
Amsal 5:12-14
lalu engkau akan berkata: “Ah, mengapa aku benci kepada didikan, dan hatiku menolak teguran; mengapa aku tidak mendengarkan suara guru, dan tidak mengarahkan telingaku kepada pengajar-pengajarku? Aku nyaris terjerumus ke dalam tiap malapetaka di tengah-tengah jemaah dan perkumpulan.”
Salah satu penyesalan terbesar dalam hidup bukanlah ketika kita tidak mengetahui apa yang benar, melainkan ketika kita sebenarnya sudah mengetahui kebenaran, tetapi memilih untuk mengabaikannya.
Kita pernah diperingatkan, pernah dinasihati, bahkan mungkin sudah berkali-kali ditegur.
Namun, karena merasa diri benar, kita memilih untuk tidak mendengarkan.
Amsal 5:12-14 menggambarkan seseorang yang akhirnya menyadari kesalahannya.
Ia menyesal karena membenci didikan, menolak teguran, dan tidak mendengarkan orang-orang yang pernah mengajarnya.
Penyesalan itu muncul ketika ia mulai melihat akibat dari keputusan-keputusan yang diambilnya.
Menariknya, orang tersebut bukan tidak pernah mendapatkan nasihat.
Ia memiliki guru dan pengajar yang seharusnya dapat membimbingnya.
Masalahnya bukan karena tidak ada orang yang mengingatkan, melainkan karena ia tidak mau mendengarkan.
Inilah bahaya kesombongan dalam kehidupan rohani. Ketika seseorang merasa dirinya sudah cukup bijaksana, ia mulai menganggap teguran sebagai sesuatu yang mengganggu.
Nasihat dianggap sebagai campur tangan, kritik dianggap sebagai serangan, dan peringatan dianggap tidak diperlukan.
Akibatnya, ia semakin sulit melihat kesalahan dalam dirinya sendiri.
Kita perlu menyadari bahwa teguran tidak selalu menyenangkan, tetapi sering kali justru menjadi salah satu bentuk pemeliharaan Tuhan.
Melalui Firman-Nya, khotbah, nasihat orang lain, bahkan keadaan tertentu, Tuhan dapat menyadarkan kita ketika sedang mengambil jalan yang salah.
Namun, semua itu hanya akan berguna apabila hati kita bersedia mendengarkan.
Bagian ini juga mengingatkan bahwa dosa tidak selalu langsung memperlihatkan akibatnya.
Seseorang mungkin merasa semuanya baik-baik saja ketika mulai mengabaikan kebenaran.
Namun, keputusan yang terus-menerus bertentangan dengan kehendak Tuhan pada akhirnya membawa konsekuensi.
Itulah sebabnya kita tidak boleh menunggu sampai mengalami kehancuran untuk menyadari pentingnya ketaatan.
Dalam terang Injil, kita melihat bahwa Tuhan bukan hanya menunjukkan kesalahan manusia, tetapi juga menyediakan jalan pemulihan melalui Yesus Kristus.
Anugerah-Nya bukan alasan untuk mengabaikan teguran, melainkan alasan untuk semakin rendah hati dan bersedia dibentuk oleh Firman-Nya.
Orang yang bijaksana bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan orang yang bersedia dikoreksi ketika menyadari dirinya salah.
Jangan menunggu sampai penyesalan datang terlambat.
Belajarlah mendengarkan Firman Tuhan hari ini, menerima teguran dengan kerendahan hati, dan memperbaiki langkah sebelum kesalahan membawa kita semakin jauh dari jalan-Nya.
Jangan menunggu kehancuran untuk menyadari bahwa teguran adalah bentuk kasih Tuhan yang perlu didengarkan.
