
Amsal 3:18
Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia
Di dunia yang terus berubah, manusia selalu mencari sesuatu yang dapat dijadikan pegangan.
Sebagian orang berpegang pada uang karena merasa kekayaan memberi rasa aman.
Yang lain berpegang pada jabatan, relasi, pendidikan, atau kemampuan diri.
Namun semua itu memiliki keterbatasan.
Kekayaan dapat habis, kesehatan dapat menurun, kesempatan dapat hilang, bahkan orang-orang yang kita andalkan pun bisa mengecewakan.
Salomo mengarahkan perhatian kita kepada sesuatu yang jauh lebih kokoh, yaitu hikmat Allah.
Ia menyebut hikmat sebagai “pohon kehidupan.” Gambaran ini sangat indah.
Pohon memberikan kehidupan karena menghasilkan buah, memberi keteduhan, dan terus bertumbuh.
Demikian pula hikmat Tuhan.
Ketika seseorang hidup menurut firman-Nya, ia akan menikmati kehidupan yang semakin sehat secara rohani, semakin dewasa dalam karakter, dan semakin mampu menghadapi berbagai musim kehidupan.
Namun ayat ini tidak berkata bahwa orang yang mengetahui hikmat akan berbahagia. Yang disebut berbahagia adalah orang yang memegang hikmat itu.
Ada perbedaan besar antara mengetahui dan memegang.
Banyak orang mengenal ayat-ayat Alkitab, tetapi tidak menjadikannya dasar dalam mengambil keputusan.
Mereka tahu pentingnya mengampuni, tetapi memilih menyimpan dendam.
Mereka tahu pentingnya kejujuran, tetapi tetap mencari jalan pintas.
Mereka tahu pentingnya mengandalkan Tuhan, tetapi lebih memilih mengandalkan kekuatan sendiri.
Memegang hikmat berarti tetap percaya dan taat kepada firman Tuhan bahkan ketika keadaan tidak mendukung.
Saat dunia mengajarkan kompromi, hikmat mengajarkan integritas.
Saat dunia mengajarkan balas dendam, hikmat mengajarkan kasih dan pengampunan.
Saat dunia mengejar keuntungan sesaat, hikmat mengajarkan kesetiaan kepada Tuhan.
Janji Tuhan juga sangat menarik. Orang yang berpegang pada hikmat akan disebut berbahagia.
Kebahagiaan yang dimaksud bukan berarti hidup tanpa masalah.
Sebaliknya, kebahagiaan sejati adalah damai sejahtera yang muncul karena hidup berada di dalam kehendak Tuhan.
Ada sukacita yang tidak bergantung pada keadaan, sebab hidup kita berakar pada hikmat-Nya, bukan pada situasi yang terus berubah.
Bagi orang percaya, hikmat Allah mencapai puncak penyataannya di dalam Yesus Kristus.
Dialah hikmat Allah yang dinyatakan kepada dunia. Semakin kita mengenal Kristus dan menaati firman-Nya, semakin kita mengalami kehidupan yang sejati.
Karena itu, jangan hanya membaca firman setiap hari. Peganglah firman itu.
Jadikan firman Tuhan sebagai dasar setiap keputusan, setiap perkataan, dan setiap langkah kehidupan.
Hari ini, tanyakan kepada diri sendiri: Apa yang selama ini menjadi pegangan hidup saya?
Jika pegangan kita adalah Tuhan dan hikmat-Nya, kita memiliki dasar yang tidak akan pernah goyah.
Di situlah kehidupan yang sejati dan kebahagiaan yang sesungguhnya ditemukan.
Hikmat Allah bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk dipegang seumur hidup. Di sanalah kehidupan sejati bertumbuh.