Jangan Pura-Pura Tidak Tahu


Bebaskan mereka yang diangkut untuk dibunuh, selamatkan orang yang terhuyung-huyung menuju tempat pemancungan.  Kalau engkau berkata: “Sungguh, kami tidak tahu hal itu!” Apakah Dia yang menguji hati tidak tahu yang sebenarnya? Apakah Dia yang menjaga jiwamu tidak mengetahuinya, dan membalas manusia menurut perbuatannya?


Ada kalanya kita melihat seseorang sedang mengalami kesulitan.

Kita tahu ada sesuatu yang tidak benar.
Kita tahu seseorang sedang terluka.
Kita tahu seseorang sedang mengambil jalan yang salah.

Kita bahkan mungkin tahu bahwa jika tidak ada yang menolong, keadaan itu akan menjadi semakin buruk.

Tetapi kita memilih diam.

Alasannya bisa bermacam-macam:

“Bukan urusan saya.”
“Saya tidak mau ikut campur.”
“Nanti saya yang kena masalah.”
“Saya tidak tahu harus berbuat apa.”

Kadang-kadang alasan itu memang masuk akal.  Kita memang tidak selalu mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan persoalan orang lain.

Ayat 11 menggambarkan orang-orang yang sedang menuju kematian.  Mereka berada dalam keadaan yang sangat genting.

Dan kepada orang yang melihatnya diberikan perintah: “Bebaskan… selamatkan…”

Artinya, ada saat ketika kasih tidak cukup hanya dirasakan. Kasih harus diwujudkan dalam tindakan.

Kadang-kadang menolong berarti berbicara kepada seseorang yang sedang berjalan ke arah yang salah.

Kadang berarti membela orang yang diperlakukan tidak adil.

Kadang berarti mendengarkan seseorang yang sedang berada dalam tekanan.

Kadang berarti menghubungkan seseorang dengan orang yang lebih mampu menolong.

Yang penting adalah kita tidak sengaja menutup mata hanya karena persoalan itu membuat kita tidak nyaman.

Ayat 12 kemudian membawa persoalan ini langsung kepada Tuhan.

Kita mungkin dapat mengatakan kepada manusia, “Saya tidak tahu.”  Tetapi kita tidak dapat menyembunyikan hati kita dari Tuhan.

Dia mengetahui apa yang sebenarnya kita ketahui.

Dia mengetahui apakah kita benar-benar tidak tahu, atau sebenarnya tahu tetapi memilih berpura-pura tidak tahu.

Yakobus kemudian mengatakan prinsip yang sejalan dengan ini: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yakobus 4:17).

Karena itu, hari ini mungkin ada seseorang yang Tuhan tempatkan di depan kita bukan supaya kita menghakiminya, tetapi supaya kita menolongnya.

Jangan langsung berpikir bahwa kita harus menyelesaikan seluruh persoalannya. Mulailah dengan sesuatu yang sederhana.

Berhenti. Perhatikan. Peduli. Bertindak.

Mungkin hanya sebuah pesan.
Mungkin sebuah percakapan.
Mungkin sebuah doa.
Mungkin sebuah pembelaan.
Mungkin sebuah pertolongan nyata.

Sebab pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya:
“Apa yang saya lakukan terhadap orang lain?”

Tetapi juga:
“Apa yang saya lakukan ketika Tuhan membuat saya tahu bahwa seseorang membutuhkan pertolongan?”

Tuhan melihat hati kita.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *