Berhenti Mengulang Kesalahan


Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.


Kita sudah tahu bahwa kebiasaan tertentu tidak baik, tetapi kita kembali melakukannya.

Kita sudah tahu bahwa perkataan tertentu akan melukai orang lain, tetapi kita mengucapkannya lagi.

Kita sudah mengalami akibat dari keputusan yang salah, tetapi ketika kesempatan yang sama datang, kita mengambil keputusan yang sama.

Amsal 26:11 menggambarkan keadaan seperti itu dengan perumpamaan yang sangat kuat: “Seperti anjing kembali ke muntahnya.”

Gambaran ini memang terasa keras. Tetapi justru karena keras, kita tidak boleh melewatkan pesannya.

Kesalahan tidak selalu menjadi masalah terbesar dalam hidup kita.

Kita semua pernah salah.

Kita pernah mengambil keputusan yang keliru, mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan, mempercayai orang yang salah, atau memilih jalan yang ternyata membawa kita kepada masalah.

Orang yang bijaksana tidak berkata, “Saya tidak pernah salah.” Ia berkata, “Apa yang dapat saya pelajari dari kesalahan ini?”

Ia berani mengevaluasi dirinya.
Ia mau mendengarkan teguran.
Ia mengakui ketika dirinya salah.

Dan yang paling penting, ia bersedia mengubah langkahnya.

Ia menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, atau mencari alasan, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mengubah dirinya.

Di sinilah kita perlu membedakan antara jatuh dan terus memilih untuk tinggal di tempat kita jatuh.

Tuhan dapat memakai kegagalan untuk mendidik dan membentuk kita.

Tetapi jangan sampai kita menjadikan kegagalan sebagai pola yang terus diulang.

Pertanyaan yang perlu kita tanyakan bukan hanya, “Apa yang salah?”, tetapi juga, “Apa yang harus saya ubah?”

Mungkin ada kebiasaan yang harus dihentikan.
Mungkin ada hubungan yang perlu diperbaiki.
Mungkin ada sikap yang harus direndahkan.
Mungkin ada nasihat yang selama ini kita tolak.
Mungkin ada dosa yang harus benar-benar ditinggalkan.

Justru karena kita menerima anugerah, kita memiliki kesempatan untuk berbalik dan menjalani hidup yang baru.

Hari ini, jangan hanya menyesali kesalahan masa lalu. Belajarlah darinya.

Jangan kembali kepada pola yang sama hanya karena pola itu sudah familiar.

Jangan mengulangi kebodohan yang sama hanya karena kita sudah terbiasa dengannya.

Hikmat terlihat ketika seseorang belajar, berubah, dan berjalan ke arah yang lebih benar.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *