Periksa Ujung Jalanmu


Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.


Kadang-kadang kita mengambil keputusan karena semuanya tampak masuk akal.

Perhitungannya benar, peluangnya besar, perasaannya nyaman, dan orang-orang di sekitar kita bahkan mendukungnya.

Tetapi Amsal 14:12 mengingatkan bahwa apa yang terlihat benar belum tentu benar di hadapan Tuhan.

Artinya, seseorang dapat berjalan dengan penuh keyakinan sambil sebenarnya sedang menuju arah yang salah.

Inilah salah satu bahaya terbesar dalam kehidupan rohani: bukan ketika kita tahu bahwa kita sedang salah, tetapi ketika kita salah dan yakin bahwa kita benar.

“Menurut saya, ini baik.”
“Saya merasa damai.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Secara logika, ini masuk akal.”

Semua itu bisa menjadi pertimbangan, tetapi bukan standar terakhir.

Standar terakhir seharusnya adalah kehendak dan firman Tuhan.

Daud pernah berdoa:
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku.”
— Mazmur 139:23

Doa seperti ini menunjukkan kerendahan hati: “Tuhan, jangan biarkan saya hanya percaya kepada penilaian saya sendiri.”

Apakah jalan ini sesuai dengan firman-Mu?
Apakah motivasi saya benar?
Apakah keputusan ini membawa saya semakin dekat kepada Kristus?

Jika konsekuensinya tidak menyenangkan, apakah saya tetap mau menaati Tuhan?

Kadang jalan ketaatan terasa lebih lambat.
Kadang kita harus menunggu.

Kadang kita harus berkata tidak kepada kesempatan yang menguntungkan.

Kadang kita harus kehilangan sesuatu yang kita inginkan demi mempertahankan apa yang benar.

Jalan dosa mungkin menawarkan kenikmatan sementara, tetapi berakhir dalam kehancuran.

Jalan kompromi mungkin memberikan keuntungan sesaat, tetapi perlahan merusak karakter.

Jalan kesombongan mungkin membuat kita terlihat berhasil, tetapi akhirnya menjauhkan kita dari Tuhan.

Sebaliknya, jalan ketaatan kepada Tuhan mungkin tidak selalu mudah, tetapi ujungnya adalah kehidupan yang berada di dalam kehendak-Nya.

Hari ini, mungkin ada keputusan yang sedang kita hadapi.

Jangan hanya bertanya, “Apakah jalan ini terlihat benar?”
Tanyakan juga: “Ke mana jalan ini akan membawa saya?”

Sebab hikmat bukan hanya kemampuan memilih jalan yang terlihat baik.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *