Jangan Membalas dengan Kejahatan

Jangan Membalas dengan Kejahatan


Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air.


Ketika seseorang menghargai, membantu, dan memperlakukan kita dengan penuh perhatian, biasanya tidak sulit bagi kita untuk membalasnya dengan kebaikan.

Namun, bagaimana jika seseorang justru menyakiti kita?

Bagaimana jika orang yang pernah kita bantu ternyata memfitnah, merendahkan, atau memperlakukan kita dengan tidak adil?

Dalam situasi seperti itu, muncul keinginan untuk membalas.

Kita merasa bahwa orang tersebut harus mengalami apa yang pernah kita alami.

Bahkan, terkadang kita merasa bahwa membalas perlakuannya merupakan sesuatu yang wajar.

Amsal 25:21 memberikan perspektif yang berbeda.

Firman Tuhan berkata, “Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air.”

Perhatikan bahwa ayat ini tidak berbicara tentang orang yang menyukai kita, melainkan tentang seteru.  Artinya, seseorang yang memiliki permusuhan dengan kita.

Sebaliknya, firman Tuhan mengarahkan kita untuk melakukan kebaikan bahkan ketika hubungan tersebut sedang tidak baik.

Sering kali, tindakan kita ditentukan oleh bagaimana orang lain memperlakukan kita.

Jika seseorang bersikap baik, kita bersikap baik.

Jika seseorang menghormati kita, kita menghormatinya.

Namun, ketika seseorang menyakiti kita, kita merasa berhak untuk membalas.

Dengan demikian, tindakan kita sebenarnya dikendalikan oleh sikap orang lain.

Amsal 25:21 mengajarkan bahwa kehidupan yang dipimpin oleh hikmat Tuhan tidak harus mengikuti pola tersebut.

Memberi makan orang yang memusuhi kita berarti kita tidak membiarkan kebencian menentukan tindakan kita.

Kita tetap memiliki pilihan untuk melakukan apa yang benar, sekalipun orang lain melakukan apa yang salah.

Hal ini bukan berarti kita menyetujui perbuatannya atau menganggap kesalahannya tidak penting.

Kita tetap dapat menegur, menetapkan batasan, dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi diri.

Kebaikan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, tetapi menolak membiarkan kesalahan orang lain menguasai hati kita.

Memberi makan orang yang lapar merupakan kebutuhan yang sederhana.

Memberi minum kepada orang yang haus juga merupakan tindakan yang nyata.

Namun, ketika orang yang membutuhkan pertolongan adalah seseorang yang pernah menyakiti kita, tindakan sederhana tersebut menjadi ujian bagi hati kita.

Apakah kita masih mampu melakukan kebaikan ketika tidak ada penghargaan?

Apakah kita masih bersedia menolong ketika orang tersebut tidak pernah mengucapkan terima kasih?

Apakah kita mampu menunjukkan kasih tanpa menjadikan perubahan sikap orang lain sebagai syarat?

Kita tidak melakukan sesuatu hanya supaya orang lain kemudian memperlakukan kita dengan lebih baik.

Kita melakukannya karena kebaikan merupakan bagian dari kehidupan yang berkenan kepada Tuhan.

Ketika seseorang menyampaikan kritik yang menyakitkan, kita tidak harus membalas dengan kata-kata yang lebih tajam.

Ketika seseorang tidak menghargai usaha kita, kita tidak harus kehilangan integritas.

Ketika seseorang memperlakukan kita dengan tidak adil, kita tidak harus menjadi orang yang juga melakukan ketidakadilan.

Kita dapat memilih untuk tetap melakukan apa yang benar.

Terkadang, kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu mengendalikan respons kita sendiri.

Kita mungkin tidak dapat mengubah hati seseorang.

Kita tidak dapat memaksanya untuk meminta maaf atau memperbaiki hubungan.

Namun, kita dapat memilih untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

Kita dapat memilih untuk tetap menunjukkan kebaikan tanpa kehilangan kebijaksanaan.

Jangan biarkan kebencian orang lain membuat kita kehilangan kasih.

Jangan biarkan perlakuan buruk seseorang mengubah karakter yang sedang Tuhan bentuk dalam diri kita.