
Amsal 16:17
Menjauhi kejahatan itulah jalan orang jujur, siapa menjaga jalannya, memelihara nyawanya.
Pernahkah kita berkata kepada diri sendiri, “Saya tahu ini tidak benar, tetapi tidak ada salahnya mencoba sekali saja”?
Mungkin tentang sebuah kebohongan kecil, keuntungan yang tidak sepenuhnya jujur, pergaulan yang membawa pengaruh buruk, atau kebiasaan yang sebenarnya kita tahu harus dihentikan.
Sering kali, kita berpikir bahwa selama kita tidak melakukan kejahatan besar, berarti kita masih berada di jalan yang benar.
Padahal, kejatuhan seseorang tidak selalu dimulai dari keputusan besar. Ada kalanya semuanya bermula dari kompromi kecil yang terus dibiarkan.
Amsal 16:17 mengingatkan bahwa jalan orang jujur ditandai dengan kesediaannya menjauhi kejahatan.
Perhatikan bahwa ayat ini tidak hanya berbicara tentang melakukan kebenaran, tetapi juga tentang meninggalkan apa yang salah. Keduanya tidak dapat dipisahkan.
Kita mungkin ingin menjadi orang yang jujur, tetapi apakah kita bersedia menjauhi lingkungan yang mendorong kita untuk berbohong?
Kita ingin hidup kudus, tetapi apakah kita berani meninggalkan kebiasaan yang terus menyeret kita ke dalam dosa?
Kita ingin menjadi pribadi yang bijaksana, tetapi apakah kita mau mendengarkan nasihat ketika seseorang memperingatkan kita tentang jalan yang sedang kita tempuh?
Mengetahui mana yang benar tidak selalu berarti kita akan melakukannya.
Terkadang, kita sudah mengetahui kebenaran, tetapi tetap memilih jalan yang salah karena terlihat lebih mudah, lebih menyenangkan, atau lebih menguntungkan.
Itulah sebabnya menjaga jalan hidup membutuhkan ketegasan.
Ada saatnya kita harus berani berkata tidak, sekalipun orang lain menganggap kita terlalu kaku.
Ada saatnya kita harus meninggalkan sesuatu yang kita sukai karena menyadari bahwa hal itu sedang merusak kehidupan kita.
Ada pula saatnya kita harus menjauh dari pengaruh tertentu, bukan karena merasa lebih baik daripada orang lain, melainkan karena menyadari kelemahan diri sendiri.
Menariknya, Amsal 16:17 menghubungkan tindakan menjaga jalan dengan memelihara nyawa.
Ini menunjukkan bahwa pilihan moral bukanlah perkara sepele.
Jalan yang salah dapat membawa konsekuensi yang merusak kepercayaan, menghancurkan hubungan, melukai keluarga, dan mengganggu kehidupan kita sendiri.
Tentu saja, ayat ini bukan berarti orang benar akan terbebas dari semua penderitaan.
Namun, hikmat Tuhan menolong kita menghindari banyak kerusakan yang timbul ketika kita sengaja memilih jalan yang salah.
Bagi kita yang percaya kepada Kristus, menjauhi kejahatan bukanlah usaha untuk mendapatkan kasih Tuhan melalui perilaku yang sempurna.
Sebaliknya, karena kita telah menerima kasih karunia-Nya, kita dipanggil untuk menjalani kehidupan yang mencerminkan kebenaran-Nya.
Kita belajar berkata tidak kepada dosa dan berkata ya kepada kehendak Tuhan, dengan pertolongan Roh Kudus.
Hari ini, jangan hanya bertanya, “Apakah yang saya lakukan sudah benar?”
Tanyakan juga, “Adakah jalan yang seharusnya saya tinggalkan?”
Jangan menunggu sampai kebiasaan buruk menghancurkan hidup.
Jangan menunggu sampai kepercayaan orang lain hilang.
Jangan menunggu sampai kita jatuh terlalu jauh untuk menyadari bahwa kita telah mengambil jalan yang salah.
Orang bijaksana bukan hanya tahu jalan yang harus ditempuh, tetapi juga tahu jalan yang harus ditinggalkan.
Sebab, terkadang, keputusan terbaik untuk menjaga kehidupan bukanlah melangkah lebih jauh, melainkan berani berbalik dan menjauh dari kejahatan.
Menjaga hidup bukan hanya tentang memilih jalan yang benar, tetapi juga berani meninggalkan jalan yang salah.