Pemeliharaan Tuhan yang Pasti

Pemeliharaan Tuhan yang Pasti


TUHAN tidak membiarkan orang benar menderita kelaparan, tetapi keinginan orang fasik ditolak-Nya.


Namun, rasa aman seperti itu mudah berubah.

Hari ini kita merasa cukup, tetapi besok bisa muncul kebutuhan baru.

Hari ini kita memiliki apa yang kita inginkan, tetapi tidak lama kemudian kita menginginkan sesuatu yang lain.

Jika kepuasan hidup bergantung pada terpenuhinya semua keinginan, kita tidak akan pernah benar-benar merasa cukup.

Amsal 10:3 mengingatkan bahwa Tuhan memperhatikan kebutuhan hidup orang benar.

Ia tidak menjanjikan bahwa hidup orang benar akan selalu bebas dari kekurangan atau penderitaan.

Tetapi Ia menjanjikan sesuatu yang lebih mendasar: kita tidak pernah berada di luar perhatian dan pemeliharaan-Nya.

Tidak semua yang kita inginkan adalah sesuatu yang kita perlukan.

Bahkan, ada keinginan yang jika terus dikejar justru dapat menjauhkan kita dari Tuhan.

Karena itu, hidup dalam iman bukan berarti meminta Tuhan memenuhi semua keinginan kita, tetapi belajar mempercayai bahwa apa yang Tuhan berikan dan apa yang Tuhan tahan sama-sama berada dalam hikmat-Nya.

Ia dapat bekerja dengan rajin, merencanakan masa depan, menggunakan uang dengan bijaksana, dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya.

Tetapi pada akhirnya ia tahu bahwa sumber kecukupannya bukanlah pekerjaannya, hartanya, atau kemampuannya sendiri.

Karena itu, ketika ada sesuatu yang belum kita miliki, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Tuhan sedang meninggalkan kita.

Dan ketika keinginan kita tidak terpenuhi, jangan langsung menganggap bahwa Tuhan tidak baik.

Mungkin Tuhan sedang mengajar kita membedakan antara apa yang kita inginkan dan apa yang benar-benar kita perlukan.

Belajarlah berkata:
“Tuhan, aku akan tetap percaya, bukan karena semua keinginanku terpenuhi, tetapi karena aku tahu Engkau tidak pernah meninggalkanku.”



Panggilan Suara yang Harus Ditolak

Panggilan Suara yang Harus Ditolak


Perempuan bebal cerewet, sangat tidak berpengalaman ia, dan tidak tahu malu. Ia duduk di depan pintu rumahnya di atas kursi di tempat-tempat yang tinggi di kota, dan orang-orang yang berlalu di jalan, yang lurus jalannya diundangnya dengan kata-kata: ”Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari”; dan kepada orang yang tidak berakal budi katanya:


Setiap hari kita mendengar banyak suara.

Ada suara dari keluarga, teman, lingkungan kerja, media sosial, budaya, bahkan dari dalam diri kita sendiri.

Masing-masing menawarkan pendapat, nasihat, dan jalan yang kelihatannya masuk akal.

Dalam bagian ini, perempuan bebal juga memiliki suara.

Ia duduk di tempat yang mudah terlihat dan memanggil orang-orang yang lewat.

Ia bahkan menggunakan undangan yang terdengar sederhana:

“Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari.”

Bukankah demikian juga cara banyak godaan bekerja?

Ia tidak selalu datang dengan mengatakan, “Mari lakukan sesuatu yang jahat.”

Sering kali ia berkata:

“Coba saja.”
“Tidak ada yang tahu.”
“Sekali ini saja.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Jangan terlalu serius.”

Undangannya terdengar biasa. Bahkan mungkin terasa menyenangkan.

Itulah sebabnya kita tidak boleh menilai sebuah suara hanya dari seberapa menarik perkataannya.

Kita perlu bertanya:
“Apakah suara ini membawa saya semakin dekat kepada hikmat Tuhan, atau justru menjauhkan saya dari-Nya?”

Perempuan bebal dalam bagian ini menarik orang yang belum memiliki kemampuan untuk membedakan.

Karena itu, salah satu tanda kedewasaan bukanlah bahwa kita mendengar semakin sedikit suara, tetapi bahwa kita semakin mampu membedakan suara mana yang layak didengar.

Tidak semua nasihat harus diterima.
Tidak semua pendapat harus dipercaya.
Tidak semua ajakan harus diikuti.

Hari ini mungkin ada sebuah suara yang sedang memanggil kita.

Mungkin suara untuk berkompromi dengan kebenaran.
Mungkin suara untuk membalas seseorang.
Mungkin suara untuk mengejar sesuatu dengan mengorbankan prinsip.

Atau mungkin suara yang mengatakan bahwa kita tidak perlu terlalu peduli dengan hikmat Tuhan.

Jangan berhenti hanya karena suara itu memanggil.

Belajarlah mengenali siapa yang berbicara dan ke mana suara itu membawa kita.



Bukan Sekedar Jadi Kaya

Bukan Sekedar Jadi Kaya


Kekayaan dan kehormatan ada padaku, juga harta yang tetap dan keadilan.


Tidak semua kekayaan membawa kebaikan.  

Seseorang bisa memiliki banyak harta tetapi kehilangan ketenangan, integritas, keluarga, bahkan dirinya sendiri.

Kekayaan yang diperoleh dengan mengorbankan kebenaran pada akhirnya bukanlah kekayaan yang benar-benar memperkaya hidup.

Apa yang dimaksud dengan “harta yang tetap”?

Ini bukan berarti harta yang tidak mungkin berkurang atau hilang.

Amsal sedang menunjuk kepada kekayaan yang memiliki dasar yang kokoh dan nilai yang bertahan, bukan sekadar keuntungan sesaat yang diperoleh dengan cara apa pun.

Kekayaan yang bernilai bukan hanya tentang jumlah yang kita miliki, tetapi juga tentang bagaimana kekayaan itu diperoleh dan karakter seperti apa yang menyertainya.

Harta yang dibangun di atas hikmat, kejujuran, dan keadilan memiliki nilai yang jauh lebih dalam daripada keuntungan besar yang diperoleh dengan mengorbankan kebenaran.

Ini kemudian menunjukkan bahwa hikmat tidak hanya berbicara tentang bagaimana mendapatkan sesuatu, tetapi juga tentang bagaimana mendapatkan dan menggunakannya dengan benar.

Hikmat mengajar kita bahwa uang adalah alat, bukan tujuan hidup.

Kita boleh bekerja keras, membangun usaha, menabung, dan menikmati hasil pekerjaan.

Namun semuanya harus tetap berada di bawah nilai yang lebih tinggi: kebenaran dan keadilan.

Jangan hanya mengejar kekayaan yang bertambah.

Kejarlah kehidupan yang bertumbuh dalam hikmat, integritas, dan keadilan.

Dengan demikian, apa yang kita miliki tidak menjadi sumber kehancuran, tetapi menjadi sesuatu yang dapat dipakai untuk menghadirkan kebaikan.



Jaga Arah Hatimu

Jaga Arah Hatimu


Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku, perhatikanlah perkataan mulutku. Janganlah hatimu membelok ke jalan-jalannya, janganlah menempuh jalan-jalannya.


Orang lain mungkin baru melihat ketika keputusan yang salah dibuat.

Ketika sebuah hubungan mulai disembunyikan.
Ketika sebuah kebiasaan dosa akhirnya terbongkar.

Ketika seseorang melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Tetapi Tuhan melihat bahwa prosesnya sering kali dimulai lebih awal—di dalam hati.

Itulah sebabnya setelah menceritakan panjang lebar tentang seorang muda yang terjerat oleh bujukan perempuan jalang, Salomo berhenti sejenak dan memberikan peringatan kepada pembacanya: “Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku.”

Seakan-akan Salomo berkata, “Jangan hanya membaca kisah ini sebagai cerita tentang orang lain. Belajarlah sebelum hal yang sama terjadi kepadamu.”

Kemudian muncul kalimat yang sangat penting: “Janganlah hatimu membelok ke jalan-jalannya.”

Karena sebelum kaki berjalan ke tempat yang salah, hati biasanya sudah lebih dahulu menginginkannya.

Seseorang dapat tetap terlihat baik di luar, tetapi diam-diam mulai menikmati sesuatu yang seharusnya ia jauhi.

Ia mulai memberi ruang bagi pikiran tertentu.
Ia mulai menikmati perhatian yang seharusnya tidak dinikmati.
Ia mulai membenarkan percakapan yang sebelumnya ia tahu tidak benar.
Ia mulai berkata dalam hati, “Tidak apa-apa, saya masih bisa mengendalikan diri.”

Kita membayangkan bahwa masalahnya adalah ketika kita akhirnya melakukan dosa.

Padahal sering kali masalah yang lebih awal adalah ketika hati mulai tertarik kepadanya.

Pencobaan tidak selalu datang sebagai sesuatu yang jelas-jelas jahat.

Justru sering kali ia datang dalam bentuk sesuatu yang terasa menyenangkan, masuk akal, atau tidak berbahaya. Karena itu, yang perlu dijaga bukan hanya tindakan kita, tetapi juga arah hati kita.

Jalan menunjukkan arah.

Ketika seseorang mulai berjalan di sebuah jalan, ia sedang bergerak menuju suatu tujuan. Demikian juga dengan kehidupan.

Setiap keputusan kecil dapat mengarahkan kita kepada sesuatu.

Satu kompromi.
Satu kebiasaan yang dibiarkan.
Satu percakapan yang seharusnya dihentikan tetapi diteruskan.
Satu pikiran yang terus dipelihara.
Satu keinginan yang tidak pernah dibawa kepada Tuhan.

Kemudian, tanpa terasa, apa yang dahulu membuat kita tidak nyaman mulai terasa biasa.

Ada saat ketika kita perlu berhenti dan bertanya dengan jujur: “Ke mana sebenarnya hati saya sedang bergerak?”

Bukan hanya, “Apa yang sedang saya lakukan?” tetapi, “Apa yang mulai saya inginkan?”

Bukan hanya, “Apakah ini sudah menjadi dosa?” tetapi, “Apakah ini sedang membawa hati saya semakin dekat kepada dosa?”

Kita dapat menemukan pembenaran untuk hampir semua hal yang sudah kita inginkan.

Ketika hati sudah membelok, pikiran sering kali ikut mencari alasan untuk membenarkan arah tersebut.

Karena itu, hikmat bukan hanya kemampuan mengetahui mana yang benar dan salah.

Hikmat juga berarti memiliki kerendahan hati untuk mendengarkan peringatan sebelum kita mengalami akibat dari pilihan yang salah.

Ada sesuatu yang sangat penting di sini: orang yang bijaksana bersedia mendengarkan sebelum terlambat.

Kita hidup dalam budaya yang sering mengatakan, “Ikuti kata hatimu.”

Tetapi Alkitab justru mengajarkan agar hati kita diarahkan oleh kebenaran.

Tidak semua keinginan layak diikuti.
Tidak semua perasaan adalah kompas yang benar.
Tidak semua ketertarikan harus diberi ruang.

Ada keinginan yang harus ditolak, bukan dipelihara.
Ada pintu yang harus ditutup, bukan dicoba dibuka sedikit.

Ada jalan yang harus dihindari, bukan dijelajahi untuk mengetahui seberapa dekat kita dapat berjalan tanpa jatuh.

Mungkin hari ini tidak ada sesuatu yang terlihat salah dalam hidup kita.

Namun mungkin ada sesuatu yang sedang perlahan membelokkan hati kita.

Sesuatu yang terus kita pikirkan.
Sesuatu yang mulai kita rindukan.

Sesuatu yang kita tahu tidak sehat, tetapi belum bersedia kita lepaskan.

Tuhan tidak memberikan peringatan untuk membatasi sukacita kita, tetapi untuk menjaga kita dari kehancuran.

Nasihat hikmat adalah bentuk kasih.

Ketika Tuhan berkata, “Jangan tempuh jalan itu,” Dia sedang menunjukkan bahwa ada jalan yang pada akhirnya tidak membawa kita kepada kehidupan.

Sebab hati yang terus dibiarkan membelok pada akhirnya akan membawa kaki mengikuti arahnya.

Hari ini mungkin masih ada waktu untuk berhenti.

Masih ada kesempatan untuk menarik diri.

Masih ada kesempatan untuk mengakui bahwa hati kita mulai tertarik kepada sesuatu yang salah.

Jangan menunggu sampai dosa menjadi tindakan yang tidak dapat disembunyikan lagi.

Dengarkan hikmat sebelum terlambat.
Perhatikan hati sebelum membelok.

Dan ketika Tuhan menunjukkan bahwa kita sedang berada di jalan yang salah, jangan terus berjalan hanya karena kita sudah memulainya.

Berbaliklah !



Jangan Hancurkan Diri Sendiri

Jangan Hancurkan Diri Sendiri


Siapa melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusakkan diri sendiri. Siksa dan cemooh diperolehnya, malunya tidak terhapuskan.


“Saya menginginkannya.”
“Saya merasa bahagia ketika melakukannya.”
“Tidak ada yang tahu.”
“Sekali ini saja.”

Namun, seperti kemarin kita renungankan: keinginan bukanlah kompas kebenaran.

Bahkan, sesuatu yang terasa menyenangkan dalam beberapa menit dapat menghasilkan luka yang bertahun-tahun harus kita tanggung.

Amsal berbicara tentang perzinaan dengan bahasa yang sangat keras: orang yang melakukannya “merusakkan diri sendiri.”

Kepercayaan dapat hilang.
Pernikahan dapat terluka.
Keluarga dapat hancur.
Nama baik dapat tercemar.
Hati nurani dapat terluka.

Dan yang paling serius, hubungan kita dengan Tuhan terganggu karena kita dengan sengaja memilih jalan yang bertentangan dengan kehendak-Nya.

Tetapi kita membiarkan keinginan berbicara lebih keras daripada hikmat.

Karena itu, jangan menunggu sampai godaan datang untuk memutuskan apa yang benar.

Tetapkan kebenaran sebelum keinginan menguasai hati.

Ketika hati berkata, “Aku menginginkannya,”
firman Tuhan mengingatkan, “Apakah ini benar?”

Ketika pikiran berkata, “Tidak akan ada akibatnya,”
hikmat berkata, “Dosa selalu memiliki konsekuensi.”

Dan ketika godaan berkata, “Sekali saja,” kita perlu mengingat bahwa satu keputusan yang salah dapat membawa kerusakan yang jauh lebih besar daripada kesenangan yang ditawarkan.

Hidup berhikmat berarti kita tidak menjadikan keinginan sebagai tuan atas hidup kita.

Hari ini, mungkin ada sesuatu yang sedang kita inginkan tetapi kita tahu bahwa Tuhan tidak menghendakinya.

Jangan ukur kebenaran berdasarkan seberapa kuat keinginan itu.

Biarkan firman Tuhan menjadi kompas. Bukan perasaan kita.



Keinginan Bukanlah Kompas Kebenaran

Keinginan Bukanlah Kompas Kebenaran


Hai anakku, mengapa engkau berahi akan perempuan jalang, dan memeluk dada perempuan lain?


Ada hal-hal yang terlihat indah, menyenangkan, bahkan membuat hati berdebar, tetapi tetap salah karena bukan bagian yang Tuhan berikan kepada kita.

Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah saya sudah melakukan dosa?” tetapi juga, “Ke mana keinginan saya sedang membawa saya?”

Seseorang dapat mulai dengan sekadar menikmati perhatian dari orang lain.

Kemudian mulai menunggu pesan darinya.
Mulai mencari kesempatan untuk bertemu.
Mulai membandingkan pasangan sendiri dengan orang tersebut.

Perlahan-lahan, hati mulai memberikan ruang kepada seseorang yang seharusnya tidak diberi ruang.

Itulah sebabnya hikmat tidak menunggu sampai kita jatuh.

Hikmat mengajarkan kita untuk mengenali arah sebelum sampai di tujuan yang salah.

Jika seseorang sudah menikah, kesetiaan bukan hanya berarti tidak berselingkuh secara fisik.

Kesetiaan juga berarti tidak memberi makan keinginan yang dapat membawa kita kepada ketidaksetiaan.

Dan bagi kita semua, prinsipnya lebih luas: jangan membiarkan hati menginginkan sesuatu hanya karena kita mampu mendapatkannya.

Ada banyak hal yang kita inginkan tetapi tidak Tuhan kehendaki.

Kedewasaan rohani terlihat ketika kita mampu berkata:
“Saya menginginkannya, tetapi saya tidak akan mengambilnya, karena saya ingin hidup dalam kehendak Tuhan.”

Godaan tidak selalu meminta kita melakukan sesuatu yang besar sekaligus.

Sering kali ia hanya meminta kita memberi sedikit ruang kepada sebuah keinginan.

Karena itu, jangan hanya menjaga langkahmu. Jagalah keinginanmu.



Tidak Sadar Tersandung

Tidak Sadar Tersandung


Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung.


Ia tidak bisa melihat kursi di depannya. Ia berjalan, lalu tersandung.

Ia bangkit dan berjalan lagi.

Beberapa langkah kemudian, ia tersandung lagi.

Yang menjadi masalah bukan hanya karena ia tersandung.  

Masalahnya adalah ia tidak dapat melihat apa yang membuatnya tersandung.

Dosa dapat bekerja seperti kegelapan.  

Pada awalnya mungkin kita masih tahu bahwa sesuatu itu salah.

Tetapi jika terus-menerus dilakukan, hati dapat menjadi semakin terbiasa.

Apa yang dahulu membuat kita merasa bersalah mulai terasa biasa.
Apa yang dahulu kita hindari mulai kita toleransi.

Yang lebih berbahaya, kita kemudian mulai mencari alasan mengapa kita terus jatuh.

Kita menyalahkan keadaan.
Kita menyalahkan orang lain.
Kita menyalahkan tekanan hidup.
Kita menyalahkan kelemahan kita.

Padahal mungkin masalah utamanya adalah jalan yang kita pilih.

Ini adalah salah satu akibat paling serius dari hidup dalam kegelapan: kita kehilangan kemampuan untuk melihat sumber masalah dengan jujur.

Firman Tuhan bukan hanya menunjukkan ke mana kita harus pergi.
Firman Tuhan juga menunjukkan mengapa kita terus tersandung.

Mungkin ada dosa yang selama ini kita pelihara.
Mungkin ada kebiasaan yang kita anggap kecil.
Mungkin ada kompromi yang terus kita benarkan.

Mungkin ada nasihat yang sebenarnya sudah berkali-kali Tuhan berikan, tetapi kita memilih untuk tidak mendengarkannya.

Mintalah Tuhan menerangi hati kita.

Sebab terkadang yang paling kita perlukan bukan sekadar kekuatan untuk bangkit setelah jatuh, tetapi terang untuk melihat apa yang membuat kita terus jatuh.

Jalan orang benar digambarkan seperti cahaya fajar yang semakin terang.

Tuhan tidak memanggil kita untuk berjalan dalam kegelapan dan menebak-nebak arah.



Tidak Selalu Mudah

Tidak Selalu Mudah


Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya menuju kesejahteraan.


Kalau ada jalan yang lebih cepat, kita pilih yang cepat.

Kalau ada pilihan yang tidak membutuhkan pengorbanan, kita memilihnya.

Kalau harus memilih antara melakukan yang benar dan melakukan yang nyaman, hati kita sering tergoda memilih yang nyaman.

Ada jalan yang mudah untuk mendapatkan uang, tetapi tidak jujur.

Ada jalan yang mudah untuk menyelesaikan konflik, tetapi dengan menyimpan kepahitan.

Ada jalan yang mudah untuk mendapatkan penerimaan orang lain, tetapi dengan mengorbankan prinsip.

Ada jalan yang mudah untuk memuaskan keinginan, tetapi akhirnya membawa penyesalan.

Jalan hikmat mungkin tidak selalu paling mudah, tetapi membawa kita kepada kehidupan yang benar.

Ketika kita memilih kejujuran meskipun merugikan, mengampuni meskipun terluka, bersabar meskipun ingin membalas, dan menaati Tuhan meskipun harus menyangkal diri, kita sedang berjalan di jalan hikmat.

Kesejahteraan bukan berarti semua keinginan kita terpenuhi. Yang ditawarkan hikmat adalah kehidupan yang berjalan dalam arah yang benar bersama Tuhan.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Mana jalan yang paling mudah?”

Tanyakan juga:
“Mana jalan yang paling sesuai dengan hikmat Tuhan?”



Tidak Semua Nasihat Perlu Diikuti

Tidak Semua Nasihat Perlu Diikuti


supaya engkau terlepas dari jalan yang jahat, dari orang yang mengucapkan tipu muslihat.


Kita sering berpikir bahwa sesuatu yang berbahaya pasti terlihat buruk sejak awal. Padahal tidak selalu demikian.

Seseorang memberikan nasihat. Kita mendengarnya.

Kedengarannya masuk akal.  Bahkan mungkin terdengar seperti sesuatu yang menguntungkan kita.

Sedikit demi sedikit, kita mulai mempertimbangkannya.

Sampai akhirnya kita melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Tidak semua orang yang berbicara dengan percaya diri sedang mengatakan kebenaran.

Tidak semua nasihat yang terdengar pintar berasal dari hikmat.

Dan tidak semua kesempatan yang terlihat menguntungkan layak kita ambil.

Kadang-kadang masalah kita bukan karena kita tidak tahu apa yang benar.

Kita sebenarnya tahu.  Tetapi kita terlalu mudah dipengaruhi oleh perkataan orang lain.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apakah perkataan ini masuk akal?”

Tanyakan juga, “Apakah perkataan ini sesuai dengan kebenaran Tuhan?”

Hikmat membuat kita tidak mudah terbawa emosi, tekanan, keuntungan sesaat, atau bujukan orang lain.

Hari ini mungkin ada banyak suara yang mencoba memengaruhi keputusan kita.

Ada suara yang mengatakan, “Tidak apa-apa.”
Ada yang berkata, “Semua orang juga melakukannya.”
Ada yang membisikkan, “Kamu akan rugi kalau tidak ikut.”

Sebab jalan yang benar tidak selalu merupakan jalan yang paling mudah, dan perkataan yang benar tidak selalu merupakan perkataan yang paling menyenangkan untuk didengar.

Mintalah kepada Tuhan hati yang peka terhadap kebenaran. Jangan mudah terpikat oleh perkataan manusia. Biarlah hikmat Tuhan menjaga pikiran, hati, dan setiap langkah kita.



Jangan Sampai Dirimu Dibujuk

Jangan Sampai Dirimu Dibujuk


Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut.


Ada ajakan yang terdengar sederhana:

“Sekali saja.”
“Tidak akan ada yang tahu.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Santai saja, jangan terlalu serius.”

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar sepele. Tetapi sering kali, masalahnya bukan pada besarnya ajakan tersebut. Masalahnya adalah ke mana ajakan itu membawa kita.

Kita dapat mengetahui bahwa sesuatu itu salah, tetapi tetap jatuh karena terlalu lama mendengarkan orang yang membujuk kita untuk melakukannya.

Karena itu, hikmat bukan hanya kemampuan mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.

Hikmat juga berarti berani mengambil jarak dari pengaruh yang sedang membawa kita menjauh dari kebenaran.

Bukan karena kita merasa lebih baik daripada orang lain.
Bukan karena kita ingin menghakimi.

Tetapi karena kita tahu bahwa ada jalan yang tidak boleh kita ikuti.

Jangan menunggu sampai hati kita menjadi lemah untuk kemudian mencari kekuatan.

Jangan menunggu sampai kita terjebak untuk kemudian mencoba keluar.

Sebab sering kali, kemenangan atas dosa bukan terjadi ketika kita berhasil keluar dari pencobaan, tetapi ketika kita tidak pernah masuk ke dalamnya.

Hari ini, mungkin ada suara yang sedang membujuk kita untuk melakukan sesuatu yang kita tahu tidak benar.

Jangan bernegosiasi terlalu lama dengan dosa.
Dengarkan firman Tuhan, bukan bujukan dosa.