Waspadalah Terhadap Amarah yang Harus Dibayar


Orang yang sangat cepat marah akan kena denda, karena jika engkau hendak menolongnya, engkau hanya menambah marahnya.


Ketika tersinggung, ia berkata kasar.
Ketika kecewa, ia meledak.

Ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan, ia melampiaskan kemarahannya kepada orang lain.

Setelah semuanya terjadi, orang-orang di sekitarnya datang membereskan akibatnya.

Masalahnya, kalau hal ini terus berlangsung, orang tersebut tidak pernah belajar.

Ini bukan berarti kita harus menjadi tidak peduli kepada orang yang sedang jatuh karena kesalahannya.

Tetapi ada perbedaan antara menolong seseorang keluar dari masalah dan terus-menerus menyelamatkan seseorang dari konsekuensi perilakunya.

Jika setiap kali seseorang marah kita langsung membereskan masalah yang dibuatnya, meminta maaf atas namanya, memperbaiki hubungan yang dirusaknya, atau melindunginya dari akibat tindakannya, mungkin kita sedang menolongnya untuk sementara—tetapi kita juga bisa membuatnya tidak pernah belajar mengendalikan diri.

Amsal bahkan mengatakan bahwa ketika orang seperti itu terus diselamatkan, kita mungkin harus melakukannya lagi.

Kadang-kadang kasih justru berarti membiarkan seseorang merasakan akibat dari pilihannya, supaya ia belajar.

Anak yang selalu dibela ketika berbuat salah tidak belajar bertanggung jawab.

Orang dewasa yang selalu diselamatkan dari akibat kemarahannya tidak belajar mengendalikan amarah.

Dan seseorang yang tidak pernah merasakan konsekuensi dari perilakunya akan semakin mudah mengulangi perilaku yang sama.

Karena itu, ketika kita sendiri sedang marah, jangan buru-buru bertanya, “Bagaimana supaya orang lain mengerti kemarahanku?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Amsal 19:19 mengajak kita untuk berhenti menyalahkan keadaan, orang lain, atau situasi sebagai alasan untuk kemarahan kita.

Kita perlu belajar bertanggung jawab atas respons kita sendiri.

Mungkin kita memang diperlakukan tidak adil.
Mungkin perkataan orang lain memang menyakitkan.
Mungkin ada alasan yang membuat kita kecewa.

Tetapi alasan untuk marah tidak otomatis menjadi izin untuk melampiaskan amarah.

Orang bijaksana belajar berhenti sebelum berbicara.
Belajar diam sebelum membalas.
Belajar mengambil waktu sebelum mengambil keputusan.

Dan belajar menerima teguran ketika orang lain menunjukkan bahwa kemarahannya sudah mulai menguasai dirinya.

Sebab kematangan rohani bukan berarti kita tidak pernah marah.

Hari ini, mungkin Tuhan sedang mengingatkan kita tentang sebuah pola yang terus berulang: marah, membuat masalah, menyesal, diselamatkan, lalu marah lagi.

Jangan terus hidup dalam siklus itu.

Belajarlah menguasai amarah sebelum amarah membawa kita kepada konsekuensi yang lebih besar.

Dan jika kita sedang berhadapan dengan seseorang yang selalu marah, jangan selalu menjadi orang yang membereskan semua akibatnya.

Tolong dia belajar bertanggung jawab.
Tegur dengan kasih.
Berikan batas yang sehat.

Dan arahkan dia kepada perubahan.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *