
Amsal 26:11
Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.
Pernahkah kita berkata, “Saya tahu ini salah, tetapi saya melakukannya lagi”?
Kita sudah tahu bahwa kebiasaan tertentu tidak baik, tetapi kita kembali melakukannya.
Kita sudah tahu bahwa perkataan tertentu akan melukai orang lain, tetapi kita mengucapkannya lagi.
Kita sudah mengalami akibat dari keputusan yang salah, tetapi ketika kesempatan yang sama datang, kita mengambil keputusan yang sama.
Amsal 26:11 menggambarkan keadaan seperti itu dengan perumpamaan yang sangat kuat: “Seperti anjing kembali ke muntahnya.”
Gambaran ini memang terasa keras. Tetapi justru karena keras, kita tidak boleh melewatkan pesannya.
Kesalahan tidak selalu menjadi masalah terbesar dalam hidup kita.
Yang lebih berbahaya adalah ketika kita tidak mau belajar dari kesalahan tersebut.
Kita semua pernah salah.
Kita pernah mengambil keputusan yang keliru, mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan, mempercayai orang yang salah, atau memilih jalan yang ternyata membawa kita kepada masalah.
Namun, pengalaman tersebut seharusnya menjadi kesempatan untuk bertumbuh.
Orang yang bijaksana tidak berkata, “Saya tidak pernah salah.” Ia berkata, “Apa yang dapat saya pelajari dari kesalahan ini?”
Ia berani mengevaluasi dirinya.
Ia mau mendengarkan teguran.
Ia mengakui ketika dirinya salah.
Dan yang paling penting, ia bersedia mengubah langkahnya.
Sebaliknya, orang bebal dapat mengalami kegagalan berkali-kali tetapi tetap mengulangi pola yang sama.
Ia menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, atau mencari alasan, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mengubah dirinya.
Di sinilah kita perlu membedakan antara jatuh dan terus memilih untuk tinggal di tempat kita jatuh.
Jatuh bukan akhir dari semuanya.
Tuhan dapat memakai kegagalan untuk mendidik dan membentuk kita.
Tetapi jangan sampai kita menjadikan kegagalan sebagai pola yang terus diulang.
Pertanyaan yang perlu kita tanyakan bukan hanya, “Apa yang salah?”, tetapi juga, “Apa yang harus saya ubah?”
Mungkin ada kebiasaan yang harus dihentikan.
Mungkin ada hubungan yang perlu diperbaiki.
Mungkin ada sikap yang harus direndahkan.
Mungkin ada nasihat yang selama ini kita tolak.
Mungkin ada dosa yang harus benar-benar ditinggalkan.
Anugerah Tuhan bukan alasan untuk terus hidup dalam kesalahan.
Justru karena kita menerima anugerah, kita memiliki kesempatan untuk berbalik dan menjalani hidup yang baru.
Hari ini, jangan hanya menyesali kesalahan masa lalu. Belajarlah darinya.
Jangan kembali kepada pola yang sama hanya karena pola itu sudah familiar.
Jangan mengulangi kebodohan yang sama hanya karena kita sudah terbiasa dengannya.
Hikmat terlihat ketika seseorang belajar, berubah, dan berjalan ke arah yang lebih benar.
Mungkin kita pernah jatuh di tempat yang sama. Tetapi dengan pertolongan Tuhan, kita tidak harus terus jatuh di tempat yang sama.
Orang bijak bukan orang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang belajar sehingga tidak terus mengulangi kesalahannya.