Berani Menjauh dari Kejahatan


Menjauhi kejahatan itulah jalan orang jujur, siapa menjaga jalannya, memelihara nyawanya.


Pernahkah kita berkata kepada diri sendiri, “Saya tahu ini tidak benar, tetapi tidak ada salahnya mencoba sekali saja”?

Mungkin tentang sebuah kebohongan kecil, keuntungan yang tidak sepenuhnya jujur, pergaulan yang membawa pengaruh buruk, atau kebiasaan yang sebenarnya kita tahu harus dihentikan.

Padahal, kejatuhan seseorang tidak selalu dimulai dari keputusan besar. Ada kalanya semuanya bermula dari kompromi kecil yang terus dibiarkan.

Amsal 16:17 mengingatkan bahwa jalan orang jujur ditandai dengan kesediaannya menjauhi kejahatan.

Kita mungkin ingin menjadi orang yang jujur, tetapi apakah kita bersedia menjauhi lingkungan yang mendorong kita untuk berbohong?

Kita ingin hidup kudus, tetapi apakah kita berani meninggalkan kebiasaan yang terus menyeret kita ke dalam dosa?

Kita ingin menjadi pribadi yang bijaksana, tetapi apakah kita mau mendengarkan nasihat ketika seseorang memperingatkan kita tentang jalan yang sedang kita tempuh?

Terkadang, kita sudah mengetahui kebenaran, tetapi tetap memilih jalan yang salah karena terlihat lebih mudah, lebih menyenangkan, atau lebih menguntungkan.

Ada saatnya kita harus berani berkata tidak, sekalipun orang lain menganggap kita terlalu kaku.

Ada saatnya kita harus meninggalkan sesuatu yang kita sukai karena menyadari bahwa hal itu sedang merusak kehidupan kita.

Ada pula saatnya kita harus menjauh dari pengaruh tertentu, bukan karena merasa lebih baik daripada orang lain, melainkan karena menyadari kelemahan diri sendiri.

Ini menunjukkan bahwa pilihan moral bukanlah perkara sepele.

Jalan yang salah dapat membawa konsekuensi yang merusak kepercayaan, menghancurkan hubungan, melukai keluarga, dan mengganggu kehidupan kita sendiri.

Tentu saja, ayat ini bukan berarti orang benar akan terbebas dari semua penderitaan.

Namun, hikmat Tuhan menolong kita menghindari banyak kerusakan yang timbul ketika kita sengaja memilih jalan yang salah.

Sebaliknya, karena kita telah menerima kasih karunia-Nya, kita dipanggil untuk menjalani kehidupan yang mencerminkan kebenaran-Nya.

Kita belajar berkata tidak kepada dosa dan berkata ya kepada kehendak Tuhan, dengan pertolongan Roh Kudus.

Hari ini, jangan hanya bertanya, “Apakah yang saya lakukan sudah benar?”

Tanyakan juga, “Adakah jalan yang seharusnya saya tinggalkan?”

Jangan menunggu sampai kebiasaan buruk menghancurkan hidup.

Jangan menunggu sampai kepercayaan orang lain hilang.

Jangan menunggu sampai kita jatuh terlalu jauh untuk menyadari bahwa kita telah mengambil jalan yang salah.

Orang bijaksana bukan hanya tahu jalan yang harus ditempuh, tetapi juga tahu jalan yang harus ditinggalkan.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *