
Amsal 28:23
Siapa menegur orang, kemudian akan lebih disayangi dari pada orang yang menjilat.
Kita semua senang dipuji.
Kita senang ketika orang mengatakan bahwa keputusan kita benar, pekerjaan kita baik, dan pilihan kita sudah tepat.
Tetapi justru karena itulah kita membutuhkan orang yang berani mengatakan kebenaran ketika kita sedang salah.
Tidak mudah menjadi orang yang menegur.
Kita mungkin takut hubungan menjadi renggang. Kita takut dianggap menghakimi.
Kita juga takut orang tersebut marah atau menjauh.
Akibatnya, terkadang kita memilih diam.
Kita melihat kesalahan, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Kita tahu seseorang sedang mengambil arah yang salah, tetapi kita memilih berkata, “Tidak apa-apa.”
Amsal 28:23 mengingatkan bahwa kasih tidak selalu berbicara dengan kata-kata yang menyenangkan.
Ada saatnya kasih harus berkata, “Ini tidak benar,” atau, “Kamu perlu berhenti sebelum semuanya menjadi lebih buruk.”
Namun, cara kita menegur sangat penting.
Teguran yang lahir dari kesombongan akan terasa seperti serangan.
Teguran yang lahir dari kasih akan berusaha memulihkan.
Tujuannya bukan membuat orang lain merasa kecil, melainkan menolongnya melihat sesuatu yang mungkin tidak dapat ia lihat sendiri.
Yesus sendiri tidak pernah takut menyampaikan kebenaran.
Tetapi kebenaran yang Ia sampaikan selalu berada dalam kerangka kasih dan pemulihan.
Karena itu, sebelum menegur orang lain, tanyakan kepada diri sendiri: Apakah saya sedang berusaha menolong, atau hanya melampiaskan kekesalan?
Di sisi lain, kita juga perlu belajar menerima teguran.
Jangan hanya mencari orang yang selalu mengatakan apa yang ingin kita dengar.
Bersyukurlah untuk orang yang cukup mengasihi kita untuk mengatakan apa yang perlu kita dengar.
Pujian membuat kita nyaman, tetapi teguran yang benar dapat membuat kita bertumbuh.
Hari ini, mungkin Tuhan sedang memakai seseorang untuk menegur kita.
Jangan buru-buru menolak.
Dengarkan, renungkan, dan periksa diri kita di hadapan Tuhan.
Dan jika suatu hari kita harus menegur seseorang, lakukanlah dengan hati yang rendah dan kasih yang tulus.
Jangan menjilat demi diterima.
Jangan menegur demi menang.
Katakan kebenaran demi membangun.
Orang yang menjilat membuat kita nyaman; orang yang mengasihi berani menolong kita bertumbuh.