Tindakan Nyata untuk Berdamai


Pemberian dengan sembunyi-sembunyi memadamkan marah, dan hadiah yang dirahasiakan meredakan kegeraman yang hebat.


Ketika seseorang marah kepada kita, respons pertama yang muncul sering kali adalah membela diri.

Kita ingin menjelaskan bahwa kita tidak sepenuhnya salah.
Kita ingin menunjukkan bahwa orang lain juga bersalah.

Bahkan, kita mungkin tergoda membalas perkataan yang menyakitkan dengan perkataan yang lebih menyakitkan.

Tetapi apakah itu menyelesaikan masalah?   Sering kali tidak!

Satu perkataan melahirkan perkataan lain.
Satu luka dibalas dengan luka berikutnya.

Akhirnya, masalah yang sebenarnya kecil menjadi konflik yang besar.

Ada tindakan yang dilakukan tanpa perlu diketahui orang lain, yang dapat “meredakan kegeraman yang hebat.”

Prinsipnya bukan bahwa kita dapat membeli hati seseorang dengan hadiah.

Bukan pula bahwa setiap kesalahan dapat diselesaikan dengan memberikan sesuatu.

Prinsipnya adalah: kasih tidak selalu harus banyak bicara; kasih juga dapat diwujudkan melalui tindakan.

Mungkin seseorang sedang marah karena kita telah menyakitinya.

Dalam situasi seperti itu, yang dibutuhkan bukan pembelaan diri, tetapi kerendahan hati untuk datang dan berkata, “Saya minta maaf.”

Mungkin hubungan menjadi renggang karena sudah terlalu lama tidak ada perhatian.

Dan yang menarik, Amsal mengatakan pemberian itu dilakukan “dengan sembunyi-sembunyi.”

Artinya, tindakan kasih tidak selalu membutuhkan penonton.

Kita tidak perlu memastikan orang lain tahu bahwa kita sudah berbuat baik.

Kita tidak perlu mengunggahnya.
Kita tidak perlu menuntut penghargaan.

Ada kebaikan yang justru menjadi lebih indah ketika dilakukan tanpa diketahui banyak orang.

Ada orang yang masih kita hindari.
Ada percakapan yang belum selesai.
Ada luka yang belum pulih.

Mungkin hari ini BUKAN waktunya untuk memenangkan perdebatan.

Mungkin waktunya untuk mengambil langkah pertama.

Bukan karena kita kalah, tetapi karena hubungan lebih berharga daripada ego kita.

Sebab terkadang, satu tindakan kasih yang tulus dapat melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh seribu kata.

Jangan selalu bertanya, “Siapa yang harus mulai?”
Mungkin Tuhan sedang bertanya, “Mengapa bukan kamu?”



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *