Ketika Akar Menentukan Buah

Ketika Akar Menentukan Buah


Orang fasik mengingini keuntungan dari jerih payah orang lain, tetapi akar orang benar menghasilkan buah.


Kita ingin sukses, tetapi tidak selalu ingin menjalani prosesnya.

Kita ingin dipercaya, tetapi tidak selalu mau membangun integritas.

Kita ingin dihargai, tetapi tidak selalu mau bekerja dengan setia ketika tidak ada yang melihat.

Kita ingin menikmati buah kehidupan orang lain, tetapi tidak mau membangun akar kehidupan kita sendiri.

Amsal mengatakan bahwa orang fasik mengingini keuntungan dari jerih payah orang lain.

Ia tertarik pada hasil, bukan pada proses.

Ia melihat apa yang dimiliki orang lain dan ingin mendapatkannya tanpa harus membangun apa yang membentuk hasil tersebut.

Akar memang tidak menarik untuk dilihat.
Akar bekerja dalam kegelapan.

Tidak ada yang memuji akar.
Tidak ada yang memotret akar.

Namun, akar menentukan apakah sebuah pohon dapat bertahan dan menghasilkan buah.

Karakter dibangun ketika tidak ada yang melihat.

Integritas dibangun ketika kita bisa memilih jalan yang mudah.

Iman dibangun ketika doa belum dijawab. Kesetiaan dibangun ketika tidak ada penghargaan.

Karena itu, jangan terlalu cepat iri melihat “buah” kehidupan orang lain.

Kita tidak tahu berapa lama mereka membangun akarnya.

Jangan hanya bertanya, “Mengapa hidup saya belum menghasilkan seperti mereka?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Sedang seperti apa akar kehidupan saya?”

Tetaplah jujur ketika kejujuran tidak menguntungkan.

Tetaplah bekerja dengan sungguh-sungguh ketika tidak ada yang memperhatikan.

Tetaplah setia kepada Tuhan ketika hasilnya belum terlihat.

Jangan hidup dengan mengambil buah orang lain.

Bangunlah akar yang benar di hadapan Tuhan.

Dan ketika waktunya tiba, biarlah kehidupan kita menghasilkan buah yang bukan hanya dapat kita nikmati sendiri, tetapi juga dapat menjadi berkat bagi orang lain.



Kekayaan atau Kehormatan

Kekayaan atau Kehormatan


Perempuan yang baik hati beroleh kehormatan, sedangkan orang yang ganas beroleh kekayaan.


Kalau ingin dihargai, kita harus menunjukkan kemampuan.

Kalau ingin didengar, kita harus memiliki posisi.

Kalau ingin dianggap penting, kita harus memiliki pencapaian, kekayaan, pengaruh, atau kekuasaan.

Tetapi Amsal 11:16 menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Ayat ini menggunakan gambaran seorang perempuan yang baik hati.

Ia tidak digambarkan sebagai orang yang paling kuat, paling kaya, atau paling berkuasa. Yang ditekankan adalah karakternya.

Dan hasilnya? “Beroleh kehormatan.”

Kita bisa memaksa orang untuk mengikuti kita karena kita memiliki jabatan.

Kita bisa membuat orang takut karena kita memiliki kekuasaan.

Kita bahkan bisa membuat orang kagum karena kita memiliki kekayaan.

Tetapi kita tidak bisa memaksa seseorang untuk benar-benar menghormati kita.

Bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak bisa memberikan keuntungan kepada kita?

Bagaimana kita berbicara kepada orang yang lebih lemah?

Bagaimana kita bersikap ketika tidak mendapatkan apa yang kita inginkan?

Bagaimana kita memperlakukan orang yang melakukan kesalahan kepada kita?

Di situlah karakter terlihat.

Orang yang keras mungkin dapat memenangkan sebuah pertengkaran.

Orang yang agresif mungkin dapat memperoleh keuntungan.

Orang yang menggunakan kekuatan mungkin dapat membuat orang lain tunduk.

Amsal menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan.  Yaitu menjadi seseorang yang layak dihormati.

Karena itu, jangan hanya bertanya: “Apa yang bisa saya dapatkan?”

Belajarlah bertanya: “Menjadi orang seperti apakah saya ketika mendapatkan semua itu?”

Sebab kekayaan tanpa karakter dapat membuat seseorang memiliki banyak hal tetapi kehilangan dirinya sendiri.

Sebaliknya, seseorang mungkin tidak memiliki posisi tertinggi, tidak memiliki kekayaan terbesar, dan tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.

Dan bagi orang percaya, karakter seperti ini bukan sekadar usaha untuk mendapatkan penghormatan manusia.

Kita belajar menjadi baik karena terlebih dahulu telah menerima kebaikan dan kasih karunia Allah.

Kita tidak perlu menjadi keras untuk membuktikan bahwa kita kuat.

Kita tidak perlu merendahkan orang lain supaya terlihat tinggi.

Kita tidak perlu mengejar kehormatan dengan segala cara.

Biarlah karakter kita berbicara.



Berhenti untuk Mendengarkan

Berhenti untuk Mendengarkan


Pelayan-pelayannya telah disuruhnya pergi, ia mengundang dari atas tempat-tempat yang tinggi di kota:‘Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari;’


Ada suara dari media sosial.
Ada suara dari teman.
Ada suara dari keluarga.

Ada suara dari pengalaman masa lalu.
Ada suara dari orang-orang yang kita kagumi.
Ada suara dari budaya dan tren yang terus berubah.

Masalahnya bukan karena terlalu sedikit suara, tetapi karena terlalu banyak suara.

Amsal 9 menggambarkan Hikmat seperti seorang perempuan yang berdiri di tempat yang tinggi dan mengutus para pelayannya untuk memanggil orang-orang. Undangannya sangat sederhana:

“Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari.”

Perhatikan siapa yang dipanggil.

Bukan orang yang sudah merasa hebat.

Bukan orang yang merasa sudah mengerti semuanya.

Bukan orang yang merasa tidak membutuhkan nasihat.

Justru orang yang belum berpengalaman.

Ini adalah gambaran yang sangat realistis tentang manusia.

Kita sering kali tidak menjadi bodoh karena tidak memiliki informasi, tetapi karena terlalu yakin bahwa kita sudah tahu.

Ada orang yang sudah bertahun-tahun bekerja, tetapi masih tidak mau menerima nasihat.

Ada orang yang sudah lama menikah, tetapi tidak mau belajar bagaimana memperlakukan pasangannya.

Ada orang yang sudah lama menjadi Kristen, tetapi merasa tidak perlu lagi ditegur oleh firman Tuhan.

Ada orang yang pernah berhasil dalam hidup, sehingga pengalaman masa lalunya menjadi ukuran untuk semua keputusan berikutnya.

Pengalaman hanya memberi kita sesuatu untuk dipelajari.

Hikmat menentukan apa yang harus kita lakukan dengan pengalaman itu.

Karena itu, orang bijaksana bukanlah orang yang selalu berkata, “Saya tahu.”

Orang bijaksana juga mampu berkata: “Mungkin saya belum tahu.”

Kalimat sederhana itu membuka pintu bagi pertumbuhan.

Ketika Hikmat berkata, “Singgahlah ke mari,” ada sebuah tindakan yang diminta: berhenti dan datang.

Kadang-kadang Tuhan mengundang kita untuk berhenti sebelum mengambil keputusan.

Berhenti sebelum membalas perkataan seseorang.

Berhenti sebelum mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan.

Berhenti sebelum mengikuti seseorang hanya karena dia populer.

Berhenti sebelum mengambil keputusan hanya karena semua orang melakukannya.

Berhenti dan bertanya: “Apa yang Tuhan katakan tentang ini?”

Hikmat Tuhan sering kali tidak menawarkan jalan yang paling mudah.

Tetapi Hikmat selalu mengarahkan kita kepada jalan yang benar.

Dunia mungkin berkata, “Ikuti apa yang kamu rasakan.”
Hikmat berkata, “Periksalah hatimu.”

Dunia berkata, “Balas saja.”
Hikmat berkata, “Pikirkan akibatnya.”

Dunia berkata, “Yang penting kamu menang.”
Hikmat berkata, “Yang penting kamu hidup benar.”

Dunia berkata, “Semua orang melakukannya.”
Hikmat bertanya, “Apakah itu benar di hadapan Tuhan?”

Dan bagi kita sebagai orang percaya, panggilan kepada hikmat pada akhirnya membawa kita kepada Kristus.

Sebab di dalam Kristus terdapat kepenuhan hikmat Allah.

Kita tidak dipanggil untuk sekadar menjadi orang yang lebih pintar, tetapi menjadi orang yang hidup dalam kebenaran Tuhan.

Hari ini mungkin ada sesuatu yang sedang kita hadapi yang membuat kita bingung.

Jangan terburu-buru.

Mungkin Tuhan sedang berkata: “Singgahlah ke mari.”

Berhenti.
Dengarkan firman-Nya.
Terima nasihat yang benar.
Akui bahwa kita belum tahu semuanya.

Dan izinkan Tuhan mengajar kita.

Sebab sering kali langkah pertama menuju hikmat bukanlah mengetahui lebih banyak, tetapi menyadari bahwa kita masih perlu belajar.



Hikmat yang Memberi Kekuatan

Hikmat yang Memberi Kekuatan


Aku mempunyai nasihat dan pertimbangan, akulah pengertian, padakulah kekuatan.


Kita tahu bahwa kita harus meminta maaf, tetapi ego menahannya.

Kita tahu bahwa kita harus berhenti dari kebiasaan yang salah, tetapi kita terus mengulanginya.

Kita tahu bahwa kita harus berkata jujur, tetapi kita takut terhadap konsekuensinya.

Kita tahu keputusan mana yang benar, tetapi kita tergoda memilih jalan yang lebih mudah.

Di sinilah kita melihat bahwa hikmat bukan sekadar pengetahuan.

Hikmat dari Tuhan memberi kita lebih daripada sekadar informasi mengenai apa yang benar.

Hikmat menolong kita memahami, mempertimbangkan, dan akhirnya memiliki kekuatan untuk menjalani kebenaran itu.

Kadang-kadang kita meminta Tuhan mengubah keadaan, padahal yang pertama-tama perlu Tuhan ubah adalah cara kita melihat keadaan tersebut.

Kita melihat masalah sebagai jalan buntu; hikmat melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar percaya kepada Tuhan.

Kita melihat orang yang menyakiti kita sebagai musuh; hikmat mengajar kita untuk melihat bahwa kita tetap dipanggil untuk mengasihi dan melakukan yang benar.

Kita melihat keputusan sulit sebagai sesuatu yang harus dihindari; hikmat mengajar kita bahwa ada saatnya kebenaran memang membutuhkan keberanian.

Berdoalah juga, “Tuhan, berikan aku hikmat untuk mengetahui jalan yang benar dan kekuatan untuk menjalaninya.”

Sebab sering kali kita tidak membutuhkan lebih banyak pilihan.

Kita membutuhkan pengertian untuk memilih dengan benar dan kekuatan untuk tetap setia setelah memilihnya.

Dan sumber hikmat itu adalah Tuhan sendiri.

Di dalam Kristus, kita bukan hanya menerima pengetahuan tentang kebenaran, tetapi dipanggil untuk hidup dalam kebenaran melalui pertolongan dan kuasa-Nya.

Hari ini mungkin ada sesuatu yang sedang Anda hadapi yang membuat Anda bingung atau lemah.

Jangan terburu-buru mengandalkan kemampuan sendiri.

Datanglah kepada Tuhan.

Mintalah nasihat ketika bingung, pertimbangan ketika harus memilih, pengertian ketika tidak memahami, dan kekuatan ketika tahu apa yang benar tetapi sulit melakukannya.



Jangan Tertipu oleh Kemasan

Jangan Tertipu oleh Kemasan


Telah kuhamparkan permadani di atas tempat tidurku, kain lenan beraneka warna dari Mesir.  Telah kuperciki pembaringanku dengan mur, gaharu dan kayu manis.


Makanan dikemas dengan gambar yang menggugah selera.

Produk dibuat dengan desain yang menarik.

Iklan menampilkan kehidupan yang sempurna.

Bahkan sesuatu yang sebenarnya biasa saja dapat terlihat luar biasa ketika dikemas dengan tepat.

Amsal 7:16–17 memperlihatkan bagaimana perempuan yang menggoda pemuda itu tidak langsung berkata, “Mari kita melakukan sesuatu yang salah.”

Sebaliknya, ia menciptakan suasana.

Ia memperlihatkan tempat yang nyaman.
Ia menawarkan sesuatu yang indah.
Ia menghadirkan aroma yang menyenangkan.

Dengan kata lain, ia membuat jalan menuju dosa terasa menyenangkan.

Godaan tidak selalu berkata: “Ayo, hancurkan hidupmu.”

Kadang ia berkata:

“Sekali saja.”
“Tidak ada yang tahu.”
“Kamu pantas menikmati ini.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Yang penting kamu bahagia.”
“Tidak akan terjadi apa-apa.”

Itulah sebabnya kita perlu berhati-hati.

Yang terlihat indah belum tentu membawa kepada kebaikan.

Bayangkan seseorang melihat sebuah jalan yang sangat indah.

Jalannya bersih, dihiasi lampu, dan pemandangannya menyenangkan.

Tetapi kalau jalan itu ternyata menuju jurang, keindahan jalan tersebut tidak mengubah tujuan akhirnya.

Ada keputusan yang terasa menyenangkan hari ini tetapi menghasilkan luka bertahun-tahun kemudian.

Ada hubungan yang awalnya terasa begitu indah tetapi perlahan menjauhkan kita dari Tuhan.

Ada uang yang diperoleh dengan cara yang salah tetapi terasa seperti berkat.

Ada hiburan yang terlihat tidak berbahaya tetapi perlahan merusak hati.

Ada kesempatan yang tampaknya menguntungkan tetapi menuntut kita mengorbankan integritas.

Jangan hanya melihat apa yang kita dapatkan sekarang. Lihat juga apa yang sedang kita tuju.

Jangan hanya bertanya: “Apakah saya menyukainya?”
Tanyakan: “Apakah Tuhan berkenan?”

Jangan hanya bertanya: “Apakah ini membuat saya bahagia?”
Tanyakan: “Apakah ini membuat saya semakin dekat dengan Tuhan?”

Jangan hanya bertanya: “Apa yang akan saya dapatkan?”
Tanyakan: “Apa yang mungkin saya kehilangan?”

Karena dosa hampir selalu menunjukkan hadiahnya di depan, tetapi menyembunyikan harganya di belakang.

Tetapi ia tidak melihat apa yang sedang menunggunya setelah itu.

Ia tidak melihat kehancuran.
Ia tidak melihat rasa malu.
Ia tidak melihat konsekuensi.
Ia hanya melihat apa yang ada di depan matanya.

Dan itulah bahayanya.

Perasaan bisa berubah.
Keinginan bisa berubah.
Situasi bisa berubah.

Tetapi firman Tuhan tetap menjadi standar.

“Mengapa ini terlihat begitu menarik?”
“Apa yang sebenarnya sedang ditawarkan?”

“Apakah ini benar-benar berkat Tuhan, atau hanya godaan yang dikemas dengan indah?”

Orang bijaksana tidak hanya memiliki mata untuk melihat apa yang tampak, tetapi juga hikmat untuk melihat apa yang ada di baliknya.

Hari ini mungkin ada sesuatu yang sedang terlihat sangat menarik dalam hidup kita.

Sebuah hubungan.
Sebuah kesempatan.
Sebuah keuntungan.
Sebuah kesenangan.
Sebuah keputusan.

Jangan buru-buru mengambilnya hanya karena kemasannya indah.

Bawa kepada Tuhan.
Uji dengan firman-Nya.
Lihat akibatnya.

Sebab tidak semua yang terasa nyaman adalah baik, dan tidak semua yang terlihat indah berasal dari Tuhan.



Sebelum Semuanya Terlambat

Sebelum Semuanya Terlambat


Sebab itu ia akan ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba, dengan tidak dapat dipulihkan lagi.


Satu kebohongan mungkin terasa sepele.
Satu kompromi dengan dosa mungkin dianggap tidak masalah.
Satu keputusan yang salah mungkin kita pikir masih bisa diperbaiki nanti.

Masalahnya adalah “nanti” tidak selalu datang.

Amsal 6:15 berkata, “Sebab itu ia akan ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba.”

Kata “sebab itu” menunjukkan bahwa kehancuran tersebut merupakan akibat dari jalan hidup yang sudah dipilih sebelumnya.

Orang yang digambarkan dalam bagian ini bukan tiba-tiba menjadi jahat dalam satu hari.

Ia membiarkan hatinya dipenuhi kejahatan.
Ia merencanakan yang buruk.
Ia menciptakan pertengkaran.
Ia terus berjalan dalam arah yang salah.

Kemudian datanglah saat ketika semuanya runtuh.

Ketika kita melakukan sesuatu yang salah dan tidak langsung mengalami akibat buruk, kita bisa mulai berpikir bahwa semuanya aman.

Kita bahkan dapat menganggap bahwa Tuhan membiarkan kita terus berjalan.

Padahal, tidak adanya akibat langsung bukan berarti tidak ada akibat sama sekali.

Seperti seseorang yang terus mengemudi dengan rem yang rusak.

Selama mobil masih dapat berjalan, ia mungkin merasa semuanya baik-baik saja.  Tetapi masalahnya tetap ada.

Ia hanya belum sampai pada saat ketika kerusakan itu menghasilkan kecelakaan.

Demikian juga dengan kehidupan rohani.

Kita bisa terus menyimpan kepahitan.
Terus memelihara kebiasaan dosa.
Terus berbohong.
Terus memanipulasi orang lain.
Terus mengikuti lingkungan yang membawa kita menjauh dari Tuhan.

Dan karena tidak terjadi sesuatu yang buruk hari ini, kita berpikir bahwa semuanya masih baik-baik saja.

Amsal berkata: jangan berpikir demikian.

Sesuatu yang selama ini kita anggap kecil dapat tiba-tiba menghancurkan kepercayaan, keluarga, pekerjaan, pelayanan, hubungan, bahkan arah hidup kita.

Karena itu, pesan ayat ini bukan sekadar, “Hati-hati, nanti kamu bisa hancur.”

Pesan yang lebih dalam adalah:
“Jangan terus berjalan di jalan yang salah.”

Firman Tuhan menegur kita bukan karena Tuhan ingin melihat kita jatuh, tetapi karena Tuhan ingin kita berbalik sebelum semuanya terlambat.

Pertobatan selalu lebih baik daripada penyesalan.

Meminta maaf hari ini lebih baik daripada kehilangan hubungan karena kesombongan.

Mengakui kesalahan hari ini lebih baik daripada mempertahankan kebohongan sampai semuanya terbongkar.

Meninggalkan dosa hari ini lebih baik daripada menunggu dosa itu menghancurkan hidup kita.

Selama Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bertobat, jangan sia-siakan kesempatan itu.

Kasih karunia Tuhan bukan alasan untuk terus hidup dalam dosa.

Justru karena kita telah menerima kasih karunia, kita dipanggil untuk meninggalkan jalan yang salah dan kembali kepada-Nya.

Jangan tunggu sampai hubungan itu benar-benar hancur.
Jangan tunggu sampai kepercayaan itu hilang.
Jangan tunggu sampai dosa itu terbongkar.
Jangan tunggu sampai konsekuensinya tidak dapat diperbaiki lagi.

Berbaliklah sekarang !!!



Jaga Apa yang Tuhan Percayakan

Jaga Apa yang Tuhan Percayakan


Biarlah mata airmu meluap ke luar, dan aliran-aliran air itu ke lapangan-lapangan.  Biarlah itu menjadi kepunyaanmu sendiri, jangan orang asing turut menikmatinya.


Ada hal-hal dalam hidup yang memang Tuhan berikan untuk dinikmati dalam batas dan hubungan yang benar.

Amsal menggunakan gambaran air yang mengalir untuk menggambarkan sesuatu yang seharusnya tetap berada dalam kepemilikan yang tepat.

Ini adalah prinsip yang penting dalam kehidupan: sesuatu yang berharga harus dijaga, bukan dicurahkan sembarangan.

Dalam konteks Amsal 5, hal ini terutama berbicara mengenai kesetiaan dalam pernikahan.

Tuhan memberikan seks sebagai bagian dari anugerah-Nya dalam pernikahan, bukan sebagai sesuatu yang bebas dinikmati tanpa batas dengan siapa saja.

Masalahnya, godaan sering membuat sesuatu yang salah terlihat menarik.

Kita mulai berpikir, “Tidak apa-apa, hanya sekali.”
Atau, “Toh, Tidak ada yang tahu.”

Tetapi dosa tidak pernah hanya berbicara tentang apa yang kita inginkan saat ini.

Dosa juga membawa konsekuensi yang mungkin baru kita sadari kemudian.

Karena itu, menjaga kesetiaan bukan hanya soal menolak orang lain, tetapi juga soal menghargai apa yang sudah Tuhan percayakan kepada kita.

Jika Tuhan memberikan pasangan, jagalah pasangan itu.

Jika Tuhan memberikan keluarga, jagalah keluarga itu.

Jika Tuhan memberikan kepercayaan, jagalah kepercayaan itu.

Menariknya, Alkitab tidak hanya berkata, “Jangan melakukan dosa.”

Alkitab juga mengajarkan kita untuk melihat nilai dari apa yang sedang kita lindungi.

Kita menjaga bukan karena sesuatu itu tidak berharga, tetapi justru karena itu sangat berharga.

Hari ini, mungkin ada batas yang mulai kita abaikan.

Ada percakapan yang seharusnya dihentikan.
Ada kedekatan yang mulai melewati batas.
Ada perhatian dari seseorang yang mulai kita nikmati secara tidak sehat.

Ada sesuatu yang seharusnya menjadi milik kita dalam hubungan yang benar, tetapi mulai kita curahkan kepada “orang asing”.

Belajarlah berkata cukup sebelum terlambat.

Kesetiaan bukan sekadar tidak meninggalkan seseorang.

Kesetiaan juga berarti menjaga hati, menjaga mata, menjaga pikiran, dan menjaga batas,

karena kita sadar bahwa apa yang Tuhan percayakan kepada kita adalah sesuatu yang berharga.

Apa yang berharga harus dijaga. Jangan dicurahkan sembarangan.



Hati yang Harus Dijaga

Hati yang Harus Dijaga


Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.


Kita sering berhati-hati terhadap banyak hal.

Kita menjaga kesehatan.
Menjaga rumah.
Menjaga kendaraan.
Menjaga uang.
Menjaga barang-barang berharga.

Tetapi bagaimana dengan hati kita?

Mengapa hati begitu penting?

Karena kehidupan kita mengalir dari apa yang ada di dalam hati.

Ketika hati dipenuhi kepahitan, kepahitan itu akhirnya keluar melalui perkataan dan tindakan.

Ketika hati dipenuhi iri hati, kita mulai membandingkan diri dengan orang lain.

Ketika hati dipenuhi kesombongan, kita sulit menerima nasihat.

Sebaliknya, ketika hati dipenuhi takut akan Tuhan, hal itu akan memengaruhi cara kita mengambil keputusan dan memperlakukan orang lain.

Ada hal-hal yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain, tetapi Tuhan melihatnya.

Mungkin kita masih tersenyum di luar, tetapi menyimpan kemarahan di dalam.

Mungkin kita terlihat baik-baik saja, tetapi hati kita dipenuhi iri hati.

Mungkin kita tidak mengucapkan sesuatu yang buruk, tetapi terus memeliharanya dalam pikiran.

Hati yang tidak dijaga dapat perlahan-lahan mengarahkan kehidupan kita ke jalan yang salah.

Apa yang kita dengarkan.
Apa yang kita pikirkan.
Apa yang kita ingat-ingat.
Apa yang kita inginkan.
Apa yang kita biarkan menguasai hati.

Namun, menjaga hati bukan berarti kita mampu membersihkan hati kita dengan kekuatan sendiri.

Kita membutuhkan Tuhan.

Daud pernah berdoa:
“Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!”

Hati yang benar bukan hanya hati yang berusaha menjadi baik, tetapi hati yang terus-menerus dibentuk oleh Tuhan.

Hari ini, mungkin ada sesuatu yang sedang kita simpan di dalam hati—kekecewaan, kemarahan, ambisi, iri hati, ketakutan, atau luka masa lalu.

Jangan biarkan hal itu menjadi sumber yang mengalirkan kehidupan kita.

Bawa kepada Tuhan.



Ketika Sesuatu Datang Tanpa Diduga

Ketika Sesuatu Datang Tanpa Diduga


Janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba, atau kepada kebinasaan orang fasik, bila itu datang.  Karena TUHANlah yang menjadi tempat kepercayaanmu, dan Ia akan menjaga kakimu, sehingga tidak terperosok.


Kita bisa membuat rencana keuangan.
Kita bisa menabung untuk kebutuhan masa depan.

Kita bisa merencanakan pekerjaan, pendidikan, perjalanan, bahkan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi.

Telepon dapat berdering membawa berita yang tidak kita harapkan.
Seseorang dapat menyampaikan kabar yang mengubah rencana kita.
Masalah dapat muncul ketika kita merasa semuanya baik-baik saja.

Dan justru karena kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi, kita sering hidup dengan rasa takut terhadap sesuatu yang sebenarnya belum terjadi.

Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan, “Kekejutan itu tidak akan pernah datang.”

Alkitab justru mengakui bahwa sesuatu yang tidak terduga bisa datang.

Inilah realitas kehidupan.

Menjadi orang percaya tidak berarti kita mendapat jaminan bahwa hidup akan selalu berjalan sesuai rencana.

Kita tetap dapat menghadapi kehilangan, kegagalan, perubahan, konflik, ketidakpastian, dan berbagai keadaan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Ayat 26 memberikan jawabannya:
“Karena TUHANlah yang menjadi tempat kepercayaanmu.”

Di sinilah letak perbedaannya.

Kita sering mencari rasa aman dengan memastikan bahwa semuanya berada dalam kendali kita.

Kita merasa tenang ketika pekerjaan aman, keluarga baik-baik saja, keuangan cukup, kesehatan baik, dan masa depan terlihat jelas.

Tetapi kalau ketenangan kita bergantung kepada keadaan, maka ketenangan itu akan hilang ketika keadaan berubah.

Keadaan dapat berubah.
Rencana dapat gagal.
Orang dapat mengecewakan.
Masa depan dapat terlihat tidak jelas.
Tetapi Tuhan tidak berubah.

Itulah sebabnya orang percaya dapat menghadapi sesuatu yang tidak diketahui tanpa harus hidup dikuasai ketakutan.

Ia tidak dapat melihat seluruh jalan di depannya.
Ia tidak tahu apa yang akan ditemuinya beberapa puluh meter kemudian.

Tetapi ia tetap dapat melangkah karena ia percaya kepada orang yang menuntunnya.

Begitu juga dengan kehidupan kita.

Iman bukan berarti kita mengetahui apa yang akan terjadi. Iman berarti kita percaya kepada Tuhan yang mengetahui apa yang akan terjadi.

Firman Tuhan berkata:
“Ia akan menjaga kakimu, sehingga tidak terperosok.”

Ada perbedaan besar antara Tuhan menghilangkan semua masalah dan Tuhan menjaga kita di tengah masalah.

Kadang-kadang kita berdoa agar Tuhan segera mengubah keadaan.

Tetapi dalam situasi tertentu, Tuhan justru menguatkan kita untuk melewati keadaan tersebut.

Kita mungkin tidak mendapatkan jawaban yang langsung.
Kita mungkin belum melihat jalan keluar.
Kita mungkin belum mengetahui bagaimana semuanya akan berakhir.

Tetapi kita dapat tetap berjalan karena kaki kita tidak berjalan sendirian.

Tuhan menjaga.
Tuhan menyertai.
Tuhan memegang.

Karena itu, jangan biarkan ketakutan terhadap kemungkinan masa depan mencuri damai sejahtera yang Tuhan berikan untuk hari ini.

Kita membayangkan kegagalan.
Kita membayangkan kehilangan.
Kita membayangkan masalah.
Kita membayangkan berbagai kemungkinan buruk.

Padahal semuanya belum tentu terjadi.

Amsal mengingatkan kita untuk kembali kepada dasar yang benar:
Bukan “Saya tahu apa yang akan terjadi,” tetapi “Saya tahu kepada siapa saya percaya.”

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.

Kita bahkan tidak tahu apa yang mungkin datang beberapa jam dari sekarang.

Tetapi kita tahu bahwa Tuhan ada di sana.

Ketika sesuatu datang secara tiba-tiba, kita tidak perlu menghadapi semuanya dengan kekuatan sendiri.

Ketika berita buruk datang, Tuhan tetap menjadi tempat kepercayaan.

Ketika rencana berubah, Tuhan tetap memegang langkah kita.

Ketika jalan di depan terlihat gelap, Tuhan tetap tahu ke mana kita sedang berjalan.

Jadi, jangan takut hanya karena masa depan tidak dapat kita lihat.



Jangan Ikuti Pemimpin Secara Buta

Jangan Ikuti Pemimpin Secara Buta


supaya engkau terlepas dari jalan yang jahat, dari orang yang mengucapkan tipu muslihat, dari mereka yang meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang gelap; yang bersukacita melakukan kejahatan, bersorak-sorak karena tipu muslihat yang jahat, yang berliku-liku jalannya dan yang sesat perilakunya;


Di keluarga ada orang tua.
Di gereja ada pemimpin rohani.
Di pekerjaan ada atasan.
Di komunitas ada orang yang dipercaya untuk memimpin.

Ketika seseorang berjalan di depan kita, secara alami kita cenderung mengikuti arah yang ia tunjukkan.

Tetapi Amsal 2:12–15 memberikan sebuah peringatan penting:
Tidak semua orang yang berjalan di depan kita adalah orang yang harus kita ikuti.

Mereka bahkan mengucapkan tipu muslihat dan membawa kehidupan mereka semakin jauh dari kebenaran.

Karena itu, hikmat bukan hanya diperlukan untuk menentukan apa yang benar dan salah, tetapi juga untuk menentukan siapa yang layak kita ikuti.

Maka: Jangan mengikuti pemimpin hanya karena dia pemimpin

Kita sering berpikir: “Dia pemimpin, jadi saya harus mengikuti.”

Tetapi kepemimpinan tidak berarti bahwa semua keputusan seorang pemimpin pasti benar.

Seseorang dapat memiliki jabatan, pengalaman, kemampuan berbicara, pengaruh, bahkan banyak pengikut—tetapi itu tidak otomatis berarti bahwa arah yang diberikannya benar.

Karena itu, pertanyaan hikmat bukan hanya:  “Siapa yang memimpin?”
Tetapi: “Ke mana dia membawa saya?”


Apakah ia membawa kita semakin dekat kepada Tuhan atau semakin jauh?

Apakah ia membawa kita kepada kebenaran atau kompromi?

Apakah ia mendorong kita kepada kasih dan keadilan atau kepada kebencian dan kepentingan diri?

Apakah ia membentuk karakter yang benar atau justru membenarkan kesalahan?

Jangan menyerahkan hati nurani kepada pemimpin

Ada bahaya ketika seseorang berkata: “Saya hanya mengikuti perintah.”

Tetapi Tuhan tidak memanggil kita untuk menyerahkan hati nurani sepenuhnya kepada manusia.

Ketika seorang pemimpin mengarahkan kita kepada sesuatu yang jelas bertentangan dengan kebenaran Tuhan, kita tidak boleh mengikutinya hanya karena ia memiliki jabatan.

Prinsip para rasul tetap berlaku: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” (Kisah Para Rasul 5:29)

Ini bukan alasan untuk memberontak terhadap semua pemimpin.

Sebaliknya, ini adalah pengingat bahwa kesetiaan kepada manusia tidak boleh menggantikan kesetiaan kepada Tuhan.

Kita dapat menghargai jasanya tanpa mengikuti semua keputusannya.

Kita dapat menghormati otoritas tanpa menyerahkan hati nurani kita kepada manusia.

Jalan yang salah tidak selalu terlihat buruk sejak awal.

Kadang-kadang semuanya dimulai dari sebuah perkataan.

“Ini demi kebaikan bersama.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Kalau kita tidak melakukan ini, kita akan kalah.”
“Ini hanya kompromi kecil.”

Sedikit demi sedikit, cara berpikir kita berubah.
Apa yang dahulu kita anggap salah mulai terasa biasa.
Apa yang dahulu membuat kita tidak nyaman mulai kita benarkan.

Amsal 2:12 mengingatkan tentang orang yang mengucapkan tipu muslihat.

Karena itu, kita harus berhati-hati terhadap perkataan yang membentuk cara berpikir kita.

Seorang pemimpin tidak hanya memimpin melalui keputusan. Ia juga memimpin melalui nilai, perkataan, dan cara berpikir yang ia tanamkan kepada orang-orang yang mengikutinya.

Maka jangan hanya bertanya:  “Siapa yang mengatakan ini?”
Tetapi tanyakan: “Apakah yang dikatakannya benar?”

Kesetiaan kepada manusia tidak boleh mengalahkan kebenaran

“Dia sudah banyak berjasa.”
“Dia sudah lama memimpin.”
“Dia sudah melakukan banyak hal baik.”

Semua itu mungkin benar.  Tetapi seseorang yang pernah melakukan banyak kebaikan tetap dapat membuat keputusan yang salah.

Karena itu, kesetiaan tidak berarti mengikuti seseorang dalam segala hal.  Kesetiaan yang sehat tetap memiliki batas:  Kita setia kepada kebenaran.

Jika seseorang membawa kita ke jalan yang salah, hikmat memberi keberanian untuk berkata: “Saya menghormati Anda, tetapi saya tidak dapat mengikuti arah ini.”

Amsal 2:15 menggambarkan orang-orang yang jalannya berliku-liku dan sesat.

Jalan yang salah dapat menjadi semakin sulit ditinggalkan jika kita sudah berjalan terlalu jauh.

Karena itu, ketika hikmat Tuhan menunjukkan bahwa kita sedang berada di jalan yang salah, jangan menunggu sampai semuanya menjadi lebih buruk.

Ada saat ketika hikmat berkata:  Berhenti.
Ada saat ketika hikmat berkata: Jangan ikut.
Dan ada saat ketika hikmat berkata: Kembali ke jalan yang benar.

Jangan mengikuti seseorang hanya karena ia populer.

Jangan mengikuti seseorang hanya karena ia memiliki jabatan.

Jangan mengikuti seseorang hanya karena banyak orang mengikutinya.

Dan jangan mengikuti seseorang hanya karena ia pernah berjasa.

Perhatikan jalannya.
Periksa perkataannya.
Lihat buah kehidupannya.
Dan bandingkan arah yang diberikannya dengan kebenaran Tuhan.

Sebab pemimpin yang salah dapat membuat jalan yang salah terlihat benar.