Ketika Dosa Masih Berupa Rencana


Siapa selalu merencanakan kejahatan akan disebut penipu.


Selama kebohongan belum diucapkan, selama penipuan belum dijalankan, selama balas dendam belum dilakukan, mereka merasa belum berdosa.

Namun firman Tuhan hari ini memberikan perspektif yang jauh lebih dalam.  

Allah tidak hanya memperhatikan apa yang kita lakukan, tetapi juga apa yang sedang kita bangun di dalam pikiran kita.

Sebelum seseorang mengkhianati, ia terlebih dahulu memelihara rasa iri.

Sebelum seseorang menipu, ia lebih dulu menyusun strategi.

Sebelum seseorang menghancurkan orang lain dengan kata-kata, ia sudah lebih dahulu menyimpan kebencian di dalam hati.

Itulah sebabnya Salomo berkata bahwa orang yang merencanakan kejahatan sudah dikenal sebagai seorang penipu.

Dunia sering mengukur seseorang berdasarkan hasil akhirnya.
Selama belum tertangkap, ia dianggap baik-baik saja.

IA mengetahui percakapan batin yang tidak pernah terdengar oleh siapa pun.  

Tidak ada motivasi yang tersembunyi di hadapan-Nya.

Dalam Khotbah di Bukit, Ia berkata bahwa kebencian adalah akar pembunuhan dan hawa nafsu adalah akar perzinahan.

Dengan kata lain, Allah ingin membersihkan sumbernya, bukan hanya gejalanya.

Jika akar dosa tidak dicabut, cepat atau lambat buahnya akan muncul.

Pikiran adalah medan pertempuran yang sangat menentukan.

Apa yang terus kita pikirkan akan membentuk keinginan kita.
Keinginan akan memengaruhi keputusan.
Keputusan akhirnya menjadi kebiasaan, dan
Kebiasaan membentuk karakter.

Mungkin ada keinginan untuk membalas, menyimpan kepahitan, mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar, atau diam-diam berharap orang lain mengalami kegagalan.

Semua itu mungkin belum pernah diwujudkan dalam tindakan, tetapi Tuhan mengajak kita untuk membereskannya sejak masih berupa benih.

Kabar baiknya adalah Allah tidak hanya menunjukkan dosa, tetapi juga menyediakan anugerah untuk mengubah hati.  

Ketika kita datang kepada-Nya dengan kejujuran, Roh Kudus sanggup membersihkan motivasi kita dan menggantinya dengan pikiran Kristus.

Semakin kita memenuhi pikiran dengan firman Tuhan, semakin kecil ruang bagi rencana-rencana yang jahat untuk bertumbuh.

Jangan memberi tempat bagi kebencian, tipu daya, iri hati, atau keinginan untuk mencelakakan orang lain.

Mintalah Tuhan setiap hari membentuk hati yang murni, sehingga apa yang lahir dari pikiran kita adalah kasih, hikmat, dan damai sejahtera.

Sebab kehidupan yang benar bukan hanya terlihat dari apa yang dilakukan di depan orang banyak, tetapi juga dari apa yang dipikirkan ketika tidak seorang pun melihat.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *