Jangan Hancurkan Diri Sendiri


Siapa melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusakkan diri sendiri. Siksa dan cemooh diperolehnya, malunya tidak terhapuskan.


“Saya menginginkannya.”
“Saya merasa bahagia ketika melakukannya.”
“Tidak ada yang tahu.”
“Sekali ini saja.”

Namun, seperti kemarin kita renungankan: keinginan bukanlah kompas kebenaran.

Bahkan, sesuatu yang terasa menyenangkan dalam beberapa menit dapat menghasilkan luka yang bertahun-tahun harus kita tanggung.

Amsal berbicara tentang perzinaan dengan bahasa yang sangat keras: orang yang melakukannya “merusakkan diri sendiri.”

Kepercayaan dapat hilang.
Pernikahan dapat terluka.
Keluarga dapat hancur.
Nama baik dapat tercemar.
Hati nurani dapat terluka.

Dan yang paling serius, hubungan kita dengan Tuhan terganggu karena kita dengan sengaja memilih jalan yang bertentangan dengan kehendak-Nya.

Tetapi kita membiarkan keinginan berbicara lebih keras daripada hikmat.

Karena itu, jangan menunggu sampai godaan datang untuk memutuskan apa yang benar.

Tetapkan kebenaran sebelum keinginan menguasai hati.

Ketika hati berkata, “Aku menginginkannya,”
firman Tuhan mengingatkan, “Apakah ini benar?”

Ketika pikiran berkata, “Tidak akan ada akibatnya,”
hikmat berkata, “Dosa selalu memiliki konsekuensi.”

Dan ketika godaan berkata, “Sekali saja,” kita perlu mengingat bahwa satu keputusan yang salah dapat membawa kerusakan yang jauh lebih besar daripada kesenangan yang ditawarkan.

Hidup berhikmat berarti kita tidak menjadikan keinginan sebagai tuan atas hidup kita.

Hari ini, mungkin ada sesuatu yang sedang kita inginkan tetapi kita tahu bahwa Tuhan tidak menghendakinya.

Jangan ukur kebenaran berdasarkan seberapa kuat keinginan itu.

Biarkan firman Tuhan menjadi kompas. Bukan perasaan kita.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *