
Amsal 6:30-31
Diberkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan isteri masa mudamu:rusa yang manis, kijang yang jelita; biarlah buah dadanya selalu memuaskan engkau, dan engkau senantiasa berahi karena cintanya.
Setiap orang pernah melakukan kesalahan.
Ada kesalahan yang terjadi karena kelemahan, ada pula yang lahir dari pilihan yang salah.
Kadang-kadang kita berharap bahwa jika orang lain mengerti alasan di balik tindakan kita, maka kesalahan itu akan dianggap selesai.
Namun hikmat Tuhan mengajarkan sesuatu yang berbeda.
Salomo menggambarkan seseorang yang mencuri karena lapar. Motifnya mungkin dapat dimengerti.
Rasa lapar memang dapat mendorong seseorang melakukan hal yang tidak seharusnya.
Orang mungkin tidak menghina atau mencela dirinya sekeras terhadap pencuri yang didorong oleh keserakahan.
Namun ketika ia tertangkap, ia tetap harus mengganti apa yang telah diambilnya. Belas kasihan tidak menghapus keadilan.
Begitulah prinsip hidup yang Tuhan tanamkan. Pengampunan dan tanggung jawab berjalan bersama.
Allah adalah Bapa yang penuh kasih, tetapi Ia juga Allah yang adil.
Ketika Daud bertobat setelah dosanya dengan Batsyeba, Tuhan mengampuninya, tetapi Daud tetap harus menanggung berbagai konsekuensi dari perbuatannya.
Pengampunan tidak berarti tidak ada akibat. Prinsip ini sangat penting bagi kehidupan orang percaya.
Di zaman sekarang, sering kali orang berkata, “Yang penting Tuhan sudah mengampuni.” Kalimat itu benar, tetapi sering disalahgunakan.
Jika kita pernah merugikan orang lain, meminta ampun kepada Tuhan seharusnya diikuti dengan usaha memulihkan kerugian tersebut.
Bila kita pernah memfitnah seseorang, kita perlu mengoreksi ucapan kita.
Bila kita pernah mengambil hak orang lain, kita perlu mengembalikannya.
Bila kita pernah melukai hati seseorang, kita perlu datang dengan kerendahan hati untuk meminta maaf.
Pertobatan yang sejati selalu menghasilkan perubahan nyata.
Itulah sebabnya ketika Zakheus bertemu Yesus, ia tidak hanya berkata bahwa dirinya menyesal.
Ia juga mengembalikan apa yang telah diambilnya secara tidak jujur bahkan dengan jumlah yang lebih besar.
Inilah kebenaran nyata, bahwa: Anugerah Allah mengubah hati sehingga orang rela bertanggung jawab.
Mungkin hari ini Roh Kudus mengingatkan kita tentang sesuatu yang belum dibereskan.
Bisa jadi bukan uang yang harus dikembalikan, melainkan kepercayaan yang harus dipulihkan.
Mungkin bukan barang yang hilang, tetapi nama baik seseorang yang pernah kita rusak.
Mungkin bukan hutang materi, melainkan hutang kasih yang belum kita lunasi.
Tuhan tidak mencari manusia yang sempurna. Tuhan mencari hati yang mau bertobat dengan sungguh-sungguh.
Orang yang rendah hati tidak hanya berkata, “Saya bersalah,” tetapi juga bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki keadaan?”
Saat kita berani mengambil tanggung jawab, kita sedang menunjukkan bahwa kasih karunia Tuhan benar-benar sedang bekerja dalam hidup kita.
Dunia mungkin melihat pengakuan kesalahan sebagai kelemahan, tetapi di mata Tuhan, itulah tanda kedewasaan rohani.
Sebab orang yang dipulihkan oleh kasih karunia akan menjadi pribadi yang juga rindu memulihkan apa yang telah dirusaknya.
Hari ini, marilah kita meminta kepada Tuhan keberanian untuk bukan hanya mengakui kesalahan, tetapi juga melakukan bagian kita dalam memulihkan hubungan, kepercayaan, dan kerugian yang pernah kita sebabkan.
Di situlah pertobatan menjadi nyata dan Injil terlihat melalui kehidupan kita.
Pertobatan yang sejati tidak berhenti pada penyesalan, tetapi melangkah menuju pemulihan.