
Amsal 22:12
Mata TUHAN menjaga pengetahuan, tetapi Ia membatalkan perkataan si pengkhianat.
Pernahkah kita mengatakan sesuatu yang benar, tetapi orang lain justru memutarbalikkannya?
Kita mungkin sudah menjelaskan dengan jujur, tetapi perkataan kita disalahartikan.
Kita sudah berusaha melakukan yang benar, tetapi muncul cerita lain yang membuat kita terlihat bersalah.
Lebih menyakitkan lagi ketika perkataan yang tidak benar justru lebih cepat dipercaya daripada penjelasan yang jujur.
Dalam situasi seperti itu, kita mudah merasa harus membela diri dengan segala cara.
Kita ingin menjelaskan lebih banyak, membalas perkataan yang menyakitkan, atau berusaha memastikan semua orang mengetahui versi kita.
Namun Amsal 22:12 mengarahkan perhatian kita kepada sesuatu yang lebih besar: “Mata TUHAN menjaga pengetahuan.”
Tuhan melihat apa yang manusia tidak lihat.
Ia mengetahui fakta yang sebenarnya, motivasi yang tersembunyi, dan kebenaran yang mungkin tidak diketahui oleh siapa pun.
Ketika manusia hanya melihat potongan cerita, Tuhan melihat seluruhnya.
Ini memberikan penghiburan yang besar.
Kita tidak harus hidup dengan ketakutan bahwa kebenaran akan selamanya kalah hanya karena untuk sementara orang lain tidak melihatnya.
Tetapi ayat ini tidak berhenti di sana. Salomo melanjutkan, “tetapi Ia membatalkan perkataan pengkhianat.”
Ada perkataan yang bukan sekadar salah informasi, tetapi lahir dari hati yang tidak setia.
Ada orang yang menggunakan perkataan untuk menipu, menjatuhkan, memanipulasi, atau menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
Perkataan seperti itu mungkin terlihat kuat untuk sementara waktu, tetapi Tuhan sanggup membatalkannya.
Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan bahwa kita harus membalas pengkhianatan dengan pengkhianatan.
Amsal justru mengajarkan kita untuk hidup dalam hikmat.
Ketika menghadapi perkataan yang tidak benar, respons kita tidak boleh berubah menjadi kebohongan baru.
Kita tidak perlu menjadi seperti orang yang melawan kita untuk mempertahankan kebenaran.
Jika kita mengetahui bahwa kita sedang berjalan dalam kebenaran, tetaplah berjalan dalam kebenaran.
Jika perlu menjelaskan, jelaskan dengan jujur.
Jika perlu meminta maaf, mintalah maaf.
Jika ada kesalahan kita, jangan sembunyikan.
Tetapi jangan membangun pembelaan dengan kebohongan hanya karena orang lain sedang menggunakan kebohongan terhadap kita.
Ada hal yang dapat kita lakukan, dan ada hal yang harus kita serahkan kepada Tuhan.
Kita bertanggung jawab atas perkataan dan karakter kita.
Tuhan bertanggung jawab atas bagaimana kebenaran itu pada akhirnya dinyatakan dan bagaimana perkataan yang jahat digagalkan.
Ini juga mengingatkan kita untuk berhati-hati ketika mendengar perkataan tentang orang lain.
Tidak semua yang terdengar meyakinkan adalah benar.
Hikmat bukan hanya kemampuan berbicara, tetapi juga kemampuan menguji apa yang kita dengar.
Jangan terlalu cepat mempercayai sebuah cerita hanya karena disampaikan dengan percaya diri.
Jangan ikut menyebarkan sesuatu hanya karena banyak orang sudah membicarakannya.
Ingatlah bahwa Tuhan melihat kebenaran secara utuh.
Pada akhirnya, Amsal 22:12 mengajarkan sebuah ketenangan: kebenaran tidak bergantung pada seberapa banyak orang yang membelanya. Kebenaran berada dalam penjagaan Tuhan.
Ketika manusia salah memahami kita, Tuhan tetap melihat.
Ketika perkataan yang tidak benar diarahkan kepada kita, Tuhan tetap mengetahui.
Dan ketika kebohongan tampaknya semakin kuat, Tuhan tetap berkuasa membatalkannya.
Karena itu, tetaplah hidup dalam kebenaran, sekalipun kebenaran itu belum segera terlihat.
Jangan membalas kebohongan dengan kebohongan.
Percayalah kepada Tuhan yang melihat semuanya, menjaga kebenaran, dan sanggup membatalkan perkataan yang tidak benar.
Jangan meninggalkan kebenaran hanya karena manusia tidak melihatnya; mata Tuhan melihat, menjaga, dan pada waktunya menyatakan apa yang benar.