan tidak boleh membuat seseorang kehilangan kerendahan hati.

Jangan sampai kita menjadi terlalu sibuk untuk mendengarkan orang tua.

Jangan sampai kita merasa malu berjalan bersama mereka karena penampilan mereka.

Jangan sampai kita merasa terganggu ketika mereka mengulang cerita yang sama.

Jangan sampai keterbatasan mereka membuat kita memperlakukan mereka sebagai beban.

Sebab sebelum kita mampu berdiri sendiri, ada tangan yang pernah menopang kita.

Sebelum kita mampu berjalan sendiri, ada orang yang mungkin pernah menggandeng kita.

Sebelum kita memiliki pencapaian yang dapat kita banggakan, ada orang tua yang mungkin telah berkorban tanpa pernah meminta penghargaan.

Dengarkan mereka.
Hubungi mereka.
Luangkan waktu untuk mereka.
Bersabarlah ketika mereka mulai lambat.
Jangan mempermalukan mereka karena usia mereka.

Dan jangan menunggu sampai kehilangan kesempatan untuk menunjukkan kasih.

Kadang-kadang bentuk penghormatan yang paling sederhana adalah duduk dan mendengarkan.

Menjawab dengan lembut.
Menanyakan kabar.
Membantu ketika mereka membutuhkan.

Atau sekadar membuat mereka merasa bahwa kehadiran mereka masih berarti.

Amsal 23:22 mengingatkan kita bahwa kasih kepada orang tua bukanlah kewajiban yang hanya berlaku ketika kita masih kecil. Kasih itu seharusnya bertumbuh menjadi penghormatan yang dewasa.



Tuhan Selalu Menjaga Kebenaran

Tuhan Selalu Menjaga Kebenaran


Mata TUHAN menjaga pengetahuan, tetapi Ia membatalkan perkataan si pengkhianat.


Kita mungkin sudah menjelaskan dengan jujur, tetapi perkataan kita disalahartikan.

Kita sudah berusaha melakukan yang benar, tetapi muncul cerita lain yang membuat kita terlihat bersalah.

Lebih menyakitkan lagi ketika perkataan yang tidak benar justru lebih cepat dipercaya daripada penjelasan yang jujur.

Dalam situasi seperti itu, kita mudah merasa harus membela diri dengan segala cara.

Kita ingin menjelaskan lebih banyak, membalas perkataan yang menyakitkan, atau berusaha memastikan semua orang mengetahui versi kita.

Tuhan melihat apa yang manusia tidak lihat.  

Ia mengetahui fakta yang sebenarnya, motivasi yang tersembunyi, dan kebenaran yang mungkin tidak diketahui oleh siapa pun.

Ketika manusia hanya melihat potongan cerita, Tuhan melihat seluruhnya.

Ini memberikan penghiburan yang besar.

Kita tidak harus hidup dengan ketakutan bahwa kebenaran akan selamanya kalah hanya karena untuk sementara orang lain tidak melihatnya.

Ada perkataan yang bukan sekadar salah informasi, tetapi lahir dari hati yang tidak setia.

Ada orang yang menggunakan perkataan untuk menipu, menjatuhkan, memanipulasi, atau menyembunyikan maksud yang sebenarnya.

Perkataan seperti itu mungkin terlihat kuat untuk sementara waktu, tetapi Tuhan sanggup membatalkannya.

Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan bahwa kita harus membalas pengkhianatan dengan pengkhianatan.

Amsal justru mengajarkan kita untuk hidup dalam hikmat.

Ketika menghadapi perkataan yang tidak benar, respons kita tidak boleh berubah menjadi kebohongan baru.

Kita tidak perlu menjadi seperti orang yang melawan kita untuk mempertahankan kebenaran.

Jika kita mengetahui bahwa kita sedang berjalan dalam kebenaran, tetaplah berjalan dalam kebenaran.

Jika perlu menjelaskan, jelaskan dengan jujur.
Jika perlu meminta maaf, mintalah maaf.
Jika ada kesalahan kita, jangan sembunyikan.

Ada hal yang dapat kita lakukan, dan ada hal yang harus kita serahkan kepada Tuhan.

Kita bertanggung jawab atas perkataan dan karakter kita.

Tuhan bertanggung jawab atas bagaimana kebenaran itu pada akhirnya dinyatakan dan bagaimana perkataan yang jahat digagalkan.

Tidak semua yang terdengar meyakinkan adalah benar.

Hikmat bukan hanya kemampuan berbicara, tetapi juga kemampuan menguji apa yang kita dengar.

Jangan terlalu cepat mempercayai sebuah cerita hanya karena disampaikan dengan percaya diri.

Jangan ikut menyebarkan sesuatu hanya karena banyak orang sudah membicarakannya.

Ingatlah bahwa Tuhan melihat kebenaran secara utuh.

Ketika manusia salah memahami kita, Tuhan tetap melihat.

Ketika perkataan yang tidak benar diarahkan kepada kita, Tuhan tetap mengetahui.

Dan ketika kebohongan tampaknya semakin kuat, Tuhan tetap berkuasa membatalkannya.

Karena itu, tetaplah hidup dalam kebenaran, sekalipun kebenaran itu belum segera terlihat.

Jangan membalas kebohongan dengan kebohongan.

Percayalah kepada Tuhan yang melihat semuanya, menjaga kebenaran, dan sanggup membatalkan perkataan yang tidak benar.



Jangan Tergesa-gesa Mengejar Hasil

Jangan Tergesa-gesa Mengejar Hasil


Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan.


Kita ingin hasil yang cepat, keuntungan yang cepat, pekerjaan yang cepat selesai, bahkan pertumbuhan yang cepat.

Ketika hasil tidak segera terlihat, kita mulai merasa bahwa proses yang sedang dijalani terlalu lambat.

Kita mulai merasa bahwa yang kita lakukan sama sekali tidak berhasil, karena hasilnya tidak cepat terlihat.

Sadarilah bahwa ada perbedaan antara cepat dan tergesa-gesa.

Orang yang rajin tetap bergerak maju, tetapi ia tidak mengabaikan proses.

Ia sadar bahwa tindakan merencanakan, mempertimbangkan, kemudian mengerjakan apa yang sudah direncanakan dengan tekun adalah bagian dari proses yang harus dilalui.

Sebaliknya, orang yang tergesa-gesa ingin segera sampai pada hasil.

Karena terlalu fokus pada hasil, ia dapat mengabaikan hal-hal penting dalam perjalanan.

Ketidak-sabaran seringkali membuat kita lupa akan hal-hal yang penting.

Dalam pekerjaan, kita perlu belajar bahwa hasil yang baik sering kali membutuhkan waktu.

Dalam membangun usaha, diperlukan perencanaan. Dalam pelayanan, diperlukan kesetiaan.

Dalam membangun keluarga, diperlukan kesabaran. Dalam pertumbuhan rohani, diperlukan disiplin dan ketekunan.

Mungkin hari ini kita belum melihat hasil sebesar yang kita harapkan.

Tetapi jika kita sedang berjalan dengan benar, terus merencanakan dengan bijaksana dan mengerjakannya dengan tekun, jangan menyerah hanya karena hasil belum terlihat.

Karena itu, hari ini tanyakan kepada diri sendiri:

Apakah saya sedang tekun menjalani proses, atau sedang tergesa-gesa mengejar hasil?

Jika ada sesuatu yang sedang kita bangun, jangan hanya bertanya, “Kapan hasilnya terlihat?”

Belajarlah bertanya, “Apakah saya sudah mengerjakannya dengan benar dan tekun?”

Sebab kelimpahan yang sehat bukanlah hasil dari ketergesaan, melainkan buah dari rancangan yang bijaksana dan kerajinan yang terus-menerus.



Melihat dan Mendengar Dengan Benar

Melihat dan Mendengar Dengan Benar


Telinga yang mendengar dan mata yang melihat, kedua-duanya dibuat oleh TUHAN


Setiap pagi kita membuka mata dan melihat keadaan di sekitar kita.

Kita mendengar suara orang berbicara, mendengar berita, membaca berbagai informasi, dan menerima begitu banyak suara sepanjang hari.

Karena semuanya terjadi secara alami, kita jarang berhenti untuk menyadari bahwa kemampuan itu sendiri adalah pemberian Tuhan.

Amsal 20:12 membawa kita kembali kepada sumbernya: “Telinga yang mendengar dan mata yang melihat, kedua-duanya dibuat oleh TUHAN.”

Ada sesuatu yang sangat sederhana tetapi penting dalam ayat ini.

Tuhan bukan hanya memperhatikan hal-hal besar dalam kehidupan kita.

Ia adalah Pencipta yang memberikan kepada kita kemampuan untuk melihat dan mendengar.

Karena itu, mata dan telinga seharusnya tidak hanya digunakan untuk memenuhi keinginan kita, tetapi juga untuk belajar mengenali kebenaran dan berjalan dalam hikmat.

Kita dapat melihat seseorang yang sedang terluka, tetapi memilih tidak peduli.

Kita dapat melihat bahwa sebuah keputusan mulai membawa masalah, tetapi tetap mempertahankannya karena kita tidak mau mengakui kesalahan.

Kita dapat melihat kelemahan orang lain dengan sangat jelas, tetapi tidak mampu melihat kelemahan diri sendiri.

Kita mendengar nasihat, tetapi hanya menerima nasihat yang sesuai dengan keinginan kita.

Kita mendengar teguran, tetapi segera mencari alasan untuk membela diri.

Kita mendengar firman Tuhan, tetapi setelah mendengarnya kita kembali menjalani hidup seperti sebelumnya.

Di sinilah hikmat menjadi penting.

Orang berhikmat bukan hanya orang yang mampu melihat, tetapi orang yang bersedia melihat kenyataan sebagaimana adanya.

Orang berhikmat bukan hanya orang yang mampu mendengar, tetapi orang yang bersedia menerima kebenaran sekalipun kebenaran itu tidak selalu menyenangkan.

Mungkin Tuhan sudah menunjukkan sesuatu melalui keadaan yang kita alami.

Mungkin sebuah kegagalan sedang memperlihatkan bahwa ada keputusan yang perlu diperbaiki.

Mungkin teguran dari seseorang sebenarnya sedang menolong kita melihat bagian diri yang selama ini tidak kita sadari.

Mungkin firman Tuhan sudah berkali-kali berbicara tentang sesuatu yang perlu kita ubah, tetapi kita terus mengabaikannya.

Jangan hanya menggunakan mata untuk mencari kesalahan orang lain.  Gunakan mata untuk melihat apa yang Tuhan ingin kita pelajari.

Jangan hanya menggunakan telinga untuk mendengar pujian. Gunakan telinga untuk menerima nasihat dan teguran yang dapat membawa kita kepada kehidupan yang lebih benar.

Jangan hanya melihat apa yang ada di depan mata.  Belajarlah melihat dengan hikmat.

Jangan hanya mendengar kata-kata yang menyenangkan.  Belajarlah mendengar kebenaran.

Tetapi kita dapat menentukan bagaimana kita meresponsnya.

Kita dapat memilih apakah kita akan menjadi orang yang keras hati atau orang yang mau belajar.

Ada kalanya Tuhan menggunakan sesuatu yang tidak menyenangkan untuk membuka mata kita.

Ada kalanya Ia memakai perkataan yang keras tetapi benar untuk membuka telinga kita.

Dan ketika itu terjadi, respons yang bijaksana bukanlah langsung menolak, melainkan berhenti sejenak dan bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau ingin saya lihat? Apa yang Engkau ingin saya dengar?”

Hari ini, jangan terburu-buru melewati apa yang Tuhan izinkan kita lihat dan dengar.

Perhatikan.  Dengarkan.  Renungkan.  Belajarlah.

Sebab mungkin di balik sesuatu yang selama ini kita anggap biasa, Tuhan sedang mengajar kita sesuatu yang sangat penting.



Waspadalah Terhadap Amarah yang Harus Dibayar

Waspadalah Terhadap Amarah yang Harus Dibayar


Orang yang sangat cepat marah akan kena denda, karena jika engkau hendak menolongnya, engkau hanya menambah marahnya.


Ketika tersinggung, ia berkata kasar.
Ketika kecewa, ia meledak.

Ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan, ia melampiaskan kemarahannya kepada orang lain.

Setelah semuanya terjadi, orang-orang di sekitarnya datang membereskan akibatnya.

Masalahnya, kalau hal ini terus berlangsung, orang tersebut tidak pernah belajar.

Ini bukan berarti kita harus menjadi tidak peduli kepada orang yang sedang jatuh karena kesalahannya.

Tetapi ada perbedaan antara menolong seseorang keluar dari masalah dan terus-menerus menyelamatkan seseorang dari konsekuensi perilakunya.

Jika setiap kali seseorang marah kita langsung membereskan masalah yang dibuatnya, meminta maaf atas namanya, memperbaiki hubungan yang dirusaknya, atau melindunginya dari akibat tindakannya, mungkin kita sedang menolongnya untuk sementara—tetapi kita juga bisa membuatnya tidak pernah belajar mengendalikan diri.

Amsal bahkan mengatakan bahwa ketika orang seperti itu terus diselamatkan, kita mungkin harus melakukannya lagi.

Kadang-kadang kasih justru berarti membiarkan seseorang merasakan akibat dari pilihannya, supaya ia belajar.

Anak yang selalu dibela ketika berbuat salah tidak belajar bertanggung jawab.

Orang dewasa yang selalu diselamatkan dari akibat kemarahannya tidak belajar mengendalikan amarah.

Dan seseorang yang tidak pernah merasakan konsekuensi dari perilakunya akan semakin mudah mengulangi perilaku yang sama.

Karena itu, ketika kita sendiri sedang marah, jangan buru-buru bertanya, “Bagaimana supaya orang lain mengerti kemarahanku?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Amsal 19:19 mengajak kita untuk berhenti menyalahkan keadaan, orang lain, atau situasi sebagai alasan untuk kemarahan kita.

Kita perlu belajar bertanggung jawab atas respons kita sendiri.

Mungkin kita memang diperlakukan tidak adil.
Mungkin perkataan orang lain memang menyakitkan.
Mungkin ada alasan yang membuat kita kecewa.

Tetapi alasan untuk marah tidak otomatis menjadi izin untuk melampiaskan amarah.

Orang bijaksana belajar berhenti sebelum berbicara.
Belajar diam sebelum membalas.
Belajar mengambil waktu sebelum mengambil keputusan.

Dan belajar menerima teguran ketika orang lain menunjukkan bahwa kemarahannya sudah mulai menguasai dirinya.

Sebab kematangan rohani bukan berarti kita tidak pernah marah.

Hari ini, mungkin Tuhan sedang mengingatkan kita tentang sebuah pola yang terus berulang: marah, membuat masalah, menyesal, diselamatkan, lalu marah lagi.

Jangan terus hidup dalam siklus itu.

Belajarlah menguasai amarah sebelum amarah membawa kita kepada konsekuensi yang lebih besar.

Dan jika kita sedang berhadapan dengan seseorang yang selalu marah, jangan selalu menjadi orang yang membereskan semua akibatnya.

Tolong dia belajar bertanggung jawab.
Tegur dengan kasih.
Berikan batas yang sehat.

Dan arahkan dia kepada perubahan.



Pemberian yang membuka Pintu

Pemberian yang membuka Pintu


Hadiah memberi keluasan kepada orang, membawa dia menghadap orang-orang besar.


Ada kesempatan yang muncul ketika seseorang melihat apa yang kita kerjakan, apa yang kita miliki, atau apa yang dengan tulus kita berikan.

Amsal berkata, “Hadiah memberi keluasan kepada seseorang, ia membawa dia menghadap orang-orang besar.”

Pemberian dapat membuka pintu.

Sebuah karya dapat membuka kesempatan.
Sebuah talenta dapat membawa seseorang ke tempat yang lebih luas.
Kemurahan hati dapat membangun hubungan.

Bahkan sesuatu yang sederhana yang kita berikan kepada orang lain dapat menjadi jalan menuju kesempatan yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.

Alkitab tidak pernah membenarkan suap.

Pemberian yang dimaksud dalam Amsal 18:16 bukanlah manipulasi untuk mendapatkan keuntungan yang tidak benar.

Sebaliknya, ayat ini menunjukkan sebuah kenyataan bahwa apa yang kita miliki dan berikan dapat memengaruhi kesempatan yang kita terima.

Karena itu, pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang bisa saya dapatkan?”, tetapi juga, “Apa yang Tuhan sudah berikan kepada saya sehingga dapat saya gunakan untuk memberkati orang lain?”

Mungkin Tuhan memberikan kepadamu kemampuan berbicara. Gunakan untuk membangun.

Mungkin Tuhan memberikan kemampuan bekerja. Gunakan untuk menghasilkan sesuatu yang berguna.

Mungkin Tuhan mempercayakan harta. Gunakan dengan murah hati dan bertanggung jawab.

Mungkin Tuhan memberikan kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang tertentu.

Pintu yang terbuka bukan selalu tanda bahwa kita harus masuk untuk kepentingan diri sendiri.

Kadang Tuhan membuka pintu supaya melalui kita, orang lain menerima pertolongan, kebenaran, dan berkat.

Jangan takut memberikan apa yang Tuhan percayakan kepadamu.

Talenta yang diberikan Tuhan dapat membuka pintu.
Kemurahan hati dapat membuka pintu.
Kerja keras dapat membuka pintu.
Karya yang baik dapat membuka pintu.

Bukan pemberian kita yang menentukan masa depan kita. Tuhanlah yang memegang masa depan kita.

Maka gunakan apa yang ada di tanganmu dengan bijaksana.

Berikan dengan tulus. Berkaryalah dengan sungguh-sungguh.



Obat Bagi Hati yang Lelah

Obat Bagi Hati yang Lelah


Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.


Persoalan masih ada.
Tanggung jawab masih harus diselesaikan.
Orang-orang yang mengecewakan kita mungkin belum berubah.

Bahkan doa yang kita panjatkan mungkin belum mendapatkan jawaban seperti yang kita harapkan.

Namun, ada sesuatu yang dapat Tuhan kerjakan terlebih dahulu: hati kita.

Sukacita tidak selalu menghilangkan masalah, tetapi sukacita memberi kita kekuatan untuk menghadapi masalah tanpa kehilangan pengharapan.

Sukacita Kristen bukanlah berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Sukacita adalah kemampuan untuk berkata, “Keadaanku mungkin belum baik, tetapi Tuhan tetap baik.”

Itulah sebabnya sukacita tidak bergantung sepenuhnya pada keadaan.

Kita dapat bersyukur bukan karena semua yang terjadi menyenangkan, tetapi karena kita tahu bahwa hidup kita tetap berada di tangan Tuhan.

Kita mulai melihat segala sesuatu secara negatif.

Hal-hal kecil terasa berat.

Kita kehilangan tenaga untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.

Ada pikiran yang perlu kita lepaskan.
Ada luka yang perlu kita serahkan kepada Tuhan.
Ada kekhawatiran yang perlu kita bawa dalam doa.
Ada pengampunan yang perlu kita berikan.

Dan ada kebenaran Firman Tuhan yang perlu kembali memenuhi pikiran kita.

Hari ini mungkin belum memberikan semua jawaban yang kita inginkan.

Tetapi kita tetap memiliki alasan untuk bersukacita: Tuhan masih ada, Tuhan masih bekerja, dan Tuhan tidak pernah kehilangan kendali atas hidup kita.

Jangan biarkan keadaan mencuri sukacita yang Tuhan berikan.