
Amsal 8:20-21
Aku berjalan pada jalan kebenaran, di tengah-tengah jalan keadilan, untuk menganugerahkan harta kepada orang yang mengasihi aku, dan mengisi penuh perbendaharaan mereka.
Dunia sering mengukur keberhasilan seseorang berdasarkan apa yang dimilikinya.
Kekayaan, jabatan, rumah, kendaraan, dan berbagai pencapaian materi menjadi ukuran yang digunakan untuk menilai apakah seseorang telah berhasil dalam hidupnya.
Tidak sedikit orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengejar semua itu.
Namun, di tengah perlombaan mencari kekayaan, muncul sebuah pertanyaan penting: apakah memiliki banyak harta berarti seseorang telah memiliki kehidupan yang berhikmat?
Amsal 8:20-21 memberikan perspektif yang berbeda. Hikmat digambarkan berjalan di jalan kebenaran dan keadilan.
Ia tidak menawarkan jalan pintas untuk memperoleh keuntungan, apalagi menghalalkan segala cara demi mencapai kekayaan.
Sebaliknya, hikmat mengarahkan manusia untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan kebenaran Allah.
Dengan kata lain, cara seseorang memperoleh sesuatu sama pentingnya dengan apa yang berhasil diperolehnya.
Ayat 21 berbicara tentang harta dan perbendaharaan yang dianugerahkan kepada orang yang mengasihi hikmat.
Namun, kita perlu memahami bagian ini dengan tepat. Firman Tuhan tidak sedang menjanjikan bahwa setiap orang yang hidup benar pasti menjadi kaya secara materi.
Alkitab sendiri mencatat banyak orang yang hidup setia kepada Allah tetapi mengalami kemiskinan, penderitaan, bahkan kehilangan segala sesuatu.
Karena itu, kekayaan yang dimaksud tidak boleh dibatasi pada ukuran materi.
Hikmat memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu kehidupan yang dibentuk oleh kebenaran Allah.
Seseorang mungkin memiliki banyak harta, tetapi kehilangan kejujuran.
Ia mungkin memiliki kedudukan tinggi, tetapi tidak memiliki integritas.
Ia mungkin berhasil secara finansial, tetapi keluarganya hancur karena keserakahan dan ambisi.
Semua itu menunjukkan bahwa kekayaan materi tidak selalu berjalan seiring dengan kekayaan hidup yang sesungguhnya.
Sebaliknya, orang yang mengasihi hikmat belajar untuk bekerja dengan jujur, mengambil keputusan dengan bijaksana, memperlakukan orang lain dengan adil, dan menggunakan apa yang dimilikinya dengan bertanggung jawab.
Ia tidak menjadikan kekayaan sebagai tujuan tertinggi, melainkan sebagai sesuatu yang harus dikelola di hadapan Allah.
Karena itu, mengasihi hikmat berarti belajar mengikuti jalan yang dikehendaki Allah, sekalipun jalan tersebut tidak selalu memberikan keuntungan secara langsung menurut ukuran dunia.
Jangan sampai kita begitu sibuk mengumpulkan harta sehingga kehilangan hal-hal yang jauh lebih berharga: iman, integritas, kasih, dan kehidupan yang berkenan kepada Tuhan.
Pada akhirnya, kekayaan yang sesungguhnya bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi tentang bagaimana kehidupan kita dibentuk oleh hikmat Allah.
Sebab, harta dunia dapat habis dan ditinggalkan, tetapi kehidupan yang dijalani dalam kebenaran Allah memiliki nilai yang jauh melampaui kekayaan materi.
Kekayaan sejati bukan hanya tentang banyaknya harta yang kita miliki, tetapi tentang kehidupan yang dipenuhi hikmat dan dijalani dalam kebenaran Allah.