Hikmat yang Menjaga Hidup


Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu, kebijaksanaan akan menjaga engkau, kepandaian akan memelihara engkau.


Semua itu memang memiliki manfaat.

Namun firman Tuhan mengajarkan bahwa ada perlindungan yang jauh lebih dalam daripada semua itu, yaitu hikmat yang berasal dari Allah.

Perhatikan bahwa Amsal tidak mengatakan hikmat hanya memenuhi pikiran, tetapi “masuk ke dalam hati.”

Hati dalam Alkitab berbicara tentang pusat kehidupan: tempat lahirnya keinginan, keputusan, dan karakter.

Selama hikmat hanya berada di kepala, seseorang mungkin mengetahui apa yang benar, tetapi belum tentu melakukannya.

Sebaliknya, ketika hikmat telah masuk ke dalam hati, ia akan memengaruhi cara berpikir, berbicara, dan bertindak.

Pengetahuan tidak selalu menghasilkan kebijaksanaan.
Gelar akademik tidak otomatis membuat seseorang hidup benar.
Pengalaman pun tidak selalu menjadikan seseorang bijaksana.

Hikmat sejati adalah ketika seseorang mengenal Tuhan, mengasihi firman-Nya, lalu membiarkan firman itu membentuk seluruh hidupnya.

Menariknya, Tuhan tidak berkata bahwa hikmat akan menghilangkan semua masalah.

Sebaliknya, hikmat menjaga kita agar tidak terjerumus ke dalam banyak masalah yang sebenarnya dapat dihindari.

Berapa banyak penyesalan muncul karena keputusan yang tergesa-gesa?

Berapa banyak keluarga terluka karena kata-kata yang tidak dipikirkan terlebih dahulu?

Berapa banyak orang kehilangan integritas karena tergoda keuntungan sesaat?

Ia memberi kepekaan untuk berkata, “Jangan melangkah ke sana.”

Ia mengingatkan kita sebelum dosa berkembang menjadi kebiasaan dan sebelum kebiasaan berubah menjadi kehancuran.

Di dunia yang penuh informasi, kita sangat mudah memperoleh pengetahuan. Dalam hitungan detik kita dapat mencari jawaban melalui internet.

Namun informasi tidak selalu membuat seseorang bijaksana. Hikmat hanya lahir ketika kita terus hidup dekat dengan Tuhan, membaca firman-Nya, menaati-Nya, dan membiarkan Roh Kudus membentuk hati kita setiap hari.

Mintalah kepada Tuhan agar setiap firman yang kita baca tidak berhenti sebagai teori, tetapi benar-benar masuk ke dalam hati.

Saat hikmat tinggal di dalam hati, keputusan kita menjadi lebih benar, perkataan kita lebih membangun, hubungan kita lebih sehat, dan langkah hidup kita lebih aman.

Hari ini, mungkin kita sedang menghadapi pilihan yang sulit atau keputusan yang penting.

Jangan hanya bertanya, “Apa yang saya inginkan?” tetapi bertanyalah, “Apa yang paling bijaksana menurut firman Tuhan?”

Orang yang memilih hikmat sedang membangun perlindungan bagi hidupnya sendiri.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *