Nilai Sebuah Pemberian


Suap yang telah kaumakan, kau akan muntahkan, dan kata-katamu yang manis kausia-siakan.


Mungkin awalnya kita merasa bersyukur karena ditraktir makan, diberi hadiah, atau ditolong dalam suatu kesulitan.  Namun beberapa waktu kemudian, orang itu terus mengungkit apa yang telah diberikannya.

Ia menceritakannya kepada banyak orang.  Ia mengharapkan balasan.  

Bahkan ia menggunakan pemberiannya sebagai alat untuk mengendalikan atau membuat kita merasa berutang budi.

Saat itulah sukacita yang semula kita rasakan berubah menjadi penyesalan.

Apa yang tadinya tampak sebagai kasih ternyata hanyalah transaksi yang dibungkus dengan keramahan.

Itulah gambaran yang diberikan Salomo.  Makanan yang sudah dimakan seolah-olah ingin dimuntahkan kembali karena kita sadar bahwa pemberian itu tidak pernah lahir dari hati yang tulus.

Kata-kata pujian yang telah kita ucapkan pun terasa sia-sia, karena ternyata kita sedang menghargai sesuatu yang sejak awal tidak diberikan dengan kasih.

Ayat ini mengajak kita bukan hanya berhati-hati terhadap orang lain, tetapi terlebih dahulu memeriksa hati kita sendiri.

Mengapa kita memberi?
Mengapa kita menolong?
Mengapa kita melayani?

Kita memberi supaya dihormati.
Kita melayani supaya dipuji.

Kita membantu supaya suatu hari nanti orang itu membalas jasa kita.
Kita bermurah hati supaya nama kita semakin dikenal.

Dari luar semuanya tampak baik, tetapi Allah melihat motivasi yang tersembunyi di dalam hati.

Yesus sendiri mengajarkan bahwa ketika memberi sedekah, jangan sampai tangan kiri mengetahui apa yang diperbuat tangan kanan.

Prinsipnya sederhana.  Kebaikan yang sejati tidak haus akan pengakuan.  Kasih yang sejati tidak terus menghitung pengorbanannya.

Orang yang sungguh-sungguh mengasihi akan lebih bersukacita melihat orang lain diberkati daripada sibuk menghitung apa yang sudah ia keluarkan.

Seorang suami yang terus mengingatkan istrinya tentang semua pengorbanannya akan membuat kasih terasa seperti beban.

Seorang istri yang selalu mengungkit semua jasanya kepada suami juga akan melukai hubungan mereka.

Orang tua yang terus mengingatkan anak-anak tentang biaya yang telah mereka keluarkan dapat membuat kasih berubah menjadi tekanan.

Padahal kasih yang sejati memberi dengan sukacita, bukan dengan catatan utang.

Ada orang yang melayani bertahun-tahun, tetapi setiap kali terjadi perbedaan pendapat, ia mulai menghitung semua jasanya.

“Saya sudah melakukan ini.”
“Saya sudah berkorban itu.”

Akibatnya, pelayanan yang semula menjadi berkat berubah menjadi alat untuk menuntut penghargaan.

Tuhan tidak menghendaki hati seperti itu.

Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal bukan karena manusia layak menerimanya, melainkan karena kasih-Nya yang besar.

Keselamatan bukanlah transaksi. Itu adalah anugerah.

Karena kita telah menerima kasih yang demikian besar, kita pun dipanggil untuk mengasihi dengan motivasi yang sama.

Menolong tanpa mengharapkan balasan.
Mengasihi tanpa menyimpan daftar pengorbanan.

Ketika kita melakukan semua itu, hubungan kita akan dipenuhi damai sejahtera, dan orang lain akan merasakan kehangatan kasih Kristus melalui hidup kita.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *