
Amsal 9:3-4
Pelayan-pelayannya telah disuruhnya pergi, ia mengundang dari atas tempat-tempat yang tinggi di kota:‘Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari;’
Setiap hari kita menerima begitu banyak suara.
Ada suara dari media sosial.
Ada suara dari teman.
Ada suara dari keluarga.
Ada suara dari pengalaman masa lalu.
Ada suara dari orang-orang yang kita kagumi.
Ada suara dari budaya dan tren yang terus berubah.
Masalahnya bukan karena terlalu sedikit suara, tetapi karena terlalu banyak suara.
Dan di tengah semua itu, Hikmat juga memanggil.
Amsal 9 menggambarkan Hikmat seperti seorang perempuan yang berdiri di tempat yang tinggi dan mengutus para pelayannya untuk memanggil orang-orang. Undangannya sangat sederhana:
“Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari.”
Perhatikan siapa yang dipanggil.
Bukan orang yang sudah merasa hebat.
Bukan orang yang merasa sudah mengerti semuanya.
Bukan orang yang merasa tidak membutuhkan nasihat.
Justru orang yang belum berpengalaman.
Ini adalah gambaran yang sangat realistis tentang manusia.
Kita sering kali tidak menjadi bodoh karena tidak memiliki informasi, tetapi karena terlalu yakin bahwa kita sudah tahu.
Ada orang yang sudah bertahun-tahun bekerja, tetapi masih tidak mau menerima nasihat.
Ada orang yang sudah lama menikah, tetapi tidak mau belajar bagaimana memperlakukan pasangannya.
Ada orang yang sudah lama menjadi Kristen, tetapi merasa tidak perlu lagi ditegur oleh firman Tuhan.
Ada orang yang pernah berhasil dalam hidup, sehingga pengalaman masa lalunya menjadi ukuran untuk semua keputusan berikutnya.
Padahal pengalaman tidak selalu menghasilkan hikmat.
Pengalaman hanya memberi kita sesuatu untuk dipelajari.
Hikmat menentukan apa yang harus kita lakukan dengan pengalaman itu.
Karena itu, orang bijaksana bukanlah orang yang selalu berkata, “Saya tahu.”
Orang bijaksana juga mampu berkata: “Mungkin saya belum tahu.”
Kalimat sederhana itu membuka pintu bagi pertumbuhan.
Ketika Hikmat berkata, “Singgahlah ke mari,” ada sebuah tindakan yang diminta: berhenti dan datang.
Kita tidak bisa mendapatkan hikmat sambil terus berjalan mengikuti keinginan sendiri.
Kadang-kadang Tuhan mengundang kita untuk berhenti sebelum mengambil keputusan.
Berhenti sebelum membalas perkataan seseorang.
Berhenti sebelum mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan.
Berhenti sebelum mengikuti seseorang hanya karena dia populer.
Berhenti sebelum mengambil keputusan hanya karena semua orang melakukannya.
Berhenti dan bertanya: “Apa yang Tuhan katakan tentang ini?”
Inilah salah satu bentuk kerendahan hati yang paling nyata: bersedia berhenti dan mendengarkan.
Hikmat Tuhan sering kali tidak menawarkan jalan yang paling mudah.
Tetapi Hikmat selalu mengarahkan kita kepada jalan yang benar.
Dunia mungkin berkata, “Ikuti apa yang kamu rasakan.”
Hikmat berkata, “Periksalah hatimu.”
Dunia berkata, “Balas saja.”
Hikmat berkata, “Pikirkan akibatnya.”
Dunia berkata, “Yang penting kamu menang.”
Hikmat berkata, “Yang penting kamu hidup benar.”
Dunia berkata, “Semua orang melakukannya.”
Hikmat bertanya, “Apakah itu benar di hadapan Tuhan?”
Karena itu, persoalan terbesar kita bukan selalu kurangnya hikmat. Sering kali persoalannya adalah kita tidak mau berhenti untuk mendengarkannya.
Dan bagi kita sebagai orang percaya, panggilan kepada hikmat pada akhirnya membawa kita kepada Kristus.
Sebab di dalam Kristus terdapat kepenuhan hikmat Allah.
Kita tidak dipanggil untuk sekadar menjadi orang yang lebih pintar, tetapi menjadi orang yang hidup dalam kebenaran Tuhan.
Hari ini mungkin ada sesuatu yang sedang kita hadapi yang membuat kita bingung.
Jangan terburu-buru.
Mungkin Tuhan sedang berkata: “Singgahlah ke mari.”
Berhenti.
Dengarkan firman-Nya.
Terima nasihat yang benar.
Akui bahwa kita belum tahu semuanya.
Dan izinkan Tuhan mengajar kita.
Sebab sering kali langkah pertama menuju hikmat bukanlah mengetahui lebih banyak, tetapi menyadari bahwa kita masih perlu belajar.
Ketika Hikmat memanggil, jangan terus berjalan dengan cara kita sendiri. Berhentilah, datanglah, dan dengarkanlah.
Orang bijak bukan orang yang merasa sudah tahu semuanya, tetapi orang yang mau berhenti ketika Hikmat memanggil.