Aman Dalam Tuntunan Tuhan


Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk.  Jikalau engkau berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi engkau akan berbaring dengan nyenyak.


Ketika berangkat bekerja, ia memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.

Ketika menghadapi keputusan, ia takut salah melangkah.

Bahkan ketika malam tiba dan waktunya beristirahat, pikirannya masih dipenuhi berbagai persoalan yang belum terselesaikan. Tubuhnya berbaring, tetapi pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.

Ini bukan sekadar gambaran tentang perjalanan dan istirahat secara fisik, melainkan tentang kehidupan yang dijalani dengan kepercayaan kepada Tuhan.

Perhatikan bahwa ayat ini dimulai dengan perkataan, “Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman.”

Kata “maka” menghubungkan janji ini dengan nasihat sebelumnya tentang pentingnya memelihara hikmat dan pengertian Tuhan.

Artinya, keamanan hidup tidak dapat dipisahkan dari kesediaan seseorang untuk berjalan menurut jalan Tuhan.

Kita ingin perjalanan hidup berjalan lancar, tetapi tetap ingin menentukan arah sendiri.

Kita menginginkan ketenangan, tetapi terus-menerus mengandalkan kemampuan dan perhitungan pribadi.

Padahal, hikmat Tuhan mengajarkan bahwa jalan yang benar bukan selalu jalan yang paling mudah, tetapi jalan yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Alkitab tidak pernah menjanjikan kehidupan tanpa pergumulan. Bahkan orang-orang yang setia kepada Tuhan pun mengalami berbagai kesulitan.

Namun, hikmat Tuhan menolong kita menghindari langkah-langkah yang salah, keputusan yang gegabah, dan jalan hidup yang membawa kepada kehancuran.

Ayat 24 kemudian memberikan gambaran yang sangat menarik: “Jikalau engkau berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi engkau akan berbaring dengan nyenyak.”

Istirahat yang nyenyak menggambarkan ketenangan seseorang yang tidak terus-menerus dikuasai ketakutan.

Ia menyadari bahwa ada banyak hal dalam hidup yang tidak dapat dikendalikan, tetapi semuanya tidak harus menjadi sumber kecemasan yang menguasai dirinya.

Kita tetap harus bekerja, merencanakan masa depan, mengambil keputusan dengan bijaksana, dan melakukan bagian kita dengan sungguh-sungguh.

Namun, kita tidak perlu bertindak seolah-olah seluruh kehidupan bergantung pada kemampuan kita sendiri.

Ada bagian yang harus kita kerjakan dengan setia, dan ada bagian yang harus kita percayakan kepada Tuhan.

Ketenangan ini menemukan dasarnya di dalam Kristus.

Melalui karya keselamatan-Nya, kita memiliki pendamaian dengan Allah dan tidak lagi harus menjalani kehidupan dalam ketakutan terhadap penghakiman-Nya.

Kita memiliki Allah yang memelihara dan menyertai perjalanan hidup kita.

Ketika melangkah, percayalah kepada tuntunan-Nya. Ketika beristirahat, percayalah kepada pemeliharaan-Nya.

Sebab hidup yang bijaksana bukanlah hidup yang mampu mengendalikan segala sesuatu, melainkan hidup yang tetap percaya kepada Tuhan, baik ketika berjalan menghadapi hari esok maupun ketika berbaring mengakhiri hari ini.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *