
Amsal 22:10
Usirlah pencemooh, maka lenyaplah pertengkaran, dan berhentilah perbantahan dan cemooh.
Tidak semua pertengkaran dimulai dari masalah yang besar. Kadang-kadang semuanya dimulai dari sebuah komentar kecil, sindiran, atau ejekan.
Satu orang mengatakan sesuatu yang merendahkan. Orang lain membalas.
Kemudian muncul pembelaan, serangan balik, dan akhirnya percakapan berubah menjadi pertengkaran.
Itulah sebabnya Amsal 22:10 memberikan nasihat yang cukup tegas: “Usirlah pencemooh, maka lenyaplah pertengkaran.”
Ada orang yang memang berbeda pendapat dengan kita. Itu bukan masalah.
Perbedaan pendapat bahkan dapat menjadi kesempatan untuk belajar. Tetapi ada perbedaan antara berbeda pendapat dan mencemooh.
Orang yang berbeda pendapat masih dapat berdiskusi.
Pencemooh tidak sekadar menyampaikan pendapat; ia merendahkan orang lain, mempermalukan, atau terus memancing konflik.
Menariknya, Salomo tidak berkata bahwa kita harus memenangkan perdebatan melawan pencemooh.
Ia juga tidak menyuruh kita membalas cemooh dengan cemooh.
Sebaliknya, pengaruh pencemooh itu harus dihentikan.
Ini adalah pelajaran penting dalam kehidupan bersama. Tidak semua suara harus kita layani, dan tidak semua perdebatan harus kita ikuti.
Kadang-kadang kita justru memperpanjang konflik karena merasa harus menjawab setiap komentar.
Kita merasa harus membela diri setiap kali disindir.
Kita ingin memberikan jawaban terakhir.
Akibatnya, percakapan yang seharusnya sudah selesai terus berlanjut.
Padahal, ada kalanya hikmat berarti mengetahui kapan harus berhenti berbicara.
Hal ini juga berlaku bagi kita sendiri. Sebelum menunjuk orang lain sebagai pencemooh, kita perlu bertanya: Apakah saya sedang menjadi sumber damai, atau justru sumber pertengkaran?
Apakah perkataan saya membantu orang lain bertumbuh, atau hanya membuat orang lain merasa kecil?
Yakobus 3:5 mengingatkan bahwa lidah memang kecil, tetapi dapat menimbulkan dampak yang besar.
Karena itu, kehidupan Kristen bukan hanya tentang mengatakan sesuatu yang benar, tetapi juga bagaimana dan untuk tujuan apa kita mengatakannya.
Di dalam komunitas keluarga, gereja, pekerjaan, maupun persahabatan, kita membutuhkan keberanian untuk menghentikan pola komunikasi yang merusak.
Bukan dengan kebencian, bukan dengan balas dendam, tetapi dengan hikmat dan batas yang sehat.
Hari ini, mari perhatikan perkataan kita.
Jika ada sesuatu yang perlu dikoreksi, lakukan dengan kasih.
Jika ada perbedaan, bicarakan dengan rendah hati.
Tetapi jika sebuah percakapan hanya menghasilkan cemooh dan pertengkaran yang tidak berujung, mungkin hikmat justru berkata: cukup. Berhentilah.
Sebab terkadang, cara terbaik untuk menjaga damai bukan dengan memenangkan perdebatan, tetapi dengan menghentikan cemooh yang memberi bahan bakar kepada pertengkaran.
Tidak semua perdebatan perlu dimenangkan; beberapa justru perlu dihentikan agar damai tetap terjaga.