Ketika Sesuatu Datang Tanpa Diduga


Janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba, atau kepada kebinasaan orang fasik, bila itu datang.  Karena TUHANlah yang menjadi tempat kepercayaanmu, dan Ia akan menjaga kakimu, sehingga tidak terperosok.


Kita bisa membuat rencana keuangan.
Kita bisa menabung untuk kebutuhan masa depan.

Kita bisa merencanakan pekerjaan, pendidikan, perjalanan, bahkan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi.

Telepon dapat berdering membawa berita yang tidak kita harapkan.
Seseorang dapat menyampaikan kabar yang mengubah rencana kita.
Masalah dapat muncul ketika kita merasa semuanya baik-baik saja.

Dan justru karena kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi, kita sering hidup dengan rasa takut terhadap sesuatu yang sebenarnya belum terjadi.

Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan, “Kekejutan itu tidak akan pernah datang.”

Alkitab justru mengakui bahwa sesuatu yang tidak terduga bisa datang.

Inilah realitas kehidupan.

Menjadi orang percaya tidak berarti kita mendapat jaminan bahwa hidup akan selalu berjalan sesuai rencana.

Kita tetap dapat menghadapi kehilangan, kegagalan, perubahan, konflik, ketidakpastian, dan berbagai keadaan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Ayat 26 memberikan jawabannya:
“Karena TUHANlah yang menjadi tempat kepercayaanmu.”

Di sinilah letak perbedaannya.

Kita sering mencari rasa aman dengan memastikan bahwa semuanya berada dalam kendali kita.

Kita merasa tenang ketika pekerjaan aman, keluarga baik-baik saja, keuangan cukup, kesehatan baik, dan masa depan terlihat jelas.

Tetapi kalau ketenangan kita bergantung kepada keadaan, maka ketenangan itu akan hilang ketika keadaan berubah.

Keadaan dapat berubah.
Rencana dapat gagal.
Orang dapat mengecewakan.
Masa depan dapat terlihat tidak jelas.
Tetapi Tuhan tidak berubah.

Itulah sebabnya orang percaya dapat menghadapi sesuatu yang tidak diketahui tanpa harus hidup dikuasai ketakutan.

Ia tidak dapat melihat seluruh jalan di depannya.
Ia tidak tahu apa yang akan ditemuinya beberapa puluh meter kemudian.

Tetapi ia tetap dapat melangkah karena ia percaya kepada orang yang menuntunnya.

Begitu juga dengan kehidupan kita.

Iman bukan berarti kita mengetahui apa yang akan terjadi. Iman berarti kita percaya kepada Tuhan yang mengetahui apa yang akan terjadi.

Firman Tuhan berkata:
“Ia akan menjaga kakimu, sehingga tidak terperosok.”

Ada perbedaan besar antara Tuhan menghilangkan semua masalah dan Tuhan menjaga kita di tengah masalah.

Kadang-kadang kita berdoa agar Tuhan segera mengubah keadaan.

Tetapi dalam situasi tertentu, Tuhan justru menguatkan kita untuk melewati keadaan tersebut.

Kita mungkin tidak mendapatkan jawaban yang langsung.
Kita mungkin belum melihat jalan keluar.
Kita mungkin belum mengetahui bagaimana semuanya akan berakhir.

Tetapi kita dapat tetap berjalan karena kaki kita tidak berjalan sendirian.

Tuhan menjaga.
Tuhan menyertai.
Tuhan memegang.

Karena itu, jangan biarkan ketakutan terhadap kemungkinan masa depan mencuri damai sejahtera yang Tuhan berikan untuk hari ini.

Kita membayangkan kegagalan.
Kita membayangkan kehilangan.
Kita membayangkan masalah.
Kita membayangkan berbagai kemungkinan buruk.

Padahal semuanya belum tentu terjadi.

Amsal mengingatkan kita untuk kembali kepada dasar yang benar:
Bukan “Saya tahu apa yang akan terjadi,” tetapi “Saya tahu kepada siapa saya percaya.”

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.

Kita bahkan tidak tahu apa yang mungkin datang beberapa jam dari sekarang.

Tetapi kita tahu bahwa Tuhan ada di sana.

Ketika sesuatu datang secara tiba-tiba, kita tidak perlu menghadapi semuanya dengan kekuatan sendiri.

Ketika berita buruk datang, Tuhan tetap menjadi tempat kepercayaan.

Ketika rencana berubah, Tuhan tetap memegang langkah kita.

Ketika jalan di depan terlihat gelap, Tuhan tetap tahu ke mana kita sedang berjalan.

Jadi, jangan takut hanya karena masa depan tidak dapat kita lihat.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *