Ketika Tidak Ada yang Melihat dan Terlihat Aman


Marilah kita memuaskan berahi hingga pagi hari, dan bersama-sama menikmati asmara. Karena suamiku tidak di rumah, ia sedang dalam perjalanan jauh, sekantong uang dibawanya, ia baru pulang menjelang bulan purnama.


Kita mungkin berpikir bahwa selama tidak ada yang melihat, tidak ada yang akan terluka, dan tidak ada yang akan menuntut pertanggungjawaban, maka semuanya akan baik-baik saja.

Padahal, tidak terlihat oleh manusia bukan berarti tersembunyi dari Allah.

Dalam Amsal 7:18–20, kita melihat bagaimana seorang perempuan menggoda seorang pemuda dengan menawarkan kenikmatan seksual.

Ia tidak hanya mengajaknya menikmati kesenangan bersama, tetapi juga memberikan alasan mengapa mereka dapat melakukannya tanpa perlu merasa khawatir.

Suaminya sedang pergi jauh, tidak ada orang yang mengawasi, dan masih ada waktu sebelum suaminya kembali.

Inilah salah satu cara dosa bekerja dalam kehidupan manusia.

Dosa tidak selalu datang dengan penampilan yang buruk atau sesuatu yang langsung membuat kita merasa bersalah.

Sering kali dosa justru datang melalui sesuatu yang menarik, menyenangkan, dan tampaknya tidak berbahaya.

Perhatikan bahwa perempuan tersebut tidak berusaha meyakinkan pemuda itu bahwa perbuatannya benar.

Ia hanya berusaha membuatnya percaya bahwa perbuatan itu dapat dilakukan tanpa ketahuan.

Ini merupakan perbedaan yang penting.

Ketika seseorang mulai mempertimbangkan dosa berdasarkan kemungkinan tertangkap atau tidak, sesungguhnya ia sudah kehilangan perspektif yang benar tentang Allah.

Ia lebih takut kepada pengawasan manusia daripada menghormati kekudusan Tuhan.

Seseorang mungkin berani melakukan ketidakjujuran ketika tidak ada yang memeriksa.

Ada orang yang membuka percakapan atau melihat sesuatu yang tidak pantas ketika tidak ada orang lain di sekitarnya.

Ada pula yang membangun hubungan tersembunyi di luar pernikahan karena merasa pasangannya tidak akan pernah mengetahuinya.

Bahkan dalam pekerjaan dan pelayanan, seseorang dapat melakukan sesuatu yang tidak benar ketika merasa tidak ada yang akan mempertanyakannya.

Kita hidup di hadapan Allah yang mengetahui segala sesuatu, termasuk pikiran, motivasi, dan tindakan yang paling tersembunyi sekalipun.

Tidak ada ruang dalam kehidupan kita yang benar-benar berada di luar pengamatan-Nya.

Pemuda dalam kisah ini mungkin membayangkan bahwa ia hanya akan menikmati kesenangan sesaat tanpa kehilangan apa pun.

Namun, kelanjutan kisah dalam ayat 21–23 memperlihatkan bahwa ia akhirnya mengikuti perempuan tersebut seperti lembu yang dibawa ke tempat penjagalan.

Karena itu, kita perlu belajar membedakan antara kesempatan dan godaan.

Tidak semua kesempatan yang terbuka harus diambil.
Tidak semua sesuatu yang menyenangkan harus dinikmati.
Dan tidak semua yang dapat kita lakukan berarti boleh kita lakukan.

Jangan pernah mengukur keamanan suatu perbuatan berdasarkan kemungkinan manusia mengetahuinya.

Sebaliknya, belajarlah hidup dengan kesadaran bahwa seluruh kehidupan kita berlangsung di hadapan Tuhan.

Sebab, sesuatu yang tersembunyi dari mata manusia tetap terlihat jelas di hadapan-Nya.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *