Rahasia Kepemimpinan yang Diberkati

Rahasia Kepemimpinan yang Diberkati


Karena aku para raja memerintah, dan para pembesar menetapkan keadilan.  Karena aku para pembesar berkuasa juga para bangsawan dan semua hakim di bumi.


Tidak sedikit orang berpikir bahwa kepemimpinan terutama ditentukan oleh karisma, kecerdasan, atau pengalaman.

Namun firman Tuhan memberikan perspektif yang berbeda.

Menurut Amsal 8, kualitas yang paling mendasar dari seorang pemimpin bukanlah kekuatan pribadinya, melainkan apakah ia dipimpin oleh hikmat Allah.

Artinya, kepemimpinan yang benar selalu berakar pada hikmat yang berasal dari Tuhan.

Tanpa hikmat itu, kekuasaan mudah berubah menjadi kesombongan, jabatan menjadi sarana mencari keuntungan pribadi, dan keputusan-keputusan menjadi tidak adil.

Prinsip ini tidak hanya berlaku bagi para pemimpin negara. Setiap orang memimpin dalam lingkup tertentu.

Seorang ayah memimpin keluarganya.
Seorang ibu memimpin anak-anaknya.
Seorang guru memimpin murid-muridnya.
Seorang gembala memimpin jemaatnya.
Seorang pengusaha memimpin karyawannya.

Bahkan seseorang sedang memimpin dirinya sendiri melalui setiap keputusan yang ia ambil setiap hari.

Dalam Alkitab kita melihat bahwa Salomo menjadi raja yang luar biasa bukan karena ia meminta umur panjang, kekayaan, atau kemenangan atas musuh-musuhnya. Ia meminta hikmat.

Permintaan itu berkenan kepada Tuhan, sebab Salomo menyadari bahwa kepemimpinan tanpa hikmat akan membawa kehancuran bagi banyak orang.

Sayangnya, pada akhir hidupnya ia sendiri gagal terus hidup dalam hikmat itu. Ini menjadi peringatan bahwa memiliki hikmat pada awal perjalanan tidak cukup; kita harus terus berjalan di dalam hikmat setiap hari.

Pada akhirnya kita belajar bahwa seorang pemimpin yang rendah hati tetapi takut akan Tuhan jauh lebih berharga daripada pemimpin yang hebat menurut dunia tetapi mengabaikan kehendak Allah.

Kita sering kecewa terhadap pemimpin yang tidak adil atau menyalahgunakan kekuasaan.

Alkitab memang tidak menutup mata terhadap kenyataan tersebut.

Justru Amsal mengajarkan bahwa tanpa hikmat Allah, kepemimpinan akan kehilangan arah.

Karena itu, selain mendoakan para pemimpin, kita juga perlu memohon agar Tuhan memberikan hikmat kepada mereka.

Di saat yang sama, kita harus memastikan bahwa ketika Tuhan mempercayakan kepemimpinan kepada kita—sekecil apa pun lingkupnya—kita memimpin dengan takut akan Dia.

Pada akhirnya, semua bentuk kepemimpinan manusia bersifat sementara.

Akan tiba saatnya setiap pemimpin berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang pernah diambil.

Hanya Kristus, Raja segala raja, yang memimpin dengan hikmat yang sempurna, keadilan yang sempurna, dan kasih yang sempurna.