
Amsal 9:5-6
Marilah, makanlah rotiku, dan minumlah anggur yang telah kucampur; buanglah kebodohan, maka kamu akan hidup, dan ikutilah jalan pengertian.
Pernahkah Anda menerima undangan makan dari seseorang yang sangat menghormati Anda?
Biasanya kita merasa dihargai karena tidak semua orang diundang ke meja makan seseorang.
Ada keakraban, penerimaan, dan hubungan yang dibangun melalui sebuah jamuan.
Demikian pula Amsal 9 menggambarkan Hikmat Allah.
Ia tidak berdiri di sudut jalan sambil memarahi orang yang bodoh. Sebaliknya, ia menyiapkan sebuah rumah, menyediakan hidangan terbaik, lalu mengundang siapa saja yang mau datang.
Betapa indah gambaran ini. Allah tidak pelit membagikan hikmat-Nya. Ia justru mengundang setiap orang yang mau belajar.
Namun, ada syarat yang tidak bisa diabaikan: “Buanglah kebodohan.”
Sering kali kita menginginkan berkat Tuhan, tetapi enggan meninggalkan pola hidup lama.
Kita ingin memperoleh damai sejahtera, tetapi tetap memelihara kepahitan.
Kita ingin memiliki keluarga yang diberkati, tetapi tetap mempertahankan ego.
Kita ingin keputusan yang bijaksana, tetapi menolak ditegur firman Tuhan.
Hikmat tidak dapat bertumbuh di hati yang terus memelihara kebodohan.
Kebodohan dalam kitab Amsal bukan sekadar kurang pintar.
Kebodohan adalah sikap hati yang menolak takut akan Tuhan.
Orang yang bodoh merasa dirinya sudah benar, tidak mau diajar, dan lebih mengandalkan pikirannya sendiri daripada firman Allah.
Sebaliknya, orang berhikmat tetap memiliki hati yang mau belajar, sekalipun usianya bertambah dan pengalamannya semakin banyak.
Undangan hikmat juga mengajarkan bahwa kehidupan rohani harus terus dipelihara.
Sama seperti tubuh membutuhkan makanan setiap hari, jiwa kita membutuhkan firman Tuhan setiap hari.
Tidak cukup hanya mendengar firman pada hari Minggu. Tuhan menghendaki kita terus “makan” roti hikmat-Nya melalui pembacaan Alkitab, doa, dan ketaatan setiap hari.
Orang yang jarang memberi makan jiwanya dengan firman akan lebih mudah dipengaruhi oleh suara dunia, emosi, dan keinginannya sendiri.
Undangan ini juga mengingatkan kita kepada Kristus. Yesus berkata bahwa Dialah Roti Hidup.
Barangsiapa datang kepada-Nya tidak akan lapar lagi.
Di dalam Kristus kita menemukan hikmat Allah yang sempurna.
Ketika kita hidup dekat dengan-Nya, Roh Kudus membentuk cara berpikir kita sehingga semakin serupa dengan kehendak Allah.
Keputusan-keputusan kita tidak lagi didorong oleh ambisi pribadi, melainkan oleh kerinduan untuk memuliakan Tuhan.
Hari ini, setiap kita sedang menerima dua undangan.
Dunia mengundang kita mengejar kesenangan instan, kompromi, dan jalan yang tampaknya mudah.
Hikmat Allah mengundang kita kepada kehidupan yang mungkin menuntut penyangkalan diri, tetapi menghasilkan damai, karakter yang dewasa, dan sukacita yang kekal.
Undangan Tuhan masih terbuka.
Pertanyaannya bukan apakah Tuhan mau memberikan hikmat-Nya, melainkan apakah kita bersedia meninggalkan kebodohan dan duduk di meja yang telah Dia sediakan.
Orang yang menjawab undangan itu akan menemukan bahwa kehidupan bersama Tuhan selalu jauh lebih memuaskan daripada apa pun yang ditawarkan dunia.
Hikmat bukan hanya diketahui, tetapi dinikmati oleh mereka yang mau meninggalkan kebodohan dan datang kepada Tuhan.