
Amsal 29:11
Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya.
Tidak semua yang kita rasakan harus kita keluarkan.
Ada saatnya kita marah.
Ada saatnya kita kecewa.
Ada saatnya perkataan atau tindakan seseorang benar-benar melukai hati kita.
Tetapi perasaan yang benar tidak selalu menghasilkan respons yang benar.
Amsal 29:11 menggambarkan orang bebal sebagai orang yang melampiaskan seluruh amarahnya.
Ia tidak memberi waktu bagi dirinya untuk berpikir.
Apa yang dirasakan langsung diucapkan atau dilakukan.
Akibatnya, satu masalah dapat melahirkan masalah yang baru.
Orang bijak memiliki respons yang berbeda.
Ia tidak menyangkal kemarahannya, tetapi tidak menyerahkan kendali kepada kemarahannya.
Ia belajar berhenti sejenak, menenangkan diri, dan memilih respons yang tidak memperburuk keadaan.
Mungkin kita memang memiliki alasan untuk marah.
Tetapi memiliki alasan untuk marah tidak berarti kita memiliki alasan untuk menyakiti orang lain.
Karena itu, ketika emosi sedang tinggi, jangan terburu-buru berbicara.
Jangan langsung membalas.
Jangan mengambil keputusan ketika hati sedang dikuasai amarah.
Berikan waktu bagi hikmat untuk berbicara sebelum emosi menentukan tindakan.
Hari ini, ketika sesuatu membuat kita marah, mari belajar menjadi orang yang bijak:
Bukan dengan menghilangkan semua emosi, tetapi dengan mengendalikan apa yang kita lakukan terhadap emosi itu.
Orang bijak bukan yang tidak pernah marah, tetapi yang tidak membiarkan amarah mengendalikan dirinya.